cerita bokep
Pengalaman Ngentot Janda Imut
Category: cerita bokep
Tags: cerita bokep

cerita bokep Sebenarnya aku masih termasuk seorang pelajar SMU tapi di sini aku ingin menceritakan kisahku yang pernah melakukan adegan layaknya dalam cerita dewasa bersama seorang janda imut. Namaku Andri dan masih duduk di kelas dua SMU, keseharianku hanya pergi sekolah dan nongkrong bareng teman sekaligus sambil berbagi pengalaman tentang cerita dewasa yang pernah kami lakukan.

Sudah banyak temanku yang pernah merasakan cerita sex meskipun masih duduk di kelas Satu SMU. Tapi aku tidak sampai akhirnya menginjak kelas dua akupun melakukan hal itu, tanpa aku duga sebelumnya karena baru pertama kali melakukan dengan seorang janda pula. Tapi janda itu begitu imut dan sangat ayu aku biasa memanggilnya mbak Dewi dan dia masih berumur sekitar 29 tahun.

Hari itu mbak Dewi lewat depan rumahku, aku yang sedang membersihkan motorku hanya bisa mencuri pandang padanya. Karena saat itu juga ibuku dan ayahku sedang duduk santai minum teh di teras depan rumah, saat mbak Dewi memberi salam sama ibu ayahkupun memberikan senyumnya ” Pagi bu Johan.. ” Ibuku menjawab tapi dengan muka dingin ” Pagi Wi… ” Katanya dan langsung melotot pada ayahku.

Sedangkan aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah ayah dan ibuku, tapi lelaki mana yang tidak tergoda oleh tubuh sesksi mbak Dewi ketika dia melenggang lewat depan seorang lelaki. Begitu juga dengan aku karena sudah tahu kalau mbak Dewi akan pergi kepasar yang berada satu kilo dari rumah, akupun langsung menyalakan motorku untuk mengejarnya tanpa sepengetahuan orang tuaku.

Ternyata benar tidak berapa lama kemudian aku lihat Mbak Dewi berjalan di trotoar ” Ayo mbak saya anter … sekalian mau ke pasar juga.. ” Dia tersenyum dan berkata ” Dik Andri nggak usah aahh.. bentar lagi juga sampai… ” Tapi aku tetap menawarkannya dan akhirnya diapun mau ikut denganku. Terasa senang rasa hatiku kala itu ketika mbak Dewi memegang pinggangku dari belakang.

Akupun melakukan hal yang bisa menguntungkan aku, ketika melewati jalan yang agak berlubang dengan sengaja aku melewatinya dan ” Aauuww… pelan-pelan dik An….. ” Katanya dengan lebih erat memeluk tubuhku, akupun menggodanya dengan bilang ” Nggak papa mbak pegangan saja…. ” Kataku dengan nada merayu dan aku yakin kalau dia tersipu malu di belakangku.

hampir setiap hari aku menggoda mbak Dewi ketika kami berpapasan sampai akhirnya pada suiatu hari, dia mengajakku untuk mengantarnya ke rumah tantenya yang ada di daerah cakung lumayan jauh dari kotaku, tapi aku bersedia mengantarnya apalagi hari itu kebetulan hari minggu dan akupun memang sudah terbiasa tidak pulang seharian sehingga orang tuaku tidak banyak bertanya.

Aku merasa ketiban durian runtuh hari itu, bagaiaman tidak kalau mbak Dewi yang selalu menjadi bunga mimpiku mengajakku dan dengan mesranya dia peluk tubuhku dari belakang. Sampai akhirnya ketika melewati jalanan sepi dengan sengaja aku memegang tanganya dengan lembut dan aku tidak menyangka dia membiarkan aku melakukan hal itu dan aku senang di buatnya.

Begitu sampai di rumah tantenya mbak Dewi langsung mengajaku untuk masuk dan diapun terlihat mengobrol akrab dengan tantenya yang masih muda juga. Dan tidak berapa lama kemudia aku lihat tantenya ada yang menjemput lalu pergi dengan orang yang membawa mobil itu, karena dari dalam ruang tamunya aku tidak dapat melihat apa seorang cowok atau cewek yang menjemputnya.

Saat itu mbak Dewi menatapku dengan begitu tajam saat itu aku mengerti untuk aku mendekatinya, dan benar saja ketika wajahku begitu dekat wajahnya diapun langsung melumat habis bibiurku dan aku balas dengan lebih buas lagi ” Ooouugggh.. sayang… mbak.. dari dulu suka kamu Andri…. aaaagggggghhhhh…. ” Katanya sambil terus melumat habis bibir dan juga wajahku.

Layaknya pemain dalam cerita dewasa dia begitu lihai emmbuka bajuku dan baju yang dia pakai. Kini tubuh kami sudah sama-sama telanjang bulat, ketika tubuh kami bersentuhan saat itulah aku merasa kontolku menegang dan mengganjal perut mbak Dewi ketika aku peluk tubuhnya, diapun mendorong tubuhku lalu meliaht ke arah kontol yang menegang itu.

Dengan lembutnya dia elus kontolku dengan tangannya kemudian dia masukan dalam mulutnya  ” Aaaggghhhh… aaaagggghh… mbak….. aaaggghh …pelan.. mbak…. ” Kataku karena tidak tahan dengan kuluman mulut mbak Dewi, tapi begitu dia pelankan kulumannya aku malah semakin geli dan merasa nikmat juga pada akhirnya, saat itulah aku pejamkan mataku.

Karena tidak kuat juga akupun menyuruh mbak Dewi untuk segera berbaring di tempat tidur ” Ayo.. mbak.. Andri nggak kuat lagi… aaaagagggggghhh…. ” Kataku saat itu, seperti dalam adegan cerita dewasa mbak Dewi bangun dan dia mendorong tubuhku untuk lebih dekat pada tempat tidur, saat itulah dia merebahkan tubuhnya dan merentangkan tangannya untuk menangkap tubuhku untuk menindihnya.

Saat itulah aku masukkan kontolku dan langsung menerobos dengan masuk kedalam memeknya yang sudah basah, karena begitu aku masukkan kontolku langsung menerobos masuk dalam memeknya dan akupun bergerak di atas tubuhnya ” Ooouuuuugghhh… oooouuuggghhh… aaaagaggghhh… aaaaagggghh… aaaggghh ” Desahan mbak Dewi membuatku ingin segera menuntaskan permaian ini.

Karena aku juga sudah merasa tidak sanggup untuk menahan kontolku agar tidak bergerak dalam mememknya tapi akhirnya ” Ooooouuuggh.. mbak… ma..af.. itu… su…dah …keluar… aaaaggggghhhh….aaaaggggghhh….. ” Akupun mengerang saking nikmatnya permainan cerita dewasa ini, dengan eratnya aku dekap tubuh mbak Dewi begitu juga dia peluk tubuhku dan mencium wajahku. cerita bokep

Kisah Perselingkuhan Dengan Suami Sahabatku
Category: cerita bokep
Tags: cerita bokep

cerita bokep Aku duduk terpaku di teras depan rumah angin berhembus dan membelai rambutku. Di sini aku merenung tentang jalan kehidupanku bagaimana bisa aku berselingkuh dengan suami sahabatku sendiri, panggil namaku Meta di usia 25 tahun aku memilki kekasih yang tidak lain adalah suami dari sahabatku sendiri Desi namanya. Aku begitu dekat dengannya mulai dari masa sekolah dulu.

Sampai akhirnya dia menikah dengan seorang pria yang dia kenal semenjak kuliah, Ardan namanya dia seorang pria yang begitu baik dan setia. Bahkan mereka berdua kerap membuatku cemburu melihat kelakuan keduanya yang selalu romantis. Dan hal itu sering membuatku merasa ingin menjadi Desi bersama melakukan adegan layaknya dalam cerita dewasa bahkan aku sering melirik Ardan secara sembunyi-sembunyi.

Sebenarnya hal itu juga membuatku sesak dalam hati, tidak mungkin juga aku mencintai suami dari sahabatku sendiri. Dia sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri, begitu juga Desi begitu baik padaku tapi bagaimana jika dia tahu kalau aku sahabatnya mencintai suaminya sendiri. Aku saja tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Karena hal itu juga aku harus pintar-pintar menyembunyikan hatiku. Di depan keduanya aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dalam hatiku, seperti hari ini aku sedang berada di rumah Desi karena dia memintaku untuk datang kesini. Dari pertama sampai dirumah ini aku tahu kalau keduanya habis saja melakukan adegan cerita dewasa karena tatapan merewka menandakan hal itu.

Sebenarnya besok malam ada acara keluarga di rumah Desi, dan hari ini dia menyediakan semuanya sebelum hari H besok. Sampai akhirnya ada yang kurang dari persediaannya ” Meta aku minta tolong kamu beli barang yang kurang ya… ” Akupun beralasan padanya untuk menolak ” Aduh kenapa nggak kamu saja Des….. ” Kataku pada Desi karena aku tahu kalau dia akan menyuruh suaminya juga.

Diapun mendekat sambil merengek padaku ” Tolong dong sayang… nanti biar kamu bareng mas Ardan soalnya aku sudah capek banget…. ” Kalau sudah begini aku tidak dapat emnolak permintaan Desi, kasihan juga dia merengek seperti itu dan aku tahu kalau dia mesti istirahat untuk acar keluarga besok apalagi kini ada keluarga Ardan yang juga ikut bergabung.

Aku sudah lama bersahabatan dengan Desi karena itu aku tahu kalau ada acara keluarga dia akan sibuk menyiapkan semuanya. Akhirnya akupun berangkat dengan Ardan suaminya, selama dalam perjalanan aku banyak diamnya sempat aku melihat Ardan melirik ke arahku saat itu jantungku berdegup kencang karena salah tingkah juga berada dalam satu mobil hanya berdua dengan Ardan.

Sampai di supermarket kamipun langsung membeli semua kebutuhan yang belum Desi beli, dan aku sudah membawa catatan kecil darinya. Ardan dengan setianya mendorong troli belanjaan aku lihat banyak mata yang melihat ke arah kami sampai di kasir akupun hendak membayar sebelum kasir tersebut bilang ” Wah kalian pasangan romantis banget… Baru honeymoon ya Mbak…. ” katanya dengan enteng.

Sedangkan aku tersipu malu kala itu namun aku lihat Ardan hanya tersenyum menaggapi kata kasir tersebut. Lalu kamipun kembali menuju tempat parkir di mal tersebut, dan aku tidak menyangka sebelumnya karena begitu masuk dalam mobil tiba-tiba Ardan langsung mencium pipiku tapi aku langsung menolak dengan menarik tubuhku kebelakang melihatku seperti itu dia berkata padaku.

Sambil menatapku dengan tajam ” Aku tahu kalau kamu juga rasakan hal yang sama denganku… Meta aku suka kamu dari dulu.. tapi aku tidak tahu harus bagaiaman menghadapi hal ini… ” Saat itu aku merasa begitu senang dengan perkataan Ardan, rupanya diapun merasakan hal yang sama padaku seperti aku yang mencintainya dari dulu tapi aku hanya bisa menyembunyikan perasaanku.

Saat itulah aku terdiam ketika Ardan kembali mendaratkan bibirnya pada bibirku, bahkan kini aku membalasnya dengan begitu buasnya. Aku mainkan lidahku dalam rongga mulut Ardan diapun menerima dengan hangatnya ” Ooouughh… aku sayang… kamu …Meta….. sungguh… sa…yang…. ” Sampai akhirnya diapun mendorong tubuhku untuk setengah rebahan pada jok mobil.

Kamipun saling melumat sedangkan tangan Ardan tidak diam lagi, dia terus menggerayangi tubuhku dan membuatku merasa seperti di awang-awang. karena hal ini adalah salah satu mimpi terindahku yang mejadi kenyataan. Akhirnya dia melorotkan celananya sampai aku lihat kontolnya sudah berada di posisi siap menerkamku dan akupun memberikan jalan untuknya masuk dalam selangkanganku.

Dengan melebarkan paha akupun siap menerima kontol Ardan, begitu dia melesatkan kontolnya dalam memekku ” Ooouugghh… uuuuggghh…. uuuuggghhh…. aaaaaagggggghhhh…. Ar… dan… sa..yang… aaaagghh… ” dia tersenyum penuh nafsu kemudian kembali mencium seluruh wajahku hingga akhirnya bibirku menjadi santapan bibirnya untuk dia kulum sambil menggoyangku.

Gerakan pinggul Ardan membuatku menggelinjang pasrah ” Oooouuuuggggggghhhh…. aaaaggggghhh…. aaaaagggggghhhh… oooouuuggghh… sayang… terus… aaaggghh… ” Desahku karena saking nikmatnya di goyang oleh Ardan. Diapun semakin mempercepat goyangan dan henatakan kontolnya pada memekku kembali aku menggeliat menahan nikmatnya kontol Ardan yang seakan menusuk dalam memekku.

Sampai-sampai akupun di buat blingsatan olehnya dan desahanku semakin menjadi ketika dia memutar kontolnya dalam memekku ” Ooouugghh Ar.. dan… sayang… aaaagggghhh te…rus… aaaagghhhhh…. sayang…… aaaaaggggghh… aku nggak kuat… sayang… aaaggghh…. ” Kataku di bawah tubuh Ardan yang semakin menggila menggoyang pantatnya dan seakan memutar kontolnya dalam memekku.

Sampai akhirnya aku lihat dia memejamkan mata dan menengadah ke atas, bagai pemain dalam cerita dewasa dia mengejang dan mengerang dengan kerasnya ” Ooouuuuggghhh… Meta… aku… nggak tahan sayang……… aaaaaaggggghh…. aaaggggghh… ” Muncrat sperma hangatnya dalam memeku bahkan memenuhi lubang memekku sampai akhirnya dia terkulai lemas di atas tubuhku. cerita bokep

Bersetebuh Dengan Mbak Cindy di Kapal Selam
Category: cerita bokep
Tags: cerita bokep

cerita bokep Boleh di bilang aku adalah laki-laki yang beruntung . karena terus terang saja aku tak memiliki penampilan fisik yang sungguh-sungguh baik , padahal tak jelek-jelek sekali .

Kulit aku yang cukup gelap , badan aku yang cukup atletis , dan yang pasti batang kemaluan aku yang cukup ukurannya . Namun mungkin sebab secara naluri aku sungguh-sungguh senang melayani orang lain , sehingga aku menjadi seperti sekarang ini dengan segala kelebihan yang aku miliki .


Awal cerita di kala tahun 2015 , aku berangkat dari kampung halaman aku dengan menumpang salah satu kapal milik PELNI , KM Rinjani . Karena waktu itu aku di terima sebagai seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggu di kota Yogyakarta , kota yang sekarang menjadi daerah tinggal aku .


Sebagai seorang mahasiswa baru dari keluarga yang berkecukupan , aku sungguh-sungguh bangga apalagi untuk berangkat ini aku di bekali cukup uang dan tiket di kelas satu . Dan juga aku di bolehkan untuk mampir di rumah paman yang tinggal di jakarta dan jalan-jalan di sana sebelum daftar ulang sebagai mahasiswa baru di Jogja .


Saat naik kapal pada hari keberangkatan , hati ini terasa senang sekali . Aku seketika menuju kamar aku . Kamar kelas satu , yang pasti sudah terbayang aku sungguh-sungguh enak rasanya . Namun aku kaget sekali , sebab di dalam kamar sudah ada seorang wanita . yang terus terang saja ada sedikit rasa senang juga sebab wanita tersebut tersenyum dengan manis nya di kala memperhatikan aku agak kaget .

'' Ohh maaf , mungkin mabk ini salah kamar .. ? '' tanya aku agak ragu .


karena setahu aku tidak mungkin sudah kerap kali berpergian dengan kapal laut , dalam satu kamar harus nya hanya ada satu tipe kelamin , jika laki-laki ya laki-laki segala , atau jika peremouan ya perempuan segala .


Namun sudah di cocokan terbukti nomer tiket kami sama , artinya kami satu kamar . Wahh , terus terang aja aku agak canggung juga rasanya , melainkan di balik kecanggungan aku ada rasa senang juga loh . Karena wanita yang ini cukup cantik juga dan body nya cukup menggairahkan . dan sebab aku kerap kali sekali nonton film porno , seketika aku membayangkan jika nanti malam kami akan tidur berdua dan berpelukan dengan saling mengelus-elus ' sentra ' kenikmatan masing-masing.


Pada waktu pemeriksaan tiket , tanpa ragu dia seketika mengatakan bahwasanya aku ialah adik sepupunya , jadi oleh petugas kami tak di pindahkan . Wahh , tambah senang lah hati ini . Dan semenjak itu kami banyak sekali ngobrol-ngobrol , dari situ juga aku tahu jika dia adalah pegawai sebuah bank swasta di jakarta .
Bernama cindy . Suaminya seorang dosen sebuah perguruan tinggi di jakarta , dan yang lebih hebat lagi dia tak sesuai dengan umurnya yang sudah 35 tahun dan sudah beranak dua .

Setelah makan siang kami masih melanjutkan obrolan kami tentang beragam hal di anjungan depan kapal . kapal kami sudah semakin jauhh dari daratan , jarum jam sudah pukul dia , hawa terasa agak panas , mata mulai mengantuk di terpa angin laut , akhirnya kami menentukan untuk beristirahat saja . Tanpa sadar Cindy menggandeng tangan aku dikala kami berjalan menuju kamar . Sebab agak canggung , tanggan nya aku lepaskan . Cindy agak kaget melainkan dia bahkan tersenyum manja .


Hobisex69 - Memang pada waktu itu aku kerap kali menonton film porno dan juga kerap kali beronani , melainkan melakukan hubungan seks aku belum pernah sama sekali . jadi hati ini rasanya deg-degan luar biasa . , sebab di kala berjalan di lorong kapal yang kebetulan aku berada di belakangnya , aku memperhatikan pantatnya yang bulat yang terbalut celana jeans ketat dan rambutnya yang panjang sepunggung dan diikat sehingga terlihat level belakang lehernya yang putih dan mulus .


'' Ohh !! Cantik sekali '' jerit batin aku .

Pada waktu itu aku berharap memeluknya dari belakang dan berharap seketika mencium lehernya itu , melainkan sekali lagi hati ini rasanya canggung sekali , boleh di bilang aku takut !


Saat kami bersama-sama masuk kamar cindy seketika menuju ke kemar mandi , katanya dia sudah kegerahan dan sebelum tidur siang berharap mandi dulu . Aku seketika rebahan di daerah tidur sambil membayangkan tubuh cindy yang pasti sintal dan menggairahkan jika diamati dari pantatnya yang bulat . Tanpa sadar tangan kiri aku sudah mnegendalikan batang kemaluan yang mulai mengeras .


Namun tiba-tiba ada bunyi dari balik pintu kamar mandi , '' Mass Andi , Tolong ambilkan handuk aku di dalam koper dong .''

Aku kaget setengah mati , sebab pikir aku Cindy sudah keluar dari kamar mandi . Saat mengambil handuk , aku memperhatikan pakaian dalamnya yang baik-baik dan supermini .


'' Ohhh .. ! '' batin ini semakin menjerit ,

Karena sebagai seorang laki-laki normal , pasti siapa saja tak akan tahan dengan momen seperti ini .


Pintu aku keyuk untuk memberikan handuknya , dan di kala pintu di buka , alangkah kagetnya aku sebab Cindy berdiri di depan pintu hanya dengan celana dalam yang sungguh-sungguh mini dengan bordiran yang apik dan sungguh terang sekali terlihat gunungan hitam di selangkangan seperti akan meletus . Saat memperhatikan aku tertegun dengan handuk di tangan , dengan cueknya Cindy menarik tangan aku untuk mandi bersama .


Pada waktu itu aku hanya seperti robot yang bergerak hanya jika di setel untuk bergerak . Karena terus terang saja . Waktu itu pikiran aku seakan tak percaya dengan apa yang sedang ada di hadapan ku .rupanya tubuh Cindy lebih cantik daripada apa yang aku bayangkan , dan lebih hebat lagi lebih cantik dalam kondisi telanjang .


Tanpa sadar aku melepaskan celana dalam Cindy , Dan tubuhnya sekarang ku sirami dengan air dari shower . Cindy melenggak-lenggok pantatnya yang bulat dikala air shower aku arahkan ke pantatnya. Dan dikala aku arahkan ke punggung, Cindy meliuk-liukkan tubuhnya dengan sungguh-sungguh erotis. Tiba-tiba Cindy membalikkan tubuhnya dan seketika melahap bibir aku, dengan pesat dihisap dan disedot.


Namun tiba-tiba Cindy berhenti dan marah, “Hey, dicopot dong bajunya!”


Aku hanya bisa terawa kecil sebab bersamaan dengan itu Cindy bahkan dengan bergairahnya mencopot kaos dan celana panjang aku yang mana celana dalamnya seketika ikut serta terlepas.


“Wow, lucu sekali bentuk batang kamu Andi..?” Cindy bertanya dengan manjanya.

“Lho apa punya suami kamu nggak lucu tuh..?” aku balik tanya dan Cindy hanya tertawa dengan ujung kemaluan aku yang sudah berada di dalam mulutnya.


Hobisex69 - Gila! Cindy benar-benar luar lazim, mungkin sebab dia sudah bersuami dan sudah punya anak pula. Dan baru kali ini aku menikmati alangkah nikmatnya apa yang selama ini selalu aku tonton di film dan selalu aku bayangkan siang dan malam. Dengan gemasnya Cindy mengelus-elus buah zakar dan menghisap-hisap kepala penis aku dengan lembutnya.


Tak terasa sudah lama sekali Cindy menghisap batang penis dan akhirnya, “Hey, capek nih jongkok terus. Gantian dong..!”

Cindy lalu aku gendong ke arah daerah tidur, lalu aku rebahkan dengan kakinya yang putih mulus terkulai di lantai. Kaki Cindy aku angkat perlahan-lahan, sambil memberikan sedikit sensasi di talapak kaki. Cindy kegelian dan mengelinjang, kemudian aku mulai menyerang payudaranya yang memang tak begitu besar melainkan cukup menggoda.


Ujung penis aku gosok-gosokkan di lubang vaginanya sambil menghisap-hisap puting payudara Cindy. Aku semakin menikmati permainan dikala Cindy mulai mengerang-ngerang keenakkan. Dan dikala pinggulnya mulai digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah aku mulai menyadarai jika Cindy minta dicoblos liang vaginanya. Namun aku sengaja untuk mempermainkan ujung penis di mulut vagina Cindy.


“Ayo Andi, dimasukkan saja, jangan hanya diluar begitu dong..!” akhirnya Cindy benar-benar tak tahan.


Lalu aku mulai menekan panis aku untuk masuk ke dalam vagina Cindy. Uuuhhh..! Hangat dan enak sekali rasaya. Cindy sambil mengerang keenakkan mangangkat pantatnya, sehingga penis aku semakin dalam masuknya. Aaahhh..! Semakin enak saja rasanya. Nantinya aku tahu jika berkaitan seks itu sungguh-sungguh enak rasanya.


Saat pantat Cindy diwariskan, tiba-tiba penis aku terlepas dari lubangnya. Cindy menaikkan lagi pantatnya, dan dikala diwariskan lagi terlepas lagi. Begitu dan seterusnya sampai Cindy marah-marah sebab terbukti aku hanya membisu saja.


“Ayo dong Andi kamu goyang juga pantatmu maju mundur. Ayo… dongg..!”

Aku semakin tahu jika behubungan seks bukan saja enak melainkan juga menyenangkan. Pantat Cindy mulai membisu dan pantat aku mulai digerakkan. Perlahan-lahan aku masukkan batang penis yang sudah sungguh-sungguh tegang ini, dan aku tarik lagi dengan satu hentakan keras.


Perlahan-lahan lagi aku masukkan dan aku tarik lagi dengan satu hentakan keras. Cindy merem melek dikala aku masukkan, dan Cindy mengerang keras dikala aku tarik. Begitu terus aku lakukan sampai akhirnya Cindy bangun dan memeluk aku.


Dengan mesranya aku menggendong dan mencium bibir Cindy. Namun aku kaget dikala tiba-tiba Cyndi menggoyang dengan keras sekali pantatnya, diputar-putar pantatnya pada gendongan aku, dan pada dikala itu aku semakin kaget dikala tiba-iba pula lubang vaginanya terasa mengecil lalu dengan kerasnya Cindy berteriak, “Annddiii..!” dan keringat kecil-kecil mulai keluar di atas keningnya.


Sekali lagi, dari sinilah aku benar-benar tahu bahwasanya berkaitan seks itu enak sekali, menyenangkan, dan yang lebih menyenangkan lagi jika kita bisa membawa pasangan kita ke puncak kenikmatan. Karena pada dikala kita memperhatikan pasangan kita menggelinjang keenakkan pada dikala itu pula hati ini akan terasa plong.


Kembali Cindy marah, sebab dia sudah kelelahan sementara batang kemaluan aku masih berdiri tegak. Dan yang pasti aku belum ejakulasi. Namun sambil mengecup bibir Cindy dengan lembut aku katakan jika aku sudah sungguh-sungguh senang dikenalkan dengan hubungan seks yang sebenarnya, dan aku sudah sungguh-sungguh puas memperhatikan dirinya puas dan senang dengan permainan aku. 


Nantinya kami mandi bersama, dan di kamar mandi kami masih mengulangi permainan-permainan yang lebih menyenangkan lagi. Hampir setiap dikala dan setiap kesempatan di kapal kami melakukannya lagi dan lagi. Saat sampai di Jakarta, dia memberikan alamat dan nomer teleponnya dan berharap sekali jika aku berharap mampir ke rumah atau kantornya.

Beberapa kali Cindy pernah aku hubungi dan beberapa kali kami pernah berjumpa, sampai akhirnya sekarang kami tak pernah lagi berjumpa sebab terakhir kali aku hubungi alamatnya sudah pindah.


Entah dimana kamu Cindy, melainkan yang terang aku selalu merindukan kamu, sebab kamu sudah memberikan pengalaman dan pengetahuan yang berharga tentang bagaimana berkaitan seks dan memuaskan pasangan main. cerita bokep

Ngentot Mahasiswi Cantik Di Lokasi KKN
Category: cerita bokep
Tags: cerita bokep

cerita bokep Halo kawan-kawan semua penyuka cerita seks dewasa yang saya hormati, ijinkanlah saya menceritakan pengalamanku waktu KKN (Kuliah Kerja Nyata) Januari lalu. Demi menjaga privasi orang yang berada dalam cerita ini disamarkan namanya, dan maaf kalo penggunaan bahasanya agak formal, langsung saja.

Perkenalkan, nama ku S, mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi negeri terkenal di kota Surabaya, dan kebetulan aku juga asli dari kota Surabaya tersebut, jadi aku tidak kos. Banyak orang mengatakan sih wajahku ini pas, kadang pas jeleknya kadang pas gantengnya, hahahaha.

Pada saat Januari lalu, aku baru saja malaksanakan kegiatan KKN di kampus ku, berbeda dengan teman2ku yang lain yang sudah melaksanakannya pada bulan puasa tahun lalu. Ya maklum lah, mahasiswa dengan nilai pas-pas an, IP dari 1, 2, 3 juga udah pernah, yang 4 nya belum sih ehehehe.

Kebetulan, pada saat pembagian kelompok, aku berbarengan dengan seorang cewek yang juga sejurusan denganku, sebut saja T. Tetapi kita kenal hanya sebatas kenal karena satu angkatan dan satu jurusan. Kalo boleh dibilang sih, paras cewek sejurusanku ini cantik lah, tingginya kurang lebih sekitar 155cm an, rambutnya panjang terurai, dengan tubuh yang tidak gemuk dan tidak kurus, pas lah menurut ku. Kalo bicara soal buah dada sih, relatif ya, tiap orang punya selera masing-masing. Untuk ukuran buah dadanya sih standar, 34a atau 34b lah.
Dari sejak awal survey lokasi desa yang akan kami tempati, kami berdua selalu bareng, jadi dengan KKN ini kita menjadi semakin dekat.

Pada saat survey pertama dia masih bonceng dengan teman KKN ku, namun pada saat survey ke dua, entah angin darimana dia mengajakku untuk survey berdua saja, maklum pada saat itu teman-temanku yang lain masih pada sibuk dengan urusan masing-masing dan yang bias hanya kami. Awalnya aku sih berpikiran santai, tapi kadang terlintas di pikiranku takutnya teman-temanku yang lain berpikiran yang aneh-aneh, dan akirnya aku menyarankan T untuk mengajak teman satu lagi dengan alasan agar rame.

Singkat cerita kita akhirnya berangkat dengan teman KKN ku cewek 1 lagi dengan pacarnya dan aku berboncengan dengan T. Selama perjalanan aku sedikit tidak konsentrasi karena dadanya yang selalu nempel pada punggungku, dan aku sengaja menaruh tas ku di depan karena desa yang akan kami gunakan untuk KKN lumayan dingin, selain itu karena jalan yang naik turun dan motorku yang model ayam jago yang jok belakangnya agak naik, membuatnya selalu merosot dan buah dadanya yang lumayan dan empuk itu nempel di punggungku, dia pun aku perhatikan dari spion motorku tampak membenarkan posisi duduknya, semakin nggak karuan nyetir, dari berangkat sampai aku mengantarkannya ke kosnya, udah kemana-mana pikiran.

Singkat cerita kita tiba di hari H dimana kita tinggal di rumah warga yang berada di pedesaan yang lumayan dingin. Selama KKN, kemanapun kelompokku ada acara atau main, aku dan temanku T ini selalu bersama, udah nggak bisa dipisah lah kalo dibilang, hehehe. Oya si T udah punya pacar juga, dan pacarnya mempercayakan T ke ane untuk jaga doi, soalnya udah pernah ketemu juga sama pacarnya T, ya ane sih iya-iya aja, toh paling juga gitu-gitu aja.

Selama 1 bulan lebih sedikit, kegiatan KKN ya gitu aja, selama di tempat kami tinggal, aku perhatiin si T bajunya ya baju rumahan biasa cuma kadang suka nerawang sehingga nampak BH nya yang warna warni, sering aku ngingetin juga ke T kalo BH nya itu keliatan ato sejenisnya, ya maklum sih naluri dari jaman SMA kalo ada temen cewek yang keliatan BH nya gitu suka ngingetin tapi nggak menutup kemungkinan curi-curi juga, hehehe. Kami berdua pun semakin dekat, saat kita foto, dia lebih sering ngerangkul aku, dan bodohnya aku malah pasang muka bingung, saat tanganku agak longgarpun dia nggak segan-segan untuk menggandeng tanganku sehingga aku pun merasakan tonjolan buah dadanya yang lumayan itu.

Pada saat minggu ke dua saat program kerja udah pada mulai jalan, kita sibuk dengan program kerja masing-masing sesuai jurusannya, aku dan T sengaja menyamakan agar kita bisa bareng terus gitu. Saat aku dan T sudah selesai dengan program kerja kami entah kenapa ingin pulang dulu, teman-temanku yang lain pun tanpa menaruh curiga mengiyakan saja dan kami pun pulang. Setiba di rumah, tidak ada orang sama sekali, pikirku pemilik rumah ini lagi ke warung karena memang punya warung yang tidak begitu jauh dari rumah. Akhirnya temanku T langsung ke kamar begitu juga aku untuk ganti baju dan tiduran santai karena merasa capek. Tiba-tiba T memanggilku dari atas, oya letak kamar cowok dan cewek ini atas bawah, kami para cowok di bawah sedangkan di atas kamar cewek dan toilet. Aku pun datang dan menanyakan ada apa, ternyata si T ingin ngobrol-ngobrol denganku, kita bicara macam-macam dari saat dia SMA dan kesibukannya, tetapi saat aku bertanya tentang pacarnya, doi terdiam sejenak dan tiba-tiba air matanya keluar. Bingung bukan kepalang karena aku jarang menghadapi seorang cewek yang nangis dihadapan langsung, saat kuberanikan bertanya lagi, ternyata dia lagi ada masalah dengan pacarnya dan katanya lagi putus. Iya sih, beberapa hari sebelumnya saat dia murung juga aku tanya kenapa, dan memang lagi ada masalah. Ya aku nggak bisa berbuat banyak selain menenangkannya, saat aku coba beranikan membelai rambutnya yang terurai dia hanya diam saja, lalu aku mengusap air matanya, dia tampak kaget dengan perlakuanku ini, lalu digenggamnya tanganku. Aku pun bingung ada apa, dan kami bertatapan mata lumayan lama sehingga entah siapa yang memulai bibir kami sudah bersentuhan tipis. Aku rasakan pergerakan nafasnya yang masih belum teratur akibat dia menangis tadi. Sambil aku memegangi pipinya yang agak basah, bibirku menjauh dan membisikan di telinganya “masih ada aku disini” dia pun mengangguk kecil, saat aku tatap lagi matanya dia langsung menyambar bibirku dengan halus dan perlahan. Ku ikuti pergerakan bibirnya sambil dalam hati berpikir “ganas juga ini cewek” dan aku mainkan lidahku. Dia pun merasa geli tapi menikmatinya karena bibirnya selalu nempel di bibirku sambil melenguh “mmmmhhh. . . mmhhhh . . . .”. Tanganku pun yang tadinya di pipinya sekarang sudah mendarat di pinggulnya sambil menelusuri lekuk tubuhnya. Kami melepas ciuman kami sejenak dan saling bertatapan, dia melempar senyuman dengan matanya yang sayu, membuat setiap orang seakan ingin mencumbunya, lalu aku meminta ijin untuk memegang buah dadanya yang lumayan itu, dia hanya mengangguk dengan senyuman. Kami lanjutkan lah perang bibir dan lidah kami sambil aku meremas buah dadanya yang saat itu mengenakan BH warna putih pink. Dia mendesah menikmati “aahhh. . . ahhh . .” sambil bibirku mencumbu lehernya.

Sialnya saat aku hampir mengangkat BH nya terdengar suara motor teman-temanku yang datang. Kami pun tergesa-gesa membenahi diri.

Semenjak kejadian tersebut, dia lebih sering memanggilku “pacar”, pertamanya aku pun kaget karena dia memanggil begitu di depan teman-temanku pada saat dia sedang membuatkan mie untuk ku dan teman-teman cowok yang lain. Tetapi entah kenapa teman-temanku ini tahu bahwa itu hanya bercandaan, ya aku sih terserah mau dia panggil apa asal bisa menikmatinya tubuhnya deh, hehehe.

Pada minggu ke 4, dia mendadak minta ijin pulang ke ketua ku karena ada urusan keluarga dan aku dimintanya untuk mengantarkannya bertemu dengan orang yang akan menjemputnya. Spontan di jalan aku pun bertanya “emang dijemput siapa deh? Papah mamah mu?” dia pun membalas, sama pacarnya. Agak kaget tapi nggak begitu kaget juga karena dia 3 hari sebelumnya cerita ke aku kalo dia balikan lagi. Aku pun merespon dengan jawaban santai, dia pun seolah merasa bersalah dan berkata “nggak apa kan aku dijemput pacarku?”, aku pun menjawab “ya nggak apa dong, kan pacar kamu, kalo di sini kita pacaran, kalo udah balik atau selese KKN nya kita kembali seperti biasa”. Dia mengangguk sembari memeluk ku di jalan karena di jalan pedasaan ini sepi dan jarang kendaraan lewat, sesekali dia mengecup leherku. “Kamu mau pulang kok masih curi-curi sih”, balasku. Dia hanya cekikikan sambil memeluk semakin erat.

Skip skip skip, 2 hari kemudian sore haris saaat aku sedang santai jalan-jalan di kompleks pedesaan tempat aku tinggal bersama temanku, si T menelponku “car, lg sibuk nggak? Kamu lg di mana?” tanya nya, “lagi jalan-jalan santai sih bareng anak-anak, ada apa?”, jawabku. “jemput aku di tempat kemaren bisa nggak?” langsung sigap aku menjawabnya, “bisa dong kalo buat kamu”, sambil pake nada genit, “ih gombal, oke deh 10 menit lg aku sampe kok, jangan lupa lho, muuaaach”. Tut tut tut . . . baru mau dijawab udah diputus teleponnya, langsung saja berpamitan dengan teman-temanku dan aku langsung mengambil motor ayam jago standarku untuk menjemputnya.

Sesampainya di tempat dia menjemput ternyata dia udah duluan dan sendirian, “lho kamu sama siapa kok sendirian?”, tanyaku. “tadi sama pacarku, dia udah pulang duluan”, jawabnya. Dalam hati ku “buset ini pacarnya geblek amat, kalo pacarnya ditinggal sendiri gini kalo digodain orang desa gimana, payah” dan kebetulan emang si T ini menjadi primadona di kalangan pemuda desa karena paras cantiknya. Akhirnya dia langsung membonceng dan kita pun tancap gas. Di perjalanan pun kita ngobrol-ngobrol “lho waktu tadi kamu telepon pas ada pacarmu?”, tanyaku, dia menjawab cekikikan “ya nggak lah, car, tadi dia lagi beli cemilan aku nunggu di mobil”. “kirain pas ada pacarmu kamu pas telepon tadi”, jawabku lg, “takut ya? Hihihihi”, sambil dia nyubit pinggang ku. Anjir, malah nantangin, “bukan takut sih, cuma main bersih aja kita”. Timpalku. “alah sok-sok an huuuuu, cubit lagi nih.” Balasnya. Dan kamipun begitu sampai setibanya di posko KKN. Dia pun bergegas langsung mandi dan aku pun masih ngumpul nonton tivi bareng teman-teman yang lain.

Lusanya cuaca pun mendung, kita berencana mau ke SD sekitar tempat kami KKN untuk sosialisasi terkahir kalinya, aku bangun terlambat dan dapat jatah mandi paling terakhir karena kamar mandi di rumah ini cuma 1, ada juga temanku yang buru-buru sudah biasa mandi di tetangga sebelah posko KKN kami. Dan entah disengaja atau nggak, si T juga kesiangan dan juga baru mandi setelah aku selesai mandi. Pada saat T mandi pun aku tidak memikirkan hal yang lain selain siap-siap untu acara sosialisasi ke SD. Kami berdua ditinggal karena waktu pun sudah menunjukan pukul 9 pagi dan acara dimulai jam 9.30 nya. Sesaat aku dan T sudah siap bergegas berangkat, tiba-tiba hujan pun turun lumayan deras, kami mengabari ketuaku datang terlambat. Pertamanya ketuaku meyuruh kami untuk memakai jas hujan, namun aku teringat jas hujan ku dan punya T terbawa di motor temanku yang sudah berangkat. Ya sudah deh akhirnya ketuaku memaklumi dan mengatakan untuk tidak memaksakan kalo memang deras, kebetulan di SD nya pun juga hujan yang lumayan.

Aku dan T pun ngobrol-ngobrol biasa, bercanda kadang T suka cubit pinggangku, aku pun melontarkan pertanyaan “eh ini bapak sama ibu yang punya rumah nggak di rumah? Kok tumben pagi-pagi udah nggak ada di rumah”. “kata anak-anak tadi bapak ibunya pamitan mau ada acara di kota katanya, ada sodaranya nikahan”, balas si T. lalu duduk kami berdekatan entah ada angin apa, aku pun membelai rambut nya yang wangi serta menciuminya karena memang dia habis shampoan. Aku pegang lembut pipinya dan dia pun berkata “aku nggak nyangka kita bisa gini”, aku pun bingung apa maksud dari perkataannya “maksudmu?”, jawabku singkat, dia pun merebahkan badanya ke pelukanku dan menyandarkan kepalanya di bahu ku, “ya gimana ya, kamu baik, bisa ngertiin aku, perhatian tapi waktunya malah kaya gini, kamu itu beda banget sama pacarku yang suka ngekang aku, protektiflah, apa-apa nggak boleh”. Aku paham arah pembicaraannya, aku balas, “lho kan tinggal diputusin aja gampangkan pacarmu?”. “nggak semudah itu, orangtua ku sama dia udah deket, begitu juga sodaranya, udah 3x selama KKN ini aku minta putus tapi dia nggak mau”.

Saat itu aku memperhatikan matanya berkaca-kaca, sambil aku belai rambutnya aku pun menenangkannya dengan gaya sok cool romantis gitu Cerita Panas Indonesia KKN Berbuah Manis with Mahasiswi Cantik “ya udah, nggak apa, emang begini jalannya, kalo di sini kita emang gini, tapi kalo di kampus kita seperti biasa aja, kamu tahu sendiri kan aku juga udah punya pacar, semuanya pasti baik-baik aja kok, kalo jodoh emang nggak kemana”.

Dia pun makin menjadi tangisannya, tampak bedak di wajahnya luntur akibat air matanya. Aku pun mengusap air matanya dan menenangkannya. Dia menatapku dalam-dalam kemudian tanpa kita sadari bibir kami sudah bersentuhan entah ada angin apa T melumat bibirku dengan kencang. Aku pun membalas dan memainkan lidahku, dia juga nggak mau kalah “mmmmhh. . . mmmhhh . .” tanganku pun sudah berada di buah dadanya yang masih terbungkus jaket KKN. Dia melepas ciumanku dan berbisik “di kamar aja” langsung saja aku bawa ke kamar cowok yang biasa digunakan tidur oleh temanku, aku lepas jaket T, dia mengenakan kemeja denim menurutku membuatnya tampak makin cantik. Dia nyeletuk “kok diem aja?” dalam hatiku “wah ini anak emang bener-bener deh” langsung saja aku cumbu lagi bibirnya, aku lumat, aku mainkan lidahku, dia pun tak mau kalah juga membalas lidahku dan sesekali menyedotnya. Tanganku pun sudah berada di atas balutan BH nya yang ukuran 34b (yang ini tanya ke doi akhirnya tau) dengan warna merah yang mengundang gairah. Langsung saja aku copot pengait BH nya dan nampak buah dada T dengan ukuran 34b nya, aku remas aku mainkan putingnya dia hanya melenguh “aahhh. . . enak car mmmhhhh” sementara bibir ku masih menciumi telinga dan leher nya. Sekitar 15 menit aku mainkan buah dadanya dia seperti nya udah di ubun-ubun nafsunya “diemut car. . . diemut mmhhhh” tanpa komando pun aku juga sudah menjilati antara buah dada nya, lalu mengemut putingnya yang kecil berwarna coklat muda sembari tangan kanan ku memainkan dan meremas puting dan buah dadanya yaang kiri “iya caaaar, enak diemut mmmmhhhh. . . geli caaar, aaaahhhh. . . aaahh. . .”

Saat itu juga tangan ku yang kanan pun sudah mengorek memeknya yang dibalut celana jeans ketat, aku merasakan memeknya sudah basah. Aku pun langsung mencopotnya dan nampak lah celana dalamnya yang berwarna merah juga, warna ini sungguh membuat ku nafsu.

Ku lepas baju dan celana ku serta celana dalam ku sehingga “adik” ku yang tidak besar dan tidak kecil ini mencuat dengan keras. T pun langsung menyergap “adik” ku dan menjilati nya serta di sedot nya, “ahhh caaar, enak caaar, sedot terus sayaaaang aahhh. . .” celoteh ku. Ku akui wajahnya yang cantik sambil mengemut “adik” ku ini sangat menggairahkan. Aku pun nggak diam aja, aku copot celana dalam T dan terlihat sebuah gundukan yang bersih terawat tanpa bulu sehelaipun di memeknya, hal ini membuatku semakin bernafsu. Ku jilati memeknya sehingga posisi kita sekarang di posisi 69, sungguh nikmat sedotan si T. Ku jilati gundukan kecil di memeknya yang bersama klitoris sembari dia masih mengulum “adik ku” “aaahhhh. . iya sayaaaaang, jilat terus yang situ aaahh. . . mmmhhhh. . .”

sekitar 10 menit kita berada di posisi 69 lalu aku merebahkan tubuhnya di kasur lipat yang dibawa teman ku, aku ciumi bibir nya, lehernya, emut putingnya dan meremas buah dadanya “sayaaang mmmhhhh. . . terus caaar. . aaahh. . .”

Saat aku gesek-gesek “adik” ku di memeknya dia menggelinjang keenakan, “ayo caaar di masukin mmmhhhh. . .” agak sempit emang memeknya si T meskipun sepertinya sudah pernah melakukan seks, tapi itulah yang menjadikan nafsu ku untuk menggenjotnya terus, aku masuk kan perlahan “pelan-pelan caaaar, mmmhhh. . . enak caar aaaahh. . .”

Setelah sudah masuk semua batang “adik” ku genjot maju mundur pelan-pelan agar memek T terbiasa. Ku genjot pelan maju mundur dia pun sudah melenguh keenakan nggak karuan “caar terus caaar aahhh. . . punya mu mmhhhh. . .” lalu kunaikan temponya dan dia semakin mendesah, menggelinjang “aaahhh.. aaahhh. . . terus caaar. . mmmhhh. . . enaaak aaah… aku milikmu aaahh. . .” sambil dia melingkarkan kakinya erat ke pinggangku.

Setelah itu kita berganti gaya doggy style, aku merasakan cengkeraman memeknya semakin peret semakin nikmat untuk di genjot “yaaaang. . . aaaaahh. . aaaah. . . te. . . ruuus yaaang. . .” Desahannya justru membuat ku semakin bernafsu, ku genjot semakin kencang dan dia semakin melenguh keenakan “caaaar. . . aku mau keluaaar. . . aaaaahh…” dan akhirnya aku merasakan cairan hangat mengalir di dalam memeknya. Ternyata dia sudah keluar duluan.

Aku biarkan dulu sekitar 2 menit untuk dia menikmati masa orgasme nya, lalu sekarang giliran dia yang diatas alias WOT. Di posisi ini dia justru semakin menjadi memeknya, dengan gerakan naik turunnya dan kadang di pelintir mirip dengan film bokep yang biasa aku tonton, nikmat sekali dengan cengkeraman memeknya nya yang masih lumayan seret dan kencang. “Terus pelintir sayaaang aaaah. . enaaak caaar. . .” desahku.

Tanganku juga nggak mau kalah, keduanya Meremas dan memainkan puting coklat muda nya. “geliii caaar. . aaaah. . . aaah. . aaaahh. . .” dengan gaya pelintir nya tadi membuat “adik” ku seakan ingin memuntahkan maninya karena emang saking enaknya. “aku mau keluaaar yaaaang. . .” dia pun juga membalas “barengan caaaar. . . kontol kamu enak banget aku mau keluaaar lagiiii aaaahh. . .”

Dan selang beberapa menit kemudian aku pun udah nggak kuat menahan isi “adik” ku begitu pun T yang sudah mau keluar kedua kalinya, “caaar. . . terus caaar. . . aaaahh. . . mmmhhhh. . . akuuu miliik. . . muuuu. . aaaaahh…” akhirnya kami berdua pun keluar bersamaan dan T langsung lemas di pelukan ku.

Hari berganti dan terus berganti hingga tiba saatnya KKN kami selesai, semenjak kejadian itu sebelum tiba hari pelepasan dari kampus dan perangkat desa, T masih sering mengajak ku ya walau sekedar curi-curi cium, memainkan dan meremas buah dadanya. T pun memeluk satu-satu temanku, dan pada saat memeluk ku erat sekali pelukan nya. Aku sudah tidak menghiraukan temanku yang lain, nampak air matanya menetes dari wajah cantik nya dan aku pun mengusap nya.

Saat tim kami akan menuju ke kecamatan untuk upacara pelepasan aku sengaja memacu kendaraan ku pelan agar bisa ngobrol lebih kama dengan T. “sudah saatnya kita kembali ke kehidupan masing-masing, kamu yang aku kenal di kampus akan selalu aku kenal seperti kamu di sini, kita tetep usahakan komunikasi walaupun nggak se sering di sini, terimakasih untuk kebersamaan nya, semuanya yang kamu beri untuk aku”. T terdiam agak lama, memeluk ku erat, lalu dia juga membalas “terimakasih juga udh ngertiin aku, nglindungin aku, kamu lebih dari yang aku duga, aku harap ini bukan perpisahan, di kampus mungkin aku nggak bakal bisa panggil kamu pacar, tapi di dalam hatiku kamu tetep pacar aku”. sambil dia mengecup leher ku saat perjalanan ke kecamatan.

Akhir cerita sampai saat ini kita masih sering ketemu di kampus karena kita sama-sama sedang menyelesaikan skripsi, meskipun kita hanya melempar senyum, ada maksud tersendiri dibalik senyuman nya, kita juga masih sering ngobrol tapi kita juga jaga jarak untuk pacar kita masing-masing. cerita bokep

Keperawananku Direnggut Saat SMP
Category: cerita bokep
Tags: cerita bokep

cerita bokep - Cewek ini namanya Ayu, dia temen dari Dian anak SMP sebelah rumah kost gue. Sore itu gue lagi nongkrong di depan kost sambil maen gitar,hampir setengah jam gue di depan, Dian terlihat pulang tapi kali ini sama temen-temennya. “eh, Dian baru pulang sekolah ya? kok ampe jam segini? maen dulu ya?” gue becandain si dian

“Enggak kok mas, tadi ada les di sekolah.” oh gitu ya gue jawab dengan santai. “trus bawa temen banyak mau ada acara apa?” tanya gue lagi. “mau belajar kelompok mas, eh kenalin dong mas temen-temen Dian!!” Dian nyuruh gue kenalan ma temen-temennya. ” ni mas Hendra namanya” sahut Dian. salah satunya ya si Ayu itu, uh cakep juga si Ayu ini masih kecil tapi bodinya udah mantap beda ma temen lainnya, dalam hati gue terpesona liat si Ayu. “mas, Dian kedalem dulu ya!”, “oh iya-iya….belajar yang akur ya!” sambil tersenyum Dian masuk kerumahnya. Malam harinya gue ke rumah Dian karena emang gue dah biasa main kesitu. Gue ngobrol dan becanda-becanda ma Dian, “eh, temen Dian yang namanya

Ayu tadi manis juga ya?” ,”kenapa mas? naksir ya?” dasar si Dian ga bisa jaim dikit,ceplas-ceplos “Dian punya nomer telponnya ga? mas minta ya?” Dianpun masuk kekamar dan keluar membawa handphone, ” ni cari aja sendiri yang dinamain Ayoe ya mas..”kata Dian.gue langsung catet nomornya si Ayu. “udah mas?” tanya Dian. “udah nih? makacih ya… besok mas beliin coklat deh” ,”bener ya mas!” kata Dian bersemangat karena coklat emang kesukaan dia banget. Tanpa berlama-lama gue coba sms si Ayu, “hei Ayu lagi ngapain? masih inget gue ga? tadi gue yang dikenalin Dian waktu kamu maen dirumahnya”.

eh si Ayu pun balas sms gue “oh iya ayu masih inget dong, kan baru tadi.. he he..”. sms pun berlanjut terus. sehari, dua hari, tiga hari gue ma Ayu smsan,gue coba iseng ngajak dia keluar. Ga gue sangka dia mau gue ajak keluar. hari minggu gue ma Ayu janjian ketemu dan kami pun jalan-jalan muter-muter kota pake motor, ga kerasa udah sore banget dah waktunya pulangin si Ayu. tepat di jalan masuk gang dekat rumahnya,Ayu bilang “dah mas nyampe sini aja nganternya!”. gue tanya “kenapa? mas ga boleh tau rumah Ayu ya?”, “ga pa pa kok mas lain waktu kan bisa…” , “oh ya udah, besok maen lagi ya?” ajak gue. “iya mas…” jawab

Ayu…. Selang beberapa hari Ayu maen kerumah Dian,gue kebetulan ada di depan rumah Dian, “eh mas Hendra, Dian ada dirumah ga mas?” tanya Ayu.”oh tadi ada di belakang,masuk aja!” sekalian aja gue minta dia mampir ke kost gue “ntar mampir ke tempat mas ya!” dia cuma senyum-senyum… Gue masuk ke kamar kost dan tiduran sambil dengerin musik dari komputer gue, kebetulan waktu itu anak-anak kost pada pergi entah kemana jadi kost sepi banget kaya kuburan. Sambil tiduran otak ngeres gue jalan, bayangin si Ayu ada di kamar gue dan gue bisa have a fun ma dia berdua di kamar. ga nahan bodinya… masih kecil tapi dah montok semua, depan belakang mantap… Saat setengah tertidur, terdengar ada suara dari luar memanggil nama gue. “mas…mas Hendra…” gue bangun dari kasur dan keluar,gue kaget ternyata si Ayu yang ada di depan. “Ayu, ada apa? Dian ga ada ya?” tanya gue .”ada kok mas tadi cuma bentar dirumah.

Diannya.sekarang Ayu boleh maen di sini ga mas?” , “oh, tentu boleh dong..masa ga boleh” dalam hati gue pun berkata “pucuk di cinta Ayu pun tiba”,kami pun masuk ke dalam rumah kost. Rumah kost gue emang disediain tempat buat terima tamu tapi jarang dipake karena biasanya anak-anak kalo terima tamu langsung di kamar masing-masing,lebih santai katanya.”mau di sini aja apa di dalem Ayu?” gue coba tawarin ke Ayu. “dah disini aja mas..” jawabnya. kami pun ngobrol ini itu,saat asik ngobrol,becanda, gue pun mulai nakal megang-megang tangan Ayu lalu gue beraniin cium pipinya. Ayu kaget, wajahnya berubah jadi kemerahan karena malu. “ih mas kok nakal sih…

” sambil mukul-mukul gue. gue pegang tangannya dan gue cium pipi yang satunya, wajah Ayu pun makin memerah. gue elus pipinya dan mau gue cium bibirnya, “ga mau ah mas…” katanya. tapi gue tetep maksa cium dia dan akhirnya bibir manisnya berhasil gue lumat perlahan, Ayu pun memejamkan mata menikmati ciuman dari gue.. gue tambah bernafsu menciumi bibir Ayu dan mulai memainkan lidah gue. beberapa saat kami berciuman, gue lepas ciuman gue. “Ayu di kamar aja yuk! ajak gue. “nti takut ada orang liat kalo disini..” Ayu cuma diam dengan wajah yang masih malu-malu, gue gandeng tangannya masuk ke kamar kost gue dan pintu gue kunci. “kok dikunci pintunya mas?” tanya Ayu polos.”ga pa pa…!!” jawab gue.gue lanjutin ciumin bibir Ayu sambil mendekap tubuhnya dan mulai meraba.

bodinya,meremas pantatnya. Saat gue coba meraba susunya,dia mencoba menahan tangan gue tapi karena kalah kuat dengan gue, gue tetep aja berhasil meraba dan meremas-remas susunya sambil terus berciuman, tangan Ayu masih coba menahan tangan gue meraba kedua susunya.lama berciuman gue rebahin tubuh Ayu di kasur dan gue menindih tubuhnya. gue lepas ciuman di bibirnya,mulai menciumi lehernya, meremas lembut susunya kiri kanan, gue coba buka kancing bajunya tapi Ayu mencegah “jangan mas..!” tapi tetep aja gue paksa buka kancing bajunya satu persatu sehingga terlihat penyangga susunya yang berwarna putih lalu perlahan gue lepas bajunya.gue buka pengait branya sambil menciumi bibir dan leher Ayu dan melepasnya dari tubuh Ayu. terlihat payudara Ayu masih sangat indah,kencang dengan puting kecil berwarna kemerahan. Ayu hanya memejamkan matanya dan menggigit bibirnya sendiri saat gue mulai menjilati puting dan meremas susunya,terus bergantian kanan kiri dengan meninggalkan tanda merah bekas cupangan gue.

Ayu pun semakin menikmati cumbuan itu,susunya pun terasa mengeras tanda dia telah terangsang, terdengar desahan-desahan lirih dari bibirnya, kedua tangannya menjambak rambut gue. “emhh…ukhh…masss…”. gue lepas baju juga celana pendek gue, tinggal celana dalam aja yang keliatan ga muat menampung penis gue yang udah berdiri dari tadi. “ih…mas kok dilepas semua..”, “udah sempit nih Ayu..” jawab gue. gue kembali menindih tubuh Ayu dan kali ini gue cium lembut mulai dari kening berlanjut kedua matanya dan pipinya kembali melumat bibirnya,lehernya, susunya lalu turun ke perut,desahan Ayu terdengar kembali “ehhh…. mass…mmmh…” lama gue bermain di daerah susu dan perutnya,gue coba buka kancing dan resleting celana Ayu, ” mas jangan mas..Ayu ga mau..” cegah Ayu tegas.gue coba ngertiin Ayu dan kembali menciumi bibirnya.setelah dua kali mencoba dan ga diijinin,sambil gue lumat bibirnya tangan kanan gue kembali mencoba membuka resletingnya,

ternyata kali ini Ayu hanya diam dan merelakan gue lepas celana panjangnya.sekarang kami berdua hampir bugil dengan hanya memakai celana dalam.gue ciumin pahanya,perutnya,susunya,bibirnya dan menindih tubuh Ayu lagi,kali ini gue gesek-gesekkan penis gue ke memek Ayu sambil bermain lidah di mulut Ayu. Ayu sedikit mengangkangkan kakinya sehingga gue gampang menggesekkan penis gue. cukup dengan gesek-gesekan alat kelamin, gue kembali menciumi leher,susunya lalu perut dan akhirnya sampai ke memek Ayu yang masih tertutup celana dalam. Ayu menggeliat keenakkan dan meremas rambut gue dengan keras waktu gue ciumin bagian memeknya..

“eehh…mhh…masss..ahhh….” beberapa saat gue sudahi ciumin di memek Ayu dan melepas celana dalam gue.Ayu masih terbaring di kasur. “Ayu..mas pengen diciumin kaya mas ciumin punya ayu tadi dong..” minta gue merayu. Ayu menggelengkan kepalanya.”ayo dong sayang!!” rayu gue. “Ayu belom pernah mainan itu..mas” jawabnya. “sekarang Ayu coba deh..!!”. gue deketin penis gue ke wajah Ayu, “ayo sayang…!!” rayu gue lagi. dengan malu-malu Ayu pegang penis gue dan dengan ragu Ayu ciumin penis gue. “uh.. enak sayang..sedot sayang..” Ayu pun mulai terbiasa dan tau apa yang harus diperbuat,Ayu mengocok penis gue di mulutnya. beberapa saat Ayu mengulum penis gue,dia bilang “mas, udah ya mas….”. “iya sayang….” jawab gue. kini giliran gue lagi membuat Ayu keenakkan, gue cium bibirnya dan menciumi memeknya lagi.Ayu mendesah keenakkan “ehhhmm..mmmhh….”. saat Ayu sedang terbuai gue lepaskan celana

dalamnya.tubuh Ayu yang tanpa penutup apa-apa itu benar-benar bikin gue ga tahan, putih, bersih dan mulus.bagian memeknya baru mulai ditumbuhi rambut-rambut halus keliatan seksi banget.gue lumat lagi bibir Ayu sambil tangan gue mengelus-elus memeknya,gue pijit lembut klitorisnya.gue beralih mencium dan memainkan lidah di memeknya, gue gigit ringan klitorisnya,Ayu menggeliat dan menjambak rambut gue dengan keras,”masss….Ayu mau kee..luu..ar…”. Ayu mendapatkan orgasme pertamanya,memeknya basah dengan cairan yang keluar. “akhhh….ehhhmmm…” Ayu terus mendesah karena orgasmenya. “Ayu mau yang lebih enak lagi?” tanya gue setengah merayu..,”gimana mas?..” tanya Ayu polos. “caranya mas masukin punya mas ke memek Ayu…”, “ga mau ah mas…kan belom boleh..sakit katanya mas” jawabnya. “ga kok ga sakit..enak banget malah…” rayu setan gue. Ayu hanya diam dan gue mulai mencumbunya lagi. “mas masukin sekarang yah…”,bisik gue di telinganya. kakinya gue kangkangin,terlihat wajah ragu Ayu saat gue arahkan penis gue ke memeknya,gue cium dulu kening dan bibir Ayu.. gue gesek-gesekkan penis gue ke memek Ayu yang masih basah oleh cairan orgasmenya dan memulai penetrasikan penis gue sedikit demi sedikit,memeknya terasa sempit banget walau baru kepala penis gue yang masuk ke lubang

senggamanya,gue keluarin penis gue dan penetrasi lagi lebih dalam. ” mas….saakit mas…” rintih Ayu. gue cabut penis gue yang belum ada setengahnya masuk ke lubang memek Ayu. gue cium lagi bibir Ayu… “tahan ya sayang…!!” bisik gue. kembali gue penetrasikan penis gue perlahan lebih dalam dan lebih dalam lagi, terlihat darah keluar dari memek Ayu. Ayu menjerit kesakitan “akhh…saakittt mas…” kini penis gue benar-benar ditelan dan terasa terjepit lubang senggama Ayu.terlihat setitik air mata mengalir dari sudut matanya.wajah Ayu masih menahan sakit karena keperawanannya robek oleh penis gue.gue diam beberapa saat agar Ayu mampu menguasai sakit di memeknya sambil menciuminya. setelah dia agak tenang, gue mulai menarik dan mendorong penis gue,maju mundur perlahan. gue terus mengocokkan penis gue di memeknya perlahan,terasa lubang senggama Ayu sudah bisa menerima penis gue,gue percepat gerakan penis gue. Ayu pun sudah tidak lagi merintih kesakitan tapi berbalik mulai merasakan kenikmatan..

“akhhh…ukhh…mass..akhh..”desah Ayu keenakan. gue ciumin bibir Ayu sambil terus mengocok penis gue di memeknya. “ukhhh…akhhh..ehhmm…” desahan nikmat kami berdua. Ayu mendekap erat tubuh gue, “Ayu…mau ke..luar lagi…” bisiknya,terasa cairan hangat menyemprot kepala penis gue, Ayu orgasme yang kedua kali. penis gue terus keluar masuk di memek Ayu..beberapa saat setelah Ayu orgasme yang kedua, gue merasa sudah hampir mencapai orgasme. gue mempercepat gerakan penis gue.. “mas udah mau keluar Ayu..” , “akhhh….uhhh.. Ayu ju..gaa…” ternyata Ayu orgasme duluan. merasa sudah di pucuk,gue cabut penis gue dan menumpahkan sperma gue di perut Ayu

. “akhh…mmmmhh…” kami berdua terkulai berdampingan, gue menyeka keringat di kening Ayu dan mengecupnya. “makasih ya sayang…” bisik gue, Ayu hanya tersenyum kecil. gue bersihin sperma di tubuh Ayu yang terkulai lemas dan darah di memeknya dengan handuk kecil. “bobo aja bentar sayang, nti mas bangunin..” kata gue. tak lama Ayu pun terlelap dan gue tutupi tubuhnya dengan selimut. gue pandangi wajah Ayu, “memang manis banget anak ini,beruntung banget gue bisa dapetin dia” dalam hati gue berkata. Waktu sudah menunjukkan jam lima sore, gue cium pipi Ayu buat bangunin dia. “bangun sayang dah sore..” kata gue.

Ayu pun bangun, saat akan berdiri Ayu masih merasa perih di memeknya..”akhh..” rintih Ayu sambil menggigit bibirnya. Ayu perlahan mengenakan semua pakaiannya kembali. “kamar mandi mana mas?” tanya Ayu. “oh itu dibelakang..” kata gue, sambil menunjuk kamar mandi. terlihat Ayu berjalan pelan menahan sakit di kemaluannya menuju kamar mandi. setelah selesai dari kamar mandi Ayu pamit pulang. “mas Ayu pulang dulu ya, dah sore banget…” katanya. “iya, Ayu jangan lewat depan rumah dian ya, lewat samping aja…” saran gue. sebelum pulang gue cium lagi kening dan bibir Ayu… “jangan bilang sapa-sapa ya sayang!!!”bisik gue. Ayu hanya mengangguk… “hati-hati ya Ayu!! cerita bokep

Terjebak Iming Iming Berhadiah
Category: cerita bokep
Tags: cerita bokep

cerita bokep Perkenalkan namaku Ami usia 22thn dan suamiku bernama Mario yg kini berusia 24 thn. Aku adalah seorang ibu muda dgn seorang anak yg baru berumu 7bln yg kami beri nama Johan. Sejak pacaran dan menikah sampai sekarang ini, Suamiku sering ke luar negri untuk urusan pekerjaan.

Aku sendiri adalah wanita yg mendapat karunia wajah yg cantik, itu menurut teman temanku. Aku memiliki rambut yg lurus dan panjang sampai sebahu. Tubuhku sudah kembali ramping dan indah seperti pujian suamiku, meskipun aku baru melahirkan setengah tahun yg lalu. Mungkin hal itu karena aku rajin mengikuti senam aerobik, dan memang aku menjaga pola makan supaya badanku tak semakin melar, dan aku sedikit banyak bangga karenanya.

Aku sendiri tdk bekerja di luar, karena suamiku memiliki penghasilan yg lebih dari cukup. Dan memang suamiku ingin aku menjadi ibu rumah tangga yg baik saja, dgn tinggal di rumah untuk merawat anak kami dgn baik. Kehidupan sex kami juga luar biasa.

Suamiku adalah pria perkasa di ranjang, dan aku sungguh menikmati kehidupanku ini. Kini kalau suamiku tak ada di rumah, aku hanya tinggal dgn anakku, juga pembantu kami yg kupanggil bi Iyem, satpam kami yg bernama Adrian, tukang kebun kami yg bernama pak Jono, dan juga sopir kami yg bernama Agus. Di usiaku yg sekarang ini, nafsu seksku tentu sedang tinggi tingginya. Ditinggal oleh suamiku bekerja seperti ini, kadang aku amat merindukan bermain cinta denganya. Demikian sekilas tentang keadaanku dan keluargaku.
Hari itu hari Sabtu. Siang hari itu, aku menerima telepon dan aku terkejut dgn berita yg aneh. Aku mendapatkan hadiah sebuah mobil lewat undian sebuah produk. Dan seingatku, aku tak pernah mengikuti prosedur undian itu.
Dgn santai aku berkata,

�Pak, terserah bapak mau bicara apa, tp saya tak akan pernah mentransfer uang apapun untuk pajak atau yg lain�.
Dan orang itu berkata panjang lebar,
�Ibu Ami, kami memaklumi kalau ibu berhati hati, memang kami tak menyuruh ibu membayar apapun, karena pajak hadiah ditanggung oleh kami. Kami akan mengantarkan hadiah itu langsung ke rumah ibu sekitar satu jam lagi. Gratis bu, tak dipungut biaya apapun. Ibu boleh mencobanya, kalau ternyata mobilnya bermasalah kami langsung mengganti dgn yg baru. Tp itu tdk akan terjadi bu, karena kami sudah melakukan More…pemeriksaan terhadap mobil ini�.

Mendengar hal ini, aku hanya bisa mengangkat bahu dan berkata,
�Ya terserah bapak. Maaf, dgn bapak siapa saya bicara?�.
Dan orang itu menjawab,
�Dgn bapak Anto. Ibu bisa menghubungi kantor kami di nomer *** ****. Aku mengiyakan saja dan kemudian memutus pembicaraan. Dalam hati aku merasa aneh, tp ya kalau gratis, apa salahnya?

Kulihat sekarang ini adalah jam 1 siang. Aku baru selesai makan siang, maka aku menyusui dan menidurkan anakku, supaya nanti ketika aku pergi aku tak begitu kuatir. Dan memang satu jam kemudian aku mendengar bel rumahku berbunyi, dan ketika aku keluar, aku melihat sebuah mobil Kijang Innova keluaran terbaru, dgn cat yg mulus mengkilap. Di belakangnya berhenti sebuah mobil Kijang pickup. Mungkin untuk mereka yg mengantar mobilku ini pulang nanti. Aku agak terkejut juga, berarti mungkin ini benar. Seseorang turun dari mobil pickup itu, sementara orang yg sudah berdiri di depan pintu rumah menyapaku.

�Bu Ami? Saya Anto�, kata orang yg bernama Anto itu sambil mengulurkan tangannya.
Aku menjabat tangannya dgn sedikit perasaan ragu dan menjawab
�Ami�.
Orang itu memang penampilannya rapi. Tp wajahnya agak seram. Aku mencoba membuang semua pikiran negatif. Dan kemudian orang satunya yg berpenampilan biasa biasa, yg juga berwajah biasa biasa, menjabat tanganku.
�Seto�, katanya.
Aku menjabat tangannya dan menjawab,
�Ami�.

Setelah acara kenalan yg menurutku hanya formalitas ini, kami duduk di teras rumah, dan aku disodori formulir yg aku baca di bagian awal dan akhir saja, untuk memastikan aku tak keluar uang apapun untuk mendapatkan hadiah ini. Lalu Anto menawarkan padaku untuk mencoba mobil itu, karena nantinya aku harus mengisi formulir untuk memberikan penilaian tentang kondisi mobil itu, sebelum acara serah terima surat kendaraan dilakukan. Aku setuju saja, dan aku menerima kunci mobil itu dari Anto. Aku masuk ke dalam mobil itu, joknya masih terbungkus plastik semua, baunya khas mobil baru. Dan dgn didampingi mereka, aku mulai mencoba mobil itu.

Semua baik baik saja, sampai tiba tiba di sebuah gang yg sepi di dekat rumahku, Anto yg duduk di kursi depan menarik handbrake. Aku terkejut sekali, sampai lupa menginjak pedal kopling dan mesin mobil ini mati. Aku menoleh kepada Anto, tp belum sempat aku bertanya, dari belakang aku dibekap, oleh Seto tentunya. Kurasakan bau yg menyengat, dan tak lama kemudian semuanya gelap.

Perlahan aku mulai sadar. Aku mengeluh perlahan, ketika aku tak bisa menggerakkan kedua tanganku yg terentang. Sakit rasanya. Aku mulai mencoba mengerti apa yg terjadi pada diriku. Ternyata kedua pergelangan tanganku yg terentang ini, terikat erat pada semacam pilar di ruangan ini. Sedangkan aku sendiri terbaring di atas matras. Yg membuatku tercekat, aku sudah tak mengenakan apa apa lagi selain bra dan celana dalamku. Kakiku memang masih bebas, tp apa artinya? Aku kini sudah tak berdaya dgn tangan yg terpasung seperti ini. Aku memejamkan mata dan menggigit bibir, tak sanggup membayangkan apa yg akan terjadi padaku. Aku mulai menyesali kebodohanku tadi, mengapa bisa terjebak dgn iming iming hadiah itu.
Tiba tiba pintu ruangan ini terbuka, lalu masuk seseorang yg membuatku ternganga tak percaya pada pengelihatanku.

�Faizal?�, seruku tak percaya.
�Halo Ami lama tak jumpa bagaimana kabarnya?�, kata Faizal dgn senyum yg membuat hatiku dingin seperti disiram air es. Aku takut sekali.
�Faizal, apa yg kamu lakukan ini? Ingat Faizal, aku ini kakak iparmu. Tolong lepaskan aku..�, aku mencoba menyadarkan Faizal walaupun aku tahu ini mungkin sekali merupakan hal yg sia sia.

Aku tahu Faizal memang menginginkan aku sejak aku dikenalkan Mario pada keluarganya. Faizal adalah adik Mario yg kini berusia 24 tahun. Wajahnya memang cukup tampan. Dan sejak ia mengenalku, ia sudah beberapa kali mencoba mendekatiku, tp tentu saja aku tak memberinya respon. Suatu hari ketika aku berkunjung ke rumah Mario saat masih tinggal bersama keluarganya, Faizal nekat dan nyaris berhasil memperkosaku. Untung saja waktu itu kepulangan Mario menyelamatkanku, dan sejak itu aku tahu aku harus menghindari orang ini. Tp kini aku sudah jatuh ke dalam tangannya. Tanpa sadar aku bergidik ngeri.

Mendengar kata kataku, Faizal hanya tertawa. Ia mendekatiku dan krek… Faizal merenggut braku hingga tali talinya putus.
�Aduh��, aku mengeluh perlahan, sedikit sakit rasanya pada bagian tubuhku yg tertekan tali braku saat Amirik Faizal.
Aku memejamkan mataku erat erat, malu sekali rasanya toketku terlihat oleh laki laki lain selain suamiku.
�Ami.. Ami.. kamu kira aku segoblok itu sudah bersusah payah menjebakmu seperti ini dan melepaskan kamu begitu saja? Hahaha, aku belum gila, Ami�, kata Faizal sambil menyeringai mengerikan saat aku menatapnya dgn marah bercampur takut.
�Faizal, kamu gila.. lepaskan aku!!�, aku mulai panik dan membentaknya.

breeet.. breeet… seruanku dijawab Faizal dgn merenggut robek celana dalamku, hingga kini aku sudah telanjang bulat.
Aku menjerit kecil. Kini aku hanya bisa memandangi Faizal dgn jantung berdebar ketika ia mulai melucuti pakaiannya sendiri. Sesekali aku mencoba meronta, tp tak ada hasil sama sekali karena aku benar benar tak bisa menggerakkan kedua tanganku yg terentang lebar. Aku tahu, nasib yg buruk akan segera menimpaku, dan perlahan aku mulai menangis.

�Lho sayang.. kok nangis sih? Tenang saja, sebentar lagi kamu juga akan keenakan kok�, ejek Faizal yg sudah bersiap di selangkanganku.
Aku semakin ngeri, dgn suara gemetar aku memohon,
�Faizal, tolong jangan begini.. aku ini kakakmu.. kakak iparmu.. masa kamu tega berbuat begini padaku”.
Faizal tertawa sinis dan berkata dgn suara kasar,

�Diam Ami. Kamu telah merendahkanku. Kamu selalu menolakku. Kamu tak pernah menghargai aku�.
Aku sadar kalau aku memang selalu menjaga jarak denganya, karena aku merasa ia berbahaya. Dan kini memang semuanya terbukti kan?
Dan sambil merenggangkan kedua pahaku lebar lebar, Faizal melanjutkan,
�Kamu tak pernah mau aku ajak pergi makan berdua. Kamu anggap aku tak layak pergi berdampingan bersamamu. Benar benar perempuan sombong! Karena itu sekarang rasakan pembalasanku!�.

Berkata begitu, Faizal menempelkan kepala k0ntolnya ke bibir liang memekku. Aku makin panik dan berusaha menggerakkan pinggulku menghindari hunjaman k0ntol Faizal saat Faizal mulai memajukan pinggulnya.
Berhasil, k0ntol itu tak sampai melesak masuk menerobos liang memekku.

Tp rupanya Faizal marah dgn perbuatanku, ia menamparku dgn keras, hingga aku mengaduh dan menangis kesakitan.
�Jangan coba coba lagi Ami, atau nanti kamu akan kuberikan pada dua kacungku di depan itu!�, ancam Faizal dgn suara yg mengerikan.
Mendengar hal itu aku langsung melemas dan pasrah, di sela tangisanku, aku hanya bisa mengumpat getir,
�Kamu gila.. Faizal�.

Faizal hanya tertawa dan aku hanya bisa membiarkan kepala k0ntol Faizal menemukan bibir liang memekku, dan sesaat kemudian aku mengerang kesakitan saat liang memekku tertembus oleh batang k0ntol Faizal.
Aku mulai menangis saat Faizal memompa liang memekku. Walaupun aku sudah pernah melahirkan, tp berkat senam dan ramuan khusus, liang memekku kembali menyempit. Konsekuensinya, kini aku merasa kesakitan karena liang memekku dipompa k0ntol Faizal yg cukup besar.

Aku memalingkan mukaku supaya tak melihat wajah Faizal yg kesenangan karena berhasil mendapatkan tubuhku. Ia meremasi kedua toketku dgn gemas, seolah melampiaskan segala nafsunya yg tak kesampaian untuk menikmati tubuhku sejak dulu. Sedangkan aku sendiri hanya bisa terus menggeliat kesakitan.

�Ami.. punyamu enaak�, erang Faizal dgn tatapan penuh gairah padaku sambil terus menggenjotku.
Ingin aku menamparnya, tp kedua tanganku tak bisa kugerakkan. Aku hanya bisa merelakan liang memekku ditembusi oleh laki laki yg harusnya memperlakukanku sebagai kakak iparnya. Tp Faizal memang sudah kesetanan, ia mulai mencumbuiku dgn sangat bernafsu. Bibirku dilumatnya dgn ganas, sementara kedua toketku diremasnya dgn kuat.
Perlahan aku mulai terangsang karena perbuatan adik iparku ini, rasa terhina karena diperkosa mulai berganti dgn rasa nikmat yg melanda selangkanganku dan juga sekujur tubuhku.

Rupanya memekku sudah mampu beradaptasi dgn ukuran k0ntol Faizal yg tadinya terasa begitu menyesakkan. Aku malu sekali, ingin rasanya aku menyembunyikan wajahku yg terasa panas ini. Tp tentu saja hal itu tak bisa kulakukan, maka aku hanya bisa pasrah namun mati matian berusaha menahan diri supaya tak kelihatan menikmati hal ini.
Tp sayangnya, tubuhku terlalu jujur, perlahan tanpa mampu kucegah, pinggangku terangkat saat aku menahan nikmat yg luar biasa. Kurasakan k0ntol Faizal melesak begitu dalam ketika ia menghunjamkan kuat kuat kedalam liang memekku, membuatku menggeliat keenakan seperti cacing kepanasan.

Faizal tertawa sinis dan mulai menghinaku,
�Ternyata kamu menikmati punyaku juga Ami. Makanya kamu jadi cewek jangan sok suci.. hahaha.. kalau sudah kemasukan gini, toh kamu keenakan juga..�.
Sambil menghinaku Faizal terus memompa liang memekku dgn gencar. Aku sudah tak tahu apa yg harus kulakukan, karena perlahan tp pasti aku sedang diantar menuju orgasme.

�Faizal.. oohh.. sudaah.. ampuuun.. ennngghh�, aku mulai mengerang dan melenguh.
�Kenapa El? Enak ya?�, ejek Faizal dan malah makin gencar memompa liang memekku.
�Kamu..�, aku tak bisa menjawab, tubuhku menggigil, selangkanganku serasa akan meledak.
Aku terus mengerang dan melenguh, sampai akhirnya aku mengejang hebat, kepalaku terlempar ke sana kemari karena aku menggelepar dihantam badai orgasme ini.

�Oh Ami.. kamu cantik sekali kalau seperti ini�, desah Faizal yg tak menunjukkan tanda tanda akan orgasme, sementara aku sendiri sedang menderita dalam kenikmatan orgasme yg berkepanjangan ini, dan nikmatnya selangkanganku yg terus dipompa Faizal semakin menjadi jadi.
Namun rasa ngilu mulai menghampiri liang memekku, dan makin lama rasa itu makin menderaku.
Aku sudah tak kuat lagi, dan berteriak

�Faizaaalll.. aaaaah.. hentikaaaan.. amppuuuun…�
Ia benar benar perkasa seperti suamiku, hanya saja suamiku lebih pengertian, membiarkanku beristirahat kala aku mengalami orgasme. Sedangkan Faizal sama sekali tak memperdulikan keadaanku, ia hanya mencari kenikmatannya sendiri.
Aku makin menderita dalam kenikmatan ini, rasanya tulang tulang di dalam tubuhku terlepas semua dari sambungannya, sementara tubuhku meliuk liuk dan menggelepar terhempas badai orgasme yg terus menerus ini. Entah cairan cintaku sudah membanjir berapa banyak, aku mulai pening dan tak mampu mengerang lagi. Dgn kejam Faizal terus memompa liang memekku, sampai akhirnya ruangan ini rasanya berputar, semuanya gelap.

Ketika aku mulai sadar, kurasakan kedua puting susuku seperti ada yg mengulum dan menyedoti dgn kuat. Memekku masih terasa sedikit sakit, tp sudah tak terasa sesak, artinya Faizal sudah selesai memompa liang memekku. Becek sekali rasanya liang memekku, aku tahu si brengsek itu pasti mengeluarkan spermanya di dalam sana. Untungnya aku sedang dalam masa tdk subur, jadi aku tak perlu takut hamil. Tp kini aku sadar, ada dua orang sekaligus yg mengulum puting susuku, yg berarti ada orang lain selain Faizal. Dan aku mulai mengenali mereka berdua ini, bahkan Faizal bukan salah satu dari mereka. Ternyata Anto dan Seto yg kini sedang menyusu pada kedua toketku.
�Jangaaaan�, aku menjerit ngeri.

Aku tak bisa berbuat apa apa, kedua tanganku yg terentang ini tak bisa kugerakkan sedikitpun, sementara mereka berdua dgn santai meneruskan perbuatan mereka.
�Lepaskan aku.. Faizaal kamu bajingaaaan..�, aku mengumpat dalam keputus asaanku.
Dan kudengar tawa yg membuatku bergidik ngeri. Kemudian aku melihat Faizal masuk, dan memegang handycam.
Ia merekamku! Merekamku yg sedang pasrah tak berdaya saat kedua puting susuku disedot oleh kedua kacungnya.
�Biadab kamu Faizal.. Kamu kan sudah janji..�, aku langsung terdiam.
Bajingan ini memang tak pernah berjanji apa apa.

�Kenapa Ami? Kok diam? Apa aku salah? Aku memang tak pernah berjanji kalau kamu tak akan kuberikan pada mereka bukan? Hahahaha..�, Faizal tertawa dgn memuakkan.
Aku hanya bisa menangis. Habislah aku, aku sudah dalam cengkeraman Faizal sepenuhnya. Entah seperti apa nasibku di hari hari berikutnya. Sementara kedua kacung Faizal ini tertawa senang, dan mereka kembali mencucup kedua puting susuku dgn bersemangat, tak lupa tentunya mereka juga meremasi toketku.

Beberapa saat kemudian, dgn gaya yg menjijikkan, mereka membuka mulut mereka yg penuh air susuku ke arah kamera.
�Wow.. air susu Ami�, kata Faizal sambil menyorot mulut kedua kacungnya.
Kedua orang itu menelan air susuku.
�Bagaimana rasanya Anto? Seto? Enak tdk?�, tanya Faizal penasaran.
�Gurih abis bos, susu amoy gini�, kata Anto.

�Lebih enak dari susu sapi�, sambung Seto.
Kurang ajar sekali mereka ini. Dan Faizal kelihatannya penasaran, lalu ia menaruh handycamnya.
�Aku juga ingin coba�, gumannya.
Ia mendekati toketku, dan setelah memberikan beberapa jilatan yg membuatku mau tak mau merasa terangsang, tiba tiba ia sudah mencucup puting susuku. Beberapa sedotan dilakukannya, sementara aku hanya bisa mendesah keenakan.
�Bos, susunya diremas�, kata Anto.

�Bisa tambah banyak keluarnya�, Seto menyambung.
Maka Faizal menyedot puting susuku sambil meremasi toketku. Aku sedikit menggeliat kesakitan. Ia terus melakukannya sampai puas, sementara aku hanya bisa menggigil menahan nikmat.

�Susu yg enak, Ami�, kata Faizal dgn nada puas.
�Nanti aku minta lagi�, sambungnya sambil kembali mengambil handycamnya.
�Lanjutkan�, perintah Faizal pada Anto dan Seto.
Mereka berdua yg sudah melepaskan semua baju mereka hingga telanjang bulat selagi menunggu Faizal mencicipi susuku. Mereka tentu saja kembali mengerubutiku dgn kesenangan.

 

Handycam itu kembali merekamku. Kini Anto dan Seto berniat memuaskan diri mereka sendiri, bisa terlihat dari mereka mengocok k0ntol mereka sendiri untuk makin menegangkan ereksi k0ntol mereka. Melihat ukuran k0ntol mereka berdua ini, aku makin ngeri. Baik panjang maupun diameternya semuanya lebih dari ukuran milik Faizal.
Aku berusaha mematikan semua perasaanku. Kini aku digumuli oleh dua kacung si Faizal. Kedua pahaku dilebarkan oleh Anto. Aku masih terlalu lemas untuk mencoba menghindar.

Akibatnya, bless.. kembali liang memekku tertusuk oleh sebatang k0ntol.
Aku menggigit bibir, menahan segala perasaan malu dan sakit ini, air mataku terus mengalir. Handycam yg dipegang Faizal terus menyorot ke arah memekku yg sedang dipompa oleh Anto. Mukaku rasanya panas sekali membayangkan aku sedang membintangi film porno amatir ini.
Perlahan Faizal mengarahkan sorotan handycamnya ke arah tubuhku bagian atas, dan sempat berhenti agak lama ketika menyorot kedua toketku. Seto sempat meremasi kedua toketku dan semua itu disorot oleh Faizal. Sementara itu tubuhku harus terus menggeliat karena menerima rangsangan dua orang sekaligus. Liang memekku dipompa dgn gencar oleh Anto sementara kedua toketku diremas dgn gemas oleh Seto. Aku sendiri antara mendesah keenakan dan merintih kesakitan. Liang memekku masih belum beradaptasi sepenuhnya dgn ukuran k0ntol Anto, tp sudah mendatangkan nikmat yg membuatku serasa melayang.

�Sudah..hentikaaan..�, aku mengerang dan mulai menggelepar, karena kurasakan liang memekku kembali ngilu dipompa segencar itu.
Anto sendiri kelihatannya sudah akan berejakulasi, tubuhnya bergetar hebat saat menggenjotku, dan tak lama kemudian ia mengerang panjang dan meneriakkan namaku,

�Ooouuuhhh.. bu Amiyy..�.
Tubuhnya berkelojotan di atasku, dan kurasakan k0ntolnya berdenyut keras di dalam sana. Beberapa semprotan lahar panas kurasakan membasahi liang memekku, dan Faizal segera bergerak ke tempat yg bagus untuk menyorotan handycamnya ke arah memekku. Kurasakan Anto mencabut k0ntolnya perlahan, dan Faizal terus menyorot daerah memekku, aku malu sekali. Gejolak yg sempat membuatku hampir orgasme kini mereda.

Tp gilanya, si Seto langsung bersiap menggilirku, ia sudah mengarahkan k0ntolnya ke liang memekku. Aku memang tak bisa apa apa, hanya bisa menggigit bibir saat kurasakan liang memekku tertusuk oleh k0ntolnya Seto. Hanya saja sekarang rasanya tak begitu sakit, dan setelah beberapa genjotan, Faizal menyorot mukaku, karena si Anto sudah menempelkan k0ntolnya ke mulutku.
�Ami, ayo kulum�, perintah Faizal.

Aku hanya bisa menurut, toh aku sudah tak ada gunanya lagi membantah. Daripada aku mendapat tamparan atau siksaan lain, aku lebih baik mengikuti kemauan bedebah ini. Perlahan kubuka mulutku, dan k0ntol Anto yg masih belepotan sperma dan cairan cintaku, menerjang masuk ke dalam mulutku. Rasanya amis dan asin, membuatku ingin muntah. Tp aku berusaha tak memikirkan rasanya, dan ingin cepat menyelesaikan tugasku. Aku terus mengulum k0ntol si Anto ini, kubersihkan cepat cepat dan kutelan semua sisa spermanya dan cairan cintaku sendiri. Anto yg sudah tak tahan mengerang panjang dan menarik k0ntolnya dari mulutku.

Penderitaanku belum selesai.
�Buka mulutmu, Ami�, perintah Faizal sambil menyorotkan handycamnya ke mulutku.
�Perlahan!�, perintahnya lagi.
Aku mulai membuka mulutku perlahan, dan Faizal terus menyorot mulutku.
�Bagus�, katanya dgn puas.

Aku malu sekali, pasti aku terlihat layaknya seorang wanita nakal dalam handycam itu. Tak lama kemudian tubuhku terguncang guncang, rupanya Seto mulai menikmati liang memekku. Dgn bersemangat ia menggenjot liang memekku, sementara aku tak tahu bagaimana sekarang raut wajahku saat menahan malu dan nikmat dan disorot oleh handycam milik Faizal. Panas sekali wajahku rasanya, untungya Faizal kemudian ganti menyorot tubuhku bagian bawah. Kini aku tinggal memusatkan perhatianku pada si Seto.
Diam diam aku melakukan gerakan kegel, sejenis gerakan menahan buang air kecil, sambil pura pura merintih keenakan, supaya Seto cepat ejakulasi dan semua ini segera berakhir. Sesuai harapanku, tak lama kemudian Seto yg terangsang habis habisan, melolong lolong dan meneriakkan namaku.

�Aaaaarrrrghh.. Bu Amiyyyy..�, jeritnya dan kemudian ia menarik k0ntolnya, tentu saja setelah di dalam sana liang memekku dibasahi lahar panasnya.
Faizal dgn giat terus menyorot liang memekku yg tentunya tak mampu menampung sperma kedua pemerkosaku ini. Jari tangannya ditusukkan ke liang memekku mengorek sisa sperma Anto dan Seto. Seto sendiri segera beranjak ke arah wajahku, aku tahu ia hendak menagih jatah servis oral dariku.

Seperti tadi, Faizal yg buru buru mengarahkan handycamnya ke wajahku memberikan instruksi instruksi padaku hingga membuatku kembali terlihat seperti pelacur. Tp aku hanya bisa menurutinya, walaupun dgn hati pedih.
Setelah semua selesai, Faizal mematikan handycamnya.
�Faizal, sudah, lepaskan aku.. please�, aku memohon.
Tp Faizal tak menjawab, malah ia dgn bernafsu melihat ke arah toketku.

Aku langsung tersadar dan teringat keinginan Faizal tadi, yaitu ingin merasakan air susuku lagi.
Dan memang benar, Faizal segera melumat puting susuku, ia menyedot susuku sepuas puasnya. Aku mendesah keenakan, memang rasanya nikmat sekaligus amat merangsangku. Aku menggigit bibir, apalagi Anto ikutan melakukan hal yg sama pada puting susuku yg sebelah. Kini dua orang dewasa menyusu pada kedua toketku seperti bayi, dan aku hanya bisa memejamkan mata berharap mereka segera selesai.
Aku melamunkan suamiku, maafkan aku Mario.. aku bahkan sempat orgasme ketika diperkosa adikmu

Tak terasa sampai si Seto juga sudah puas menyusu, dan akhirnya ikatanku dilepaskan. Lega rasanya, walaupun terasa sakit pada bekas ikatan di kedua pergelangan tanganku. Aku duduk dan mengurut kedua pergelangan tanganku, dan aku memandang Faizal dgn benci sekaligus takut, karena dgn rekaman handycam itu, ia pasti akan menggunakannya untuk mengancamku agar menurutinya kelak kalau ia menginginkan tubuhku lagi. Ia tersenyum dgn penuh kemenangan ketika bersama dua kacungnya melihat hasil rekaman film porno tadi.
Aku malu sekali, dan aku mencari cari pakaian luarku yg ternyata berserakan tak jauh dari tempat aku digangbang tadi.
�Sudah puas kalian?�, bentakku dgn jengkel dan menahan tangis.

Aku memakai pakaianku tanpa bra dan celana dalam. Keduanya memang sudah tak bisa aku pakai karena tadi direnggut paksa dari tubuhku hingga robek. Mereka tertawa tawa dan beberapa saat lamanya mereka menonton rekaman pemerkosaan terhadap diriku, kemudian Faizal mematikan handycamnya. Ia menghampiriku dan tiba tiba melumat bibirku.

Aku menarik wajahku ke belakang untuk melepaskan diri dari ciumannya, lalu aku menamparnya, keras sekali.
Bajingan kamu Faizal! Kamu tega sekali melakukan ini semua sekarang antarkan aku pulang!, kataku lirih, sambil menangis.
Faizal mengelus pipinya yg baru kutampar keras itu dan memandangku dgn aneh. Aku bergidik ditatap oleh Faizal seperti itu. Lalu Faizal melangkah ke arah luar diikuti oleh kedua kacungnya. Aku mengikuti mereka, dan dgn tegang aku masuk ke dalam mobil Kijang Innova pembawa petaka itu. Aku duduk di kursi penumpang depan, Faizal yg menyetir, sementara Anto dan Seto duduk di belakang.

Dalam perjalanan, kami semua diam, sedangkan aku sendiri dalam ketegangan yg luar biasa, karena aku berada semobil dgn para pemerkosaku. Tp untungnya mereka tak melecehkanku lebih lanjut, dan mobil sialan ini mengarah ke rumahku.
Ketika aku turun dari mobil, aku mendengar Faizal berkata,
Ami, sampai ketemu lagi, kapan kapan kita main main lagi ya.

Dgn muak aku membanting pintu mobil, dan aku segera masuk ke dalam rumah sambil menahan tangis.
Aku segera melihat anakku. Agak lega melihatnya masih tertidur pulas.
Aku segera mandi dan keramas, membersihkan tubuhku yg sudah ternoda oleh adik iparku yg bejat itu, yg tega menyerahkanku pada dua kacungnya. Aku memang rindu bermain cinta, tp itu adalah dgn suamiku sendiri, bukan dgn Mario, bukan dgn mereka ini. Apalagi diperkosa seperti tadi, sakit sekali hatiku rasanya. Tanpa sadar aku kembali menangis.

Aku tahu hari ini adalah hari pertama aku mengalami penghinaan seperti ini, dan ini bukan hari terakhir.
Terbukti dua hari kemudian, aku mendapat kiriman DVD dari Faizal, yg berisi rekaman pemerkosaan terhadap diriku oleh dua kacungnya itu, dgn sebuah surat bertuliskan
Ami, lain kali kita bermain tanpa ikatan pada kedua tanganmu kamu pasti akan lebih menikmatinya. cerita bokep

Mahasiswi Pelampiasan Sakit Hati
Category: cerita bokep
Tags: cerita bokep

cerita bokep Ini cerita sex nyataku bersama gadis yg bernama Erlin, Erlin adalah adik dari pacarku, pacarku itu telah menghianatiku sehingga timbul niatan yg tdk baik utk didiriku utk membalas, tetapi karnea aku dgn pacarku beda kota, jdinya niat itu agak sulit terwujud, namun Erlins adik dri pacarku itu kebetulan sekali kuliah di yogyakarta, ya yogyakarta kota tempat tinggalku.

Erlin berumur 19 tahun, dan aku sendiri berumur 24 tahun. Erlin menganggapku sebagai kakakknya, karena dari dulu Erlin sangat menginginkan punya kakak laki2, sedangkan mereka hanya 2 bersodara, begitu jg aku yg menginginkan seorang adik cewek, pada mulanya kami sering pergi bareng, bahkan Erlin pernah menunggui aku ketika aku mengalami sakit parah di RS, tetapi kembali lagi bahwa tdk ada niatan dan rasa apa-apa, karena kami selalu menganggap bahwa kami adalah saudara kandung.

Oh iya Erlin cewek dgn tinggi sekitar 165cm, dgn berat 45 kg, cukup kurus memang, wajah spesifik khas orang jawa, ya mirip-mirip Anggun C. Sasmi dgn potongan rambut pendek lah… tonjolan di dadanya tampaknya cukup kecil dgn ukuran 32b.
Setelah mengetahui aku dikhianati oleh cewekku, maka timbul niatan didalam hatiku utk membalas cewekku itu, namun aku bingung bagaimana caranya, disaat aku melamun mencari cara utk membalas, tiba-tiba terdengar bunyi dering SMS, yg ternyata dari Erlin, Erlin pingin tanya tugas ujian yg akan ditempuhnya, maklum karena aku adalah asisten dosen, sehingga Erlin sering banyak tanya ke aku. Lalu aku menjawab sms tsb

“ ya udah kamu ke sini aja, nanti aku ajarin, kira-kira 1 jam lagi ya, karena aku mau mandi dulu”, karena saat itu Erlin mau datang, aku bergumam kalau
“ Nah ini aja cara utk balas dendam ke Tyas ( nama kakak dari Erlin ) ” dgn cepat aku siapkan handycam dan aku pasang sedemikian rupa sehingga tdk kelihatan oleh orang yg tdk tahu, kemudian aku langsung keluar naik motor membeli obat peangsang utk wanita.

Semua persiapan sdh dilakukan, tinggal menunggu kesempatan saja. Tepat jam 2 siang dirumahku, “ting-tong” bel berbunyi, pintu dibukakan oleh adikku, Erlin kupersilakan masuk, tetapi aku masih bingung bagaimana akan menikmati tubuh Erlin, karena ortu dan adikku ada dirumah, sambil berpikir keras mencari cara, ternyata tiba-tiba ada telepon dari nenekku kalau ada rapat keluarga mendadak membahas masalah warisan, biasanya ortuku selalu mengajakku utk nyopir, tetapi karena sedang ada Erlin, maka akhirnya adikku yg menyopir.
“Kebetuan sekali” gumamku, sambil menutup pagar setelah mereka pergi, aku menyiapkan segelas teh yg tentunya udah kuberi dgn obat perangsang yg tadi aku beli. Dosisnya kuberi agak banyak utk jaga-jaga kalau Erlin minum sedikit, karena Erlin sangat haus, maka Erlin langsung menghabiskan teh itu, karena kebanyakan dosis Erlin malah pusing dan langsung pingsan.

Aku tipikal orang yg tdk bergairah jika menyetubuhi cewek yg lagi tidur, maka aku ambil seutas tali, tangan kiri dan kanan aku ikat di pojok tempat tidur, kaki aku biarkan saja, supaya nanti ada sedikit usaha utk menikmati tubuhnya..setelah persiapan selesai, Erlin aku bangunkan dgn memerciki air ke wajahnya, akhirnya Erlin terbangun, Erlin berteriak
“ Mas apa-apaan ini??!!??”,

“Nggak papa Lin, kamu belom pernah ngrasain surga dunia kan?, kamu akan aku kasih gratis Lin, kamu harusnya bangga lho Lin, soalnya gak semua cewek bisa nikmatin kaya gini, cewek-cewek lain tunggu mereka nikah” jawabku…
lalu Erlin memohon

” Aku mau diapakan mas? Jangan mas” mulutnya langsung kubekap dgn bibirku, aku ciumi bibirnya secara liar, tampaknya Erlin belum terangsang dan masih menolak membalas ciumanku, langsung aku cium lehernya dgn liar, Erlin agak sedikit merasa geli campur kenikmatan,
dgn tangan yg terikat Erlin tetap berteriak

“ Jangan Mmmmaaasshh, mmmhhh, ahhhh, janghhggaannn” karena Erlin mulai mendesah, tanganku mulai bergerilya, mula-mula aku remas-remas punggungnya, sambil tetap kuciumi leher dan tengkuknya, tanganku masih memain-mainkan punggungnya biar tali Bhnya lepas, dan tak lama setelah itu tali Bhnya pun lepas, aku udah tdk tahu lagi apa yg Erlin teriakkan, karena diriku udah terkubur oleh nafsu, perlahan-lahan tanganku mulai kedepan sambil tetap meremas, namun kupindah kebelakang lagi, dgn permainan lidahku dilehernya, tampaknya udah membuat Erlin lupa ingatan, mungkin karena pengaruh perangsang tadi, Erlin tanpa sengaja mendesah,

“ Janggann mmmassshh, mmmppphhh, jaangann, jangan, hentikaann, ahhh, jangan hentikan, ahh teruss” tanpa sengaja Erlin berusaha utk memutar badannya, tampaknya malah Erlin yg menginginkan toketnya diremas, karena dari tadi aku hanya meremas punggungnya, aku bergumam “ bentar lagi kena kamu “ akhirnya Erlin udah tdk tahan lagi, badannya memutar dadanya langsung diarahkan ke tanganku, tetapi tetap kupermainkan Erlin, tdk langsung aku pegang toketnya.

Karena pengaruh obat perangsang tadi, Erlin malah memohon dgn suara memelas
“ please mas….tolong aku…, pegang susuku, remas, dan cium…tolong mas…jangan hentikan….” Erlin masih kupermainkan, toketnya tdk langsung aku pegang,

setelah berkali-kali aku mendengar rintihannya, langsung kulepas kaosnya, pada mulanya aku bingung gimana cara melepasnya, karena tangannya terikat, tanpa pikir panjang langsung aku ambil gunting di dekat kasur, yg rencananya akan digunakan utk mengancam, langsung aku gunting bajunya dan Bhnya, karena aku udah tdk tahan lagi, langsung aku jilat Putingnya yg kanan, dan yg kiri aku remas, sambil aku mainkan Putingnya dgn jari, Erlin yg saat itu masih terhanyut dalam obat perangsang tiba-tiba agak tersadar dan berteriak
“ mas…kenapa achh mas ahh lakukan ini?? Achh..achh” kujawab

“ karena aku sayang kamu, jadi kuberi kamu kenikmatan yg cewek lain gak bisa nikmatin, bahkan mbak kamu aja gak pernah lho…” sambil bergantian kiri kanan menjilat Liningnya, tanganku yg satunya lagi bergerilya kebawah, Erlin saat itu masih memakai celana jeans.
Aku buka pengait di jeansnya, terlihat saat itu Erlin masih agak memberontak, karena meskipun fisiknya menerima rangsangan yg hebat, namun hatinya masih menolak karena disetubuhi orang yg Erlin anggap kakak kandungnya sendiri, kakinya berusaha menendang-nendang, tetapi justru itu memudahkan bagiku utk melepas jinsnya, dgn cepat aku tarik jinsnya sehingga Erlin kini hanya tinggal menggunakan celana dalam saja..sambil menjilati Liningnya, dgn cepat kutarik cdnya dgn cepat, bahkan mungkin cdnya robek karena aku menariknya kuat-kuat.

Kini Erlin udah telanjang bulat, melihat Erlin telanjang bulat, aku langsung bangun dan memandangi wajah Erlin dgn tangan terikat, tanpa benang sehelaipun, Erlin saat itu langsung menangis, mungkin merasa malu karena tubuhnya yg telanjang bulat dilihat oleh cowok yg dianggapnya kakak sendiri.

Dgn cepat aku langsung melepas seluruh pakaianku sehingga aku jg telanjang bulat, melihat aku telanjang, Erlin langsung menjerit, dan merem melek, liat kontolku. Kontolku sih kayaknya standar saja, karena ukurannya 14 cm, tp karena Erlin itu dasarnya orang yg tdk aneh-aneh, dan bisa dikatakan lugu, maka dia tetap kaget.
Erlin memohon

“ mas…jangan mas, aku itu sayang mas, dan kuanggap sebagai kakakku sendiri, kenapa mas tega lakukan ini??”…
“ Lin…aku jg sayang kamu, makanya kamu kuberi hadiah yg tdk bakal terlupakan, sdh kamu nikmatin aja ya Lin” bibirku langsung cepat melumat bibirnya dgn memeras dan memilin Puting toketnya, Erlin mulai mengerang
“ ooocchh … ochh… eemmmhhh”ciumanku mulai menurun ke arah Puting toketnya, dan mulai kebawah lagi hingga ke liang kenikmatannya,

sambil tetap memeras dan memilin-milin puting toketnya, aku mencoba menjilat memeknya ( jujur aja saat itu aku jg baru pertama kali melakukannya ) pertama aku jg agak jijik dan sedikit mual, tetapi karena reaksi yg diterima Erlin menunjukkan respon positif dgn mendesah agak keras, maka aku jg semakin berani menjilat-jilat kekiri dan kekanan di lubang kenikmatannya.
Erlin saat itu udah merem melek merasakan nikmat, sambil terus mendesah
“eemmhhh….occhhh….emmpphhh…oocchh…mmmphh” karena merasa udah sedikit aman, aku mencoba melepas ikatan tali ditangannya, utk melihat respon dia yg sdh terangsang,

ternyata yg dilakukan sama Erlin secara tdk sengaja malah membimbing tanganku utk memilin-milin Putingnya sambil berteriak
“terrusss maasss….ooocchhh,,,..oocchhh…” selama 15 menit aku jilat lubang kenikmatannya tiba-tiba dia memegang tanganku dgn kencang sekali, tubuhnya kaku, dan dia menggelinjang hebat sambil berteriak

“ kepalanya jangan disitu mas…..aku mau ngeluarin…” aku gak perduli dan tetap menjilat-jilat,
sampai akhirnya dia orgasme banyak sekali sampai mulutku blepotan terkena cairan kenikmatannya..
”occhh…occhh…occhh” dia berteriak sambil menggelinjang.

Beberapa saat setelah Erlin orgasme dgn hebat, Erlin langsung memeluk badanku, tampaknya Erlin udah tdk perduli lagi…langsung kesempatan itu aku lakukan dgn berusaha memasukkan kontolku kedalam memeknya, karena dia habis orgasme, maka memeknya masih terdapat banyak cairan, karena aku udah tdk tahan lagi, sambil memeras dan menjilat Liningnya, aku mencoba memasukkan kontolku,
Erlin yg saat itu udah mulai sadar dari kenikmatannya langsung berteriak

“ Jangan dimasukkan mas…aku mohon, aku lakukan apapun biar mas bisa merasakan enak, apapun mas…”
“bener nih??” tanyaku
“ Iya mas, apapun, aku jg janji gak bakal cerita sama siapapun mas…” Setelah itu aku cium bibirnya dgn penuh kelembutan, Erlin pun mau membalas ciumanku, kujulurkan lidahku di bibirnya, dan dia membalas dgn saling menjulurkan lidah, kami saling berciuman hebat selama 10 menit,

sambil berciuman tanganku tetap meremas dan memilin Puting toketnya, sehingga Erlin udah mulai terangsang kembali, sambil terus mendesah aku terus menciumi lehernya hingga kebawah, tampaknya Erlin udah mulai tdk perduli atas perkosaan yg dialaminya, mungkin karena pengaruh obat perangsang, Erlin terus mendesah, dan mendesah, desahan-desahan yg kudengar sangat membuat nafsuku semakin tinggi, aku mulai semakin turun menjilat memeknya kembali, dan memeknya udah mulai basah kembali, karena sdh mulai terangsang, aku mencoba kembali utk memasukkan kontolku, Erlin agak tersentak kaget

“ Mas aku mohon..jangan mas”, “ Cuma menggesek-gesek kok Lin, gak apa-apa, gak bakalan masuk”, jawabku..
lalu Erlin mengiyakan, dgn menggesek-gesekan kontolku ke lubang kenikmatannya, membuatku leluasa menciumi lehernya sambil meremas dan memilin Liningnya, kadang aku memberhentikan gesekanku, tetapi malah Erlin menggoyang pinggulnya supaya klitorisnya mengenai kontolku, dan hal tersebut berlangsung selama 15 menit, karena Erlin sdh tdk tahan atas rangsangan yg begitu hebat, maka secara tdk sadar Erlin terlena dan berbisik kepadaku

“ Mas…akkhhh akkuu, uddaah gak tahaan..akkhhh, massukkin aja mas…sssshhh” mendapat lampu hijau aku langsung mencoba utk masukin, karena aku pada dasarnya jg belum melakukan seperti itu, maka aku coba masukin secara pelan-pelan, lubangnya sempit sekali, karena memang Erlin masih perawan.

Aku coba terus menerus dan berusaha sekuat tenaga, Erlin berteriak
“ Pelan-pelan Mas”, selama hampir 5 menit aku mencoba jg belum masuk-masuk, akhirnya dgn perjuangan sekuat tenaga blessshhh, kontolku berhasil masuk ke memeknya, Erlin memekik
“ Ahhh… sakit mas“, keluar darah segar dari memek Erlin tanda keperawanannya telah bobol.
“ Sakitnya cuma sebentar sayang, habis itu enak sekali” jawabku,

aku terus memompa batang kontolku di lubang kenikmatan Erlin, aku merasakan kontolku dipijit-pijit oleh lubang kenikmatannya, rasanya nikmat sekali, benar-benar merasakan surga dunia, Erlin pun jg tampak menikmatinya sambil mendesah
“ Ahhhkk…ahhh…ahh…teruss mass..ssshh…mmmhh, jangann berrhenti…ahhkk, ennaakk sekali mass…”,
“sepeti surga dunia kan Lin?” tanyaku..

“ Iyyaa…ahhkk..masshh..” jawab Erlin..
Aku terus memompa dgn sangat cepat sekali, sampai toket Erlin bergerak naik turun..suatu pemandangan yg sungguh indah melihat Erlin telanjang bulat sedang aku setubuhi..setelah 25 menit aku memompa, tiba-tiba badan Erlin kembali kaku, mengejang, dan menggelinjang dgn hebat tanda Erlin sdh mau orgasme…langsung kupercepat kocokanku supaya aku jg dapat ngluarin bareng.. tetapi karena Erlin udah tdk tahan maka dia berteriak

“ Maasss…..eennaakk sekaalii…aku mau keluarin” Erlin orgasme utk yg kedua kalinya, aku merasakan ada cairan panas di kepala kontolku,
aku tetap mengocok tubuh Erlin sehingga selang beberapa saat aku jg mau orgasme
” Lin aku jg mau keluar…” kataku,

langsung aku keluarkan di dalam rahim Erlin, Erlin merasakan ada cairan hangat yg masuk kerahimnya, setelah orgasme, kami berdua saling berpelukan cukup lama, dan aku membiarkan kontolku berada di liang memeknya…
Entah apa yg berada di dalam pikiran Erlin, sehingga dia hanya terdiam seribu bahasa, lalu aku kecup keningnya sambil berkata
“ Gimana Lin? Enak kan ?“ dia mengangguk dgn mata yg agak sembab, mungkin dalam hati kecilnya dia agak menyesal atas apa yg terjadi, tetapi dia tdk bisa menahan keinginan fisik dan nafsunya utk disetubuhi..

akhirnya kami tertidur dalam keadaan telanjang, sampai akhirnya kami kaget dgn bunyi bel tanda ortuku dan adikku pulang..Saat itu kami panik, kami berdua masih telanjang, sedangkan baju Erlin udah robek semua terkena gunting…cdnya jg udah robek..
Setelah pintu digedor beberapa lama namun kami tdk membukakan karena masih bingung akan pakai pakaian apa Erlin nanti, Erlin langsung kusuruh sembunyi di lemari pakaian, dan aku pura2 dari kamar mandi.

“ Kenapa pintunya lama sekali dibuka ? “ tanya ayahku,
“ Oh maaf, tadi aku baru mandi pap “.
“ Lho Erlin mana ? kok motornya masih disini ?” tanya ibuku.
“ Oh tadi ketempat temennya di dekat sini aku yg anterin mam, terus nanti aku jemLin. “
“Lho papa mama kok udah pulang ? “ tanyaku
“ Oh ini ada yg ketinggalan berkas sertifikat rumah, bentar lagi jg berangkat “ Jawab ayahku.
“ Yes “ gumamku dalam hati, masih ada kesempatan utk bisa lepas dari masalah ini.

Setelah ortuku berangkat, aku buka pintu lemari, dan aku bilang ke Erlin kalau semuanya sdh aman. Aku kembali mencium keningnya, mulut kami saling berpagutan dan akhirnya saling bersetubuh kembali sampai 1 jam lamanya, entah berapa kali dia orgasme, yg jelas aku merasakan orgasme sampai 3 kali, Erlin tampaknya benar-benar menikmati persetubuhan ini.
Setelah itu akhirnya Erlin pulang dgn pinjam kaosku, setelah kejadian itu kami tdk pernah saling kontak, dan komunikasi. Tp setelah kejadian itu, Erlin malah punya pacar, dan dia membuka diri utk berhubungan dgn cowok, tdk seperti dulu yg tdk bisa menerima cowok, mungkin karena ketagihan kali ya?

Tetapi setiap mengingat desahan dan goyangan Erlin membuatku langsung dibakar nafsu..Erlin benar-benar hebat utk pengalaman pertamaku, aku menyesal kenapa dia tdk kujadikan pacar saja, karena kalo dia pacarku bisa jadi aku merasakan kenikmatan setiap saat. cerita bokep

Seharusnya ini tak terjadi mak
Category: cerita bokep
Tags: cerita bokep

cerita bokep Sulastri dan Haryo tinggal menyewa rumah di sebuah kampung. Surya, berumur 51 tahun yg bekerja sebagai buruh kontrak menebang hutan seringkali masuk ke hutan hingga berhari-hari lamanya, malah kadang kala hingga sebulan tak pulang ke rumah. Manakala Sulastri pula, 48 tahun, menjadi ibu rumah tangga sepenuh waktu menjaga anaknya Syifa yg masih duduk di bangku sekolah dasar. Anaknya Mansyur, atau sering dipanggil Rosid oleh temannya yg berumur 20 tahun bekerja di bengkel motor yg terletak selang 2 buah rumah dari rumahnya. Jarak umur Rosid dengan adiknya memang jauh, malah Sulastri dan Haryo sendiri tdk menygka bahwa mereka masih boleh menimang buah hati setelah sekian lama diterka hanya Rosid sajalah anak tunggalnya.

Kerja Rosid sebagai mekanik dimulai sejak dia menamatkan sekolah kejuruannya. Lantaran masalah keuangan keluarganya, dia tdk dapat melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Demi membantu keluarga, Rosid bekerja di bengkel pak Abu. Berawal sebagai anak suruhan, Rosid kini sudah pandai memperbaiki motor, hasil didikan pak Abu yg percaya dan yakin dengan keahlian terpendam Rosid. Uang gajinya selalu digunakan untuk membantu ibu dan adiknya membeli kebutuhan lantaran bapaknya, Haryo yg jarang pulang ke rumah karena bertugas di pedalaman dan jauh dari rumah.

Sulastri yg merupakan ibu rumah tangga, masih cantik wajahnya. Berwajah putih berseri dengan tahi lalat di kiri dagunya, sering memakai kerudung ketika keluar rumah, menyembunyikan rambutnya yg pendek sebahu. Selalu juga Sulastri merasakan kesepian menikmati hubungan suami isteri lantaran hidupnya yg selalu ditinggalkan suami.

Namun apa daya, dia tetap meneruskan hidup bersama anak-anaknya. Malah, Sulastri juga pernah berniat untuk selingkuh demi tuntutan nafsu yg seringkali sulit untuk dibendung, namun hati baiknya berkata tdk, lantaran statusnya sebagai isteri orang. Sulastri tahu, hanya pinggulnya yg besar dan montok itulah senjatanya lantaran bentuknya yg memang semok dan menggoda.

Walau pun dia cantik, bertubuh semampai namun padat berisi, toket yg besar (36 C) sedikit melayut karena telah berumur, perut yg agak buncit, paha dan pantat yg lebar namun karena telah berumur itulah memberi kemungkinan bahwa tak ada siapapun yg bernafsu kepadanya. Ini mendorong Sulastri untuk memendamkan saja kesepiannya sendirian. Sejak suaminya masuk ke hutan 2 minggu lalu, dia tdk pernah merasakan kenikmatan seksual. Pernah juga dia mencoba masturbasi sendirian, tdk nikmat rasanya, jadi, dipendamlah saja perasaan birahinya.

Namun, sudah hendak menjadi cerita, pada suatu pagi yg indah, Syifa pergi untuk mengikuti kegiatan alam dari sekolahnya . Esok baru pulang ke rumah. Jadi tinggal hanya Sulastri dan Rosid saja di rumah. Oleh karena hari itu adalah hari Minggu, bengkel di tutup, maka Rosid mengambil keputusan untuk bangun siang di pagi yg indah itu. Sulastri yg sendirian menonton televisi merasa bosan karena tak ada teman berbagi cerita, dikarenakan anak keduanya Syifa sudah pergi bersama rombongan sekolahnya. Lantas dia teringat Rosid yg sedang tidur di kamarnya.

Sulastri masuk ke kamar Rosid, dilihatnya anaknya itu masih berselimut di atas tempat tidur. Di gerakkan kakinya supaya bangun dari tidur. Dengan mata yg malas, Rosid membuka mata. Terlihat emaknya sedang berdiri di pinggir tempat tidur meperhatikannya.
“Rosid, dah pukul 9.00 pagi ni. Kenapa tak bangun, Mak bosan sendirian.” Kata Sulastri .
“Hmmm… bentar lagi Rosid bangun…” kata Rosid sambil kembali melelapkan matanya.
“Ayo bangun, sbentar lagi kalau mak datang tak bangun, mak siram dengan air.” Kata Sulastri sambil tersenyum dan berlalu dari kamar anak bujangnya.

Rosid, yg terjaga itu sukar hendak melelapkan matanya kembali. Terlalu sayang rasanya hendak meninggalkan tempat tidur di pagi hari Minggu yg dingin itu. Kabut yg masih menerawang menyejukkan suasana. Batang penis Rosid yg jadi keras sendiri setelah bangun tidur menongkat selimut yg di pakainya. Perlahan-lahan di urut batang penisnya dari luar selimut, fikirannya terbayang Nur, anak pak Haji Ali yg selalu menjadi bayangan onaninya itu.

Tiba-tiba emaknya muncul kembali. Rosid pun pura-pura tidur karena takut emaknya tahu kelakuannya yg sedang mengurut batang penisnya yg sedang ngacung menongkat selimut itu.
“Ish.. ish.. ish… masih tak bangun lagi si bujang ni…” bisik hati Sulastri .

Namun, perhatiannya tertarik kepada bonjolan yg menongkat tinggi selimut anaknya. Serta merta perasaannya berdebar. Naluri kebirahian seorang wanita yg membutuhkan sentuhan nafsu itu terus bangkit melihat kain yg menyelimuti anaknya di tongkat batang penis anaknya yg sedang keras itu. Niatnya yg hendak mengejutkan Rosid serta merta mati, apa yg ada di fikirannya adalah, gelora ingin melihat batang penis keras milik anaknya.

Sulastri yg menygka anaknya masih tidur itu perlahan-lahan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya terasa ingin sekali memegang batang penis yg sedang keras menegak itu. Sudah lama rasanya dia tdk dapat memegang batang penis suaminya. Keinginannya telah mendorong Sulastri untuk memberanikan diri memegang batang penis Rosid. Batang penis Rosid di pegangnya lembut. Kekerasan otot batang penis anaknya menambah kebirahian Sulastri untuk melihatnya lebih dekat.

Perlahan-lahan Sulastri membuka selimut Rosid, maka terpampanglah tubuh Rosid yg tidur tanpa seurat benangpun di hadapan matanya. Batang penis Rosid yg sudah tdk tertutup itu di usapnya lembut. Hampir sama dengan batang penis milik suaminya. Sulastri mengusap-usap batang penis Rosid dengan perasaan birahi. Nafsunya yg merindukan batang penis suaminya itu telah menghilangkan kewarasannya dan membuatnya lupa bahwa dia sebenarnya sedang bernafsu memegang batang penis anaknya sendiri.

Rosid yg pura-pura tidur itu, berdebar-debar merasakan batang penisnya dipegang emaknya. Dia tdk menygka emaknya berani memegang batang penisnya. Hendak di buka matanya, takut emaknya memarahinya pula karena terlambat bangun tidur dan menipu berpura-pura tidur. Jadi Rosid mengambil keputusan membiarkan saja perlakuan emaknya terhadap batang penisnya.

Sentuhan lembut tapak tangan dan jari jemari Sulastri di batang penis Rosid membangkitkan kenikmatan kepada Rosid. Batang penisnya menegang setegang-tegangnya dan ini memberikan sensasi kepada Sulastri untuk memegangnya lebih kuat lagi. Sulastri mengocok batang penis Rosid dengan nafasnya yg semakin terburu-buru. Bukan main senang rasanya merasakan batang penis lelaki, jadi, peluang sudah ada didepan mata, ini lah waktunya.

Rosid yg masih berpura-pura tidur itu benar-benar menikmati batang penisnya dikocokkan emaknya sendiri. Dia membiarkan emaknya mengocok batang penisnya dan di fikirannya terbayang Nur anak pak Haji Ali yg sedang mengocoknya. Kebirahiannya akhirnya memuncak dan membuat air maninya memancut keluar dari batang penisnya yg keras.

Sulastri yg terkagum-kagum dengan pancutan demi pancutan air mani anaknya, Rosid itu terus mengocokkan batang penis anaknya hingga tak ada lagi air mani yg keluar. Aroma air mani yg sudah lama tdk menusuk ke hidungnya memberikannya satu perasaan yg melambangkan sedikit kepuasan. Air mani anaknya yg melekit di tangannya di ciumnya dan di hirupnya sedikit demi sedikit dengan penuh nafsu. Rosid yg terkejut mendengar bunyi hirupan itu membuka sedikit matanya dan terlihat olehnya Sulastri sedang menjilat air maninya yg berlumur di tangan. Berdebar-debar perasaan Rosid ketika itu. Dia tdk menygka bahwa emaknya mampu bertindak seperti itu.

Sulastri yg puas merasakan air mani anaknya yg melekit di tangannya kembali bangun dari tempat tidur dan menyelimuti anaknya. Dia kemudian keluar dari kamar Rosid dan kembali ke ruang tamu menonton tv. Terasa sayang hendak mencuci tangannya. Bau air mani lelaki yg dirindui itu terasa sayang hendak dihilangkan dari tangannya. Kalau boleh, dia ingin tangannya terus melekat dengan air mani anaknya itu selama-lamanya. Perasaan bersalah ada sedikit terpikirkan, namun, baginya ia tdk perlu dirisaukan karena perbuatannya itu tdk disadari anaknya. Dia melakukannya ketika anaknya sedang terlelap tidur.

Namun berbeda pula bagi Rosid, dia benar-benar tdk menygka bahwa batang penisnya di kocokkan oleh emaknya sendiri. Malah, air maninya juga dinikmati dengan nikmat di hadapan matanya sendiri. Rosid terasa malu kepada diri sendiri, juga kepada emaknya. Namun kenikmatan yg baru saja di nikmati secara tiba-tiba membangkitkan seleranya dan kalau boleh dia ingin emaknya melakukannya lagi, tetapi perasaan hormatnya sebagai anak serta merta mematikan hasratnya. Baginya, yg lebih baik adalah, merahasiakan perkara ini dan membiarkan emaknya masih menganggap bahwa dirinya sedang tidur ketika kejadian itu berlangsung.
Hari itu, mereka anak beranak berlagak seperti tak terjadi apa-apa. Masing-masing membuat kesibukan sendiri. Namun di hati masing-masing, hanya tuhan saja yg tahu…

Pada sore harinya, Sulastri yg selesai mengangkat pakaian dari jemuran terlihat kelibat anaknya yg sedang terbaring di sofa. Bunyi tv masih terdengar namun tdk pasti apakah anaknya sedang tidur atau tdk. Perlahan-lahan dia menghampiri anaknya dan dia melihat mata anaknya terpejam rapat. Terlintas di fikirannya ingin mengulangi kembali saat-saat indah menikmati batang penis keras anaknya di dalam genggamannya.

Sementara itu, Rosid yg terbaring di sofa sebenarnya tdk tidur. Dia sebenarnya ingin memancing emaknya karena kenikmatan batang penisnya dikocok pagi tadi mendorongnya untuk menikmatinya sekali lagi. Dia tahu emaknya ragu-ragu memastikan apakah dirinya sedang tidur. Jadi Rosid sengaja mematikan dirinya di atas sofa.

Sulastri sadar, inilah waktunya yg paling sesuai untuk melepaskan nafsunya. Tanpa segan lagi, Sulastri menyelak celana pendek tipis anaknya. Batang penis anaknya yg gemuk dan panjang itu di pegang dan terus di kocoknya. Tdk sampai semenit, batang penis anak bujangnya itu sudah mengeras di dalam genggamannya. Sulastri berkali-kali menelan air liur melihat batang penis yg keras di hadapan matanya itu. Semakin di kocok semakin galak kerasnya. Kepala batang penis Rosid yg kembang berkilat bak kepala cendawan itu di mainkan dengan ibu jarinya. Rosid sedikit menggeliat karena ngilu. Serta merta Sulastri memperlambat kocokkannya karena takut Rosid akan terbangun.

Sulastri sadar, seleranya kepada batang penis anak lelakinya itu meluap-luap di lubuk nafsunya. Dia tahu risiko melakukan perbuatan terkutuk itu, lebih-lebih lagi bersama darah dagingnya sendiri. Sulastri menggigit bibirnya gemas. Sulastri tdk peduli, tekaknya seolah berdenyut ketagihan melihat batang penis tegang anaknya di depan mata. Nafasnya semakin naik. Sulastri akhirnya membuat keputusan nekat. Birahinya yg sudah semakin hilang arah itu membuat dia berani membenamkan batang penis anaknya ke dalam mulutnya yg lembab itu.

Rosid sekali lagi menggeliat kenikmatan. Batang penisnya yg sedang di pegang emaknya tiba-tiba merasakan memasuki lubang yg hangat dan basah. Perlahan-lahan dia membuka matanya kecil. Dilihatnya batang penisnya kini sudah separuh hilang di dalam mulut emaknya. Terlihat olehnya raut muka emaknya yg masih cantik itu sedang mengulum batang penisnya dengan matanya yg tertutup. Hidung emaknya kelihatan kembang kempis bersama deru nafas yg semakin cepat. Inilah pertama kali Rosid merasakan bagaimana nikmat batang penisnya di nikmati mulut wanita. Kenikmatan yg dirasakan membuatnya tdk peduli siapa wanita yg sedang mengulum batang penisnya itu. Lebih-lebih lagi, itu bukan dilakukan secara paksa. Rosid cepat-cepat kembali memejamkan matanya apabila dilihat emaknya seakan ingin membuka mata.

Sulastri yg yakin anaknya tidur, perlahan-lahan menghisap batang penis anaknya. Perlahan-lahan dia menghirup air liurnya yg meleleh di batang penis anaknya. Penuh mulut Sulastri menghisap batang penis Rosid. Semakin lama Sulastri menghisap batang penis Rosid, semakin dia lupa bahwa dia sedang menghisap batang penis anaknya sendiri. Perasaan Sulastri yg diselubungi nafsu membuatkan dia semakin galak menghisap batang penis anaknya. Batang penis keras yg penuh menusuk lelangit mulutnya dirasakan sungguh menggairahkan, air pelumas anaknya yg menyatu dengan air liurnya dirasakan sungguh membangkitkan selera. Sudah lama benar dia tdk menikmati batang penis suaminya. Dirinya seolah-olah seperti seorang anak kecil yg senang setelah mendapat pemainan baru.

Rosid semakin tdk tahan. Hisapan ibunya di batang penisnya yg keras menegang itu membuat Rosid semakin tak karuan. Dia nekat, apa yg terjadi, jadilah. Dia tak dapat bertahan lagi berpura-pura tidur seperti itu. Akhirnya disaat air maninya hendak meledak. Rosid memberanikan dirinya memegang kepala emaknya, Sulastri . Kepala ibu kandungnya yg sedang galak turun naik menghisap batang penisnya itu di pegang dan di tarik rapat kepadanya, membuatkan batang penisnya terbenam jauh ke tekak Sulastri , ibu kandungnya.

Sulastri terkejut, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Serta merta dia merasakan teramat malu apabila disadarinya, anaknya sadar dengan perbuatannya, malah, anaknya memegang kepalanya sementara batang penis anaknya itu semakin terbenam jauh ke dalam mulutnya. Sulastri coba menarik kepalanya dan coba mengeluarkan batang penis anaknya dari mulutnya namun dia gagal. Rosid menarik kepala Sulastri serapat mungkin ke tubuhnya dan serentak itu, memancut-mancut air mani Rosid memenuhi mulut Sulastri . Rosid benar-benar kenikmatan.

Sulastri yg sadar, batang penis anaknya itu sedang memuntahkan air mani di dalam mulutnya terus diam tdk meronta. Dia membiarkan saja mulutnya menerima pancutan demi pancutan panas air mani anaknya hingga tdk dapat ditampung oleh mulutnya itu. Sulastri tak ada pilihan, dia tdk dapat melepas kepalanya agar batang penis anaknya memancut di luar mulutnya. Maka, dalam keterpaksaan, berdegup-degup Sulastri meneguk air mani anaknya yg menerjang kerongkongannya. Cairan pekat yg meledak dari batang penis anak bujangnya yg dihisap itu di telan sepenuhnya bersama air mata yg mulai mengalir ke pipinya.

Pautan tangan Rosid di kepala emaknya semakin longgar, seiring dengan air maninya yg semakin habis memancut dari batang penisnya. Sulastri mengambil peluang itu dengan terus menarik kepalanya hingga terlepas batang penis Rosid dari mulutnya. Segera Sulastri bangun dan berlari ke kamar. Rosid yg tiba-tiba merasakan penyesalan itu segera bangun ke kamar emaknya. Pintu kamar emaknya terkunci dari dalam. Rosid mengetuk pintu perlahan berkali-kali sambil suaranya lembut memanggil emaknya. Namun hanya suara isakan emaknya di dalam kamar yg di dengarnya.

“Makk… Maaf makk… Rosid minta maaf mak… Rosid tak sengaja makk… Mak…” Rayu Rosid di luar kamar emaknya.

Sementara di dalam kamar, Sulastri sedang tertelungkup di atas tempat tidur. Membenamkan mukanya ke bantal dengan air matanya yg semakin bercucuran jatuh. Rasa penyesalan akibat pengaruh nafsu telah membuat dirinya seolah hilang harga diri hingga melakukan perbuatan terkutuk itu dengan anak kandungnya sendiri. Sulastri benar-benar menyesal atas segala perbuatannya. Dia sadar, ini semua bukan salah anaknya. Ini semua salahnya. Sulastri tersedu-sedu menenangkan tangisnya di atas tempat tidur sendirian, membiarkan anaknya, Rosid sendirian membujuk minta maaf di luar kamarnya.
Rosid.. mari makan nak…. “ ajak Sulastri kepada Rosid di pintu kamar anaknya.

Rosid yg sedang termenung di tepi tempat tidur seolah tdk menghiraukan emaknya. Fikirannya merasa bersalah dan malu atas apa yg telah terjadi sore tadi. Sulastri sadar perubahan sikap anaknya. Dia terus duduk rapat di sebelah Rosid. Jari jemarinya memegang telapak tangan Rosid. Di remas lembut jari jemari Rosid.
“Mak.. Rosid merasa bersalah mak… Rosid minta maaf makk…” kata Rosid sambil matanya masih terus menatap kosong ke lantai.

“Rosid…. Mak yg seharusnya minta maaf.. Rosid gak salah, kalau bukan mak yg mulai, perbuatan ini takkan terjadi…” kata Sulastri .
Mereka terdiam seketika. Suasana sepi malam seolah memberikan ruang untuk ibu dan anak itu berbicara secara pribadi dari hati ke hati. Sulastri menarik tangan Rosid yg digenggamnya ke atas pahanya yg padat berisi. Jari jemari anaknya di remas lembut, penuh kasih sayang seorang ibu kepada anak.

“Mak…. Kenapa begini mak … mmm.. boleh Rosid tahu?…. “ Tanya Rosid sedikit gugup.
Sulastri terdiam sejenak. Otaknya cepat mencari jawaban untuk pertanyaan yg terlalu sensitif dari anaknya itu. Secara tak langsung, dia gugup ingin menjawabnya. Tangannya yg memegang tangan anaknya di atas paha yg lembut itu semakin di tarik ke arah memeknya. Fikirannya berkecamuk, buntu.

“Mak… kenapa mak…” sekali lagi Rosid bertanya kepada Sulastri .
“Rosid… susah mak mau bilang… masalah perempuan… nanti Rosd pasti tau … “ kata Sulastri ringkas dan dia terus berdiri lalu keluar dari kamar Rosid, meninggalkan anaknya diam sendirian.

Rosid keliru dengan jawaban emaknya. Akal mudanya tdk terlalu memahami objektif jawaban emaknya. Dia hanya mampu melihat emaknya pergi keluar dari kamarnya meninggalkannya sendiri bersama seribu satu pertanyaan di kepala. Pantat lebar emaknya yg semok itu terlihat melenggok ketika melangkah keluar. Rosid menelan air liur melihat harta berharga milik emaknya. Hatinya berdebar, perasaannya tiba-tiba berkecamuk.

Rasa kasihan dan sayang kepada emaknya yg sebelum ini terbit dari hatinya secara tiba-tiba di hinggapi oleh perasaan nafsu yg terlalu malu bagi dirinya untuk dipikirkan. Rosid lantas beranjak ke dapur, terlihat emaknya sedang duduk di meja makan. Mata emaknya seolah merenung kosong, hidangan makan malam yg telah disediakan di atas meja. Perlahan-lahan Rosid menghampiri emaknya, di pegangnya kedua bahu emaknya lembut. Rosid menunduk dan bibirnya menghampiri telinga emaknya.

“Mak… Rosid janji, Cuma kita berdua yg tau…. Mak janganlah risau… Rosid sayang mak… “ bisik Rosid di telinga emaknya.
Sulastri merasakan sejuk hatinya mendengar kata-kata Rosid yg lembut itu. Jari jemari Rosid yg sedang memegang bahunya terasa sungguh berbeda. Hembusan nafas di telinganya membangkitkan bulu roma Sulastri . Perasaan berdebar-debar menyelinap ke dadanya bersama selautan rasa sayang yg tinggi menggunung kepada anak bujangnya itu. Sulastri menoleh perlahan memandang wajah Rosid yg hampir rapat di pipinya. Sikap Rosid kepadanya seolah mengisi sedikit kekosongan batinnya yg merindukan belaian lelaki, yaitu suaminya.

Wajah mereka saling berhadapan. Rosid mengukir senyuman yg ikhlas di bibirnya, begitu juga Sulastri . Pipi halus Sulastri di usap Rosid dengan lembut. Sulastri memejamkan matanya. Bibirnya yg lembab dan tipis terbuka sedikit. Rosid yg seperti di pukau dengan bisikan gendang setan itu pun tanpa ragu-ragu membenamkan mulutnya mengecup bibir emaknya. Mereka berkecupan, penuh kasih sayang. Perasaan yg sejak awalnya kasih sayang antara ibu dan anak akhirnya bertukar menjadi perasaan kasih sayang yg berlambangkan seks yg saling memenuhi dan memerlukan.

Tangan Sulastri perlahan-lahan mengusap rambut anak bujangnya yg sedang hangat mencumbui bibirnya. Bibir Sulastri lihai memagut bibir Rosid yg nampaknya masih tdk mahir dalam permainan manusia dewasa itu. Nafas masing-masing saling bertukar silih berganti. Degup jantung dua insan itu semakin kencang, seiring dengan deru nafsu yg semakin bergelora. Sulastri semakin lemah, dia terus memeluk tubuh Rosid. Tertunduk Rosid di peluk emaknya, mulutnya masih mengecup bibir emaknya. Gairah Rosid kembali bangkit, lebih-lebih lagi apabila bayangan emaknya menghisap batang penisnya di pagi dan sore hari itu silih berganti di kotak fikiran.

Rosid semakin berani melangkah, tangannya yg tadi memegang bahu emaknya kini menjalar ke toket emaknya yg masih berbalut kaos. Kekenyalan toket emaknya yg tdk memakai bra itu dirasakan sungguh mengasyikkan. Puting emaknya yg semakin keras dan menonjol di permukaan kaos dipelintir lembut berulang kali, Sulastri semakin terangsang dengan tindakan anaknya itu. Ini mendorong Sulastri untuk meraba dada anaknya yg bidang itu. Tangannya kemudian turun ke pinggang anaknya dan seterusnya dia menangkap sesuatu yg keras dan membonjol menusuk sarung yg dipakai anaknya.

Batang penis Rosid yg semakin keras di dalam kain sarung di genggam Sulastri . Di genggam batang penis anaknya penuh nafsu. Perasaan penuh nafsu yg melanda Sulastri mendorongnya untuk mengulangi sekali lagi perbuatannya seperti di waktu siang tadi. Sulastri melepaskan kecupan di bibir anaknya. Senyuman terukir di wajahnya, mempamerkan rasa birahi yg tak terbendung lagi. Sulastri melepaskan kain sarung Rosid, maka jatuhlah kain sarung yg Rosid pakai ke lantai dan sekaligus memperlihatkan batang penisnya yg keras dan berotot itu tegak mengacung ke wajah emaknya. Sulastri tau kehendak Rosid. Malah, dia juga menginginkannya juga. Perlahan-lahan Sulastri membenamkan batang penis keras Rosid ke dalam mulutnya.

Rosid memperhatikan perbuatan emaknya tanpa malu lagi. Sedikit demi sedikit batang penisnya di lihat tenggelam ke dalam mulut emaknya yg menggemaskan. Tahi lalat di dagu emaknya menambah kecantikan emaknya yg sedang menghisap perlahan batang penisnya.
Sulastri semakin galak menghisap batang penis anaknya. Perasaan keibuan yg sepatutnya dicurahkan kepada anaknya sama sekali hilang. Nafsu dan kerinduan batinnya menguasai akal dan fikiran membuatnya hilang pertimbangan hingga terjerumus permainan nafsu bersama anak kandungnya sendiri. Sulastri benar-benar tenggelam dalam arus birahi.

Batang penis anaknya yg di hisap dan keluar masuk mulutnya benar-benar memberikan sensasi kelezatan menikmati batang penis lelaki yg di rindui selalu. Setiap lengkuk batang penis anaknya di hisap dan dinikmati penuh perasaan. Tangan kirinya mengusap-usap memeknya dari luar kain batik. Sungguh terlena dirinya dirasakan ketika itu, dahaga batin yg selama ini membelenggu jiwanya terasa seolah terbang jauh bersama angin. Dirinya merasakan begitu dihargai. Jiwanya semakin tenteram dalam gelora nafsu.

Rosid pula benar-benar menikmati betapa nikmat merasakan batang penisnya di hisap oleh emaknya. Wajah emaknya yg sedang terpejam menikmati batang penisnya penuh nafsu itu memberikan satu kenikmatan yg sulit untuk di ucapkan. Matanya tertuju kepada tangan emaknya yg sedang menggosok-gosok memeknya. Kain batik yg dipakai emaknya terlihat merosot ke bawah akibat kelakuan emaknya. Paha montok emaknya yg kelihatan lembut dan membangkitkan selera Rosid.

Serta merta Rosid menarik batang penisnya keluar dari mulut emaknya. Rosid terus menunduk mengecup emaknya dan sekaligus dia memeluk tubuh emaknya. Sulastri membalas perlakuan Rosid dengan kembali mengecupinya. Sambil bibirnya mengecup emaknya, Rosid menarik Sulastri agar berdiri dan Sulastri terdorong untuk mengikuti kemauan Rosid.

Mereka pun sama-sama berdiri dan berpelukan erat, dengan bibir masing-masing yg berkecupan penuh birahi. Rosid mengusap selangkangan emaknya. Kain batik lusuh yg menutupi memek emaknya terasa basah akibat lendir nafsu yg semakin banyak membanjiri lorong nikmat kewanitaan emaknya. Rosid menyelak kain batik emaknya ke atas, mencoba mengarahkan batang penis mudanya memasuki lubang memek emaknya.

Sulastri tahu keinginan anaknya. Sambil tersenyum, dia menyingkap kain batiknya ke atas dan berbalik menghadap meja makan, mempamerkan pantatnya yg tdk memakai celana dalam kepada anaknya. Rosid seperti terpukau menatap pantat emaknya yg putih mulus dan bulat montok di hadapan matanya. Pantat lebar emaknya di usap dan di remas penuh nafsu. Usapannya kemudian semakin bernafsu, dari pinggang turun ke paha, kelentikan pinggang emaknya yg seksi benar-benar membakar nafsunya.

Sementara Sulastri memegang batang penis Rosid yg mengacung di belakangnya. Tanpa segan, Sulastri menarik batang penis Rosid agar mengambil posisi yg memudahkan mereka menjalankan misi yg selanjutnya. Batang penis Rosid di tarik hingga terselip di celah kelengkangnya. Rosid yg membiarkan saja tindakan emaknya itu terdorong ke depan memeluk belakang tubuh emaknya dan batang penisnya terus menyelinap ke celah selangkang emaknya yg sudah terlalu licin dan becek dengan lendir nafsu.

Sulastri menunggingkan tubuhnya dan tubuhnya maju mundur menggesek batang penis Rosid di celah selangkangnya. Rosid yg pertama kali menikmati pengalaman mengasyikkan itu semakin terbakar birahinya. Tangannya tak henti meraba dan meremas pantat lebar emaknya yg montok menyentuh perutnya. Sulastri sudah tdk sabar lagi, tangannya segera mencapai batang penis Rosid yg keras di alur selangkangnya dan mengarahkannya masuk ke mulut lubang kenikmatan miliknya. Dia sudah tdk peduli batang penis siapa yg sedang dipegangnya itu. Dengan sekali sentak saja, tubuhnya dengan mudah menerima seluruh daging keras anaknya menerobos lubang memek nya yg sudah lama merindukan tusukan batang penis lelaki.

Rosid dan Sulastri saling menahan nafas, terdiam menikmati batang penis dan lubangnya bertemu. Sulastri membiarkan batang penis hangat Rosid terendam di lubuk kewanitaannya. Statusnya sebagai ibu kepada anak lelakinya itu sudah hilang begitu saja. Nafsu benar-benar menghilangkan kewarasannya sebagai ibu, hingga sanggup menyerahkan seluruh tubuhnya, malah mahkota kewanitaan yg selama ini hanya dinikmati oleh suaminya seorang, dinikmati oleh anaknya atas keinginannya dan kerelaannya sendiri. Sulastri benar-benar menikmati batang penis anaknya menusuk-nusuk pangkal lubang nikmatnya. Dia mengemut batang penis anaknya semau hatinya, terasa seperti ingin melumat batang penis itu di dalam memek nya.

Manakala Rosid benar-benar menikmati kemutan yg dirasakan oleh batang penisnya di liang senggama emaknya yg hangat itu. Seluruh otot batang penisnya yg mengembang keras terasa dihimpit oleh dinding daging yg lembut dan licin. Terasa seolah batang penisnya di hisap oleh memek emaknya. Rosid kemudian perlahan-lahan memompa batang penisnya hingga kepalanya yg berkembang besar itu menggesek pangkal memek wanita yg seharusnya disanjung sebagai ibu.

Perasaan sayang Rosid yg sebelum itu sekedar hubungan anak kepada ibu semakin dihantui nafsu yg membara. Birahi yg diciptakan ibunya mendorong Rosid untuk menyaygi ibunya seolah seorang kekasih, yg rela memberikan kenikmatan persetubuhan sumbang antara darah daging. Rosid tahu, dari lubang yg sedang di pompanya itulah dirinya keluar dahulu. Namun kini lubang itu sekali lagi dia masuki dengan penuh kerelaan, hanya cara dan permainan perasaan saja yg berbeda.

Begitu juga Sulastri , terfikir juga di benaknya, bahwa batang penis lelaki yg sedang dinikmati di liang senggamanya itu adalah milik seorang bayi yg keluar dari liang senggamanya dahulu. Namun kini, bayi itu sudah besar dan kembali memasuki liang senggamanya atas desakan batinnya sendiri. Perasaan birahi Sulastri yg selama ini terpendam terasa seolah ingin meletup di dalam dirinya. Keringat semakin deras mengalir di dahi dan tubuhnya bersama nafas yg semakin cepat dan memburu.

Batang penis yg semakin galak dan cepat menompa memeknya semakin menenggelamkan Sulastri dalam lautan nafsu. Akhirnya Sulastri menikmati puncak kenikmatan. Sulastri merasakan tubuhnya menegang karena klimaks yg telah dia tunggu-tunggu. Tubuhnya bergetar bersama ototnya yg mengejang. Batang penis anaknya yg menusuk lubang memeknya dari belakang di himpit penuh. Pantatnya semakin di lentikkan agar batang penis itu semakin kuat menghentak dasar memeknya. Sulastri benar-benar hilang akal. Dia benar-benar dipuncak segala nikmat yg selama ini dirindukan.

Rosid hanya memperhatikan perubahan demi perubahan pada tubuh emaknya. Dia tahu, emaknya baru saja mengalami satu kenikmatan yg terlalu nikmat. Belakang baju kaos emaknya nampak basah dengan keringat.

“Rosid… terima kasih sayanggg…. Mak sayangg Rosidn… “ Kata Sulastri sambil menoleh kebelakang melihat Rosid yg masih berdiri gagah.
Rosid hanya tersenyum, tangannya meremas-remas lembut daging lembut di pinggul emaknya. Lemak-lemak yg menambah kemontokan dan kebesaran bokong emaknya di usap penuh kasih sayang. Sulastri tahu, Rosid butuh kenikmatan seperti dirinya. Sulastri melentikkan tubuhnya, sambil menekan batang penis Rosid agar tenggelam lebih dalam dan menusuk dasar memek. Bokongnya di gerakkan seperti penari dangdut di klab malam, membuat batang penis Rosid lebih menikmati gesekan dengan dinding memeknya. Rosid merintih kecil menahan gelora kenikmatan. Sulastri tau, Rosid menikmati perbuatannya.

“nikmat sayangg….?” Tanya Sulastri manja.
“Uhhh…. Ee.. nikmat mm..makk.. ooohhh…. “ jawab Rosid tersengal-sengal.
Batang penisnya semakin ditekan dalam. Tubuh emaknya yg padat berisi itu ditatap penuh nafsu. Sulastri sekali lagi menoleh melihat Rosid yg sedang bernafsu menatap tubuhnya.
“Mak cantik tak sayangg….? “ Tanya Sulastri menggoda anaknya.

“Oooohhhhh… mak cantikkk…. Mmm…mmakk… Rosid…. Ttt.. tak tahannn…. “ rintih Rosid tak tahan di goda emaknya.
“Nanti kalau mak mau lagi boleh….? “ Tanya Sulastri penuh kelembutan dan godaan kepada anaknya yg sudah semakin di ambang puncak kepuasan.
“Aaaahhhhh…. Makkkk…….. “ Rosid semakin tdk tahan melihat Sulastri tak henti menggodanya.

Tubuh Sulastri yg menungging di tepi meja itu memberikan sensasi birahi yg meluap-luap kepada Rosid. Dia benar-benar tdk menygka dirinya telah menyetubuhi emaknya. Pantat emaknya yg besar itu semakin menaikkan nafsu Rosid. Dia tdk mampu bertahan lagi. Malah, dia ingin meluapkan perasaannya kepada emaknya tentang apa yg diinginkannya, demi perasaannya yg benar-benar ingin menikmati kepuasan yg terlalu sulit untuk diungkapkan itu.

“Ooohhhhh…. Makkk… Pasti makkk… Rosid… ss.. sukaa tubuh makkk…. “ akhirnya Rosid meluapkan perasaannya yg ingin sekali diluapkan.
“Sayanggg…. Rosid anak makkk…. Rosiid sayangg…… “ Sulastri juga menikmati perasaan birahi yg sedang melanda Rosid.
“Makkk….. ooooooohhhhh….” Rintih Rosid.

“Croooott….. Croooott!!! Croooott….. “ akhirnya muncratlah benih jantan anak muda itu ke dalam rahim ibu kandungnya sendiri.
Rosid menikmati betapa nikmatnya melepaskan air mani di dalam liang kewanitaan emaknya. Air maninya banyak menyemprot keluar dari batang penisnya di dalam memek. Sulastri memejamkan mata menikmati air mani anaknya yg hangat memenuhi lubang memeknya. Dasar memeknya terasa disirami air hangat yg memenuhi segenap rongga kewanitaannya yg sepatutnya hanya untuk suaminya seorang.

Dalam posisi yg sama Sulastri masih terpejam matanya, menungging berpegangan di tepi meja makan. Kain batiknya yg diselakkan ke atas pinggang masih memperlihatkan pantatnya yg sedang dihimpit rapat oleh anaknya, menikmati keindahan dan kenikmatan menyetubuhi emaknya. Batang penis Rosid masih terendam di dalam lubuk birahi Sulastri , seolah begitu sayang untuk melepaskan saat-saat manis itu hilang begitu saja.

Perasaan kasih dan sayang yg selama ini diperuntukan untuk seorang ibu hilang bersama angin malam, diganti oleh perasaan kasih dan sayang yg sepatutnya hanya dimiliki oleh seorang kekasih. Sulastri kepuasan, dahaga batinnya yg selama ini dirindukan akhirnya terurai sudah. Kenikmatan yg dialami sebentar tadi sama sekali tdk disesali, malah dia benar-benar menghargainya.
Sulastri merelakannya, disetubuhi oleh darah dagingnya sendiri, demi kepentingan batinnya. Dia tahu, dirinya kini bukan lagi dimiliki oleh suaminya seorang, malah anaknya sendiri, yg sudah menikmati tubuhnya. Anaknya kini suaminya, yg didambakan belaian penuh nafsu untuk dinikmati melebihi dari suaminya. Demi nafsu dan kasih sayang yg semakin membara, Sulastri kini mencintai suami barunya….. anaknya… cerita bokep

Cerita Dewasa Permainan Seks Terlarang
Category: cerita bokep

cerita bokep Tuntutan pekerjaan membuat aku harus beberapa kali pindah kota dan pada 5 tahun yg lalu aku sempat ditempatkan di salah satu kota di propinsi asalku di Kalimantan yg berjarak sekitar 1-1,5 jam dari kota asalku. Pada saat itu istri dan anakku tidak ikut serta karena istriku harus bekerja dan terikat kontrak kerja yg tidak memperkenankannnya mengundurkan diri atau bermohon pindah sebelum 5 tahun masa kerjanya. Sehingga jadilah aku sendiri di sana dan tinggal di salah satu rumah orang tuaku yg mereka beli untuk investasi.

Krn kebutulan aku pindah ke sana maka aku tinggal sendiri. Rumah tersebut berada di kompleks perumahan yg cukup luas namun cenderung sepi krn kebanyakan hanya menjadi tempat investasi alternatif saja, dan kalau ada yg tinggal adalah para pendatang yg mengontrak rumah di sana. Jadi lingkungan relatif apatis di sana. Pada beberapa kesempatan aku kadang-kadang berkunjung ke tempat nenekku yg tinggal di suatu kabupaten (sekitar 4 jam dari kota tempat aku tinggal sekarang) utk sekedar silaturahmi dengan famili di sana. Pada salah satu kunjungan saya ke sana, saya sempat bertemu dengan salah seorang yg dalam hubungan kekerabatan bisa disebut nenekku juga di rumah salah satu famili, sebetulnya bukan nenek langsung.

Persisnya ia adalah adik bungsu dari istri adik kakekku (susah ya ngurutnya). Usianya lebih tua sekitar 8-9 tahunan dariku. Profil mukanya seperti Yati Octavia (tentu Yati Octavia betulan lebih cantik), dengan kulit cenderung agak gelap, dan badannya sekarang sedikit agak gemuk. Walaupun terhitung nenekku, ia biasanya saya panggil bibi saja krn usianya ia risih dipanggil nenek. Pertemuan tsb sebetulnya biasa saja, tapi sebetulnya ada beberapa hal yg sedikit spesial terkait pertemuan tersebut. Pertama, saya baru tau kalau suaminya baru meninggal sekitar 1 tahunan yg lalu. Ia yg berstatus honorer di sebuah instansi pemerintah sedikit mengeluhkan kondisi kehidupannya (untung ia hidup di kota kabupaten yg kecil) dengan 2 anak perempuannya yg berusia 12 dan 8 tahun.

Saat itu aku bilang akan mencoba utk membantu memperbaiki status honorernya dgn mencoba menghubungi beberapa relasi/kolegaku. Hal spesial yg lain adalah sedikit pengalamanku di masa lalu dgn dia yg sebetulnya agak memalukan bila diingat (saat itu saya berharap ia lupa). Wkt saya masih di bangku SMA, ia dan kadang bersama famili yg lain sering berkunjung ke rumahku krn ia pernah kuliah di kota kelahiranku namun kost di tempat lain. Ia kadang2 menginap di rumahku. Pada waktu ia nginap dengan beberapa famili yg lain, aku sering ngintip mereka mandi dan tidur. Sialnya sekali waktu, saat malam2 aku menyelinap ke kamarnya (di rumahku kamar tidur jarang di kunci), dan menyingkap kelambunya (dulu kelambu masih sering digunakan).

Saya menikmati pemandangan di mana ia tidur telentang dan dasternya tersingkap sampai keliatan celana dalam dan sedikit perutnya. Saat itu saya mencoba mengusap tumpukan vaginanya yg terbungkus celana dalam dan pahanya. Setelah beberapa kali usapan ia tiba2 terbangun dan saya pun cepat2 menyingkir keluar kamar. Sepertinya ia sempat melihat saya, hanya saja ia tidak berteriak. Hari2 berikutnya saya selalu merasa risih bertemu dia, namun iapun bersikap seolah2 tdk terjadi apa2. Sejak saat itu saya tdk pernah coba2 lagi ngintip ia mandi dan tidur. Hal itu akhirnya seperti terlupakan setelah saya kuliah ke Jawa, ia menikah dan sayapun akhirnya menikah juga. Inilah pertemuan saya yg pertama sejak saya kuliah meninggalkan kota kelahiran saya.

Beberapa wkt kemudian pada beberapa instansi ada program perekrutan pegawai termasuk yg eks honorer termasuk pada instansi nenek mudaku tersebut. Pada suatu pembicaraan seperti yg pernah saya singgung sebelumnya, nenek mudaku tersebut sempat minta tolong agar ia bisa diangkat sbg pegawai tetap dan akupun kasak-kusuk menemui kenalanku agar nenek mudaku tersebut dapat dialihkan status honorernya menjadi pegawai. Aku beberapa kali menelpon nenek mudaku tersebut untuk meminta beberapa data dan dokumen yg diperlukan. Entah karena bantuan kenalanku atau bukan, akhirnya ia dinyatakan diterima sebagai pegawai. Nenek mudaku itu beberapa kali menelponku utk mengucapkan terima kasih, dan aku yg saat itu memang tulus membantunya juga ikut merasa senang.

Beberapa bulan kemudian aku mendapat telpon lagi dari nenek mudaku tersebut yang mengabarkan bhw ia akan ke kota tempatku bertugas karena ia harus mengikuti pelatihan terkait dengan pengangkatannya sebagai pegawai di salah satu balai pelatihan yang tempatnya relatif dekat dengan rumahku. Waktu itu ia menginformasikan akan menginap di balai pelatihan tersebut namun akan berkunjung ke rumahku juga. Pada suatu hari Sabtu sore ia tiba di rumahku dengan membawa koper dan oleh2 berupa penganan khas daerahnya tinggal dan buah2an. Ia mengatakan hari pelatihannya dimulai hari Senin namun ia takut terlambat dan akan segera ke balai pelatihan tersebut malamnya. Aku tawarkan untuk istirahat dulu dan menginap satu malam.

Namun karena kekahwatiran tersebut ia menolak untuk menginap dan hanya beristirahat saja. Maka ia kutunjukkan kamar tidur yang ada di samping kamar tidurku utk istirahat sejenak. Tidak ada kejadian apa2 sampai saat itu, dan pada malam harinya ia kuantar ke balai latihan. Namun di balai latihan tersebut suasananya masih sepi dan baru 3 orang yang melapor itupun masih keluar jalan2. Melihat keraguan untuk masuk ke balai latihan tersebut kembali aku tawarkan untuk menginap di rumah dulu dan nanti Senin pagi baru kembali. Ia langsung menerima tawaranku sambil menambahkan komentar bahwa ia dengar balai pelatihan tersebut agak angker. Malam minggu ia menginap dan tidak ada kejadian yg spesial kecuali kami mengobrol sampai malam dan ia menyiapkan makanan/minumanku. Sampai saat itu belum terlintas apa2 dalam pikiranku.

Namun ketika ia selesai mencuci piring dan melintas di depanku yaitu antara aku dan televisi yg sedang aku tonton ia berhenti untuk melihat acara televisi sejenak. Saat itu aku melihat silhuote tubuhnya di balik daster katunnya yang agak tipis diterobos cahaya monitor televisi. Saat itulah pikiranku mulai mengkhayalkan yang tidak2. Maklum aku jauh dari istri dan kalau ngesekspun dengan orang lain juga kadang2 (aku pernah ngeseks dengan PSK yg agak elit dan beberapa mahasiswi tapi frekuensinya jarang krn biaya tinggi). Saat itu ia saya suruh duduk dekat saya utk nonton TV bersama2. Kami pun ngobrol ngalor ngidul sampai malam dan ia pun pamit utk tidur. Malam Seninnya juga tidak terjadi apa2 kecuali saat ngobrol sudah mulai bersifat pribadi tentang masalah-masalahnya seperti anaknya yg perlu uang sekolah dan lainnya.

Aku katakan bahwa aku akan bantu sedikit keuangannya dan iapun berterima kasih berkali2 dan mengatakan sangat berhutang budi padaku. Senin paginya ia kuantar ke balai pelatihan tersebut dan dengan membawakan kopernya saya ikut masuk ke kamarnya yang mestinya bisa untuk 6 orang. Dengan menginapnya ia di sana, maka buyarlah angan2 erotisku pd dirinya dan akupun terus ke kantorku utk kerja seperti biasa. Namun pada sore hari aku menerima telpon yang ternyata dari nenek mudaku tersebut. Ia mengatakan bahwa agak ragu2 menginap di balai pelatihan tersebut krn ternyata semua teman2 perempuannya tidak menginap di situ, tapi di rumah familinya masing2 yg ada di kota ini sehingga di kamar yg cukup utk 6 orang itu ia tinggal sendiri kecuali jam istirahat siang baru beberapa rekan perempuannya ikut istirahat di situ.

Dgn bersemangat aku menawarkan ia menginap di rumah lagi sambil melontarkan kekhawatiranku kalau ia sendiri di situ (sekedar akting). Ia terima tawaranku dan aku berjanji akan menjemput dia sepulang kantor. Akhirnya iapun menginap di rumahku dan rencananya akan sampai sebulan sampai pelatihan selesai. Angan2ku kembali melambung namun aku masih tdk berani apa2 mengingat penampilannya yg sdh sangat keibuan, kedudukannya dalam kekerabatan kami yg terhitung nenek saya, dan sehari2nya kalau keluar rumah pakai kerudung (tapi bukan jilbab). Aku betul2 memeras otak namun tdk pernah ketemu bagaimana cara bisa menyetubuhinya tanpa ada resiko penolakan. Aku sedikit melakukan pendekatan yg halus. Sekedar utk memberi perhatian dan sedikit akal bulus sempat aku belikan ia baju dan daster.

Utk daster aku pilihkan ia yg cenderung tipis dan model you can see. Hampir setiap malam ia aku ajak keluar makan malam atau belanja (walupun pernah ia sekali menolak dgn alasan capek). Kalau ada kesempatan aku kadang2 mendempetkan badanku ke badannya bila lagi jalan kaki bersama atau duduk makan berdua di rumah makan. Aku juga sering keluar kamar mandi (kamar mandi di rumahku ada di luar kamar tidur) dgn hanya melilitkan handuk di badan. Selain itu aku juga kadang menyapa dan memujinyaa sambil memegang salah satu atau kedua pundaknya bila ia memasak sarapan pagi di dapur. Dari semua itu saya belum bisa menangkap apakah responnya positif terhadap aku. Dan setelah hampir 1 minggu, yaitu pada hari Sabtu pagi iapun pamit pulang ke kotanya untuk menengok anaknya yg agak sakit dan akan kembali minggu malamnya.

Iapun pulang dan aku yg sendirian di rumah akhirnya juga keluar kota ke kota kelahiranku yg jaraknya cuma 1 jam dr kota tinggalku utk main2 dgn teman2 masa SMAku serta silaturahmi ke rumah orang tuaku. Saat bertemu teman2 lamaku aku agak banyak minum bir dan waktu tidurku agak kurang. Sore menjelang Maghirib akupun pulang ke kota di mana aku tinggal, terlintas sebuah rencana utk menggauli nenek mudaku yg saya perkirakan akan lebih duluan sampai di rumahku (ia kukasihkan kunci duplikat rumah utk antisipasi seandainya aku tdk ada dirumah bila ia datang). Sayapun sampai di rumah dan memang benar ia sudah ada di rumah.

Ia bertanya kepadaku kenapa aku pucat dan keringatan dan saat ia pegang dahi dan tanganku ia bilang agak hangat (mugkin krn pengaruh begadang). Aku hanya berkomentar bhw aku mau cerita tapi tdk enak dan minta agar malam ini makan malam di rumah saja krn aku tdk enak badan. Ia tdk keberatan dan tanya aku mau makan apa, aku bilang aku cuma mau makan indomie telur dan iapun setuju. Seperti kebiasaannya ia selalu buatkan aku kopi dan teh utk dirinya, tak terkecuali malam itu. Melihat aku masih pucat ia menawarkan obat flu tapi aku bilang aku tdk flu dan tdk bisa cerita sambil pergi dengan pura2 sempoyongan ke kamarku dan bilang aku mau istirahat. Aku masuk kamar dan membuka baju dan berbaring di tempat tidur dgn hanya pakai celana pendek.

Iapun menyusulku ke kamarku dan dgn iba bertanya kenapa dan apa yg bisa ia bantu. Dalam hatiku aku mulai tersenyum dan mulai melihat suatu peluang. Ia bahkan menawarkan utk memijat atau mengerik punggungku, tapi aku mau langsung ke sasaran saja dengan mempersiapkan sebuah cerita rekayasa. Akhirnya aku menatap ia dan menanyakan apakah ia mau tau kenapa aku begini dan mau menolong saya. Ia segera menjawab bahwa ia akan senang sekali bisa menolong saya krn saya sudah banyak membantunya. Iapun kusuruh duduk di tempat tidur dan dengan memasang mimik serius dan memelas sambil memegang salah satu tangannya akupun bercerita.

Aku karang cerita bhw aku baru saja kumpul2 sama teman2ku waktu ke luar kota tadi sore. Terus ada salah satu temanku yg bawa obat perangsang yg aku kira adalah obat suplemen penyegar badan. Karena tdk tau, obat itu aku minum dan skrg efeknya jadi begini di mana aku kepingin ML dgn perempuan. Aku karang cerita bhw bila tdk tersalur itu akan membahayakan kesehatanku sementara istriku tdk ada di sini. Aku juga mengarang cerita bhw aku sudah mengupayakan onani tapi tdk berhasil dan tdk mungkin aku mencari PSK krn tdk biasa. Aku katakan bhw dgn terpaksa dan berat hati aku mengajak ia bersedia utk ML denganku utk kepentingan kesehatanku.

Mendengar ceritaku ia terdiam dan menundukkan wajahnya, tapi salah satu tangannya tetap kupegang sambil kubelai dengan lembut. Melihat itu, aku lanjutkan dgn berkata bhw kalau ia tdk bersedia agar tdk usah memaksakan diri dan aku mohon maaf dgn sikapku krn ini pengaruh obat perangsang yg terminum olehku. Selain itu kusampaikan bahwa biarlah kutanggung akibat kesalahan minum obat tersebut dan aku katakan lagi bhw aku sadar kalau permintaanku itu tdk pantas tapi aku tdk bisa melihat jalan keluar lain sambil minta ia memikirkan solusi selain yg kutawarkan. Ia tetap diam, namun kurasakan bhw nafasnya mulai memburu dan dengan lirih ia berkata apa aku benar2 mau ML sama dia padahal ia merasa ia sudah agak tua, tdk terlalu cantik, agak sedikit gemuk dan berasal dari kampung.

Aku jawab bahwa ia masih menarik, namun yg penting aku harus menyalurkan hasratku. Ia diam lagi dan aku duduk dikasur sambil tanganku merangkul dan membelai pundaknya yg terbuka karena dasternya model you can see. Kulitnya terasa masih halus dan sedikit kuremas pundaknya yg agak lunak dagingnya. Mukanya pucat dan bersemu merah berganti2, ia juga terlihat gelisah. Sedikit lama situasi seperti itu terjadi tapi aku tdk tau entah berapa lama, sampai aku mengulang pertanyaanku kembali (walaupun aku sudah yakin ia tdk akan menolak) dan akhirnya ada suara pelan dan lirih dari mulutnya. Aku tdk tau apa yg ia katakan tapi instingku mengatakan itu tanda persetujuan dan dengan pelan aku dekatkan mukaku ke wajahnya.

Mula2 aku cium dahinya, setelah itu mulutku menuju pipinya. Ia hanya memejamkan mata, namun gerakan wajahnya yg sedikit maju sudah menjadi isyarat bhw ia tdk keberatan. Sedikit lama aku mencium kedua pipinya dan aku sejenak mencium hidungnya (di situ kurasakan desah nafasnya agak memburu) lalu akhirnya aku mencium bibirnya yg sudah agak terbuka sejak tadi. Sambil melakukan itu kedua tanganku juga beraksi dengan halus. Tangan kananku merangkulnya melewati belakang kepalanya kadang di bahu kanannya dan kadang di tengkuknya di belakang rambutnya yg terurai. Sedang tangan kiriku merangkul punggungnya dan mengusap paha kanannya secara bergantian. Ciuman bibir mulai kuintensifkan dengan memasukan lidahku ke mulutnya.

Ia gelagapan namun tangan kananku memegang tengkuknya untuk meredam gerakan kepalanya. Ternyata ia tidak biasa dicium dgn memasukan lidah ke mulut yg kelak baru saya ketahui belakangan.. Tangan kiriku terus bergerilya, aku menarik bagian bawah dasternya yg ia duduki agar tangan kiriku bisa masuk ke sela2 antara daster dan punggungnya. Berhasil, tanganku mengusap punggungnya yg halus namun masih kurasakan tali BH nya di situ. Dengan pelan2 kubuka tali BH nya. Terasa ada sedikit perlawanan dari dia dengan menggerak2an punggungnya sedikit. Iapun hampir melepaskan mulutnya dari mulutku. Namun bibirku terus mengunci bibirnnya dan tugas tangan kiriku membuka pengait BH nya dibelakan sudah terlaksana.

Tangan kananku langsung berpindah dengan menyelinap di balik daster bagian depan dan menuju BH nya yg sudah terbuka. Aku biarkan BH tsb dan tangan kananku menyelinap di antara BH dan payudaranya. Aku elus2 dan cubit2 pelan payudara di sekitar putingnya beberapa saat sebelum akhirnya menuju puting sampai akhirnya payudara yang memang sudah tidak terlalu kencang tapi cukup besar itu kuremas2 bergantian kiri dan kanan. Saat itu mulutnya menggigit bibirku, aku terkaget2, dan dengan cepat kutanggalkan daster dan BHnya dan ia kutelentangkan dikasurku. Ia rebah di kasurku dengan hanya mengenakan celana dalam yg sudah tua dan sedikit lubangnya di bagian selangkangannya. Aku langsung menggumulinya dengan mulutku langsung menuju mulutnya.

Ia sempat melenguhkan suara yg sepertinya menyebut namaku. Aku tidak peduli. Mulutku bergeser ke lehernya dan kudengar ia berkata dgn tidak jelas …. ?aduh kenapa kita jadi begini??. Aku tdk peduli dan mulutkupun bergeser ke payudaranya secara bergantion. Akhirnya suaranya yg awalnya seperti keberatan menjadi berganti dengan lenguhan dan desahan yg lirih. Aku bangkit dr badannya sejenak utk melepaskan celanaku sampai akupun telanjang bulat. Kulihat ia sedikit kaget dan matanya terbuka melihatku seolah2 tak rela aku melepaskan tubuhnya. Namun secepat kilat setelah aku telanjang bulat aku kembali menggumulinya dan melumat bibirnya habis2an. Kedua tanganku merangkulnya dengan memegang erat bahu dan belakang kepalanya.

Kupeluk ia erat2 dan iapun membalas ciuman bibirku dengan hangat bahkan liar. Matanya terpejam dan kedua tangannyapun memeluk diriku dan kadang megusap punggungku. Mulutku beralih ke payudaranya. Sekarang aku baru bisa melihat jelas bentuk payudara dan tubuhnya yg lain. Memang bukan bentuk yg ideal sebagaimana umumnya diceritakan di cerita2 saru lainnya. Payudaranya memang besar (aku tidak tau ukurannya) tapi sedikit turun dan tdk kencang. Tubuhnya masih proporsional walaupun cenderung gemuk dengan adanya lipatan2 lemak di pinggangnya dan perut yg kendur karena bekas melahirkan (mungkin), namun kulitnya begitu halus. Mulutku lalu melumat puting payudaranya yg kiri dan tangan kiriku meremas payudara yg kanan.

Sedang tangan kananku bergerilya ke selangkangannya dan mengusap2 bagian yg masih terbungkus celana dalam tersebut. Jari2 tanganku menemukan lubang pada robekan celana dalamnya yg sudah tua sehingga jari2ku tsb bisa mengakses ke bagian selangkangannya yang mulai lembab pd rambutnya yg kurasakan cukup lebat. Jari2 kananku memainkan klitorisnya dan kadang2 kumasukkan ke dalam lubangnya sambil menggesaek2annya. Kurasakan desahan dan lenguhannya sedikit lebih keras menceracau. Sekilas kulihat kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan pelan tapi mulai liar. Tangan kirinya dia angkat sehingga jarinya ada didekat telinga kirinya sambil meremas2 seprai dan ujung bantal tidak karuan. Tangan kanannya mengusap kepala dan menarik2 rambutku.

Akupun mulai tdk bisa menahan diri lagi karena penisku sudah berdiri tegak sejak tadi. Ukuran penisku biasa2 saja (sebetulnya aku agak heran dgn ceritaa erotis yg bilang sampai 20 cm, aku tdk pernah mengukur sendiri). Kutarik celana dalamnya sampai lepas. Kemudian aku melepaskan tubuhnya dan mengambil posisi di antara dua pahanya. Waktu kulepas tubuhnya sejenak tadi ia sempat tersetak dan matanya terbuka seolah2 bertanya kenapa. Tapi begitu melihat aku sudah dalam posisi siap mengeksekusi dirinya iapun mulai memejamkan matanya lagi. Sambil kuremas2 payudaranya sebelum memasukan rudalku ke liangnya aku sedikit berbasa basi dan menanyakan apa ia ikhlas aku setubuhi malam ini. Dengan lirih ia mempersilakan dan bibirnya sedikit tersenyum.

Kedua tangannya menarik badanku dan akupun mulai memasukkan penisku ke lubangnya. Walaupun sudah lembab dan ia pernah melahirkan, ternayata aku tdk bisa langsunga memasukkan penisku. Sampai2 tangan wanita yg telah lama menjanda dan kehidupan sehari2nya begitu kolot ini ikut membantu mengarahkan rudalku ke lubangnya. Rupanya nafsunya sudah membuat ia terlupa. Di luar terdengar hujan mulai turun dengan lebat menambah liarnya suasana di kamarku dan pintu kamarku masih terbuka krn aku yakin tdk ada siapa2 lagi di rumah tipe 60 milik orang tuaku ini. Ujung rudalku mencoba merangsek kelubangnya scr pelan2 dgn gerakan maju mundur dan kadang2 berputar di area mulut lubangnya. Tidak terlalu lama rudalku mulai menembus liang senggamanya. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan.

Matanya merem dan kadang setengah terbuka. Tangannya ke sana kemari kadang meremas seprai dan ujung bantal, kadang meremas rambutku dan kadang mengusap punggung dan bahkan mencakar punggung atau dadaku. Pinggulnya kadang menyentak maju menuju rudalku seolah2 sangat ingin agar rudalku segera masuk. Akhirnya rudalku yg sudah masuk sepertiganya ke liang senggamanya kucabut tiba2. Terlihat ia kaget dan membuka matanya. Ia memanggil namaku dengan suara yg sudah dikuasai birahi dan bertanya ada apa. Namun sebelum selesai pertanyaannya aku langsung dengan cepat dan sedikit tekanan menghujamkan rudalku ke liangnya yg walaupun sedikit seret tapi akhirnya bisa masuk seluruhnya ke dalam lubangnya dan aku memeluknya dengan mukaku begitu dekat dengan mukanya sambil menatap wajahnya yg penuh kepasrahan namun juga dikuasai birahi yg kuat.

Ia tersentak dan melenguh keras ………….. aaaaaaaahh …. sejenak aku mendiamkannya dengan posisi seperti itu. Ia mencoba menggerakkan pinggulnya maju dan mundur dengan ruang gerak yg terbatas. Aku pun mulai menggerakkan pinggulku ke belakang dan ke depan dengan gerakan pelan tapi pasti. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya dengan liar. Ia menceracau dan terus mendesah dan pinggulnya mencoba utk membawa diriku menggoyangnya lebih cepat lagi. Entah beberapa kali namaku ia sebut. Ia juga menceracau ia sayang dan mencintaiku. Dan aku yg sudah terbawa gelombang birahipun tidak memanggil ia ?bibi? lagi (ia sebetulnya terhitung nenekku, namun krn usianya tdk terlalu tua maka ia sering dipanggil bibi). Ya … dalam keadaan birahi tsb aku juga kadang menceracau memanggil namanya saja. Seperti tdk ada perbedaan usia dan kedudukan di antara kami.

Entah berapa lama aku menggoyangnya dengan gerakan yang sedang2 saja, tiba2 kedua tangannya merangkul tubuhku utk lebih merapat dengan dia. Aku pun melepaskan payudaranya dan juga akan merangkul tubuhnya. Kurasakan betapa lunak dan empuk tubuhnya yg agak gemuk dan memang sudah tidak terlalu sexy itu ketika kudekap. Semua bagian tubuhnya tidak ada yg kencang lagi. Namun kelunakan tubuhnya dan kehalusan kulitnya ditambah pertemuan dan gesekan antara kulit dadaku dgn kedua payudaranya membawa sensasi yg luar biasa bagi diriku. Irama gerakan pinggulku dan pinggulnya tetap stabil. Tiba2 ia mendesah dengan suara yg agak berbeda dan kedua matanya memejam rapat2.

Ia mempererat dekapannya dan mengangkat pinggulnya agar selangkangannya lebih rapat dengan selangkanganku. Setelah itu kedua kakinya mencoba mengkait kedua kakiku. Gerakan bibir dan raut mukanya menunjukan kelelahan tercampur dengan kenikmatan yg amat sangat. Rupanya ia sudah orgasme. Ia membuka matanya dan wajahnya ia dekatkan ke wajahku sambil bibirnya terbuka dan memperlihatkan isyarat utk minta aku cium. Bibirkupun menyambar bibirnya dan saling melumat. Ketika lidahku masuk kemulutnya, ternyata ia sudah bisa mengimbangi walaupun dengan terengah2. Terbayang reaksinya waktu orgasme tadi maka gairahku menjadi meningkat. Walaupun tau ia sudah orgasme beberapa saat setelah itu aku mulai meningkatkan kecepatan irama gerakan pinggulku utk membawa rudalku menghujam2 liang senggamanya.

Walaupun sambil berciuman aku tetap mempercepat gerakan pinggulku. Awalnya pinggulnya mencoba mengikuti gerakan pinggulku. Namun tiba2 ia melepaskan mulutku dan kepalanya bergerak kekiri dan diam dengan posisi miring ke kiri sehingga aku hanya bisa mencium pipi kanannya. Matanya merem melek. Dekapan tangannya ketubuhkupun ia lepaskan dan ia angkat ke atas sehingga jari2 kedua tangannya hanya meremas2 seprai di atas kepalanya. Kedua kakinya berubah gerakan menjadi mengangkang dengan seluas2nya. Aku jadi mempecepat gerakan pinggulku. Bahkan gerakan rudalku menjadi lebih ganas yaitu saat aku memundurkan pinggulku maka rudal keluar seluruhnya sampai di depan mulut liang senggamanya namun secepat kilat masuk lagi ke dalam lubangnya dan begitu seterusnya namun tdk pernah meleset.

Tangan kiriku kembali meraba payu daranya dan kadang2 ke klitorisnya. Ia menceracau dan kali ini tidak menyebut namaku namun berkali bilang ?aduh …. ampun … sayang …? atau ?kasian aku sayang? dan bahkan ia bilang sudah tidak tahan lagi. Namun aku tau ia terbawa kenikmatan yg luar biasa yang sekian tahun tidak pernah ia rasakan. Malam dingin dan AC di kamarku tdk bisa menahan keluarnya keringat di tubuh kami. Tiba2 kembali ia melenguh, kali ini lebih keras dan mulutnya maju mencari bibirku. Ya, ia kembali orgasme. Aku tidak menghiraukan mulutnya namun lebih berkosentrasi utk mempercepat gerakan pantatku sambil aku putar.

Putus asa ia mencoba mencium bibirku ia rebah kembali, namun pd saat itu akupun mencapai puncaknya dan rudalku menyemburkan sperma yang banyak ke liang senggamanya. Sementara liang senggamanya berdenyut menerima sperma hangatku. Aku terkulai di atas tubuhnya dengan rudalku masih di dalam liang senggamanya. Kami berpelkan dgn sangat erat seolah2 tubuh kami ingin menjadi satu. Kami berciuman dan saling membelai. Berkali2 kami saling mengucapkan sayang. Iapun mengungkapkan betapa bahagianya ia krn selain bisa menolongku menyalurkan libidoku, juga ia merasa terpuaskan kebutuhan yang tdk pernah ia rasakan sekian tahu. Apalagi ketika setelah itu ia semapat bercerita betapa almarhum suaminya begitu kolot dalam bercinta dan sekedar mengeluarkan sperma saja.

Ia baru tau bahwa bercinta dengan laki2 dapat lebih nikmat dibanding yg pernah ia rasakan. Kami tertidur sambil berpelukan. Paginya ketika terbangun jam 8 pagi kami bercinta lagi dengan sebelumnya menelpon ke tempat diklatnya utk memberitahukan bahwa ia tdk enak badan. Ia adalah tipe wanina yg juga agak kolot. Beberapa variasi ia lakukan dgn kikuk. Ia sering tdk bersedia bila vaginanya aku oral dgn alasan tdk sampai hati melihat aku yg banyak menolongnya mengoral vaginanya. Tapi ia mau mengoral penisku kadang2. Biasanya ia mau kalau ia sudah tdk bisa mengimbangi permainanku sedang aku masih mau bercinta. Selama sebulan ia tinggal di rumahku dan kami sudah seperti suami istri ….

bahkan percintaan kami sering lebih panas. 2 hari setelah percintaan kami yg pertama aku malah sempat mengantar ia ke dokter utk pasang spiral agar tdk terjadi hal2 yg tdk diinginkan. Hal yg kusuka darinya adalah ia ternyata pandai menyembunyikan hubungan kami. Jadi bila ada tamu atau famili datang ke rumahku, sikap kami biasa2 saja. Memang aku sempat mendoktrin dia bhw hubungan kami ini adalah hubungan terlarang, namun krn awalnya menolongku maka tdk apa2 dilanjutkan krn ia harus mengerti dgn kebutuhanku sbg laki2 drpd aku kena penyakit bercinta di luaran maka ia tdk perlu tanggung2 menolongku. Selain itu hal yg kusukai dr dia adalah sikapnya yg berbakti kepadaku bila kami berdua saja. Hampir semua permintaanku mau ia terima selama ia anggap permainan normal. Ia bilang itu ia lakukan krn aku banyak menolongnya.

Kadang2 aku memutarkan kaset video BF utk memperlihatkan beberapa variasi padanya. Aku bahkan sempat melakukan penetrasi di anusnya. Sebetulnya kesediaannya utk disodomi itu dilakukan dgn terpaksa krn pd saat kami melakukan foreplay ternyata ia menstruasi. Melihat aku sudah di puncak birahi ia mencoba melakukannya dengan tangan dan mulut tapi tdk berhasil krn ia mmg tdk terlalu lihay. Akhirnya dengan dibantu hand body cream maka anusnya lah yg jadi sasaranku. Sebetulnya aku kasian juga melihat ia menitikan airmata waktu aku mulai menusukan rudalku ke anusnya. Tapi karena aku sudah berada di ujung kenikmatan maka aku tetap melakukannya. Krn di rumah hanya kami berdua maka kami melakukannya di mana saja, bisa di kamar mandi, bisa di depan TV, dan lainnya.

Hal yg paling mengesankan adalah suatu hari pada saat saya pulang jam istirahat siang, ternyata iapun baru pulang juga utk istirahat di rumah krn ada informasi instrukturnya akan datang terlambat sekitar setengah atau satu jam. Mendengar penyampaiannya itu aku langsung mutup pintu rumah dan menyergapnya. Aku baringkan ia di atas hambal di ruang tengah depan TV. Ia gelagapan dan berteriak2 senang sambil berpura2 protes. Aku hanya menurunkan celana tidak sampai lepas dan iapun cuma kusingkapkan rok panjangnya dan melepaskan celana dalamnya. Baju PNS nya hanya kubuka kancingnya dan menarik BHnya ke atas. Kerudungnya aku biarkan terpasang. Sehingga kamu bercinta dgn tdk sepenuhnya telanjang. Mungkin krn agak tegang permainan kami menjadi lebih lama dr permainan biasanya.

Akhirnya kami istirahat di rumah dengan hanya makan nasi dan telur dadar krn waktu istirahat tersita utk bercinta. Pada saat ia kembali ke kotanya kami masih berhubungan sebulan 3-4 kali dalam sebulan. Namun setelah aku pindah ke kota lain hubungan kami jadi sangat jarang. Terakhir ia menikah lagi dengan seorang duda yang usianya 7 tahun lebih tua dari dia. Itupun ia terima setelah aku yg mendorong utk menerimanya wkt ia menceritakan bhw ada orang yg mau melamarnya. Demikianlah ceritaku. Sebetulnya sampai saat ia bersuamipun aku tau kalau aku datang kepada dirinya dan ia punya waktu maka ia akan bersedia melayaniku. Hanya aku tdk mau mengambil resiko yg lebih tinggi. cerita bokep 

Kenikmatan Anal Seks Dengan Tante Girang
Category: cerita bokep
Tags: cerita bokep

cerita bokep Sejak setelah menikah, ibu tinggal di rumah kecil kami beberapa bulan sambil menunggu bangunan rumah baru mereka selesai. Lagi-lagi, rumah baru mereka tidak jauh dari bengkel ayah. Ayah menolak tinggal di rumah tante Tina karena alasan pribadi ayah. Setelah banyak process yang dilakukan antara ayah dan ibu, akhirnya bengkel tempat ayah bekerja, kini menjadi milik ayah dan ibu sepenuhnya. Ayah pernah memohon kepada ibu agar dia ingin tetap dapat bekerja di bengkel, dan terang saja bengkel itu langsung ibu putuskan untuk dibeli saja.

Maklum ibu adalah ‘business-minded person’. Aku semakin sayang dengan ibu, karena pada akhirnya cita-cita ayah untuk memiliki bengkel sendiri terkabulkan. Kini bengkel ayah makin besar setelah ibu ikut berperan besar di sana. Banyak renovasi yang mereka lakukan yang membuat bengkel ayah tampak lebih menarik. Pelanggan ayah makin bertambah, dan kali ini banyak dari kalangan orang-orang kaya. Ayah tidak memecat pegawai-pegawai lama di sana, malah menaikkan gaji mereka dan memperlakukan mereka seperti saat dia diperlakukan oleh pemilik bengkel yang lama.

Kehidupan dan gaya hidupku & ayah benar-benar berubah 180 derajat. Kini ayah sering melancong ke luar negeri bersama ibu, dan aku sering ditinggal di rumah sendiri dengan pembantu. Alasan aku ditinggal mereka karena aku masih harus sekolah. Cerita Dewasa Ngentot Tante Ani Cerita Panas Sedarah Bareng Budhe Ani Cerita Seks Berhubungan Intim di Kamar Ibu sering mengundang teman-teman lamanya bermain di rumah. Salah satu temannya bernama tante Ani. Tante Ani saat itu hanya 15 tahun lebih tua dariku. Semestinya dia pantas aku panggil kakak daripada tante, karena wajahnya yang masih terlihat seperti orang berumur 20 tahunan. Tanti Ani adalah pelanggan tetap salon kecantikan ibu, dan kemudian menjadi teman baik ibu.

Wajah tante Ani tergolong cantik dengan kulitnya yang putih bersih. Dadanya tidak begitu besar, tapi pinggulnya indah bukan main. Maklum anak orang kaya yang suka tandang ke salon kecantikan. Tante Ani sering main ke rumah dan kadang kala ngobrol atau gossip dengan ibu berjam-jam. Tidak jarang tante Ani keluar bersama kami sekeluarga untuk nonton bioskop, window shopping atau ngafe di mall. Aku pernah sempat bertanya tentang kehidupan pribadi tante Ani. Ibu bercerita bahwa tante Ani itu bukanlah janda cerai atau janda apalah. Tapi tante Ani sempat ingin menikah, tapi ternyata pihak dari laki-laki memutuskan untuk mengakhiri pernikahan itu. Alasan-nya tidak dijelaskan oleh ibu, karena mungkin aku masih terlalu muda untuk mengerti hal-hal seperti ini. Pada suatu hari ayah dan ibu lagi-lagi cabut dari rumah. Tapi kali ini mereka tidak ke luar negeri, tapi hanya melancong ke kota Bandung saja selama akhir pekan.

Lagi-lagi hanya aku dan pembantu saja yang tinggal di rumah. Saat itu aku ingin sekali kabur dari rumah, dan menginap di rumah teman. Tiba-tiba bel rumah berbunyi dan waktu itu masih jam 5:30 sore di hari Sabtu. Ayah dan ibu baru 1/2 jam yang lalu berangkat ke Bandung. Aku pikir mereka kembali ke rumah mengambil barang yang ketinggalan. Sewaktu pintu rumah dibuka oleh pembantu, suara tante Ani menyapanya. Aku hanya duduk bermalas-malasan di sofa ruang tamu sambil nonton acara TV. Tiba-tiba aku disapanya. “Bernas kok ngga ikut papa mama ke Bandung?” tanya tante Ani. “Kalo ke Bandung sih Bernas malas, tante. Kalo ke Singapore Bernas mau ikut.” jawabku santai. “Yah kapan-kapan aja ikut tante ke Singapore.

Tante ada apartment di sana” tungkas tante Ani. Aku pun hanya menjawab apa adanya “Ok deh. Ntar kita pigi rame-rame aja. Tante ada perlu apa dengan mama? Nyusul aja ke Bandung kalo penting.”. “Kagak ada sih. Tante cuman pengen ajak mamamu makan aja. Yah sekarang tante bakalan makan sendirian nih. Bernas mau ngga temenin tante?”. “Emang tante mau makan di mana?” “Tante sih mikir Pizza Hut.” “Males ah ogut kalo Pizza Hut.” “Trus Bernas maunya pengen makan apa?” “Makan di Muara Karang aja tante. Di sono kan banyak pilihan, ntar kita pilih aja yang kita mau.” “Oke deh. Mau cabut jam berapa?” “Entaran aja tante. Bernas masih belon laper. Jam 7 aja berangkat. Tante duduk aja dulu.” Kami berdua nonton bersebelahan di sofa yang empuk.

Sore itu tante Ani mengenakan baju yang lumayan sexy. Dia memakai rok ketat sampai 10 cm di atas lutut, dan atasannya memakai baju berwarna orange muda tanpa lengan dengan bagian dada atas terbuka (kira-kira antara 12 sampai 15cm kebawah dari pangkal lehernya). Kaki tante Ani putih mulus, tanpa ada bulu kaki 1 helai pun. Mungkin karena dia rajin bersalon ria di salon ibu, paling tidak seminggu 2 kali. Bagian dada atasnya juga putih mulus. Kami nonton TV dengan acara/channel seadanya saja sambil menunggu sampai jam 7 malam. Kami juga kadang-kadang ngobrol santai, kebanyakan tante Ani suka bertanya tentang kehidupan sekolahku sampai menanyakan tentang kehidupan cintaku di sekolah.

Aku mengatakan kepada tante Ani bahwa aku saat itu masih belum mau terikat dengan masalah percintaan jaman SMA. Kalo naksir sih ada, cuma aku tidak sampai mengganggap terlalu serius. Semakin lama kami berbincang-bincang, tubuh tante Ani semakin mendekat ke arahku. Bau parfum Chanel yg dia pakai mulai tercium jelas di hidungku. Tapi aku tidak mempunyai pikiran apa-apa saat itu. Tiba-tiba tante Ani berkata, “Bernas, kamu suka dikitik-kitik ngga kupingnya?”. “Huh? Mana enak?” tanyaku. “Mau tante kitik kuping Bernas?” tante Ani menawarkan/ “Hmmm…boleh aja. Mau pake cuttonbud?” tanyaku sekali lagi. “Ga usah, pake bulu kemucing itu aja” tundas tante Ani. “Idih jorok nih tante. Itu kan kotor. Abis buat bersih-bersih ama mbak.” jawabku spontan.

“Alahh sok bersihan kamu Bernas. Kan cuman ambil 1 helai bulunya aja. Lagian kamu masih belum mandi kan? Jorok mana hayo!” tangkas tante Ani. “Percaya tante deh, kamu pasti demen. Sini baring kepalanya di paha tante.” lanjutnya. Seperti sapi dicucuk hidungnya, aku menurut saja dengan tingkah polah tante Ani. Ternyata memang benar adanya, telinga ‘dikitik-kitik’ dengan bulu kemucing benar-benar enak tiada tara. Baru kali itu aku merasakan enaknya, serasa nyaman dan pengen tidur aja jadinya. Dan memang benar, aku jadi tertidur sampe sampai jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat. Suara lembut membisikkan telingaku. “Bernas, bangun yuk. Tante dah laper nih.” kata tante. “Erghhhmmm … jam berapa sekarang tante.” tanyaku dengan mata yang masih setengah terbuka. “Udah jam 7 lewat Bernas.

Ayo bangun, tante dah laper. Kamu dari tadi asyik tidur tinggalin tante. Kalo dah enak jadi lupa orang kamu yah.” kata tante sambil mengelus lembut rambutku. “Masih ngantuk nih tante … makan di rumah aja yah? Suruh mbak masak atau beli mie ayam di dekat sini.” “Ahhh ogah, tante pengen jalan-jalan juga kok. Bosen dari tadi bengong di sini.” “Oke oke, kasih Bernas lima menit lagi deh tante.” mintaku. “Kagak boleh. Tante dah laper banget, mau pingsan dah.” Sambil malas-malasan aku bangun dari sofa. Kulihat tante Ani sedang membenarkan posisi roknya kembali. Alamak gaya tidurku kok jelek sekali sih sampe-sampe rok tante Ani tersingkap tinggi banget. Berarti dari tadi aku tertidur di atas paha mulus tante Ani, begitulah aku berpikir.

Ada rasa senang juga di dalam hati. Setelah mencuci muka, ganti pakaian, kita berdua berpamitan kepada pembantu rumah kalau kita akan makan keluar. Aku berpesan kepada pembantu agar jangan menunggu aku pulang, karena aku yakin kita pasti bakal lama. Jadi aku membawa kunci rumah, untuk berjaga-jaga apabila pembantu rumah sudah tertidur. “Nih kamu yang setir mobil tante dong.” “Ogah ah, Bernas cuman mau setir Baby Benz tante. Kalo yang ini males ah.” candaku. Waktu itu tante Ani membawa sedan Honda, bukan Mercedes-nya. “Belagu banget kamu. Kalo ngga mau setir ini, bawa itu Benz-nya mama.” balas tante Ani. “No way … bisa digantung ogut ama papa mama.” jawabku. “Iya udah kalo gitu setir ini dong.”

jawab tante Ani sambil tertawa kemenangan. Mobil melaju menyusuri jalan-jalan kota Jakarta. Tante Ani seperti bebek saja, ngga pernah stop ngomong and gossipin teman-temannya. Aku jenuh banget yang mendengar. Dari yang cerita pacar teman-temannya lah, sampe ke mantan tunangannya. Sesampai di daerah Muara Karang, aku memutuskan untuk makan bakmi bebeknya yang tersohor di sana. Untung tante Ani tidak protes dengan pilihan saya, mungkin karena sudah terlalu lapar dia. Setelah makan, kita mampir ke tempat main bowling. Abis main bowling tante Ani mengajakku mampir ke rumahnya. Tante Ani tinggal sendiri di apartemen di kawasan Taman Anggrek. Dia memutuskan untuk tinggal sendiri karena alasan pribadi juga. Ayah dan ibu tante Ani sendiri tinggal di Bogor.

Saat itu aku tidak tau apa pekerjaan sehari-hari tante Ani, yang tante Ani tidak pernah merasa kekurangan materi. Apartemen tante Ani lumayan bagus dengan tata interior yang classic. Di sana tidak ada siapa-siapa yang tinggal di sana selain tante Ani. Jadi aku bisa maklum apabila tante Ani sering keluar rumah. Pasti jenuh apabila tinggal sendiri di apartemen. “Anggap rumah sendiri Bernas. Jangan malu-malu. Kalau mau minum ambil aja sendiri yah.” “Kalo begitu, Bernas mau yang ini.” sambil menunjuk botol Hennessy V.S.O.P yang masih disegel. “Kagak boleh, masih dibawah umur kamu.” cegah tante Ani. “Tapi Bernas dah umur 17 tahun.

Mestinya ngga masalah” jawabku dengan bermaksud membela diri. “Kalo kamu memaksa yah udah. Tapi jangan buka yang baru, tante punya yang sudah dibuka botolnya.”. Tiba-tiba suara tante Ani menghilang dibalik master bedroomnya. Aku menganalisa ruangan sekitarnya. Banyak lukisan-lukisan dari dalam dan luar negeri terpampang di dinding. Lukisan dalam negerinya banyak yang bergambarkan wajah-wajah cantik gadis-gadis Bali. Lukisan yang berbobot tinggi, dan aku yakin pasti bukan barang yang murahan. “Itu tante beli dari seniman lokal waktu tante ke Bali tahun lalu” kata tante Ani memecahkan suasana hening sebelumnya. “Bagus tante. High taste banget. Pasti mahal yah?!” jawabku kagum.

“Ngga juga sih. Tapi tante tidak pernah menawar harga dengan seniman itu, karena seni itu mahal. Kalo tante tidak cocok dengan harga yang dia tawarkan, tante pergi saja.” Aku masih menyibukkan diri mengamati lukisan-lukisan yang ada, dan tante Ani tidak bosan menjelaskan arti dari lukisan-lukisan tersebut. Tante Ani ternyata memiliki kecintaan tinggi terhadap seni lukis. “Ok deh. Kalo begitu Bernas mau pamit pulang dulu tante. Dah hampir jam 11 malam. Tante istirahat aja dulu yah.” kataku. “Ehmmm … tinggal dulu aja di sini. Tante juga masih belum ngantuk. Temenin tante bentar yah.” mintanya sedikit memohon. Aku juga merasa kasihan dengan keadaan tante Ani yang tinggal sendiri di apartemen itu.

Jadi aku memutuskan untuk tinggal 1 atau 2 jam lagi, sampai nanti tante Ani sudah ingin tidur. “Kita main UNO yuk?!” ajak tante Ani. “Apa itu UNO?!” tanyaku penasaran. “Walah kamu ngga pernah main UNO yah?” tanya tante Ani. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Wah kamu kampung boy banget sih.” canda tante Ani. Aku hanya memasang tampak cemburut canda. Tante Ani masuk ke kamarnya lagi untuk membawa kartu UNO, dan kemudian masuk ke dapur untuk mempersiapkan hidangan bersama minuman. Tante Ani membawa kacang mente asin, segelas wine merah, dan 1 gelas Hennessy V.S.O.P on rock (pake es batu). Setelah mengajari aku cara bermain UNO, kamipun mulai bermain-main santai sambil makan kacang mente.

Hennesy yang aku teguk benar-benar keras, dan baru 2 atau 3 teguk badanku terasa panas sekali. Aku biasanya hanya dikasih 1 sisip saja oleh ayah, tapi ini skrg aku minum sendirian. Kepalaku terasa berat, dan mukaku panas. Melihat kejadian ini, tante Ani menjadi tertawa, dan mengatakan bahwa aku bukan bakat peminum. Terang aja, ini baru pertama kalinya aku minum 1 gelas Hennessy sendirian. “Tante, anterin Bernas pulang yah. Kepala ogut rada berat.” “Kalo gitu stop minum dulu, biar ngga tambah pusing.” jawab tante Ani. Aku merasa tante Ani berusaha mencegahku untuk pulang ke rumah. Tapi lagi-lagi, aku seperti sapi dicucuk hidung-nya, apa yang tante Ani minta, aku selalu menyetujuinya. Melihat tingkahku yang suka menurut, tante Ani mulai terlihat lebih berani lagi.

Dia mengajakku main kartu biasa saja, karena bermain UNO kurang seru kalau hanya berdua. Paling tepat untuk bermain UNO itu berempat. Tapi permainan kartu ini menjadi lebih seru lagi. Tante mengajak bermain blackjack, siapa yang kalah harus menuruti permintaan pemenang. Tapi kemudian tante Ani ralat menjadi ‘Truth & Dare’ game. Permainan kami menjadi seru dan terus terang aja tante Ani sangat menikmati permainan ‘Truth & Dare’, dan dia sportif apabila dia kalah. Pertama-tama bila aku menang dia selalu meminta hukuman dengan ‘Truth’ punishment, lama-lama aku menjadi semakin berani menanyakan yang bukan-bukan. Sebaliknya dengan tante Ani, dia lebih suka memaksa aku untuk memilih ‘Dare’ agar dia bisa lebih leluasa mengerjaiku.

Dari yang disuruh pushup 1 tangan, menari balerina, menelan es batu seukuran bakso, dan lain-lain. Mungkin juga tidak ada pointnya buat tante Ani menanyakan the ‘Truth’ tentang diriku, karena kehidupanku terlihat lurus-lurus saja menurutnya. Ini adalah juga kesempatan untuk menggali the ‘Truth’ tentang kehidupan pribadinya. Aku pun juga heran kenapa aku menjadi tertarik untuk mencari tahu kehidupannya yang sangat pribadi. Mula-mula aku bertanya tentang mantan tunangannya, kenapa sampai batal pernikahannya. Sampai pertanyaan yang menjurus ke seks seperti misalnya kapan pertama kali dia kehilangan keperawanan. Semuanya tanpa ragu-ragu tante Ani jawab semua pertanyaan-pertanyaan pribadi yang aku lontarkan.

Kini permainan kami semakin wild dan berani. Tante Ani mengusulkan untuk mengkombinasikan ‘Truth & Dare’ dengan ‘Strip Poker’. Aku pun semakin bergairah dan menyetujui saja usul tante Ani. “Yee, tante menang lagi. Ayo lepas satu yang menempel di badan kamu.” kata tante Ani dengan senyum kemenangan. “Jangan gembira dulu tante, nanti giliran tante yang kalah. Jangan nangis loh yah kalo kalah.” jawabku sambil melepas kaus kakiku. Selang beberapa lama … “Nahhh, kalah lagi … kalah lagi … lepas lagi … lepas lagi.”. Tante Ani kelihatan gembira sekali. Kemudian aku melepas kalung emas pemberian ibu yang aku kenakan. “Ha ha ha … two pairs, punya tante one pair. Yes yes … tante kalah sekarang.

Ayo lepas lepas …” candaku sambil tertawa gembira. “Jangan gembira dulu. Tante lepas anting tante.” jawab tante sambil melepas anting-anting yang dikenakannya. Aku makin bernapsu untuk bermain. Mungkin bernapsu untuk melihat tante Ani bugil juga. Aku pengen sekali menang terus. “Full house … yeahhh … kalah lagi tante. Ayo lepas … ayo lepas …”. Aku kini menari-nari gembira. Terlihat tante Ani melepas jepit rambut merahnya, dan aku segera saja protes “Loh, curang kok lepas yang itu?”. “Loh, kan peraturannya lepas semuanya yang menempel di tubuh. Jepit tante kan nempel di rambut dan rambut tante melekat di kepala. Jadi masih dianggap menempel dong.” jawabnya membela.

Aku rada gondok mendengar pembelaan tante Ani. Tapi itu menjadikan darahku bergejolak lebih deras lagi. “Straight … Bernas … One Pair … Yes tante menang. Ayo lepas! Jangan malu-malu!” seru tante Ani girang. Aku pun segera melepas jaket aku yang kenakan. Untung aku selalu memakai jaket tipis biar keluar malam. Lihatlah pembalasanku, kataku dalam hati. “Bernas Three kind … tante … one pair … ahhh … lagi-lagi tante kalah” sindirku sambil tersenyum. Dan tanpa diberi aba-aba dan tanpa malu-malu, tante melepas baju atasannya. Aku serentak menelan ludah, karena baju atasan tante telah terlepas dan kini yang terlihat hanya BH putih tante. Belahan payudara-nya terlihat jelas, putih bersih.

Bernas junior dengan serentak langsung menegang, dan kedua mataku terpaku di daerah belahan dadanya. “Hey, lihat kartu dong. Jangan liat di sini.” canda tante sambil menunjuk belahan dadanya. Aku kaget sambil tersenyum malu. “Yes Full House, kali ini tante menang. Ayo buka … buka”. Tampak tante Ani girang banget bisa dia menang. Kali ini aku lepas atasanku, dan kini aku terlanjang dada. “Ck ck ck … pemain basket nih. Badan kekar dan hebat. Coba buktikan kalo hokinya juga hebat.” sindir tante Ani sambil tersenyum. Setelah menegak habis wine yang ada di gelasnya, tante Ani kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju ke dapur dengan keadaan dada setengah terlanjang.

Tak lama kemudian tante Ani membawa sebotol wine merah yang masih 3/4 penuh dan sebotol V.S.O.P yang masih 1/2 penuh. “Mari kita bergembira malam ini. Minum sepuas-puasnya.” ucap tante Ani. Kami saling ber-tos ria dan kemudian melanjutkan kembali permainan strip poker kami. “Yesss … ” seruku dengan girangnya pertanda aku menang lagi. Tanpa disuruh, tante Ani melepas rok mininya dan aduhaiii, kali ini tante Ani hanya terliat mengenakan BH dan celana dalam saja. Malam itu dia mengenakan celana dalam yang kecil imut berwarna pink cerah. Tidak tampak ada bulu-bulu pubis disekitar selangkangannya.

Aku sempat berpikir apakah tante Ani mencukur semua bulu-bulu pubisnya. Cerita Hot Gairah Tante Ani Cerita Dewasa Pemerkosaan Tante Girang Cerita Nakal Tujuh Belas Plus Anal Sex Muka tante Ani sedikit memerah. Kulihat tante Ani sudah menegak abis gelas winenya yang kedua. Apakah dia berniat untuk mabuk malam ini? Aku kurang sedikit perduli dengan hal itu. Aku hanya bernafsu untuk memenangkan permainan strip poker ini, agar aku bisa melihat tubuh terlanjang tante Ani. “Yes, yes, yes …” senyum kemenangan terlukis indah di wajahku. Tante Ani kemudian memandangkan wajahku selang beberapa saat, dan berkata dengan nada genitnya “Sekarang Bernas tahan napas yah.

Jangan sampai seperti kesetrum listrik loh”. Kali ini tante Ani melepaskan BH-nya dan serentak jatungku ingin copot. Benar apa kata tante Ani, aku seperti terkena setrum listrik bertegangan tinggi. Dadaku sesak, sulit bernapas, dan jantungku berdegup kencang. Inilah pertama kali aku melihat payudara wanita dewasa secara jelas di depan mata. Payudara tante Ani sungguh indah dengan putingnya yang berwarna coklat muda menantang. “Aih Bernas, ngapain liat susu tante terus. Tante masih belum kalah total. Mau lanjut ngga?” tanya tante Ani. Aku hanya bisa menganggukkan kepala pertanda ‘iya’. “Pertama kali liat susu cewek yah? Ketahuan nih. Dasar genit kamu.” tambah tante Ani lagi.

Aku sekali lagi hanya bisa mengangguk malu. Aku menjadi tidak berkonsentrasi bermain, mataku sering kali melirik kedua payudaranya dan selangkangannya. Aku penasaran sekali ada apa dibalik celana dalam pinknya itu. Tempat di mana menurut teman-teman sekolah adalah surga dunia para lelaki. Aku ingin sekali melihat bentuknya dan kalo bisa memegang atau meraba-raba. Akibat tidak berkonsentrasi main, kali ini aku yang kalah, dan tante Ani meminta aku melepas celana yang aku kenakan. Kini aku terlanjang dada dengan hanya mengenakan celana dalam saja. Tante Ani hanya tersenyum-senyum saja sambil menegak wine-nya lagi. Aku sengaja menolak tawaran tante Ani untuk menegak V.S.O.P-nya, dengan alasan takut pusing lagi. Karena kami berdua hanya tinggal 1 helai saja di tubuh kami, permainan kali ini ada finalnya.

Babak penentuan apakah tante Ani akan melihat aku terlanjang bulat atau sebaliknya. Aku berharap malam itu malaikat keberuntungan berpihak kepadaku. Ternyata harapanku sirna, karena ternyata malaikat keberuntungan berpihak kepada tante Ani. Aku kecewa sekali, dan wajah kekecewaanku terbaca jelas oleh tante Ani. Sewaktu aku akan melepas celana dalamku dengan malu-malu, tiba-tiba tante Ani mencegahnya. “Tunggu Bernas. Tante ngga mau celana dalam mu dulu. Tante mau Dare Bernas dulu. Ngga seru kalo game-nya cepat habis kayak begini” kata tante Ani. Setelah meneguk wine-nya lagi, tante Ani terdiam sejenak kemudian tersenyum genit. Senyum genitnya ini lebih menantang daripada yang sebelum-sebelumnya.

“Tante dare Bernas untuk … hmmm … cium bibir tante sekarang.” tantang tante Ani. “Ahh, yang bener tante?” tanyaku. “Iya bener, kenapa ngga mau? Jijik ama tante?” tanya tante Ani. “Bukan karena itu. Tapi … Bernas belum pernah soalnya.” jawabku malu-malu. “Iya udah, kalo gitu cium tante dong. Sekalian pelajaran pertama buat Bernas.” kata tante Ani. Tanpa berpikir ulang, aku mulai mendekatkan wajahku ke wajah tante Ani. Tante Ani kemudian memejamkan matanya. Pertamanya aku hanya menempelkan bibirku ke bibir tante Ani. Tante Ani diam sebentar, tak lama kemudian bibirnya mulai melumat-lumat bibirku perlahan-lahan. Aku mulai merasakan bibirku mulai basah oleh air liur tante Ani. Bau wine merah sempat tercium di hidungku.

Aku pun tidak mau kalah, aku berusaha menandinginya dengan membalas lumatan bibir tante Ani. Maklum ini baru pertama, jadi aku terkesan seperti anak kecil yang sedang melumat-lumat ice cream. Selang beberapa saat, aku kaget dengan tingkah baru tante Ani. Tante Ani dengan serentak menjulurkan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Anehnya aku tidak merasa jijik sama sekali, malah senang dibuatnya. Aku temukan lidahku dengan lidah tante Ani, dan kini lidah kami kemudian saling berperang di dalam mulutku dan terkadang pula di dalam mulut tante Ani. Kami saling berciuman bibir dan lidah kurang lebih 5 menit lamanya. Nafasku sudah tak karuan, dah kupingku panas dibuatnya. Tante Ani seakan-akan menikmati betul ciuman ini.

Nafas tante Ani pun masih teratur, tidak ada tanda sedikitpun kalau dia tersangsang. “Sudah cukup dulu. Ayo kita sambung lagi pokernya” ajak tante Ani. Aku pun mulai mengocok kartunya, dan pikiranku masih terbayang saat kita berciuman. Aku ingin sekali lagi mencium bibir lembutnya. Kali ini aku menang, dan terang saja aku meminta jatah sekali lagi berciuman dengannya. Tante Ani menurut saja dengan permintaanku ini, dan kami pun saling berciuman lagi. Tapi kali ini hanya sekitar 2 atau 3 menit saja. “Udah ah, jangan ciuman terus dong. Ntar Bernas bosan ama tante.” candanya. “Masih belon bosan tante. Ternyata asyik juga yah ciuman.” jawabku. “Kalo ciuman terus kurang asyik, kalo mau sih …” seru tante Ani kemudian terputus.

Kalimat tante Ani ini masih menggantung bagiku, seakan-akan dia ingin mengatakan sesuatu yang menurutku sangat penting. Aku terbayang-bayang untuk bermain ‘gila’ dengan tante Ani malam itu. Aku semakin berani dan menjadi sedikit tidak tau diri. Aku punya perasaan kalo tante Ani sengaja untuk mengalah dalam bermain poker malam itu. Terang aja aku menang lagi kali ini. Aku sudah terburu oleh napsuku sendiri, dan aku sangat memanfaatkan situasi yang sedang berlangsung. “Bernas menang lagi tuh. Jangan minta ciuman lagi yah. Yang lain dong …” sambut tante Ani sambil menggoda. “Hmm … apa yah.” pikirku sejenak. “Gini aja, Bernas pengen emut-emut susu tante Ani.” jawabku tidak tau malu.

Ternyata wajah tante Ani tidak tampak kaget atau marah, malah balik tersenyum kepadaku sambil berkata “Sudah tante tebak apa yang ada di dalam pikiran kamu, Bernas.”. “Boleh kan tante?!” tanyaku penasaran. Tante Ani hanya mengangguk pertanda setuju. Kemudian aku dekatkan wajahku ke payudara sebelah kanan tante Ani. Bau parfum harum yang menempel di tubuhnya tercium jelas di hidungku. Tanpa ragu-ragu aku mulai mengulum puting susu tante Ani dengan lembut. Kedua telapak tanganku berpijak mantap di atas karpet ruang tamu tante Ani, memberikan fondasi kuat agar wajahku tetap bebas menelusuri payudara tante Ani. AKu kulum bergantian puting kanan dan puting kiri-nya. Kuluman yang tante Ani dapatkan dariku memberikan sensasi terhadap tubuh tante Ani.

Dia tampak menikmati setiap hisapan-hisapan dan jilatan-jilatan di puting susu-nya. Nafas tante Ani perlahan-lahan semakin memburu, dan terdengar desahan dari mulutnya. Kini aku bisa memastikan bahwa tante Ani saat ini sedang terangsang atau istilah modern-nya ‘horny’. “Bernasss … kamu nakal banget sih! … haahhh … Tante kamu apain?” bisik tante Ani dengan nada terputus-putus. Aku tidak mengubris kata-kata tante Ani, tapi malah semakin bersemangat memainkan kedua puting susunya. Tante Ani tidak memberikan perlawanan sedikitpun, malah seolah-olah seperti memberikan lampu hijau kepadaku untuk melakukan hal-hal yang tidak senonoh terhadap dirinya.

Aku mencoba mendorong tubuh tante Ani perlahan-lahan agar dia terbaring di atas karpet. Ternyata tante Ani tidak menahan/menolak, bahkan tante Ani hanya pasrah saja. Setelah tubuhnya terbaring di atas karpet, aku menghentikan serangan gerilyaku terhadap payudara tante Ani. Aku perlahan-lahan menciumi leher tante Ani, dan oh my, wangi betul leher tante Ani. Tante Ani memejamkan kedua matanya, dan tidak berhenti-hentinya mendesah. Aku jilat lembut kedua telinganya, memberikan sensasi dan getaran yang berbeda terhadap tubuhnya. Aku tidak mengerti mengapa malam itu aku seakan-akan tau apa yang harus aku lakukan, padahal ini baru pertama kali seumur hidupku menghadapi suasana seperti ini.

Kemudian aku melandaskan kembali bibirku di atas bibir tante Ani, dan kami kembali berciuman mesra sambil berperang lidah di dalam mulutku dan terkadang di dalam mulut tante Ani. Tanganku tidak tinggal diam. Telapak tangan kiriku menjadi bantal untuk kepala belakang tante Ani, sedangkan tangan kananku meremas-remas payudara kiri tante Ani. Tubuh tante Ani seperti cacing kepanasan. Nafasnya terengah-engah, dan dia tidak berkonsentrasi lagi berciuman denganku. Tanpa diberi komando, tante Ani tiba-tiba melepas celana dalamnya sendiri. Mungkin saking ‘horny’-nya, otak tante Ani memberikan instinct bawah sadar kepadanya untuk segera melepas celana dalamnya.

Aku ingin sekali melihat kemaluan tante Ani saat itu, namun tante Ani tiba-tiba menarik tangan kananku untuk mendarat di kemaluannya. “Alamak …”, pikirku kaget. Ternyata kemaluan/memek tante Ani mulus sekali. Ternyata semua bulu jembut tante Ani dicukur abis olehnya. Dia menuntun jari tengahku untuk memainkan daging mungil yang menonjol di memeknya. Para pembaca pasti tau nama daging mungil ini yang aku maksudkan itu. Secara umum daging mungil itu dinamakan biji etil atau biji etel atau itil saja. Aku putar-putar itil tante Ani berotasi searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam. Kini memek tante Ani mulai basah dan licin. “Bernasss … kamu yah … aaahhhh … kok berani ama tante?” tanya tante Ani terengah-engah.

“Kan tante yang suruh tangan Bernas ke sini?” jawabku. “Masa sihhh … tante lupa … aahhh Bernasss … Bernasss … kamu kok nakal?” tanya tante Ani lagi. “Nakal tapi tante bakal suka kan?” candaku gemas dengan tingkah tante Ani. “Iyaaa … nakalin tante pleasee …” suara tante Ani mulai serak-serak basah. Aku tetap memainkan itil tante Ani, dan ini membuatnya semakin menggeliat hebat. Tak lama kemudian tante Ani menjerit kencang seakaan-akan terjadi gempa bumi saja. Tubuhnya mengejang dan kuku-kuku jarinya sempat mencakar bahuku. Untung saja tante Ani bukan tipe wanita yang suka merawat kuku panjang, jadi cakaran tante Ani tidak sakit buatku. “Bernasss … tante datangggg uhhh oohhh …” erang tante Ani.

Aku yang masih hijau waktu itu kurang mengerti apa arti kata ‘datang’ waktu itu. Yang pasti setelah mengatakan kalimat itu, tubuh tante Ani lemas dan nafasnya terengah-engah. Dengan tanpa di beri aba-aba, aku lepas celana dalamku yang masih saja menempel. Aku sudah lupa sejak kapan batang penisku tegak. Aku siap menikmati tubuh tante Ani, tapi sedikit ragu, karena takut akan ditolak oleh tante Ani. Keragu-raguanku ini terbaca oleh tante Ani. Dengan lembutnya tante Ani berkata, “Bernas, kalo pengen tidurin tante, mendingan cepetan deh, sebelon gairah tante habis. Tuh liat ****** Bernas dah tegak kayak besi. Sini tante pegang apa dah panas.”.

Aku berusaha mengambil posisi diatas tubuh tante. Gaya bercinta traditional. Perlahan-lahan kuarahkan batang penisku ke mulut vagina tante Ani, dan kucoba dorong penisku perlahan-lahan. Ternyata tidak sulit menembus pintu kenikmatan milik tante Ani. Selain mungkin karena basahnya dinding-dinding memek tante Ani yang memuluskan jalan masuk penisku, juga karena mungkin sudah beberapa batang penis yang telah masuk di dalam sana. “Uhhh … ohhh … Bernasss … ahhh …” desah tante Ani. Aku coba mengocok-kocok memek tante Ani dengan penisku dengan memaju-mundurkan pinggulku. Tante Ani terlihat semakin ‘horny’, dan mendesah tak karuan.

“Bernasss … Bernasss … aduhhh Bernasss … geliiii tante … uhhh … ohhhh …” desah tante Ani. Di saat aku sedang asyik memacu tubuh tante Ani, tiba-tiba aku disadarkan oleh permintaan tante Ani, sehingga aku berhenti sejenak. “Bernasss … kamu dah mau keluar belum … ” tanya tante Ani. “Belon sih tante … mungkin beberapa saat lagi … ” jawabku serius. “Nanti dikeluarin di luar yah, jangan di dalam. Tante mungkin lagi subur sekarang, dan tante lupa suruh kamu pake pengaman. Lagian tante ngga punya stock pengaman sekarang. Jadi jangan dikeluarin di dalam yah.” pinta tante Ani. “Beres tante.” jawabku. “Ok deh … sekarang jangan diam … goyangin lagi dong …” canda tante Ani genit.

Tanpa menunda banyak waktu lagi, aku lanjutkan kembali permainan kami. Aku bisa merasakan memek tante Ani semakin basah saja, dan aku pun bisa melihat bercak-bercak lendir putih di sekitar bulu jembutku. Aku mulai berkeringat di punggung belakangku. Muka dan telingaku panas. Tante Ani pun juga sama. Suara erangan dan desahan-nya makin terdengar panas saja di telingaku. Aku tidak menyadari bahwa aku sudah berpacu dengan tante Ani 20 menit lama-nya. Tanda-tanda akan adanya sesuatu yang bakalan keluar dari penisku semakin mendekat saja. “Bernasss … ampunnn Bernasss … kontolnya kok kayak besi aja … ngga ada lemasnya dari tadi … tante geliii banget nihhh …” kata tante Ani. “Tante … Bernasss dah sampai ujung nih …” kataku sambil mempercepat goyangan pinggulku.

Puting tante Ani semakin terlihat mencuat menantang, dan kedua payudara pun terlihat mengeras. Aku mendekatkan wajahku ke wajah tante Ani, dan bibir kami saling berciuman. Aku julur-julurkan lidahku ke dalam mulutnya, dan lidah kami saling berperang di dalam. Posisi bercinta kami tidak berubah sejak tadi. Posisiku tetap di atas tubuh tante Ani. Aku percepat kocokan penisku di dalam memek tante Ani. Tante Ani sudah menjerit-jerit dan meracau tak karuan saja. “Bernasss … tante datangggg … uhhh … ahhhhhh …” jerit tante Ani sambil memeluk erat tubuhku. Ini pertanda tante Ani telah ‘orgasme’. Aku pun juga sama, lahar panas dari dalam penisku sudah siap akan menyembur keluar. Aku masih ingat pesan tante Ani agar spermaku dilepas keluar dari memek tante Ani.

“Tante … Bernassss datangggg …” jeritku panik. Kutarik penisku dari dalam memek tante Ani, dan penisku memuncratkan spermanya di perut tante Ani. Saking kencangnya, semburan spermaku sampai di dada dan leher tante Ani. “Ahhh … ahhhh … ahhhh …” suara jeritan kepuasanku. “Idihhh … kamu kecil-kecil tapi spermanya banyak bangettt sih …” canda tante Ani. Aku hanya tersenyum saja. Aku tidak sempat mengomentari candaan tante Ani. Setelah semua sperma telah tumpah keluar, aku merebahkan tubuhku di samping tubuh tante Ani. Kepalaku masih teriang-iang dan nafasku masih belum stabil. Mataku melihat ke langit-langit apartment tante Ani. Aku baru saja menikmati yang namanya surga dunia. Tante Ani kemudian memelukku manja dengan posisi kepalanya di atas dadaku. Bau harum rambutku tercium oleh hidungku.

“Bernas puas ngga?” tanya tante Ani. “Bukan puas lagi tante … tapi Bernas seperti baru saja masuk ke surga” jawabku. “Emang memek tante surga yah?” canda tante Ani. “Boleh dikata demikian.” jawabku percaya diri. “Kalo tante puas ngga?” tanyaku penasaran. “Hmmm … coba kamu pikir sendiri aja … yang pasti memek tante sekarang ini masih berdenyut-denyut rasanya. Diapain emang ama Bernas?” tanya tante Ani manja. “Anuu … Bernas kasih si Bernas Junior … tuh tante liat jembut Bernas banyak bercak-bercak lendir. Itu punya dari memek tante tuh. Banjir keluar tadi.” kataku. “Idihhh … mana mungkin …” bela tante Ani sambil mencubit penisku yang sudah mulai loyo. “Bernas sering-sering datang ke rumah tante aja.

Nanti kita main poker lagi. Mau kan?” pinta tante Ani. “Sippp tante.” jawabku serentak girang. Malam itu aku nginap di rumah tante Ani. Keesokan harinya aku langsung pulang ke rumah. Aku sempat minta jatah 1 kali lagi dengan tante Ani, namum ajakanku ditolak halus olehnya karena alasan dia ada janji dengan teman-temannya. Sejak saat itu aku menjadi teman seks gelap tante Ani tanpa sepengetahuan orang lain terutama ayah dan ibu. Tante Ani senang bercinta yang bervariasi dan dengan lokasi yang bervariasi pula selain apartementnya sendiri. Kadang bermain di mobilnya, di motel kilat yang hitungan charge-nya per jam, di ruang VIP spa kecantikan ibuku (ini aku berusaha keras untuk menyelinap agar tidak diketahui oleh para pegawai di sana). Tante Ani sangat menyukai dan menikmati seks.

Menurut tante Ani seks dapat membuatnya merasa enak secara jasmani dan rohani, belum lagi seks yang teratur sangatlah baik untuk kesehatan. Dia pernah menceritakan kepadaku tentang rahasia awet muda bintang film Hollywood tersohor bernama Elizabeth Taylor, yah jawabannya hanya singkat saja yaitu seks dan diet yang teratur. Tante Ani paling suka ‘bermain’ tanpa kondom. Tapi dia pun juga tidak ingin memakai sistem pil sebagai alat kontrasepsi karena dia sempat alergi saat pertama mencoba minum pil kontrasepsi. Jadi di saat subur, aku diharuskan memakai kondom. Di saat setelah selesai masa menstruasinya, ini adalah saat di mana kondom boleh dilupakan untuk sementara dulu dan aku bisa sepuasnya berejakulasi di dalam memeknya.

Apabila di saat subur dan aku/tante Ani lupa menyetok kondom, kita masih saja nekat bermain tanpa kondom dengan berejakulasi di luar (meskipun ini rawan kehamilannya tinggi juga). Hubungan gelap ini sempat berjalan hampir 4 tahun lamanya. Aku sempat memiliki perasaan cinta terhadap tante Ani. Maklum aku masih tergolong remaja/pemuda yang gampang terbawa emosi. Namun tante Ani menolaknya dengan halus karena apabila hubunganku dan tante Ani bertambah serius, banyak pihak luar yang akan mencaci-maki atau mengutuk kami. Tante Ani sempat menjauhkan diri setelah aku mengatakan cinta padanya sampai aku benar-benar ‘move on’ dari-nya. Aku lumayan patah hati waktu itu (hampir 1.5 tahun), tapi aku masih memiliki akal sehat yang mengontrol perasaan sakit hatiku.

Saat itu pula aku cuti ‘bermain’ dengan tante Ani. Saat ini aku masih berhubungan baik dengan tante Ani. Kami kadang-kadang menyempatkan diri untuk ‘bermain’ 2 minggu sekali atau kadang-kadang 1 bulan sekali. Tergantung dari mood kami masing-masing. Tante Ani sampai sekarang masih single. Aku untuk sementara ini juga masih single. Aku putus dengan pacarku sekitar 6 bulan yang lalu. Sejak putus dengan pacarku, tante Ani sempat menjadi pelarianku, terutama pelarian seks. Sebenarnya ini tidak benar dan kasihan tante Ani, namun tante Ani seperti mengerti tingkah laku lelaki yang sedang patah hati pasti akan mencari seorang pelarian. Jadi tante Ani tidak pernah merasa bahwa dia adalah pelarianku, tapi sebagai seorang teman yang ingin membantu meringkankan beban perasaan temannya. cerita bokep 

Aku Jadi Pemuas Napsu
Category: cerita bokep
Tags: cerita bokep

cerita bokep Mbak sukma yang sedang sibuk bicara lewat ponselnya sedang asyk duduk di meja rias , kira kira waktu sudah menunjukan pukul 10 malam saat itu aku sedang tidur di kamarnya, aku hendak bangun dan ingin menuju kekamar mandi mencari celana dalamku yang entah kemana, aku lihat ternyata di sebelah mbak Sukma, aku biarkan tubuhku tanpa celana dalam masuk kekamar mandi untuk mandi , ku nyalakan keran air hangat untuk aku berendam di bathup.

Dari celah pintu yang setengah tertutup itu aku mendengar mbak Sukma masih bercerita seru adegan ranjang yang dinikmatinya bersamaku tadi sore, selepas minum ramuan khasiatnya yang membangkitkan energiku sore tadi. Kubiarkan badanku menerima kehangatan air hangat keran kamar mandi sambil bersandar kupejamkan mata.

Setelah lama tak terdengar lagi suara mbak Sukma, aku menghentikan usapan sabun di tubuhku dan berusaha berdiri mengarah ke pintu tempat handuk bergantung. Bersamaan dengan itu Terdengar pintu kamar terbuka.

Dari celah pintu kamar mandi, dari kaca rias di kamar aku melihat jelas pembantu mbak Sukma si Alifa masuk ke dalam sambil membawa kain bersih di nampan bersama teh hangat dan kue kecil bertumpuk di piring.

Saat membersihkan tempat tidur, dari ujung seberangku hingga berputar mendekati kamar mandi, aku telah kering menyeka basah tubuhku, yang kulilit handuk sepinggang. Saat membungkuk membetulkan seprei tempat tidur sambil membelakangiku, perlahan aku keluar kamar mandi dan merangkulnya dari belakang.

– Aih! pekiknya kecil terkejut.

Masih membungkuk, kuremas dada dan perutnya dalam pelukanku, kuarahkan dia menatap cermin meja rias, yang terlihat jelas belahan dadanya tersembul dibalik dasternya yang sedikit ketat. busana remaja sekarang memang sexy, membuatku senang menatap pemandangan indah di cermin. Alifa yang meronta berusaha berdiri dan melepas tanganku mulai mengerutkan dahi tanda risih.

– Nyonyamu mana sayang ? tanyaku

– Errhh!! Keluar ke temannya, ada yang ingin bertemu dengannya di daerah mall.

– Uhhh!! Tolong lepaskan mas pintanya memelas

– Hmm, terus teh ini untuk siapa Alifa ?

Untuk mas, sesuai pesan nyonya tadi.

– Apa saja pesannya ? sambil menggerayangi tubuh remajanya yang masih kencang ini, aku mengarahkannya ke arah meja rias.

– Untuk melayani mas sebelum nyonya datang. Aarhh!!

Pekiknya saat tangan kiriku yang memegang perutnya mulai turun ke bawah. Kuraih pangkal pahanya yang masih rapat tertutup pahanya, kuremas buah dadanya dari belakang, sambil kugesek gesekan pusakaku pada pantat atau punggungnya, sekenanya. tangannya berusaha menggapai tepian meja rias, kursi rias ataupun karpet bulu di kamar, berusaha menopang tubuhnya agar tak jatuh.

 Yah layani aku dong Alifa aku kan ingin kau melakukannya

– Arrh!! pekik Alifa,

saat kupegang pergelangan tangannya, kuputar badannya menghadapku, yang dengan cepat menarik ke atas dasternya menutup muka dan menahan tangannya di atas. Kutarik kebawah dengan cepat celana dalamnya dan saat membungkuk segera kuraih bra yang menutup dada ranumnya.

Kulepaskan bra dan celana dalamnya, memperlihatkan tubuhnya yang ramping indah masa2 remajanya. wajahnya masih tertutup daster yang berusaha ditariknya keluar. Kubantu Alifa melepas dasternya, hingga terlihat sekarang ia menggigit bibir bawahnya sambil memelas wajahnya menatapku

– Jangan mas .. ampun mas

– Jadi kau tak mau melayaniku ? kubiarkan diriku duduk di tempat tidur.

– Jangan melayani ini mas nanti sakit mas

– Tapi ada nikmatnya kan ?

Alifa tak menjawab. Ia menutupi kedua buah dadanya dengan menyilangkan tangannya, menutup erat pangkal pahanya dengan merapatkan lututnya kesamping setengah ditekuk. Wao! terlihat indah nian dipandang bentuk dan pose yang dilakukan Alifa di depanku.

– Alifa sayang, cobalah kau menikmatinya dengan hati terbuka, ikhlas.

– Engkau malah akan merasakan rasa nikmat yang beda dengan usaha penolakanmu. rayuku

Alifa diam saja.

Kalau mbak Sukma senang dengan pelayananmu padaku, tentunya sikap mbak Sukma akan baik kepadamu kan ?

– Kemarilah Alifa sayang kataku perlahan sambil berdiri.

– Engkau cantik kuarahkan mukaku ke wajahnya dan mulai mencium pipi, ke arah telinga terus ke leher.

– Engkau gadis sexy Alifa. kulitmu bagus kuhisap bahunya, turun ke bawah ke depan.

Mulai terasa pangkal buah dadanya mengeras, bergetar lembut saat tanganku mengajak pergelangan tangannya menjauhinya.

Kubenamkan mulutku, menghisap dan menggigit dada ranum kenyal, ketat milik Alifa. Alifa diam saja, masih menggigit bibir bawahnya, mulai menunduk dengan mata terpejam, terkulai ke kanan.

Kupeluk tubuh rampingnya, Kuremas kedua pantatnya, Kulebarkan pahanya. Kulakukan remasan selama beberapa waktu sampai akhirnya kupeluk erat dan kubaringkan ke karpet bulu di kamar mbak Sukma ini.

Masih terpejam mata Alifa, bibirnya setengah terbuka, kedua tangannya mendekap kepalaku. Kutindih badannya, kubuka kakinya lebar2 dengan usaha kakiku, kugesekkan perlahan handuk yang melindungi pusakaku ke pangkal pahanya. Kakinya terbuka secara suka rela, tertekuk lututnya.

Nafasnya tersengal saat pusakaku yang mulai mengeras menekan pangkal pahanya. Alifa meremas tangannya di kepalaku saat tubuhku mendorong maju mundur dan menekan ke bawah. Merintih dan mengerang sambil menggoyangkan badannya mencari irama yang diinginkannya.

Tak terasa lama kami saling memagut, menekan dan mendekap pasangannya masing, sampai mulai terasa hangat pusakaku menyentuh tubuhnya. Handukku telah terlepas. Sedikit mengangkat panggul aku mengarahkan kepala pusakaku ketengah pangkal paha Alifa. Alifa diam tak bereaksi menunggu saat2 itu tiba. Kepalaku didekap erat sambil mengerang

– ERrrgh!!

Saat kepala pusakaku mulai menempati posisi yang pas pada milik Alifa. Segera kudorong tubuhku sambil menekan membuatnya membuka mulut, tapi tak bersuara. Matanya terpejam dan terbuka sesaat, bergantian, seirama dengan goyangannya mengimbangi dorongan dan tekananku. Beberapa waktu kemudian

– AAARRRGH!! pekiknya nyaring, pendek, dan terbuka lebar mata dan mulutnya

Sambil berkelojotan, bergoyang dan bergetar semua tubuhnya menghimpit rapat pingggangku. Pahanya yang erat menjepitku sekarang diringi gemetar semua dadanya. Kemudian Alifa diam, memejamkan mata, masih berair ujung kelopak matanya, tapi sedikit tersenyum Alifa masih mengelus kepalaku.

– Enak kan sayang ?? bisikku di telinganya, tanpa menghentikan gerakanku.

Masih dengan irama yang sama aku sekarang duduk berlutut dihadapnnya, membuka lebar kakinya dengan kedua tanganku di betisnya yang kuangkat ke atas. Tangannya sekarang mencengkeram kursi rias dan karpet bulu di salah satunya.

Kepalanya masih terkulai ke kanan, mengangguk-angguk. sambil menekan bibir bawah ia mulai merintih lagi. Pintu kamar terbuka dari luar!! Kuangkat kepalaku dan mbak Sukma masuk. sambil menatap kami ia tersenyum kecil, meletakkan pantantnya di kasur, melepaskan sepatu tingginya.

DI pintu, masuk lagi seorang wanita tinggi, lebih muda dari mbak Sukma dengan kurus panjang wajahnya mirip gadis foto model. Bajunya yang terikat diujung bawahnya memperlihatkan branya yang gelap membungkus dadanya yang kencang.

Rok jeans sepaha yang dikenakannya terlihat amat sangat sexy membungkus pahanya yang putih.

Lalu masuk lagi seorang wanita pendek dengan tubuh yang sedikit lebih lebar dari mbak Sukma, tetapi memiliki buah dada yang teramat besar. Baju putihnya lurus membungkus menutupi bentuk tubuhnya yang sedikit lebar itu, tanpa dapat menyembunyikan besar dada di depannya.

– Sayang, ini Desty dan yang baju putih ini Mahya. yang kemudian menyebutkan namaku kepada mereka

– Yang di bawah tu si Alifa, masih perawan dia tadi pagi. senyumnya kepada temannya.

Aku tidak menghentikan gerakanku, masih menikmati denyutan di dalam lubang Alifa yang sekarang ikut menoleh ke arah mereka. Bingung ia harus berbuat apa sementara tubuhku masih mendorong keluar masuk pusakaku ke dalam lubang miliknya.

Mbak Sukma keluar kamar sambil menepuk pundak Desty

– Ayolah kalo kau menginginkannya.

– Yuk Ndut, kita ke dapur dulu. ajak Mbak Sukma ke arah Mahya.

Kulihat Desty mulai melepaskan perhiasannya, meletakkan dalam tasnya. Membuka kancing bra dan ikatan bajunya, meletakkannya di kursi rias sambil mendekat kearahku. Kulihat Jelas buah dadanya bagus menjulang, ujungnya runcing membuatku ingin menghisapnya.

Sedikit membungkuk ia menurunkan rok jeans yang telah terbuka resletingnya. celana dalam coklat gelap dengan bordir indah menambah indah bentuk lekukan bawah pusar si Desty.

– Mas kata Desty perlahan sambil mendekatkan wajahnya menciumi punggungku yang masih bergoyang berirama.

Desty merangkulku dari belakang, dan mengesekkan tubuhnya pada punggungku, kurasakan dadanya yang kenyal dan ketat itu menekan punggungku. Kemudian ia bangkit sedikit berdiri, menempelkan perutnya ke punggungku.

Kurebahkan miring si Alifa di bawah, kaki kanannya kusilangkan dengan kaki kirinya, pahanya sedikit merapat, pangkal pahanya sedikit lebih menjepit erat miliku. Alifa merintih, kali ini meremas karpet disebelahnya erat2, kemudian sambil merapatkan bibir ia mengejang.

Tanganku yang memegang kakinya merasa getaran kejang2 cepat yang kemudian berhenti, tapi dengan otot2 tubuh yang masih mengejang. badannya setengah tertekuk ke samping, lubangnya terasa lebih sempit dari sebelummnya saat itu. Kemudian ia diam tak bergerak, dengan masih rebah miring dan kaki terangkat satu. Ia tak bergerak, diam lemas tapi masih mencengkeram karpet bulu.

Dari tadi tubuhku tetap bergoyang dengan irama yang sama menekan ke depan dan ke bawah. Aku tidak melihat perlawanan lagi. Tapi lubang milik Alifa itu aku masih suka mengolahnya dengan pusakaku. Tidak sesempit sesaat tadi, tapi masih terasa menjepit dan berdenyut saat aku menghentikan sebentar gerakanku.

Desty yang tanganya sudah gatal telah memulai meremas dadanya sendiri, menyaksikan kelojotan dan kejangan Alifa di hadapannya. Sambil meraih pergelangan tangan kiriku, ia menyodorkan kemaluannya, menempelkan tangannya di situ sambil menggesekan tubuhnya ke tanganku. Sedikit kujepit dengan ibu jari dan telunjukku, kubuat celana dalam Desty sedikit turun ke bawah.

Dari samping kemudian merangkulku, duduk di paha kiriku, menghadapku. Membuka pahanya lebar2 dan membenamkan pangkalnya ke pahaku.

Dicondongkannya tubuh bawahnya hingga lebih menempel, menggesekkan kemaluannya ke pahaku. Kemudian menggesek kedua dadanya di bahu kiriku, naik turun.

Kulepaskan si Alifa yang terdiam di lantai, kuajak berdiri sebentar si Desty, kemudian mengajaknya duduk di kursi rias. Kutarik lepas celana dalamnya, tubuh Desty yang aduhai ini telah duduk di kursi rias dengan terbuka lebar pahanya.

Segera kudorong bersandar ke meja rias, ia menopang sikunya. Pangkal pahanya dicondongkan ke arahku, memperlihatkan bentuk kemaluannya yang terselimut bulu tebal dari bawah pusar hingga sekeliling pangkal kakinya. kakinya dibuka sedemikian lebar hingga kedua tanganku dapat membuka belahan bawah Desty dan memijitnya perlahan.

 UUUhhggghh Mengecil mulut Desty ke depan, melenguh melepaskan nafas.

Kumasukkan pusakaku ke dalam milik Desty, kulakukan gerakan maju mundur dengan irama perlahan. Terasa masih kering lubang Desty, sehingga masih terasa dinding pusakaku menggesek lubang Desty saat berusaha masuk.

Desty tersenyum nakal. dan mulai menggoyangkan naik turun bawah perutnya, membuatku semakin bersemangat menekan tubuhnya. Kupercepat gerakanku. ku tak peduli jika aku mencapai puncakku sebentar lagi. Tapi herannya, perasaan rileks di kepalaku dan nafas teratur miliku seperti malah membuatku tidak sampai2 pada ujung nikmatku.

Sudah tegang pusakaku bersama si Alifa, Sudah bergesekan di lubang sempit miliknya berulang kali. Kali ini dengan Desty, lubang keringnya yang menggigit dinding pusakaku, juga tak sanggup melepaskan energi yang kutunggu dari tadi. Heran juga ku sekilas.

Tapi dorongan2 dan tekanan tajam, cepat dan berulang kepada Desty membuat lubangnya mulai basah juga. Dengan cepat ia merangkul kepalaku, pahanya dengan sigap dan cepat merangkul pinggangku, sehingga membuatku bangkit, menggendongnya, dan mendorong lubang di bawah badannya dalam-dalam.

– AArghhh!! nikmat mas 

Badan Desty bergoyang dalam gendonganku. Kadang naik turun, kadang maju mundur, sambil terus menjepit kepalaku dengan tangan, dan pinggangku dengan kakinya. Kuajak ia berjalan keliling kamar mbak Sukma. Merintih si Desty bergoyang pantatnya terdorong pahaku yang melangkah maju bergantian.

Semakin erat genggamn Desty, dan semakin memburur nafasnya. Kubuka handle pintu kamar mbak Sukma, kubuka pintunya, kuberjalan ke ruang tengah sambil menggendong Desty yang bergoyang goyang mencari kesenangannya.

Kulihat Mbak Sukma di depan tv ruang tengah, melihat film porno asia, pemerkosaan gadis sekolah jepang di tv layar lebarnya. Kulihat mbak Sukma menatap layar sambil menerawang matanya. Pakainnya telah kebawah, tinggal bra di dadanya yang sedikit melorot juga, tanda kancing belakangnya telah terlepas.

Kulihat kebawah, kaki mbak Sukma bergoyang-goyang mengapit kepala si Mahya yang mengulum lekukan bawah tubuh mbak Sukma. Sambil bersandar dan melirik kami, mbak Sukma membenamkan kepala Mahya dalam2. Mulut mbak Sukma terbuka, setengah bergoyang ia melambai kearahku. Mengajakku mendekat.

Desty yang kugendong tambah mempererat genggamannya saat kulewati tv itu, membuat Desty melihat dan mendengar jelas teriakan, erangan dan tangisan keras gadis sekolah yang terpampang di tv, dikerjai oleh si pria dewasa. Desty mempercepat ayunannya dan kulihat matanya melotot melihat tv, mempererat jepitannya, merintih-rintih kemudian

– ARrrghhhh!! AAAHhHHHHHHhhhh

Badannya bergunjang dalam gendonganku, bergetar dan mengejang sesaat. Kemudian melapaskan tangan dan kakinya, hendak turun. Kubiarkan ia merosot ke bawah, ke lantai berselimut bulu tebal itu. Ia terbaring miring sambil tersenyum padaku.

Mbak Sukma terpejam dan terbuka matanya bergantian, menikmati sapuan lidah dan hisapan si Mahya yang setengah telanjang berbaring di bawah. Kutarik meja ke pinggir memperluas ruang tengah ini, kutarik kursi sofa kecil ke arah mereka berdua.

Kuangkat gaun putih bagian bawah milik Mahya. gaunnya di tengah tubuhnya sekarang bergantung, karena bagian atasnya sudah terlepas semua hingga pinggang. Tak kulihat celana dalam si Mahya di badannya.

Coba kuangkat sedikit pahanya, mengajaknya bersandar telungkup di kursi yang kusiapkan. Masih melumat milik mbak Sukma, si Mahya mulai melirik ke arahku. Kubuka sedikit pahanya, yang diteruskan dengan usahanya sendiri membuka lebar2 dan sedikit menungging bagian bawahnya. merangarahkannya kepadaku.

Ah, segera kusiapkan pusakaku berganti lubang sekarang. Kumasukan perlahan. sempit. Mahya menjerit kecil dalam benaman pangkal paha mbak Sukma. Perlahan kumasukan pusakaku yang basah ini memasuki lubang Mahya. Wanita ini gemuk, sehingga membuat lubangnya sempit, atau ia jarang melalukan sehingga terasa sempit ?

Perlahan tapi pasti, pusakaku sudah di dalam lubang Mahya. kukoyak kesamping, kedorong kedepan, kebenamkan dalam-dalam ke bawah, kugoyang kesegala arah. Aku senang dinding pusakaku terpijit denyutan ruang dalam Mahya.

Lubang Mahya, hampir sesempit lubang Alifa. Tapi kali ini ia memijit pusakaku di dalam, membuatnya berbeda dengan milik si Alifa. Kudorong terus si Mahya, kuingin terus meraih sensasi di pijitan di ruang dalam miliknya.

Tak beberapa lama, aku mulai gemetar, kupercepat gerakanku, kuperhatikan mbak Sukma yang terpejam matanya, terlentang lemas, Mahya yang tidak mengulum kemaluan mbak Sukma, mulai terengah-engah, telungkup di kursi kecil. Badannya sedikit bergoyang sambil terus merapatkan pantatnya, berusaha keras menjepit pusakaku saat beraksi di lubangnya. Kurasakan si Mahya ini yang paling lihai diantara mereka.

Dengan meremas pantatnya, kubenamkan dalam2 pusakaku ke lubang Mahya, menegang paha dan lututku, mengeluarkan cairan hangat yang kutunggu dari tadi. Kusampai puncak nikmatku dengan wanita sintal tapi lihai ini. Kulihat ia tersenyum menoleh kepadaku, terengah engah membiarkan lubangnya tersiram air hangat dari dalam tubuhku.

Sesaat sambil meluruskan kaki, terduduk di bawah bersandar sofa, aku merasa ada yang aneh saat kuperhatikan pusakaku masih bediri tegak. Aku sudah yakin mencapai puncak nikmat saat bersama Mahya tadi, tapi pusakaku belum bergerak melingkar lemas kebawah.

Kupegang, masih tegang dan kencang. Kuteguk cangkir minuman disampingku, kurasakan hangat tehnya, sambil menutup mata dan menyandarkan kepalaku ke sofa aku beristirahat memejamkan mata.

Setengah sadar aku merasakan beban berat mendidihhku, bersamaan terjepitnya pusakaku kedalam lubang bawah wanita. Kurasakan semua gerakan ayunan dan goyangan cepat berlangsung lama di atasku bersamaan dengan pekik panjang suara si Mahya.

Tak lama setelah mengangkat badannya, kembali aku tertindih berat tubuh wanita yang membenamkan pusakaku ke dalam liang lubang wanitanya. Kudengar suara mbak Sukma sekarang terengah dan menjerit terus menerus. Mulai kudengar pula suara Desty ikut tertawa perlahan dan bergantian menindih tubuhku sambil menggoyangkan pangkal pahanya mencari kenikmatan. Mereka terus melakukan secara bergantian.

Akhirnya tak terdengar suara dan gerakan lagi Kubuka mataku dan melihat mereka bertiga tertidur di karpet, semua dengan telanjang bulat. Kucoba bangkit, merasakan tenagaku mulai pulih, aku bergerak perlahan ke kamar mbak Sukma, sambil memperhatikan pusakaku yang masih terus berdiri tegak.Aku masih teringat Alifa, remaja belasan tahun yang masih sangat ingin kujamah dan mengolah tubuh molek kencangnya bersama lubang kenikmatannya yang sempit. cerita bokep

RSS

This website is powered by Spruz