cerita sex
Nafsu Bejat Ayah Tiriku Sendiri
Category: cerita sex
Tags: cerita sex

cerita sex Panggil namaku Melisa aku seorang gadis yang masih duduk di kelas satu SMU, awalnya aku merupakan gadis yang berpribadi menarik aku termasuk gadis yang lincah dan juga begitu supel. Dan aku memiliki banyak teman yang selalu setia dan selalu baik padaku, tapi itu semua tidak berlangsung lama setelah kepergian ayahku di tambah mamaku langsung menikah dengan pria lain setelah baru dua bulan ayahku meninggal.

Dengan alasan tidak tahu mesti hidup dengan cara bagaimana karena memang mamaku belum pernah punya pengalaman bekerja selama dia menikah dengan ayahku. Apalagi keluarganya ada di luar kota dan lebih menyedihkan lagi dari pada mamaku. Akhirnya mamaku memutuskan untuk menikah dengan pria yang dia kenal setelah ayahku belum lama meninggal.

Karena mama pikir pria yang akan menikahinya itu adalah pria yang bertanggung jawab, karena itu dia langsung menerima pria itu begitu dia menawarkan untuk menikahinya dan berjanji akan bertanggung jawab pada mamaku. Padahal dia tidak jauh beda dengan pria mesum lainnya yang ada di otaknya hanyalah untuk melakukan adegan seperti dalam cerita sex.

Karena tidak perlu lama untuk tahu akal bulus dari ayah tiriku tersebut. Menginjak tiga bulan menikah dengan mamaku dia sudah berubah dari yang awalnya baik dan begitu perhatian apad mama dan juga aku, namun akhir-kahir ini dia menjadi pria bejat mulai dari menghabiskan uang tabungan mamaku sampai melakukan hal yang tidak bisa aku ampuni sampai kapanpun.

Hari itu aku sedang tidur siang karena memang sehabis pulang dari sekolah aku langsung makan siang dan tidur di dalam kamar meskipun terkadang hanya membuka laptop. Namun tiba-tiba hari itu aku di kejutkan oleh ayah tiriku yang masuk dalam kamarku tanpa mengetuk pintu lebih dulu, aku terkejut namun sebelum mulutku berteriak dia langsung membekap mulutku.

Aku hendak melepaskan diri dari dekapannya tapi sayang ayah tiriku begitu kuat sehingga aku hanya bisa menangis saja. Dengan kasarnya dia lepas baju yang menempel padaku, saat itu aku sempat terbangun dan langsung berlari menuju pintu kamarku tapi ketika aku tarik rupanya ayah tiriku sudah menguncinya diapun mendekat padaku sambil memandang ke arahku dengan pandangan begitu tajam.

Aku berpegangan pada gagang pintu hingga ayah tiriku kembali mendekat sambil berkata ” sini sayang…. kalau tidak mama kamu akan keburu datang dan dia pasti sedih jika melihat kamu begini…. ” Dia langsung memeluk tubuhku dan menciumi seluruh wajahku hingga kurasakan sakit pada wqajahku karena terlalu keras dia menekan kumisnya pada wajahku.

Kini dia mengangkat tubuhku yang sudah tidak lagi memakai pakaian, setelah itu dia rebahkan tubuh bugilku di atas tempat tidur. Sambil terus menatap tubuhku diapun langsung mendaratkan bibirnya pada lekuk tubuh mulusku ” Ooouuggghh… tubuhmu mulus… sayang…. ooouugghhh…. ooouugghh……. ” Katanya sambil terus menciumi seluruh tubuhku.

Kemudian dia melihat memekku dengan lembut dia membenamkan wajahnya pada kemaluanku itu ” OOouuugggghh….. ooouuugggghh…… ooouuuggghh…… aaaaagggghhh…. aaaaaagggghhh……. ” Kali ini aku tidak merasakan sakit tapi geli di setiap bagian tubvuhku kurasa, karena memang baru pertama kali aku merasakan melakukan adegan seperti dalam cerita seks ini.

Saat itu juga aku lihat ayah tiriku berusaha menuntun kontolnya untuk dapat masuk dalam lubang memekku, aku berusaha menutup mata sedangkan mulutku masih di bekap dengan tangannya oleh ayah tiriku tapi aku masih bisa mendesah maupun meringis kesakitan ” Ooouuggghhh…… ooouuuggghhhh….. aaaaagggggghhhh…… aaaaaaaaaaahhgggghhh…. aaagghhh… ” Desahku menikmati gerakan kontol yang bergerak di atas tubuhku.

Kini dengan cepat diapun menggoyang pantatnya dan mengerang sendiri menikmati goyangan pantatnya ” Ooouugghhh….. ooouuugghhhh… sa… yang…… aaaagggggghhhhh… aaaaggghhhh… ” Semakin cepat puyla dia bergerak sehingga jerit tangis tertahanku tidak lagi dia dengarkan yang ada dia semakin cepat dan keras menggoyang pantatnya di atas memekku.

Sampai akhirnya akupun merasakan ada sesuatu yang menyembur memekku dan tyerasa hangat dan juga begitu nikmat kurasa ” OOuugghhhh…… oooouuuggghh… aaaagggghhhh…. aaaaaggghh.. sayaaaaaaang….. ” Ayah tiriku menekan semakin dalam kontolnya yang seakan bergerak dalam memekku, bagai pemain dalam cerita seks dia terus melakukan hal itu sampai benar-benar terkulai lemas. cerita sex

Kisah Mesum Dalam Sebuah Mobil
Category: cerita sex

cerita sex Adelia adalah namaku aku seorang gadis yang masih duduk di bangku kuliah, seperti mahasiswa lainnya akupun menjalin hubungan dengan seorang cowok. Tapi kisah cintaku tidak berakhir dengan baik selalu saja aku di hianati oleh pacarku padahal aku sudah mencoba untuk setia pada pacarku itu. Bahkan dengan salah satu dari mereka aku pernah melkaukan adegan seperti dalam cerita dewasa.

Tapi kembali aku mengalami hal yang sama kalau tidak di selingkuhi terkadang dia pergi tanpa memberikan status yang jelas padaku. Sampai akhirnya akupun menjadi tidak lagi percaya pada setiap laki-laki. Namun untungnya aku memiliki seorang sahabat Lina namanya dia adalah sahabatku mulai dari aku masih sekolah dulu sampai kini aku sudah kuliah dan satu kampus yang sama dengan Lina.

Dari dulu aku selalu berkeluh kesah dengannya tidak terkecuali masalah pribadi yang aku hadapi, dengan sabarnya dia selalu mencoba memberikan semangat padaku. Bahkan dia selalu bilang kalau pada suatu saat aku akan menemukan seorang cowok yang sama seperti cowoknya Dirga, yang juga satu kampus denganku. Mungkin karena seringnya Lina membanggakan cowoknya itu.

Akupun kini sering menjadi memikirkan dia, bahkan ada niatku untuk mencari perhatian lebih pada Dirga. Karena dia memang sering mengantarku setelah mengantar Lina karena itu kami sering jalan bareng juga, tanpa ada yang curiga karena aku memang bersahabat baik dengan Lina mulai dari dulu dan kini dengan cowoknyapun aku begitu dekat meskipun kini ada niat buruk dalam benakku.

Awalnya Dirga bersikap biasa saja ketika aku mencari perhatian padanya mulai meminjam pundaknya untuk menjadi sandaranku, sampai akhirnya aku memeluk dia lebih lama dari biasanya. Sejak saat itu aku melihat Dirga mencoba menghindariku tapi di depan Lina dia bersikap seperti biasa karena itu aku berpikir kalau dia merahasiakan perubahan sikapku padanya.

Hingga pada suatu malam kami baru datang dari sebuah acara yang kami datangai bersama. setelah mengantar Lina kerumahnya seperti biasa kini giliranku untuk di antar oleh Dirga. Karena rumah kami memang satu arah, karena saat itu aku memakai gaun yang berbelahan terbuka juga lebih mini maka dengan mudah Dirga dapat melihat lekuk tubuhku apalagi tadi aku memang sengaja pindah di sampingnya.

Karena memang sudah terbiasa aku pindah duduk setelah Lina keluar dari dalam mobil. Namun kala itu aku memegang pahanya yang sedang mengemudikan mobil, dengan lembut aku elus-elus paha Dirga hingga dengan berani aku memegang kontolnya dari luar celananya, melihat Dirga diam saja aku semakin gencar meremas kontolnya yang mulai menegnag di balik celananya.

Dengan lembut aku mainkan tanganku di kontolnya, hingga aku tidak tahan juga untuk melakukan lebih jauh lagi. Sembari mengemudikan mobilnya akupun memmbuka resleting celana Dirga hingga terlihat kontolnya yang sudah menegang dengan keras, saat itulah aku menundukan kepalaku lalu menyentuh batang kemaluannya dengan bibirku membuat Dirga menggelinjang kaget.

Bagai pemain dalam adegan cerita dewasa akupun melumat kontolnya dalam mulutku ” OOOuuugggghh… ooouuuggggghhh…. aaaaaaggggghh… aaaaaagggghhh… aaaaagghh… ” Desahnya mulai terdengar di telingaku, aku yakin kalau Dirga mulai terpancing nafsunya. Semakin liar aku mainkan lidahku dalam kontolnya bahkan sesekali tanganku mulai mengocoknya dengan belaian lembut.

Mungkin Dirga tidak kuat menanhanya, akhirnya dia menghentikan laju mobilnya di sebuah tepi jalan yang agak sepi. Saat itulah aku semakin liar menjilat bahkan menghisap buah zakarnya, kontol itu terlihat lebih keras dan lebih besar lagi ” OOOUuuuggggghh… ooouuuggghh…. oooouuugggghhh……. aaaaaggghh…. Adel… aaaaggghh… ” Terdengar menggairahkan.

Kata Dirga yang menyebutkan namaku, dengan semakin kuat lagi aku mengocok kontolnya lalu aku melihat Dirga menyuruhku untuk lebih rebahan lagi pada jok mobil yang telah dia setel lebih rendah lagi, saat itulah dia menindih tubuhku lalu mencoba memasukkan kontolnya, karena dengan mudah aku menyingkap gaunku tanpa kesulitan akupun melebarkan pahaku.

Begitu buah zakarnya menembus memekku akupun mendesah keras ” Ooouuggghh… oouugghh… Dir.. ga…. aaaggghhh… cepat… sa.. yang…. aaaaggggghhh… ” Mendengar kataku semakin cepat pula Dirga menggoyangkan pinggulnya di atas memekku, bahkan diapun terlihat begitu menikmatinya ” OOuugghh….. Adel… aaaaaggghh…. aaaaaggggghh…. aaaagghhh… ” Desahku

Tidak lagi aku temukan kesulitan meskipun aku menggoyang pantatku dio bawah tubuh Dirga yang berada di atas tubuhku ” Oouuugghh… eeeeeuummmpphh… aaaaggghhh….. aaaagggghh… Dir… ga…. sa.. yang…. aaaaaaaaaggghghh….. aaaaaggghhh….. aaaaggghh… ” Aku putar pantatku di bawah tubuh Dirga dengan lebih mengairahkan lagi karena akupun begitu horny.

Sampai akhirnya aku mendengar Dirga mengaerang lebih keras dan kontolnya semakin dalam menekan memekku ” OOOuuugghh… ooouuuggghh…. ooouuggghhh…….aaaaghhh… ” Kini akupun merasakan ada sesuatru yang hangat dari dalam kontolnya yang menembus dalam memeku, akupun merasa nikmat yang tiada terkira waktu itu. Aku peluk tubuh Dirga tidak lagi aku pikirkan mobil yang ikut bergoyang di saat kami melakukan adegan cerita dewasa itu. cerita sex

Selingkuh Sama Cewek SMP
Category: cerita sex
Tags: cerita sex

cerita sex Saya adalah seorang mahasiswa yang sedang pulang untuk liburan. Di suatu hari yang cerah , saya sedang berbaring untuk mencoba tidur siang . Ternyata ibu memanggilku dari luar . Segera saya beranjak dari tempat tidur untuk menemuinya , dan ternyata ibu memintaku untuk mengantarkan sebuah bungkusan untuk diserahkan ke teman arisannya .

Tanpa banyak tanya saya segera bergerak ke alamat yang dituju yang tidak berbeda jauh dari rumahku. Sesampainya di sana aku melihat sebuah rumah yang besar dengan arsitektur yang menawan .


Aku segera memijit bel di pintu pagar rumah tersebut. Tidak beberapa lama keluarlah seorang gadis manis yang memakai kaos bergambar tweety kedodoran sehingga tidak terlihat bahwa gadis itu memakai celana, walaupun akhirnya saya melihat dia memakai celana pendek. 


Singkat kata saya segera bertanya tentang keberadaan teman ibu saya.

“ Hmm…, sorry nih , Ibu Raninya ada?, saya membawa kiriman untuk beliau ” , tanyaku .

“ Wah lagi pergi tuh , Kak…, Kakak siapa ya ?” , tanyanya lagi .

“ Oh saya anaknya Ibu Erlin” , jawabku.


Tiba - tiba cuaca mendung dan mulai gerimis . Sehingga gadis manis itu mempersilakan saya masuk dahulu.


“ Kakak nganterin apaan sih ?” , tanyanya .

“ Wah…, nggak tahu tuh kayaknya sih berkas - berkas” , jawabku sambil mengikutinya ke dalam rumahnya .


“ Memang sih tadi Mama titip pesen kalo nanti ada orang yang nganterin barang buat Mama …, tapi aku nggak nyangka kalo yang nganter cowo cakep!” , katanya sambil tersenyum simpul .

Mendengar pernyataan itu saya menjadi salah tingkah.


Saat saya memasuki ruang tengah rumah itu , saya menjumpai seorang gadis manis lagi yang sedang asyik nonton TV , tapi melihat kami masuk ia seperti gugup dan mematikan TV yang ditontonnya.


“ Ehmm …, Trid siapa sih?” , tanya gadis itu.

“ Oh iya aku Astrid dan itu temanku Dini , kakak ini yang nganterin pesanan mamaku ..” , jawab gadis pemilik rumah yang ternyata bernama Astrid.


“ Eh iya nama gue Ian ” , jawabku .

Tidak lama kemudian aku dipersilakan duduk oleh Astrid . Aku segera mencari posisi terdekat untuk duduk , tiba - tiba saat aku mengangkat bantal yang ada di atas kursi yang akan aku duduki aku menemukan sebuah VCD porno yang segera kuletakkan di sebelahku sambil aku berkata , “ Eh…, kalo ini punya kamu nyimpannya yang bener nanti ketahuan lho ” .

Dengan gugup Astrid segera menyembunyikan VCD tersebut di kolong kursinya , lalu segera menyalakan TV yang ternyata sedang menayangkan adegan 2 orang pasangan yang sedang bersetubuh . Karena panik Astrid tidak dapat mengganti gambar yang ada. Untuk menenangkannya tanpa berpikir aku tiba - tiba nyeletuk .


“ Emang kalian lagi nonton begini nggak ada yang tahu ?” .


Dengan muka memerah karena malu mereka menjawab secara bersamaan tapi tidak kompak sehingga terlihat betapa paniknya mereka.

“ Ehh …, kita lagi buat tugas biologi tentang reproduksi manusia ”, jawab Astrid sekenanya . Dapat kulihat mimik mukanya yang ketakutan karena ia duduk tepat di sampingku .

“ Tugas biologi ?, emangnya kalian ini kelas berapa sih ?” , tanyaku lagi .


“ Kita udah kelas 3 SMP kok!” , jawab Dini . Aku hanya mengangguk tanda setuju saja dengan alasan mereka.

“ Kenapa kalian nggak nyari model asli atau dari buku kedokteran ?” , tanyaku .

“ Emang nyari dimana Kak?” , tanya mereka bersamaan .


“ Hi . ., hi .., hi .. , siapa aja…, kalo gue jadi modelnya mo dibayar berapa?” , tanyaku becanda .

“ Emang kakak mau jadi model kita ?” , tanyanya.

Mendengar pertanyaan itu giliran aku yang menjadi gugup.


“ Siapa takut !” , jawabku nekat .

Ternyata , entah karena mereka sudah ‘ horny ’ gara- gara film BF yang mereka tonton itu, Astrid segera mendekatiku dengan malu-malu .

“ Sorry kak boleh ya ‘ itunya’ kakak Astrid pinjem ” , bisiknya .


Dengan jantung yang berdegup kencang aku membiarkan Astrid mulai membuka retsleting celanaku dan terlihat penisku yang masih tergeletak lemas .


“ Hmm…, emangnya orang rumah kamu pada pulang jam berapa?” , tanyaku mengurangi degup jantungku . Tanpa dijawab Astrid hanya memegangi penisku yang mulai menegang .

“ Kak, kalo cowok berdiri itu kayak gini ya ?” , tanyanya .


“ Wah segini sih belum apa-apa” , jawabku .

“ Coba kamu raba dan elus-elus terus” , jawabku .

“ Kalo di film kok kayaknya diremas- remas terus juga dimasukin mulut namanya apa sih?” , tanyanya lagi .


Ketegangan penisku hampir mencapai maksimal .


“ Nah ukuran segini biasanya cowok mulai dapat memulai untuk bersetubuh , gimana kalo sekarang aku kasih tahu tentang alat kelamin wanita, Emm. ., vagina namanya ” , mintaku.

Tanpa banyak tanya ternyata Astrid segera melepaskan celananya sehingga terlihat vaginanya yang masih ditutupi bulu- bulu halus, Astrid duduk di sampingku sehingga dengan mudah aku mengelus-elus bibir vaginanya dan mulai memainkan clitorisnya .


“ Ahh …, geli …, Kak. ., ahh…, mm . .” , rintihnya dengan mata yang terpejam.

“ Ini yang namanya clitoris pada cewek (tanpa melepaskan jariku dari clitorisnya ) nikmat kan kalo aku beginiin ”, tanyaku lagi . Dan dijawab dengan anggukan kecil .


Tiba - tiba Dini yang sudah telanjang bulat memasukkan penisku ke mulutnya .

“ Kok kamu sudah tahu caranya ”, tanyaku ke Dini .


“ Kan nyontoh yang di film ”, jawabnya .

Tiba - tiba terjadi gigitan kecil di penisku , tapi kubiarkan saja dan mengarahkan tangan kiriku ke vaginanya sambil kuciumi dan kujilati vagina Astrid. Vagina Astrid mulai dibasahi oleh lendir -lendir pelumas yang meleleh keluar .

Tiba - tiba Astrid membisiku, “ Kak ajarin bersetubuh dong. .?” .


“ Wah boleh ” , jawabku sambil mencabut penisku dari mulut Dini .

“ Tapi bakal sedikit sakit pertamanya , Trid . Kamu tahan yah …” , bisikku .


Aku mengangkangkan pahanya dan memainkan jariku di lubang vaginanya agar membiasakan vagina yang masih perawan itu . Dan aku pelan - pelan mulai menusukkan penisku ke dalam liang vagina Astrid, walau susahnya setengah mati karena pasti masih perawan . Ketika akan masuk aku segera mengecup bibirnya , “ Tahan ya sayang …” .


“ Aduh …, sakit .. ”, teriaknya.

Kubiarkan penisku di dalam vaginanya , beberapa menit baru kumulai gerakan pantatku sehingga penisku bergerak masuk dan keluar , mulai terlihat betapa menikmatinya Astrid akan pengalaman pertamanya .


“ Masih sakit nggak, Trid ” , tanyaku .

“ mm …, nggak…, ahh …, ahh…, uhh …, geli Kak”.

Hampir 30 menit kami bersetubuh dan Astrid mulai mencapai klimaksnya karena terasa vaginanya basah oleh lendir .


“ Kak Astrid pingin pipis !” , tanyanya.

“ Jangan ditahan keluarin aja” , jawabku .

“ Ah …, ahh …, emm …. , e .. mm ”, terasa otot vaginanya menegang dan meremas penisku .

“ Nah Trid kamu kayaknya udah ngerasain ejakulasi tuh” .


Aku merebahkan tubuh Astid di sampingku dan segera menarik Dini yang sedang onani sambil melihat film porno di TV .


“ Sini kamu mau nggak?” , tanyaku .

Hobisex69 - Tanpa banyak tanya Dini segera bergerak mendekatiku , kuhampiri dia dan segera mengangkat kaki kirinya dan kumasukkan penisku ke vaginanya dan tampaknya ia menahan sakit saat menerima hunjaman penisku di lubang vaginanya sambil memejamkan matanya rapat-rapat, tapi sekian lama aku mengocokkan penisku di vaginanya mulai ia merintih keenakan. Aku terus melakukannya sambil berdiri bersender ke tembok .

“ aahh …, Kak. ., Dini . ., Dini ” , jeritnya dan tiba - tiba melemas , ia sudah kelur juga pikirku.

Aku bopong gadis itu ke kursi dan rupanya Astrid sudah di belakangku dan menyuruhku duduk dan memasukkan penisku ke vaginanya dengan dibimbing tangannya. Aku telah berganti tempat dan gaya , yang semua Astrid yang memerintahkan sesuai adegan di film sampai akhirnya Astrid memberitahuku bahwa ia akan keluar .


“ Trid tahan yah …, aku juga udah mau selesai nih …, ahh …, aahh…, croot …, creettt …, creet ”, aku muntahkan beberapa cairan maniku di dalam vaginanya dan sisanya aku semprotkan di perutnya.


“ Enak …, yah Kak…, hangat deh memekku …, hmm…, ini sperma kamu ?”, bisiknya dan kujawab dengan ciuman di bibirnya sambil kubelai seluruh tubuh halusnya.


Setelah itu kami mandi membersihkan diri bersama -sama sambil kuraba permukaan payudara Astrid yang kira - kira berukuran cukup besar untuk gadis seusianya , karena terangsang mereka menyerangku dan memulai permainan baru yang di sponsori gadis-gadis manis ini , yang rupanya mereka telah cepat belajar. cerita sex

Ibu Sahabatku Bispak
Category: cerita sex
Tags: cerita sex

cerita sex Cerita ini bermula dari Saya yang baru saja keluar dari SMA ketika itu terjadi. Aku mampir ke rumah Jacob untuk melihat apakah dia ingin pergi memancing. Aku mengetuk tapi tidak ada yang menjawab.

Bukan hal yang aneh bagiku berjalan masuk dan naik ke kamar Jacob jika tidak ada yang menjawab jadi itulah yang kulakukan. Saat sampai di puncak tangga, aku melihat cahaya yang datang dari kamar ibunya. Aku akan menuju masa lalu ke kamar Jacob tapi ada sesuatu yang membuatku berhenti di aula di luar kamarnya.

Pintu terbuka cukup bagiku untuk melihat ke dalam. Aku tahu itu salah tapi aku belum pernah melihat wanita di dekat telanjang dan di sini berdiri ibunya. Sepertinya dia baru saja keluar dari kamar mandi karena rambutnya masih basah.

Dia memintanya kembali kepadaku dan aku bisa melihat tali talinya menghilang di celah pantatnya. Aku tidak percaya mataku. Tanpa sadar, tanganku menuju ke selangkanganku untuk menggosok penisku yang sudah bengkak.

Saat dia berbalik untuk berjalan melintasi ruangan, aku melihat tempat tidurnya tergantung di pahanya. Aku tahu apa itu dari ibuku tapi tidak pernah benar-benar melihatnya. Kegembiraan saya meningkat saat dia menarik sepasang stoking hitam dari laci.

Dia kembali dan duduk di tepi ranjang. Dia menyilangkan kakinya dan mulai menarik salah satu stoking di atas betisnya. Kupikir aku akan meledak. Tanganku mengusap pelan di atas celana jinsku. Aku melihat terpesona saat ia mengayunkan kaus kaki itu melewati lututnya. Aku mengikuti jari-jarinya dengan mataku saat dia merangkak lebih tinggi dan lebih tinggi.

Aku mencondongkan tubuh ke depan untuk melihat lebih jelas dan saat itulah aku menabrak pintu. Pintu itu terbuka dan di sana aku berdiri dengan tanganku di atas lalatku, menatap langsung ibu Brian. Aku berdiri membeku. Aku tidak tahu harus berkata apa atau apa. Berlari terpaku padaku tapi kakiku terpaku pada titik itu.

“Wilson,” dia mendengkur. “Apa yang sedang Anda lakukan bersembunyi di lorong di luar pintu saya?” Saya tidak dapat berbicara. Aku tertangkap dan malu. Saya ingin sebuah lubang terbuka di lantai sehingga saya bisa menghilang ke dalamnya.

Tidak ada keberuntungan seperti itu. Ibu Jacob berdiri dan berjalan ke arahku. Aku yakin dia akan mengalahkan lampu-lampu hidup dariku. Aku belum pernah benar-benar memeriksa ibu Jacob sebelumnya tapi sekarang, berdiri di sini hampir telanjang di depanku, aku terlihat bagus.

Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari stoking hitam yang menutupi kakinya yang panjang dan seksi. Dia memiliki kaki pembunuh. Untuk itu dia pembunuh dari kepala hingga ujung kaki. Payudaranya meringkuk di dalam bra hitam yang bagus.

Mereka tidak benar-benar besar tapi mereka tampak seperti surga bagiku. Dia memiliki perut datar yang indah bahkan setelah melahirkan Brian dan kedua kakak laki-lakinya yang lebih tua. Aku tersentak kembali ke kenyataan saat dia berkata,

“Apakah Anda menikmati pertunjukan itu?

“Saya tidak bisa percaya diri tapi saya mengangguk bahwa saya menikmati pertunjukan itu, saya tidak tahu seperti apa masalah yang saya hadapi, tapi ayam perawan keras saya melakukan semua pemikiran itu. Saya berharap bisa melihat wanita wanita yang lebih seksi ini. Dia memegang tangan saya dan membawa saya ke kursi di samping tempat tidur. 

“Duduklah di sini anak nakal Anda,” dia memarahi saya. Saya duduk di tempat yang dia bilang tidak pernah mengalihkan pandangan dari bentuknya yang indah. Dia duduk di tempat tidur yang menghadap Aku meraih stok yang lain dan mulai menggesernya dengan menggoda kakinya. “Apa kau suka kakiku, Wilson?

” ‘YY-Ya, aku sangat menyukai mereka,

“aku tergagap.”

Apakah Anda pikir mereka terlihat bagus di stoking hitam belaka ini?

“Dia bertanya saat dia memasukkan garter ke stoknya yang kedua.

” Mereka terlihat luar biasa dalam stoking,

“saya menggelegak, sedikit berani kembali.

” Maukah Anda melihat lebih banyak “Dia menawarkan” YA!

“Saya berseru, saya tidak begitu yakin apa lagi yang ingin dia tunjukkan kepada saya tapi saya ingin melihat apapun. Ayam saya sakit di dalam celana jins saya. Saya telah melepaskan tangan saya dari lalat saya dan juga Dengan sadar diri mulai menggosoknya lagi, aku bisa merasakan darah mengalir deras melalui pembuluh darah. Rasanya panas sekali sehingga aku takut terbakar tepat melalui bahan itu.

Ibu Jacob berdiri dan memunggungi saya. Kelelawarnya yang hampir telanjang beberapa inci dari wajahku saat dia membungkuk di atas tempat tidur. “Apakah Anda menyukai pantat saya, Wilson?”

“Ya Tuhan ya!” Hanya itu yang bisa saya kelola saat saya menelan ludah. ​​”Apakah Anda ingin menyentuhnya?”

“Nyata?!

” Aku bertanya tertegun dan takjub. “Untuk nyata,

” dia terkikik kembali ke arahku. Aku berdiri dengan kaki gemetar dan mendekati apa yang harus menjadi keledai paling sempurna di seluruh dunia. Telapak tanganku basah oleh keringat saat aku mengulurkan tangan untuk menempelkan ujung jari ke pipinya yang bundar.

“MMMMMMMMMMM, jari-jariku begitu lembut Jimmy, teruskan dan sentuh, tidak akan menggigit, aku janji,” erangnya. Dorongannya, aku menemukan lebih banyak keberanian dan membiarkan seluruh tubuhku terbaring di bagian belakang tubuhnya. Itu tegas dan hangat. Kulitnya begitu lembut. “Apa kau suka itu?”

“Ya,” terdengar seperti bisikan.

Dia mulai menggoyangkan pinggulnya untuk menggerakkan tanganku. Pergerakannya memberi saya lebih banyak keberanian dan saya membiarkan tangan saya meluncur di atas pantatnya. Aku berkeliaran di seluruh pantatnya membiarkan jariku menggelitik retaknya.

Aku mengikuti tali ke tempat kakinya berdiri dan kemudian mengikuti kakinya sampai ke bagian atas kausnya. Stoking membuatku terpesona. Mereka membuat kakinya sangat seksi. Aku berlutut untuk mendapatkan tampilan yang lebih baik. Ketika dia merasakan napasku di kakinya, dia mengerang,

“Oh, Wilson, cium aku, cium kakiku.

” Aku membawa bibirku ke pahanya dan menciumnya. Daging terasa begitu hangat dan lembut di mulutku. Lidahku meliuk keluar dari kemauannya sendiri dan menjilat kulit di atas kaus kaki.

“OH YA Wilson !! Itu dia !! Itu terasa sangat enak Biarkan lidahmu meluncur tinggi Sepanjang jalan sampai Wilson..

” Seakan itu ada pikiran Dari itu sendiri lidah saya mengikuti perintahnya. Ini merayap lebih tinggi dan lebih tinggi. Aku sedang menonton saat naik.

Pantatnya tepat di depan hidung saya sekarang. Aku bisa mencium bau sabun dari showernya. Dia berbau sangat enak. Aku mabuk. Jemariku membuka pipi pantatnya dan lidahku meluncur turun dari celahnya.

“Wilson !!” Dia menggigil. Dia berdiri tegak.

“Apa aku melakukan sesuatu yang salah?

” Saya bertanya dengan kepolosan saya, “Sama sekali tidak, itu luar biasa,” katanya sambil berbalik menghadap saya. “Saya hanya memiliki gagasan yang lebih baik itu saja.”

Dengan itu dia berbaring telentang di tempat tidur, satu kaki di kedua sisiku. Aku melihat ke bawah dan melihat segitiga kecil kain yang menutupi vaginanya. Dia meraih tanganku dan meletakkannya masing-masing di paha masing-masing.

Dia kemudian meraih ke belakang kepalaku dan menarikku lebih dekat ke vee di antara kedua kakinya. Aku bisa mencium aroma musky yang memancar darinya. Dia meraih tangannya yang lain dan menempelkan jari di segitiga kain.

Wajahku begitu dekat sehingga hampir menyentuh hidungku. Ayam keras saya adalah melawan tepi tempat tidur. Saat aku melihat jemarinya berjalan di sepanjang kain, aku perlahan mulai menggosok diriku di sepanjang tepi ranjang.

Aku berusaha sangat pendiam sehingga dia akan melihat bahwa aku sedang tidur dengan humping tapi dia tersesat dalam pikiran dan kesenangannya sendiri. Dia segera menarik bahan itu ke samping dan saya pertama kali melihat seekor vagina hidup sejati.

Rambutnya tidak seperti yang ku harapkan. Semuanya basah karena kegembiraannya. Dia mengarahkan jarinya ke lembah dan menghilang di suatu tempat di dalam. Pinggulnya mulai bergoyang-goyang di tempat tidur dan segera dia merintih dan menyodorkan ke atas.

Pada satu dorongan dia mengusap daguku. Itu pasti telah membawanya kembali ke indranya karena dia menunduk menatapku sedikit terkejut dan berkata, “Maaf, saya tersesat dalam apa yang saya lakukan.”

Dia menarik jarinya dari dirinya sendiri dan membawanya ke mulutnya. Kupikir aku akan menembak jinsku saat dia menjilat jarinya bersih. Dia menatapku lagi dan bertanya,

“Apakah Anda suka selera?

” Saya tidak dapat berbicara, jadi saya hanya mengangguk. Dia menyelipkan jarinya ke celahnya lagi dan membawanya ke bibirku. Itu basah dari jusnya dan baunya memabukkan. Aku membuka mulutku seolah sedang kesurupan.

Jarinya meluncur dengan mudah ke dalam dan saya diperlakukan dengan rasa paling luar biasa yang pernah saya miliki. Itu manis dan lembut. Aku ingin lebih Seakan membaca pikiranku, dia menarik mukaku lebih dekat ke arahnya merebut dan mendorong,

“Maju sayang, mintalah yang kau mau.

” Lidahku sepertinya tahu apa yang sedang dilakukannya saat membiarkan wajahku jatuh ke dalam sentimen hangatnya. dan itu. Aku menjilat dan mengisap semua yang bisa kutemukan. Ketika saya sampai pada pembukaannya, saya menjilatinya di sekitarnya sebelum meluncur ke lidah saya. Dia bangkit dari tempat tidur untuk memenuhi kemajuan saya.

Dia menggeliat di tempat tidur dan gemanya mengerang di seluruh ruangan. Aku benar-benar masuk ke dalamnya saat dia meraih bagian belakang kepalaku dan melolong. Beberapa saat kemudian wajahku basah kuyup. Beberapa saat kemudian dia menarikku dari selangkangannya dan mengumumkan,

“Kamu membuatku sangat sayang.

” Aku tersenyum menyeringai malu dan berdiri. Saat itulah dia melihat betapa sulitnya saya.

“Oh, kau buruk sekali, aku sangat egois Datanglah ke sini.

” Aku melangkah mendekat ke tempat tidur dan hampir melompat keluar dari kulitku saat dia mengulurkan tangan dan meraih penisku melalui celana jinsku.

“Kita perlu mengurus ini sekarang,

” katanya sambil menatapku dengan nakal. Itu hanya kedua kemudian bahwa aku merasa lega udara dingin memukul ayam tegang saya.

“Anda sama sekali bukan anak kecil, kan?

” Dia memuji saya saat dia mulai menembaki ayam keras saya.

“Apakah Anda menikmati permainan kecil kami?

” Tanyanya sambil melihat ayam kerasku meluncur di antara jari-jarinya yang berpengalaman. “Apa aku pernah ?!

” Seruku saat kepalaku berputar dari tugasnya. Mataku tertutup untuk membantuku berkonsentrasi tidak terlalu cepat. Saya telah menyentakkan daging saya sendiri tapi untuk membuat orang lain melakukannya sungguh menakjubkan. Ketika saya merasakan sensasi baru saya membuka mata saya untuk melihat lidahnya meluncur di sekitar kepala penisku.

“Oh … um … saya akan …

” Aku mencoba memberitahunya bahwa aku akan cum tapi aku tidak bisa membentuk sebuah pemikiran.

“Tidak apa,” dia meyakinkan.

“Biarkan api menyala saat Anda siap.

” Itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum penisku menghilang di tenggorokannya. Hanya itu yang bisa saya ambil. Saat kepala menekuk bagian belakang tenggorokannya, aku mulai bergetar, satu pukulan keras demi satu.

Itu adalah klimaks paling menakjubkan dalam hidupku. Kaki saya mulai bergetar saat saya selesai dan dia membalikkan tubuh saya sehingga saya bisa duduk di tepi ranjang saat penisku meluncur dari mulutnya.

Aku tidak berpikir saat itu dan aku menariknya ke arahku. Bibirku menemukan bibirnya dan kami mencium keabadian. Ketika akhirnya kami melepaskan diri, dia menatapku dan berkata,

“Nah, Wilson, saya percaya Anda tidak akan memberi tahu siapa pun.

” Saya menggelengkan kepala perlahan. Aku tidak bisa mempercayainya sendiri. Siapa yang bisa saya katakan? “Itu anak yang baik. Lain kali Jacob pergi, saya akan menelepon Anda dan Anda dapat membantu saya dengan stoking saya lagi, oke?

” Dia mengusulkan saat dia membantu saya dari tempat tidur dan membawa saya ke pintu. “Kapan saja,” saya berhasil mengatakan dalam perjalanan keluar. Kuharap otak akan menghabiskan banyak waktu di musim panas ini jauh dari rumah. cerita sex
Pemerkosaan Ngentot Erika Anak Bos
Category: cerita sex
Tags: cerita sex

cerita sex - Dodi, seorang pribumi bertubuh kekar dengan wajah ramahnya menyambut seorang gadis cantik bermata sipit yang keluar dari pintu gerbang sekolah. dengan ramah Mang Dodi membukakan pintu mobil mempersilahkan gadis cantik itu duduk di dalam. Dengan hati-hati ia menutup pintu kembali, setelah itu ia duduk di belakang kemudi.

“bagaimana sekolahnya non ??” Mang Dodi bertanya sambil menyalakan mobil.
“uhh sebel deh mang Dod, cape, tadi aku..dll dstt dsttt”

Erika curhat kepada sopir kepercayaannya yang menengok kebelakang.mendengarkan curhat dari Erika. Memang sudah lama mang Dodi bekerja di keluarga Erika, semenjak Erika masih duduk di kelas TK kecil, mang Dodi sudah mengantar jemputnya dari rumah ke sekolah dan dari sekolah ke rumah. Mata Mang Dodi melirik melihat paha mulus yang tersembul, mau tak mau sebagai laki-laki normal mang Dodi menelan ludah yang membanjir melihat kemulusan paha putih yang mengkilap.

“pokoknya hari ini aku sebeeeeelll banget mang Dod , bete deh..” Erika mengakhiri keluhannya.
“ya sudah.. betenya jangan lama-lama non, nggak baik…”

Mang Dodi menghadap ke depan dan mulai menginjak gas. Dengan mobil pajero sport mang Dodi mengantar Erika pulang ke rumah dengan selamat. Seorang jongos yang berjaga membukakan pintu besi yang berdiri dengan kokoh dan yang seorang lagi sibuk berkiri kiri dan berkanan-kanan memandu mobil mewah itu. Erika turun dari mobil kemudian mengangguk ramah kepada dua orang jongos yang menyapa, Mang Dodi mengekori dari belakang mengikuti Erika masuk ke dalam rumah mewah yang sepi dari yang namanya “keluarga” . Mata Mang Dodi menikmati goyangan pinggul Erika. Masih terbayang saat Erika masih TK dulu, ia sering duduk di pangkuannya dan Erika tertawa saat mang Dodi menggelitiki dan mencubit hidungnya yang mancung. Masih teringat dengan jelas saat Erika keluar telanjang buat dari dalam kamar mandi, Erika kecil berlari kepangkuannya dan menangis sambil berkali-kali menunjukkan bebek karetnya

“mang Dod , bek mati.. hu hu hu” , mata mang Dodi melotot bukan ke arah bebek karet yang menciut namun melotot ke arah selangkangan Erika kecil. jarinya hendak menyentuh bibir vagina Erika yang masih sangat suci. Tiba-tiba seorang perempuan tua menerobos masuk membawa belanjaan.
“Ehh-um Ehemmmmmm” Mang Dodi salah tingkah karena Mbak Ijah muncul tiba-tiba.
“Dodi mengapa non Erika menangis ?? kamu apakan hah !!” Mbok Ijah menegur Dodi , matanya menatap curiga.
“MBOKKKKKK… Bek matiiiiii…..” Erika berlari kearah Mbok Ijah.
“Ohhhh, bebek.. mana sini , biar simbok liat…” Mbok Ijah meniup bebek karet yang menciut, Erika tersenyum senang.
“Mang.. Mang Dod, mang Dod !! MANGGG !!!” Erika berteriak keras.
“Uhhh.. e- ehh iya non kenapa ?? ada apa”

Kenangan masa lalu Mang Dodi buyar seketika, ia mengejar ke arah kolam renang, agak keheranan mang Dodi melihat Erika mematung berdiri pucat pasi, mang Dodi berlari menghampiri.

Mang Dodi “kenapa non ?? kenapa…”

“i-i-itu mang .. itu…”
“yiahh si non, cuma beginian, mang Dod kira ada apaan…” Mang Dodi mencomot ulat bulu di bahu Erika.
“Uhhh…. “ Erika bernafas lega.
“Nihh uletnya !!” Mang Dodi pura-pura melempar ulat bulu ke arah Erika
“Awwww… e-ehh mang bawa kesana ah!! Yee mang Dod !! awas ya!!” Erika merengut, mang Dodi tertawa.
“mang beliin air kelapa dong…” Erika mengeluarkan uang dari dompetnya.
“iya…, tapi traktir ya…” goda Mang Dodi cengengesan.
“Iya.. pokoknya beres…” Erika tersenyum.
“Asikkkkkk….. makasih non…, Non Erika emang paling baek dah” Mang Dodi memuji.
“udah , nggak usah nge-gombal, sebel…GPL ya” Erika tersenyum manis.
“beres Nonnnn…” Mang Dodi menjawab dan segera berlari.

Di pinggir kolam renang, dua kursi mengapit sebuah meja bunda dengan sebuah payung yang menaungi. Sementara di tempat yang teduh berjajar kursi santai panjang. Di situlah Erika duduk bersantai melepas kepenatan di atas kursi santai panjang. Matanya yang sipit terpejam, tangan kirinya menarik rok seragam abu-abunya ke atas, tangan kanan menyusul masuk ke dalam kain segitiga kecil berwarna putih bersih.

“ohhh mang Dodddd….”

Bibirnya mendesis saat angan membawa Erika menuju sebuah tempat membayangkan nikmatnya kecupan mang Dodi. Dalam khayalnya, Mang Dodi sangat lugu sedangkan Erika sendiri sangatlah liar hingga mang Dodi mengerang meminta ampun menghadapi keliaran Erika. Darah muda Erika mendidih seliar angannya.

“Emmm…..” tubuh Erika mengerjat menahan nikmat.
“Ahh !!”

Rasa Nikmat disusul dengan terkejut. Mata sipitnya bertatapan dengan mata mang Dodi yang berdiri tercenggang, Erika menunduk dengan wajah merah padam, malu bukan main, untuk yang pertama kali mang Dodi memergokinya sedang bermasturbasi. Wajah mang Dodi juga sama, merah padam karena nafsu yang memuncak. Angannya kembali ke masa lalu saat ia melihat Erika kecil telanjang bulat dan berlari ke pangkuannya. Mang Dodi tidak tuli, jelas-jelas ia mendengar Erika mendesis memanggil namanya, tidak perlu diragukan lagi, laki-laki dalam khayal Erika adalah dirinya. Setelah menaruh air kelapa di atas meja mang Dodi berlutut di samping kursi malas.

“Non Erika….” dengan memberanikan diri mang Dodi mengelus betis gadis itu. Karena tidak mendapat penolakan dari Erika , mang Dodi semakin berani, tangannya mengelus ke atas mengusap paha putih mulus. Reflek Erika mengapitkan kedua pahanya saat tangan mang Dodi mengusap paha bagian dalam.
“mang Dod…” Erika merintih dalam gejolak darah mudanya.

Matanya menatap sayu pada mang Dodi yang merenggangkan paha mulusnya, nafasnya tak beraturan dan berat. Tubuhnya yang masih awam menggelinjang dan menghangat. Tubuh Erika rebah di atas kursi malas dengan dua kaki yang mulus mengangkang lebar.

“ohhhhhh.. mang Dod…hhsssshh” sekali lagi Erika merintih saat mang Dodi menjatuhkan wajah pada kain segi tiga putih di selangkangannya.

Tubuh Erika gemetaran seperti sedang meenjalani terapi listrik. Detak jantungnya berdegupan keras memompa darah untuk mengalir lebih kencang melepaskan nikmat dan nafsu yang sempat tertahan. Tangan Erika membelai kepala mang Dodi. Ia menggigit bibir menahan desah yang hampir keluar saat lidah mang Dodi menyelinap melalui pinggiran celana dalamnya. Aktif, lidah mang Dodi menggeliat-geliat.

“Achhh…!” Erika mendorong kepala mang Dodi yang lidahnya menoel bibir vaginanya.
“E-Ehhh mang Awww…” Erika memekik kaget saat mang Dodi menjabret celana dalamnya.
“Hussshhh jangan keras-keras non…, nanti kedengeran loh…” Mang Dodi tersenyum mesum.
“ih Mang Dodi, maen buka aja…seenaknya” Erika cemberut, ia bangkit sambil menarik rok seragamnya ke bawah.
“supaya lebih asik non.., percaya deh sama mang Dodi..”

Mang Dodi menjatuhkan Erika kembali ke atas kursi, tangannya menarik rok seragam Erika dengan paksa ke atas. Mulutnya mengejar belahan bibir vagina Erika , gadis itu panik menggeser-geserkan pinggulnya menghindari mulut mang Dodi.

“ahhhhhhhh……m-mang Doddd…. Dhiiiii…ihhhh”

Tubuh Erika lemas di atas kursi. Kecupan dan hisapan rakus mang Dodi membuat gairah darah muda Erika kembali bergejolak, tubuh Erika menggelepar dan melenting menikmati keagresifan mulut mang Dodi yang mencecar vaginanya.

“Aaaaa.. ahhhhhh…..” Erika mendesah

Cairan orgasmenya tumpah kedalam mulut mang Dodi yang rakus menghisap-hisap vaginanya. Erika merintih tak berdaya, selama ini dalam khayal memang dirinyalah yang liar dan mang Dodi yang lugu dan lemah namun pada kenyataanya justru sebaliknya. Dengan Mudah mang Dodi memeras cairan vagina Erika bersama dengan luapan kenikmatan. Erika tak melawan saat mang Dodi meloloskan seragam abu-abu dari pinggangnya. Hanya bra dan pakaian seragam yang melindungi kemulusan tubuh Erika dari mata mang Dodi.

“Non Erika cantik sekali..”

Mang Dodi membopong tubuh Erika, dengan santai ia membawa Erika masuk ke dalam rumah, lalu menaiki anak tangga dan membawa nona majikannya masuk ke dalam kamar. Semenjak kematian Mbok Ijah setahun yang lalu, suasana rumah menjadi sepi. Erika salah tingkah saat mang Dodi mendudukkannya di pinggiran ranjang sedangkan mang Dodi duduk di sampingnya. Bibir tebal mang Dodi mengejar Bibir Erika, dengan mudah mang Dodi merampas Ciuman pertama Erika.

“Emhh…” Erika menarik bibirnya, ia menatap sopirnya itu dengan mata sayunya saat tangan kekar mang Dodi melucuti kancing baju seragamnya setelah itu menarik kedua cup branya ke bawah

Sepasang buah dada indah tertopang oleh cup bra berwarna krem. Mata mang Dodi berbinar menatap nanar keindahan sepasang payudara Erika, ia telah menjadi saksi tumbuhnya sepasang payudara indah di dada Erika. Dada yang semula rata kemudian mulai berkembang dan terus berkembang dengan indahnya dihiasi sepasang puting merah muda yang runcing. Setelah melepaskan baju dan celana panjang dan celana dalamnya yang dekil, Mang Dodi berlutut di hadapan Erika, ia mengusap-ngusap paha mulus Erika yang mengangkang pasrah. Bibir mang Dodi melumat dan mengulum bibir Erika, tangan kekarnya mengerayang menjelajahi lekuk liku tubuh Erika yang menggeliut-geliut tak bisa diam geli oleh rasa nikmat. Cumbuan mang Dodi merambat ke leher, pundak bahu dan mengecup ke arah buntalan buah dada sebelah kiri.

“mang….ennnnnnnnhhh…mang Doddddddd” Erika merengek manja.

Mulut mang Dodi mengunyah puncak dada. Ke mana Erika berusaha menarik dadanya ke situ pula mulut mang Dodi mengejar. Tak ingin ia melepaskan puncak buah dada Erika dalam mulut, bahkan saat punggung Erika jatuh ke belakang, mulut mang Dodi segera mengejar buah dada yang hendak melarikan diri dari mulutnya. Sambil terus menggeluti buah dada Erika mang Dodi menggusur tubuh mulus Erika yang menggeliat-geliat kegelian ke tengah ranjang.

“Aaaa. Aah !! hsssh nnnnnhhh” Suara desah tertahan dan rintih kecil mewarnai cumbuan-cumbuan mang Dodi yang semakin panas

Butir-butir keringat meleleh memandikan dua insan berbeda ras yang tengah asik menjalin hubungan terlarang. Menggelinjang tubuh Erika dibawah tindihan tubuh kekar mang Dodi. Erika yang berkulit putih mulus menggeliat resah merintih dan mendesah dibawah tindihan tubuh kekar mang Dodi yang meneduhinya.

“mmmm, hssh mang Dod.. ahhh…”

Erika gelisah saat merasakan tekanan kepala kemaluan mang Dodi pada belahan vaginanya. Mang Dodi menepiskan tangan Erika yang berusaha mendorong dirinya, entah kenapa ada rasa takut yang mencekam saat Erika melihat mata mang Dodi yang liar.

“Ahhh..!!” desah kecil Erika mengiringi tenggelamnya kepala penis mang Dodi.

Bibir vagina Erika yang mungil melingkari leher penis mang Dodi. Dari usia tentu saja usia Erika jauh lebih muda, dari warna kulit tentu saja kulit mang Dodi lebih gelap dari kulit Erika yang putih mulus, dari wajah sudah tentu wajah beringas mang Dodi menang atas cantiknya wajah Erika. Sekali lagi mang Dodi menekankan penisnya dengan kuat dan Erika mengerang. Entah sanggup atau tidak vagina Erika menampung batang di selangkangan Mang Dodi. Satu tusukan kuat menyusul dan Erika mengaduh kesakitan, bibir vaginanya yang mungil sobek dan selaput daranya robek ditembus batang penis mang Dodi.

“Aduh mang Dod !! Aduh!!sakit ! sakit mang Dod !! sakit !!” tangan Erika menggapai-gapai menahan pinggul dan dada mang Dodi.
“ENNNNNNNNNGGGHHHHHH..!!!!” suara erangan Erika terdengar keras saat mang Dodi memaksakan seluruh batangnya masuk ke dalam vaginanya

Selangkangan mang Dodi dan Erika bersatu, bulu jembut mang Dodi bergesekan dengan bulu jembut Erika. Nafas Erika terdengar keras, matanya terpejam menahan sakit yang menyengat. Batang mang Dodi menyesaki liang vaginanya yang sempit peret karena baru kehilangan keperawanannya. Selama ini belum pernah ada benda apapun yang melewati liang senggamanya.

“ Non Erika, memeknya enak amat, sebenarnya sudah lama mang Dodi pengen nyolok memek Non Erika, siapa sangka hari ini Mang Dodi bisa melakukannya, percayalah sama mang Dodi Non, sebentar lagi tubuh Non bakal tersentak sentak keenakan he he he he” Mang Dodi menceracau menumpahkan isi hatinya.
“Hsssshhh ahh !! aduh mang.. hsssshhhh!!” Erika mendesis kesakitan, batang mang Dodi mulai menggenjot.
“Auw-hhh..!!”

Berkali-kali mata sipit Erika membeliak saat mang Dodi membenamkan batangnya dalam-dalam. Erika merinding mendengarkan geraman mang Dodi, otot perutnya serasa kram saat batang penis Mang Dodi menusuk dalam. Kecupan dan lumatan gemas mang Dodi pada bibir Erika yang merekah membuatnya semakin kewalahan.

“Ahhhhh…..”

Mata Erika Nanar, ada rasa nikmat luar biasa menyela rasa sakit yang mengigit. Untuk yang pertama kali ia merasakan denyut-denyut orgasme akibat sebatang penis yang menumbuki vaginanya, rasanya seperti jiwa terlepas dari raga, melayang ke langit indah berhiaskan tangga pelangi.

“mang Dodddddd….ahhh enak mangggg” erangnya

Erika mulai meladeni kecupan dan cumbuan mang Dodi. Bibirnya menyambut bibir mang Dodi, kedua tangannya memeluk tubuh kekar yang sedang giat bekerja menumbukkan batang penis ke dalam vaginanya. Mang Dodi mencabut batangnya hingga terlepas dari vagina kemudian kembali mencoblos liang vagina Erika. Kemudian ditusuk-tusukannya penisnya dengan gencar pada liang yang becek itu dan dicabut lagi.

“ahhh, manggg.. jangan digituin… mang dod..” Erika merengek manja.
“abis harus digimanain dong ?” Mang Dodi bertanya

Wajah Erika merona karena terangsang berat sehingga menambah cantik wajahnya.

“Ayo , Erika bilang sama mang Dod, harus digimanain.” Mang Dodi sengaja menggoda nona majikannya.
“emmm.. digituin mang…” Erika tersenyum malu.
“digituin gimana yach ? mang Dodi nggak tau tuch “ Mang Dodi tersenyum lebar.
“Ahhnnhh mang Dod jahat !!” Erika mencubit dada mang Dodi.
“ADOWHH…!!” Mang Dodi mengaduh kesakitan.
“Hiaaaahhh…!!” Erika mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong mang Dodi.

“Eiiiiitttttt…”

Mang Dodi menangkap tubuh Erika. Dua insan berbeda ras itu bergulingan dan kembali bercumbu mesra layaknya sepasang pengantin baru. Mang Dodi duduk di pinggiran ranjang, Erika berdiri memperhatikan batang perkasa di selangkangan sopir setianya. Mang Dodi menarik Erika untuk berlutut di hadapan batang penisnya.

“Nah sekarang Erika jilat kontol mamang ya” Mang Dodi mengarahkan Erika.
“jijik mang.. ihhh…” Erika masih jijik dengan batang mang Dodi.
“Loh kenapa harus jijik, coba dulu.. ayo…” Mang Dodi membujui Erika.
“iii – ihhh ngak mau ah , bau” Erika menolak sambil menutup hidung dengan tangan.
“Ayo .. cobain… dulu…”

Tangan kiri mang Dodi menahan belakang kepala Erika. Dengan rayu dan sedikit paksaan akhirnya mang Dodi berhasil menjejalkan kepala penisnya ke dalam mulut Erika. Sang sopir merem melek keenakan.

“Ayo dihisap non.. “ perintah Mang Dodi sambil membelai rambut Erika.
“Emmm. Mmmhh..” Erika tak habis pikir, mendadak ia menyukai bau penis mang Dodi, senang menghisap dan juga senang menjilat-jilat batang penis yang besar panjang.

Ada sesuatu di dalam dirinya yang menuntut pelampiasan dari kesepian dan kejenuhannya selama ini. Dari seks pertama dengan sopirnya ini ia merasa mendapat pelampiaskan atas seluruh rasa yang menggebu dalam dada yang membuatnya ingin merasakan lebih dan lebih lagi. Sesekali Erika mengangkat wajah cantiknya menatap mang Dodi yang tersenyum kemudian ia kembali menunduk untuk bekerja mengoral penis itu. Dengan lembut lidah Erika mengulas-ngulas kepala penis mang Dodi sebelum akhirnya mang Dodi membimbingnya untuk menduduki batang penisnya dengan posisi tubuh Erika memunggunginya.

“jangan takut Non.., dudukin aja.., ntar juga masuk…” Mang Dodi menarik pinggul Erika untuk turun.
“sebentar mang, Erika takut…”

Setengah mati Erika mengumpulkan keberanian.

“rileks aja, anggap aja Non Erika lagi duduk di pangkuan mang Dod, dulu kan waktu masih kecil non Erika sering duduk di pangkuan mang Dodi”

Mang Dodi mengecup punggung Erika perlahan. Dengan hati ragu Erika menurunkan vaginanya. Mang Dodi membimbing Erika untuk belajar memasukkan penis ke dalam liang vaginanya.

“ih..”

Erika mengangkat pinggulnya kembali saat ujung penis mulai tenggelam ke dalam belahan vagina. Geli rasanya saat kepala penis menjilat belahan vagina yang berlendir. Sekali lagi tangan Erika mengarahkan kepala penis mang Dodi pada belahan vaginanya, kali ini ia menahan rasa geli yang menggelitik saat kepala penis membelah belahan vaginanya. Gemetar seluruh tubuh Erika menahan sensasi nikmat saat penis mang Dodi tenggelam semakin dalam.

“Ohh mang Dod…!! Mang Dod..”

Wajah Erika terangkat ke atas menahan nikmat. Vaginanya berkedutan dan meremas batang penis mang Dodi, dengan gerakan indah luar biasa Erika menggeliat, tubuhnya mulai bekerja mengikuti panduan dari mang Dodi yang terus mengajari sambil memainkan buah dada Erika. Belum begitu lama Erika menaik turunkan pinggul, ia merintih kecil, Vaginanya kembali berdenyut-denyut , rasa nikmat dimulai dari daerah panggul kemudian menyebar ke seluruh tubuh moleknya yang berpeluh. Mang Dodi memeluk erat-erat tubuh Erika yang tengah orgasme. Sebuah gigitan gemas bersarang di pundak Erika meninggalkan bekas gigitan merah. Tanpa melepaskan pelukan dari tubuh Erika, mang Dodi beringsut ke tengah ranjang.

“Ohhh !! ennnnhh aaaa.. Ahhhhh…”

Tubuh Erika melambung turun naik di atas tubuh mang Dodi, sungguh indah buah dadanya terpantul di dada mengikuti tubuhnya yang melambung-lambung. Suara derit ranjang mengiringi suara nafas berat, desah dan rintihan Erika dalam kamar, suara geram gemas mang Dodi sesekali terdengar di sela-sela kesibukan meluncurkan batang penisnya ke atas pada sebuah lubang mungil yang menjadi target bulan-bulatan penis besarnya. Wajah Erika seperti tengah menahan derita, namun sebenarnya bukan derita yang sedang dirasakan olehnya, ia tengah menahan rasa nikmat akibat sodokan-sodokan batang penis mang Dodi yang menghujam keras hingga terasa ke ulu hati. Bercak – bercak darah perawan menodai seprai putih. Berkali-kali Batang penis besar milik seorang sopir bernama Dodi menuai kemenangan atas vagina nona majikannya yang keturunan Chinese bernama Erika. Sebelum akhirnya penis besar itu mengisi liang vagina Erika dengan sperma. Hanya suara nafas Erika dan Mang Dodi yang terdengar memburu di dalam kamar. Dengan sebuah handuk mang Dodi mengeringkan tubuh Erika yang berpeluh. Hampir tiga jam lamanya mang Dodi menikmati sempitnya vagina dan kemulusan tubuh Erika. Setengah jam kemudian mang Dodi keluar dari dalam kamar meninggalkan Erika yang termenung kebingungan. Baju piyama berwarna pink menyembunyikan tubuhnya dari ketelanjangan. Papa dan Mama Erika baru pulang jam 6 sore tanpa merasa curiga sedikitpun apa yang baru saja terjadi.
Beberapa hari kemudian, malam hari.

Pintu kamar Erika dibuka oleh seseorang yang hanya mengenakan sarung dan kaos oblong, orang itu tidak lain adalah Mang Dodi yang mengendap-endap masuk ke dalam kamar nona majikannya. Dengan wajah mesum ia mengunci pintu, di atas ranjang Erika menoleh kepadanya dengan wajah yang bingung campur malu. Mang Dodi menggusur selimut yang membungkus tubuh Erika, setelah melepaskan sarung, kaos oblong dan celana dalam dekil, ia naik keatas ranjang meneduhi tubuh Erika yang masih terbalut piyama berwarna pink.

“Mang Dod.. emmm…” Erika mendesah menahan beban tubuh mang Dodi yang menindihnya,

Bibirnya menyambut bibir mang Dodi , mesra keduanya berciuman bagaikan sepasang pengantin baru yang berbeda usia dan ras dimana seorang dari ras mayoritas memangsa dan menikmati cantik dan mulusnya seorang gadis ras minoritas. Satu demi satu kancing baju piyama Erika terlepas, mata mang Dodi melotot melihat buah dada yang membuntal, padat dan kenyal terasa saat mang Dodi meremas buah dada sebelah kiri.

“Emmmhh mang Dod…”

Erika menggeliat – geliat resah, sementara mulut mang Dodi semakin rakus dan kasar menghisapi buah dadanya. Sesekali Erika merintih merasakan gigitan-gigitan gemas mang Dodi pada putting susunya.

“Ah..mmmmhhhh…”

Erika menggeser-geserkan tubuhnya, kemanapun tubuhnya bergeser kesitu pula kepala mang Dodi mengejar buah dadanya. Sepasang buah dada Erika yang ranum menjadi bulan-bulanan mang Dodi , begitu ganas mang Dodi menciumi buntalan buah dada dan menghisap kuat puncak payudara Erika, setelah puas menggeluti sepasang buah dada yang membuntal, mulut mang Dodi melumat bibir Erika. Setelah itu cumbuan mang Dodi merayap turun.pada leher, melewati belahan payudara, bermain pada perut dan pinggul dan terus turun mengejar milik Erika yang paling sensitif.

“Ohh Non Erika, indah sekali memek kamu Non…”

Mata Mang Dodi menatap tajam pada belahan bibir vagina Erika, bulu-bulu lembut menghiasi vagina Erika menambah indah pemandangan di daerah kewanitaannya. Mang Dodi mengendus-ngendus aroma vagina Erika.

“Unnhhh .. ,aaa.. mang Dodddd.. mang Dodddd…” Erika merengek saat hembusan-hembusan nafas hangat yang memburu menerpa vaginanya

Erika mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar seolah Erika ingin memperlihatkan seluruh keindahan yang dimilikinya kepada mang Dodi. Tubuh moleknya melenting menggeliat dan menggelinjang dengan indah saat vaginanya menjadi santapan mang Dodi yang rakus.

“Ussshhhh.. hssssshhhhhhhh… ahhhhhhh” tiba-tiba Erika mendesis dan mendesah panjang, perutnya mengejang dan cairan vaginanya meluap bersama kedut-kedut orgasme

Begitu indah tubuh Erika terkulai dibawah sorotan lampu kamar, butiran keringat meleleh membasahi tubuh mulusnya. Suara desah tertahan sesekali terdengar di antara suara seruputan seorang laki-laki yang usianya berbeda jauh dengannya.

“Mang Dod ?? “

Erika tak mengerti ketika mang Dodi membalikkan tubuh mulusnya yang terkulai lemas dan mengikat kedua tangannya dengan menggunakan celana piyamanya. Setelah itu mulut Erika disumpal dengan menggunakan celana dalam dekil milik mang Dodi.

“Emmm!!” Erika berontak saat mang Dodi menyelipkan penis pada belahan pantatnya, kedua tangan mang Dodi menekan pundak Erika ia menunduk dan berbisik di telinga gadis itu.
“jangan berisik non, nanti kita ketahuan”

Bisikan mang Dodi ternyata sangat efektif.

“hmmmm hmmmmmm”

Erika berusaha menggelengkan kepala menolak keinginan mang Dodi. Nafas Erika seperti orang yang sedang sekarat, matanya yang sipit membeliak, liang anusnya merekah diiringi rasa pedih dan perih yang tak tertahankan saat ujung kepala penis mang Dodi membongkar kerutan anusnya.

“Uhhh Erika…peret banget bool mu Non…” Mang Dodi menceracau

Otot anus Erika mengigit seputar ujung penisnya yang terbenam semakin dalam. Dengan sekali sentakan kuat mang Dodi membenamkan kepala penisnya hingga otot Erika melingkari leher penis mang Dodi. Kesenangan dan kenikmatan bagi mang Dodi harus dibayar mahal dengan kesakitan luar biasa bagi Erika.

“Emmmmmm !!! mmmmmhhhh”

Tubuh molek Erika mengejang kesakitan saat batang penis mang Dodi memaksa masuk inchi demi inchi. Pandangan Erika mendadak gelap seakan hendak jatuh pingsan namun rasa sakit tetap membuat kesadarannya terjaga dalam derita.

“Ehem, mang Dod sayaaaangg sama Erika.. , sudah jangan nangisss… Sudah masuk semua…koq…”

Mang Dodi tersenyum merasakan empuknya buah pantat Erika bergesekan dengan bagian bawah perutnya. Batangnya yang panjang dan besar tertanam dalam anus Erika. Mang Dodi menarik celana dalam dekilnya, melepaskan mulut Erika yang tersumpal.

“urhh.. s-sakit mang.. s sakit sekali .. aduhhh…” Erika mengerang saat batang mang Dodi mulai bergerak seperti sebuah piston

Bisik rayuan-rayuan mang Dodi ternyata tidak sanggup untuk membayar rasa sakit yang dirasakan oleh Erika yang merasa “dipermalukan” dan “direndahkan” serendah-rendahnya oleh mang Dodi. Berbeda dengan apa yang sedang dirasakan oleh Erika, Mang Dodi merasa kesuperioran atas diri Erika. Ego mang Dodi sebagai bawahan/ sopirnya menimbulkan rasa bangga memangsa Erika sebagai nona majikan dan berdarah Chinese. Dengan teratur batang penis mang Dodi terus bergerak memompa Erika hinga puas. “Plooo—ppp” Mang Dodi mencabut penisnya, ia membebaskan mulut Erika dari sumpalan celana dalam dekil milik seorang sopir kemudian menarik pinggul Erika agar gadis itu menungging dengan sempurna untuk permainan selanjutnya. Ujung penis mang Dodi mencari – cari belahan vagina Erika. Setelah dirasa pas, perlahan mang Dodi menjejalkan kepala penisnya.

“Mmmmhhhh..” Erika merinding kegelian, rasa sakit pada anus dibayar oleh sedikit rasa nikmat saat ujung penis mang Dodi menembus dan mengocok-ngocok liang vaginanya.

Mang Dodi terlihat lihat mencecar liang vagina Erika, serong kiri, serong kanan, menusuk dalam, dan mengocek. Dengan bimbingan dari mang Dodi, Erika mulai belajar, saat mang Dodi menusukkan batang penisnya, ia mendesakkan pinggulnya menyambut tusukan penis mang Dodi. Untuk beberapa kali tusukan keras Erika masih dapat bertahan, namun untuk tusukan-tusukan berikutnya tubuh Erika mulai menggelinjang. Rasa nikmat berkedutan membuat kepalanya terasa ringan namun selain itu Erika merasa malu mendengar suara yang berasal dari vaginanya. Risih saat payudaranya yang tergantung terayun – ayun dan risih saat buah pantatnya beradu dengan bagian bawah perut mang Dodi.

“mmmmhh emmmmh emmmhh…” Erika menenggelamkan wajahnya pada bantal.

Mang Dodi tersenyum, sebagai seorang laki-laki sudah tentu mang Dodi takjub pada kecantikan Erika. Terbayang olehnya wajah cantik Erika kecil yang lugu dan polos, selama tujuh belas tahun mang Dodi menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri perkembangan Erika kecil menjadi seorang gadis cantik bertubuh aduhai.

“Mang Dod.. Mang Doddddd….” Erika merengek perlahan.
“Ya Non ??” Mang Dodi menyahut.
“Pelan-pelan mang…” Erika meminta mang Dodi memperlembut tusukannya.
“Segini Non ??” Mang Dodi bertanya.
“He-emm.., hssssshhhh.. ohhhh mang Dod… enakk”

Tanpa sadar Erika merintih keenakan saat penis mang Dodi menusuk vaginanya. Begitu dalam dan lembut membuat Erika meringis dalam getar-getar kenikmatan yang berkedutan saat cairan orgasmenya kembali tumpah.

“Unnnhhhhhh mang Dooood.. utsssss !!” Erika merengek manja saat mang Dodi membalikkan tubuhnya kemudian menarik kedua kakinya yang mulus indah ke udara.

Satu tusukan kuat membuat tubuh Erika mengerjat, selanjutnya tubuh Erika terguncang mengikuti helaan batang penis mang Dodi. Sedikit demi sedikit mang Dodi meningkatkan ritme tusukan penisnya, helaan – helaan nafas berat terdengar memenuhi kamar tidur Erika. Ringisan Erika mengeksploitasi sensualitas wajahnya yang jelita. Erika menatap mang Dodi yang sibuk menjejal-jejalkan batang penisnya, mata laki-laki itu menatap tajam pada buah dadanya yang terguncang dengan hebat. Reflek Erika menyilangkan kedua tangannya di dada untuk melindungi sepasang payudaranya yang terguncang. Mang Dodi terlihat kecewa, ia meletakkan kaki Erika di bahu dan kedua tangannya mencekal dan menarik kedua tangan Erika agar buah dadanya terekspos dengan sejelas-jelasnya dalam guncangan hebat yang membuat jantung mang Dodi berdegub dengan lebih kuat. Berkali-kali cairan orgasme Erika tumpah meluap sebelum akhirnya sperma mang Dodi muncrat mengisi vagina Erika. Tubuh Mang Dodi roboh menimpa tubuh molek Erika yang berpeluh. Batangnya mengerut terjepit dalam kepitan vagina Erika yang sempit.

“mmmmhhh mang Dod…” Erika memeluk tubuh mang Dodi, keduanya berciuman lama dan mesra.

Setelah cukup tenaga Mang Dodi pamit keluar dari kamarnya dan Erika pun tertidur kelelahan. cerita sex

Bu Asna Dosenku
Category: cerita sex
Tags: cerita sex

cerita sex Aku adalah mahasiswa arsitektur tingkat akhir di sebuah universitas swasta di kota Bandung, dan sudah saatnya melaksanakan tugas akhir sebagai prasyarat kelulusan. Beruntung, aku kebagian seorang dosen tang santai dan kebetulan adalah seorang ibu. Asna namanya, usianya 30 thn cerdas dan cantik

Cukup sulit utk menggambarkan kejelitaan sang ibu. Bersuami seorang dosen pula yg kebetulan adalah favorit anak-anak karena moderat dan sangat akomodatif. Singkat kata banyak teman-temanku yg sedikit iri mengetahui aku kebagian pembimbing Ibu Asna.
“Dasar lu… enak amat kebagian ibu yg cantik jelita…” Kalau sudah begitu aku hanya tersenyum kecil, toh bisa apa sih pikirku.

Proses asistensi dengan Ibu Asna sangat mengasyikan, sebab selain beliau berwawasan luas, aku jg disuguhkan kemolekan tubuh dan wajah beliau yg diam-diam kukagumi. Makanya dibanding teman-temanku termasuk rajin berasistensi dan progres gambarku lumayan pesat. Setiap asistensi membawa kami berdua semakin akrab satu sama lain. Bahkan suatu saat, aku membawakan beberapa kuntum bunga aster yg kutahu sangat disukainya. Sambil tersenyum dia berucap,

“Kamu mencoba merayu Ibu, Ben?”
Aku ingat wajahku waktu itu langsung bersemu merah dan utk menghilangkan grogiku, aku langsung menggelar gambar dan bertanya sana-sini. Tp tak urung kuperhatikan ada binar bahagia di mata beliau. Setelah kejadian itu setiap kali asitensi aku sering mendapati beliau sedang menatapku dengan pandangan yg entah apa artinya, beliau makin sering curhat tentang berbagai hal. Asistensi jadi ngelantur ke bermacam subyek, dari masalah di kantor dosen hingga anak tunggalnya yg baru saja mengeluarkan kata pertamanya. Sesungguhnya aku menyukai perkembangan ini namun tak ada satu pun pikiran aneh di benakku karena hormat kepada beliau.


Hingga… pada saat kejadian. Suatu malam aku asistensi sedikit larut malam dan beliau memang masih ada di kantor pukul 8 malam itu. Yg pertama terlihat adalah mata beliau yg indah itu sedikit merah dan sembab. “Wah, saat yg buruk nih”, pikirku. Tp dia menunjuk ke kursi dan sedikit tersenyum jadi kupikir tak apa-apa bila kulanjutkan. Setelah segala proses asistensi berakhir aku membeAsnakan diri bertanya, “Ada apa Bu? Kok kelihatan agak sedih?”
Kelam menyelimuti lagi wajahnya meski berusaha disembunyikannya dengan senyum manisnya.
“Ah biasalah Ben, masalah.”
Ya sudah kalau begitu aku segera beranjak dan membereskan segala kertasku. Dia terdiam lama dan saat aku telah mencapai pintu, barulah…

“Kaum Pria memang selalu egois ya Beni?”
Aku berbalik dan setelah berpikir cepat kututup kembali pintu dan kembali duduk dan bertanya hati-hati.
“Kalau boleh saya tahu, kenapa Ibu berkata begitu? Sebab setahu saya perempuan memang selalu berkata begitu, tp saya tdk sependapat karena certain individual punya ego-nya sendiri-sendiri, dan tdk bisa digolongkan dalam suatu stereotype tertentu.”
Matanya mulai hidup dan kami beradu argumen panjang tentang subyek tersebut dan ujung-ujungnya terbukalah rahasia perkawinannya yg selama ini mereka sembunyikan. Iya, bahwa pasangan tersebut kelihatan harmonis oleh kami mahasiswa, mereka kaya raya, keduanya berparas good looking, dan berbagai hal lain yg bisa membuat pasangan lain iri melihat keserasian mereka. Namun semua itu menutupi sebuah masalah mendasar bahwa tdk ada cinta diantara mereka. Mereka berdua dijodohkan oleh orang tua mereka yg konservatif dan selama ini keduanya hidup dalam kepalsuan. Hal ini diperburuk oleh kasarnya perlakuan Pak Indra (suami beliau) di rumah terhadap Bu Asna (fakta yg sedikit membuatku terhenyak, ugh betapa palsunya manusia sebab selama ini di depan kami beliau terlihat sebagai sosok yg care dan gentle).

Singkat kata beliau sambil terisak menumpahkan isi hatinya malam itu dan itu semua membuat dia sedikit lega, serta membawa perasaan aneh bagiku, membuat aku merasa penting dan dekat dengan beliau. Kami memutuskan utk jalan malam itu, ke Lembang dan beliau memberi kehormatan bagiku dengan ikut ke sedan milikku. Sedikit gugup kubukakan pintu untuknya dan tergesa masuk lalu mengendarai mobil dengan ekstra hati-hati. Dalam perjalanan kami lebih banyak diam sambil menikmati gubahan karya Chopin yg mengalun lembut lewat stereo. Kucoba sedikit bercanda dan menghangatkan suasana dan nampaknya lumayan berhasil karena beliau bahkan sudah bisa tertawa terbahak-bahak sekarang.

“Kamu pasti sudah punya pacar ya Beni?”
“Eh eh eh”, aku gelagapan.
Iya sih emang, bahkan ada beberapa, namun tentu saja aku tak akan mengakui hal tersebut di depannya.
“Nggak kok Bu… belum ada… mana laku aku, Bu…” balasku sambil tersenyum lebar.
“Huuu, bohong!” teriaknya sambil dicubitnya lengan kiriku.
“Cowok kayak kamu pasti playboy deh… ngaku aja!”
Aku tdk bisa menjawab, kepalaku masih dipenuhi fakta bahwa beliau baru saja mencubit lenganku. Ugh, alangkah berdebar dadaku dibuatnya. Beda bila teman wanitaku yg lain yg mencubit.

Larut malam telah tiba dan sudah waktunya beliau kuantar pulang setelah menikmati jagung bakar dan bandrek berdua di Lembang. Daerah Dago Pakar tujuannya dan saat itu sudah jam satu malam ketika kami berdua mencapai gerbang rumah beliau yg eksotik.
“Mau nggak kamu mampir ke rumahku dulu, Ben?” ajaknya.
“Loh apa kata Bapak entar Bu?” tanyaku.
“Ah Bapak lagi ke Kupang kok, penelitian.”

Hm… benakku ragu namun senyum manis yg menghiasi bibir beliau membuat bibirku berucap mengiyakan. Aku mendapati diriku ditarik-tarik manja oleh beliau ke arah ruang tamu di rumah tersebut akan tetapi benakku tak habis berpikir,
“Duh ada apa ini?”
Sesampainya di dalam,

“Sst… pelan-pelan ya… Detty pasti lagi lelap.” Kami beringsut masuk ke dalam kamar anaknya dan aku hanya melihat ketika beliau mengecup kening putrinya yg manis itu pelan.
Kami berdua bergandengan memasuki ruang keluarga dan duduk bersantai lalu mengobrol lama di sana. Beliau menawarkan segelas orange juice. “Aduh, apa yg harus aku lakukan”, pikirku.

Entah setan mana yg merasuk diriku ketika beliau hendak duduk kembali di karpet yg tebal itu, aku merengkuh tubuhnya dalam sekali gerakan dan merangkulnya dalam pangkuanku. Beliau hanya terdiam sejenak dan berucap,
“Kita berdua telah sama-sama dewasa dan tahu kemana ini menuju bukan?” Aku tak menjawab hanya mulai membetulkan uraian rambut beliau yg jatuh tergerai dan membawa tubuh moleknya semakin erat ke dalam pelukanku, dan kubisikkan di telinganya, “Beni sangat sayang dan hormat pada Ibu, oleh karenanya Beni tak akan berbuat macam-macam.” Ironisnya saat itu sesuatu mendesakku utk mengecup lembut cuping telinga dan mengendus leher hingga ke belakang kupingnya.

Kulihat sepintas beliau menutup kelopak matanya dan mendesah lembut.
“Kau tahu aku telah lama tdk merasa seperti ini Ben…” Kebandelanku meruyak dan aku mulai menelusuri wajah beliau dengan bibir dan lidahku dengan sangat lembut dan perlahan.
Setiap sentuhannya membuat sang ibu merintih makin dalam dan beliau merangkul punggungku semakin erat. Kedua tanganku mulai nakal merambah ke berbagai tempat di tubuh beliau yg mulus wangi dan terawat.

Aku bukanlah pecinta ulung, infact saat itu aku masih perjaka namun cakupan wawasanku tentang seks sangat luas.
“Tunggu ya Ben… ibu akan bebersih dulu.” Ugh apa yg terjadi, aku tersadar dan saat beliau masuk ke dalam, tanpa pikir panjang aku beranjak keluar dan segara berlari ke mobil dan memacunya menjauh dari rumah Ibu Ir. Asna dosenku, sebelum segalanya telanjur terjadi. Aku terlalu menghormatinya dan… ah pokoknya berat bagiku utk mengkhianati kepercayaan yg telah beliau berikan jg suaminya. Sekilas kulihat wajah ayu beliau mengintip lewat tirai jendela namun kutegaskan hatiku utk memacu mobil dan melesat ke rumah Vani.

Sepanjang perjalanan hasrat yg telah terbangun dalam diriku memperlihatkan pengaruhnya. Aku tak bisa konsentrasi, segala rambu kuterjang dan hanya dewi fortuna yg bisa menyebabkan aku sampai dengan selamat ke pavilyun Vani. Vani adalah seorang gadis yg aduhai seksi dan menggairahkan, pacar temanku. Namun sejak dulu dia telah mengakui kalau Vani menyukaiku. Bahkan dia telah beberapa kali berhasil memaksa utk bercumbu denganku. Hal yg kupikir tak ada salahnya sebagai suatu pelatihan buatku. Aku mengetuk pintu kamar paviliunnya tanpa jawaban, kubuka segera dan Vani sedang berjalan ke arahku,
“Sendirian?” tanyaku. Vani hanya mengangguk dan tanpa banyak ba bi bu, aku merangsek ke depan dan kupagut bibirnya yg merah menggemaskan.

Kami berciuman dalam dan bernafsu. “Kenapa Ben?” di sela-sela ciuman kami, Vani bertanya, aku tak menjawab dan kuciumi dengan buas leher Vani, hingga dia gelagapan dan menjerit lirih. Tangan kananku membanting pintu sementara tangan kiriku dengan cekatan mendekap Vani makin erat dalam pelukanku. “Brak!” kurengkuh Vani, kuangkat dan kugendong ke arah kasur.
“Ugh buas sekali kamu Ben…” Sebuah senyum aneh menghiasi wajah Vani yg jelita.

Kurebahkan Vani dan kembali kami berpagutan dalam adegan erotis yg liar dan mendebarkan. Aku bergeser ke bawah dan kutelusuri kaki Vani yg jenjang dengan bibirku dan kufokuskan pada bagian paha dalamnya. Kukecup mesra betis kanannya. Vani hanya mengerang keenakan sambil cekikikan lirih karena geli. Kugigit-gigit kecil paha yg putih dan mulus memikat itu sambil tanganku tak henti membelai dan merangsang Vani dengan gerakan-gerakan tangan dan jari yg memutar-mutar pada payudaranya yg seksi dan ranum. Dengan sekali tarik, piyama yg dikenakannya terlepas dan kulemparkan ke lantai, sementara aku bergerak menindih Vani.

Kami saling melucuti hingga tak ada sehelai benang pun yg menjadi pembatas tarian kami yg makin lama makin liar. “Beni ahhh… Beni… Beni…” Vani terus berbisik lirih ketika kukuakkan kedua kakinya dan aku menuju kewanitaannya yg membukit menantang. Kusibakkan rambut pubic-nya yg lebat namun rapih dan serta merta aromanya yg khas menyeruak ke hidungku. Bentuknya begitu menantang sehingga entah kenapa aku langsung menyukainya. Kuhirup kewanitaan Vani dengan keras dan lidahku mulai menelusuri pinggiran labia minora-nya yg telah basah oleh cairan putih bening dengan wangi pheromone menggairahkan. Kubuka kedua labia-nya dengan jemariku dan kususupkan lidahku pelan diantaranya menyentuh klitorisnya yg telah membesar dan kemerahan.

“Aaagh…” Vani menjerit tertahan, sensasi yg dirasakannya begitu menggelora dan semakin membangkitkan semangatku.
Detik itu jg aku memutuskan utk melepas status keperjakaanku yg entah apalah artinya. Sejenak pikiranku melambung pada Ibu Asna, ah apa yg terjadi besok? Kubuang jauh-jauh perasaan itu dan kupusatkan perhatianku pada gadis cantik molek yg terbaring pasrah dan menantang di hadapanku ini. Vani pun okelah. Malam ini aku akan bercinta dengannya. Dengan ujungnya yg kuruncingkan aku menotol-notolkan lidahku ke dalam kewanitaan Vani hingga ia melenguh keras panjang dan pendek.

Lama, aku bermain dengan berbagai teknik yg kupelajari dari buku. Benar kata orang tua, membaca itu baik utk menambah pengetahuan. Kuhirup semua cairan yg keluar darinya dan semakin dalam aku menyusupkan lidahku menjelajahi permukaan yg lembut itu semakin keras lenguhan yg terdengar dari bibir Vani. Aku naik perlahan dan kuciumi pusar, perut dan bagian bawah payudaranya yg membulat tegak menantang. Harus kuakui tubuh molek Vani, pacar temanku ini sungguh indah. Lidahku menjelajahi permukaan beledu itu dengan penuh perasaan hingga sampai ke puting payudaranya yg kecoklatan. Aku berhenti, kupandangi lama hingga Vani berteriak penasaran,

“Ayo Ben… tunggu apa lagi sayang.”
Aku berpaling ke atas, di hadapanku kini wajah putih jelitanya yg kemerahan sambil menggigit bibir bawahnya karena tak dapat menahan gejolak di dadanya. Hmm… pemandangan yg jarang-jarang kudapat pikirku. Tanganku meraih ke samping, kusentuh pelan putingnya yg berdiri menjulang sangat menggairahkan dengan telunjukku.

“Aaah Ben… jangan bikin aku gila, please Ben…” Dengan gerakan mendadak, aku melahap puting tersebut mengunyah, mempermainkan, serta memilinnya dengan lidahku yg cukup mahir.
(Aku tahu Vani sangat sensitif dengan miliknya yg satu itu, bahkan hanya dengan itupun Vani dapat orgasme saat kami sering bercumbu dulu). Vani menjerit-jerit kesenangan. Kebahagian melandanya hingga ia maju dan hendak merengkuh badanku.
“Eit, tunggu dulu Non… jangan terlalu cepat sayang”, aku menjauh dan menyiksanya, biar nanti jg tahu rasanya multi orgasme.
Nafas Vani yg memburu dan keringat mengucur deras dari pori-porinya cukup kurasa. Aku bangkit dan pergi ke dapur kecil minum segelas air dingin.

“Jaaahat Beni… jahaat…” kudengar seruannya.
Saat aku balik, tubuhnya menggigil dan tangannya tak henti merangsang kewanitaanya. Aku benci hal itu, dan kutepis tangannya,
“Sini… biar aku…” Aku kembali ke arah wajahnya dan kupagut bibirnya yg merah itu dan kami bersilat lidah dengan semangat menggebu-gebu. Kuraih tubuh mungilnya dalam pelukanku dan kutindih pinggulnya dengan badanku.

“Uugh…” dia merintih di balik ciuman kami. Kedua bibir kami saling melumat dan menggigit dengan lincahnya, seolah saling berlomba.
Birahi dan berbagai gejolak perasaan mendesak sangat dahsyat. Sangat intensif menggedor-gedor seluruh syaraf kami utk saling merangsang dan memuaskan sang lawan. Kejantananku minta perhatian dan mendesak-desak hingga permukaannya penuh dengan guratan urat yg sangat sensitif. Duh… saatnya kah? aku bimbang sejenak namun kubulatkan tekadku dan dengan segera aku menjauh dari Vani. Tanpa disuruh lagi Vani meregangkan kedua pahanya dan menyambut kesediaanku dengan segenap hati. Punggungnya membusur dan bersiap. Sementara aku menyiapkan penisku dan membimbingnya menuju ke pasangannya yg telah lumer licin oleh cairan kewanitaannya.

Oh my God… sensasi yg saat itu kurasakan sangat mendebarkan, saat-saat pertamaku. Gigitan bibir bawah Vani menunjukkan ketdksabarannya dan dengan kedua betisnya dia mendesak pinggulku utk bergerak maju ke depan. Akhirnya keduanya menempel. Kubelai-belaikan permukaan kepala kejantananku ke klitorisnya dan Vani meraung, masa sih begitu sensasional? Biasa sajalah. Kudesak ke depan perlahan (aku tahu ini merupakan hal pertama bagi dia jg) sial… mana muat? Ah pasti muat. Kusibakkan dengan kedua jemariku sambil pinggulku mendesak lagi dengan lembut namun mantap. Membelalak Vani ketika penisku telah menyeruak di antara celah kewanitaannya.

Sambil matanya mendelik, menahan nafas dan menggigit-gigit bibir bawahnya, Vani membimbing dengan memegang penisku, “Hmm… Ben? jangan ragu sayang…” Dengan mantap aku menghentakkan pinggulku ke depan agar Vani menjerit. Loh sepertiganya telah amblas ke dalam. Hangat, basah, ketat sangat sensasional. Pinggang kugerakkan ke kiri dan ke kanan.
Sementara Vani kepedasan dan air matanya sedikit mengintip dari ujung matanya yg berbinar indah itu.

“Kenapa sayang?” tanyaku.
“Nggak pa-pa Ben… terusin aja sayang… Aku adalah milikmu, semuanya milikmu…”
“Sungguh…”
Aku tahu pastilah mengharukan bagi gadis manapun meski sebandel Vani, apabila kehilangan keperawanannya. Maka utk menenangkannya aku merengkuh tubuhnya dan kuangkat dalam pelukan, proses itu membuat penisku semakin dalam merasuk ke dalam Vani. Dia mendelik keenakan, matanya yg indah merem melek dan bibirnya tak henti mendesah,

“Ben sayaaang… ugh nikmatnya.” Saat itu aku sedang memikirkan Ibu Asna.
Aneh, mili demi mili penisku menghujam deras ke dalam diri Vani dan semakin dalam serta setiap kali aku menggerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan sekujur tubuh Vani bergetar, bergidik menggelinjang keras, lalu kudesak ke dalam sambil sesekali kutarik dan ulur. Vani menjerit keras sekali dan kubungkam dengan ciumanku, glek… kalau ketahuan ibu kost-nya mampus kami. Aku tak menygka sedemikian ketatnya kewanitaan Vani, hingga penisku serasa digenggam oleh sebuah mesin pemijat yg meski rapat namun memberikan rasa nyaman dan nikmat yg tak terkira. Pelumasan yg kulakukan telah cukup sehingga kulit permukaannya kuyakin tdk lecet sementara perjalanan penisku menuju ke akhirnya semakin dekat. Hangat luar biasa, hangat dan basah menggairahkan, tulang-tulangku seakan hendak copot oleh rasa ngilu yg sangat bombastis. Perasaan ini rupanya yg sangat diimpikan berjuta pria.

“Eh… Vani sayang… kasihan kau, kelihatan sangat menderita, meski aku tahu dia sangat menikmatinya”. Wajahnya bergantian mengerenyit dan membelalak hingga akhirnya telah cukup dalam, kusibakkan liang kemaluan Vani-ku tersayang dengan penisku hingga bersisa sedikit sekali di luarnya.

Vani merintih dan membisikkan kata-kata sayang yg terdengar bagai musik di telingaku. Aku mendenyutkan penisku dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan bersentuhan dengan hampir seluruh permukaan dalam rahimnya, mentokkah? Berbagai tonjolan yg ada di dalam lubang memeknya kutekan dengan penisku, hingga Vani akan menjerit lagi, namun segera kubungkam lagi dengan ciuman yg ganas pada bibirnya.

Kutindih dia, kutekan badannya hingga melesak ke dalam kasur yg empuk dan kusetubuhi dirinya dengan nafsu yg menggelegak. Dengan mantap dan terkendali aku menaikkan pinggulku hingga kepala penisku nyaris tersembul keluar. Ugh, sensasinya dan segera kutekan lagi, oooh pergesekan itu luar biasa indah dan nikmat. Gadis seksi yg ranum itu merem melek keenakan dan ritual ini kami lakukan dengan tenang dan santai, berirama namun dinamis. Pinggulnya yg montok itu kuraih dan kukendalikan jalannya pertempuran hingga segalanya makin intens ketika sesuatu yg hangat mengikuti kontraksi hebat pada otot-otot kewanitaannya meremas-remas penisku, serta ditingkahi bulu mata Vani yg bergetar cepat mendahului aroma orgasme yg sedang menjelangnya. Aku pernah membaca hal ini.

“Shhs sayang Vani… jangan dulu ya sayang ya…”
“Shhh… Beni… nggak tahan aku… Beennn… shhhh…”
“Cup cup… kalem sayang…” kukecup lembut matanya, bibirnya, hidungnya, dan keningnya.
Vani mereda, aku berhenti.
“Beni… kamu tega ih…” Vani cemberut sambil menarik-narik bulu dadaku.

“Sshhh sayangku… biar aja, entar kalau udah meledak pasti nikmat deh… minum dulu yuk sayang…”
Aku menarik keluar penisku, aku tak mau Vani tumpah, meski demikian saat aku menarik penisku, ia memelukku dengan kencang hingga terasa sakit menahan sensasi luar biasa yg barusan dia rasakan. Kalian para pembaca wanita yg pernah bercinta pasti pernah merasakan hal itu. Sembari minum aku menarik nafas panjang dan meredakan pula gejolak nafsuku, aku mau yg pertama ini jadi indah utk kami berdua. Sial, ingatanku kembali melayg ke Ibu Asna. Apa yg sekarang dia lakukan? Bagaimana keadaan dia? Ah urusan besok sajalah. Dengan melompat aku merambat naik lagi ke tubuh Vani yg sedang tersenyum nakal.

“Minum sayang…” dia memberengut dan minum dengan cepat.
“Ayo Beni… jangan jahat dong…”
Dengan satu gerakan cepat aku menyelipkan diri di antara kedua kakinya seraya membelainya cepat dan meletakkan penisku ke perbukitan yg ranum itu. Cairan putih yg kental terlihat meleleh keluar.

Kusibakkan kewanitaannya, dan dengan cepat kutelusupkan penisku ke dalamnya. Ugh, berdenyut keduanya masuklah ia, dengan mantap kudorong pinggulku mengayuh ke depan. Vani pun menyambutnya dengan suka cita. Walhasil dengan segera dia telah masuk melewati liang yg licin basah dan hangat itu ke dalam diri Vani dan bersarang dengan nyamannya. Maka dimulailah tarian Tango itu. Menyusuri kelembutan beledu dan bagai mendaki puncak perbukitan yg luar biasa indah, kami berdua bergerak secara erotis dan ritmis, bersama-sama menggapai-gapai ke what so called kenikmatan tiada tara. Gerakan batang kejantananku dan pergesekannya dengan ‘diri’ Vani sungguh sulit digambarkan dengan kata-kata. Kontraksi yg tadi telah reda mulai lagi mendera dan menambah nikmatnya pijatan yg dihasilkan pada penisku. Tanganku menghentak menutup mulutnya saat Vani menjerit keras dan melenguh keenakan. Lama kutahan dengan mencoba mengalihkan perhatian kepada berbagai subyek non erotis.

Aku tiba-tiba jadi buntu, Yap… Darwin, eksistensialist, le corbusier, pilotis, doppler, dan Thalia. Hah, Thalia yg seksi itu loh. Duh… kembali deh ingatanku pada persetubuhan kami yg mendebarkan ini. Ah, nikmati saja, keringat kami yg berbaur seiring dengan pertautan tubuh kami yg seolah tak mau terpisahkan, gerakan pinggulnya yg aduhai, aroma persetubuhan yg kental di udara, jeritan-jeritan lirih tanpa arti yg hanya dapat dipahami oleh dua makhluk yg sedang memadu cinta, perjalanan yg panjang dan tak berujung.

Hingga desakan itu tak tertahankan lagi seperti bendungan yg bobol, kami berdua menjerit-jerit tertahan dan mendelik dalam nikmat yg berusaha kami batasi dalam suatu luapan ekspresi jiwa. Vani jebol, berulang-ulang, berantai, menjerit-jerit, deras keluar memancarkan cairan yg membasahi dan menambah kehangatan bagi penisku yg jg tengah meregang-regang dan bergetar hendak menumpahkan setampuk benih. Kontraksi otot-otot panggulnya dan perubahan cepat pada denyutan liang memeknya yg hangat dan ketat menjepit penisku. Akh, aku tak tahan lagi.

Di detik-detik yg dahsyat itu aku mengingat Tuhan, dosa, dan Ibu Asna yg telah aku kecewakan, tp hanya sesaat ketika pancaran itu mulai menjebol tak ada yg dibenakku kecuali… kenikmatan, lega yg mengawang dan kebahagiaan yg meluap. Aku melenguh keras dan meremas bahu dan pantat sekal Vani yg jg tengah mendelik dan meneriakkan luapan perasaannya dengan rintihan birahi. Berulang-ulang muncrat dan menyembur keluar tumpah ke dalam liang senggama sang gadis manis dan seksi itu.
Geez… nikmat luar biasa. Lemas yg menyusul secara tiba-tiba mendera sekujur tubuhku hingga aku jatuh dan menimpa Vani yg segera merangkulku dan membisikkan kata-kata sayang.

“Enak sekali Beni, duh Gusti…” Aku menjilati lehernya dan membiarkan penisku tetap berbaring dan melemas di dalam kehangatan liang kewanitaannya (ya ampun sekarang pun aku mengingat kemaluan Vani dan aku bergidik ingin mengulang lagi).
Denyut-denyut itu masih terasa, membelai penisku dan menidurkannya dalam kelemasan dan ketentraman yg damai. Kugigit dan kupagut puting payudara Vani dengan gemas. Vani membalas menjewer kupingku, meski masih dalam tindihan tubuhku.

“Beni sayang… kamu bandel banget deh… gimana kalau Rian tahu nanti Ben…”
“Iya… dan gimana Vina-ku ya?” dalam hatiku.
Ironisnya lagi, kami selalu melakukannya berulang-ulang setiap ada kesempatan. Bagai tak ada esok, dengan berbagai gaya dan cara tak puas-puasnya. Di lantai, di dapur, di kasur, di bath tub, bahkan di kedinginan malam teras belakang paviliun sambil tertawa cekikikan. Rasa khawatir ketahuan yg diiringi kenikmatan tertentu memacu adrenalin semakin deras, yg segalanya membuat gairah.

Tak kusangka kami terkuras habis, lelah tak tertahan namun pagi telah menjelang dan aku harus bertemu dengan Ibu Asna. Aku bergerak melangkah menjauhi tempat tidur meskipun dengan lutut lemas seperti karet dan tubuhku limbung. Kamar mandi tujuanku. Segera saja aku masuk ke dalam bath tub dan mengguyur sekujur tubuh telanjangku dengan air dingin. Brrr… lemas yg mendera perlahan terangkat seiring dengan bangkitnya kesadaranku. Sambil berendam aku mengingat kembali kilatan peristiwa yg beberapa hari ini terjadi.

Semenjak saat itu asistensiku dengan Ibu Asna berlangsung beku, dan dia terlihat dingin sekali, sangat profesional di hadapanku. Beliau kembali memangilku dengan anda, bukan panggilan manja Beni lagi seperti dulu. Aku serba salah, tdk sadarkah dia kalau aku pulang malam itu karena menghormati dan menyayginya? Hingga dua hari menjelang sidang akhir, dan keadaan belum membaik, gambarku selesai namun belum mendapat persetujuan dari Bu Asna. Kuputuskan utk berkunjung ke rumahnya, meski aku tak pasti apakah Pak Indra ada di sana atau tdk.

Hari itu mobilku dipinjam oleh teman dekatku, sementara siangnya hujan rintik turun perlahan. Ugh, memang aku ditakdirkan utk gagal sidang kali ini. Bergegas kucegat angkot dan dengan semakin dekatnya kawasan tempat tinggal beliau, semakin deg-degan debar jantungku. Kucoba mengingat seluruh kejadian semalam saat aku dan Vani bercinta utk kesekian kalinya, utk mengurangi keresahanku.

Aku turun dari angkot dalam derasnya hujan dan dengan sedikit berlari aku membuka gerbang dan menerobos ke dalam pekarangan. Basah sudah bajuku, kuyup dan bunga Aster yg kubawakan telah tak berbentuk lagi. Kubunyikan bel dan menanti. Bagaimana kalau beliau keluar? bagaimana kalau Pak Indra ada di rumah? dan beratus what if berkecamuk sampai aku tak menyadari kalau wajah jelita dan tubuh molek Ibu Asna telah berdiri beberapa meter di depanku. Saat aku sadar senyumnya masih dingin, tp ada rasa kasihan terbesit tampak dari wajah keratonnya yg selama ini selalu menghiasi mimpi-mimpiku. Aku hanya bisa menyodorkan bunga yg telah rusak itu dan berkata,

“Maafkan saya…”
Tubuhku yg menggigil kedinginan dan kuyup itu sepertinya menggugah rasa iba di hati beliau dan aku mendapati beliau tersenyum dan berkata,
“Sudah Beni, cepat masuk, ganti baju sana… dua hari lagi kamu sidang loh… entar kalau sakit kan Ibu jg yg repot.” Uuugh, leganya beban ini telah terangkat dari dadaku, dan aku menghambur masuk.
“Maaf Bu, saya basah kuyup.” Beliau masuk ke dalam dan segera membawakan handuk utkku.
“Sana ke kamar dan ganti baju gih, pake aja kaus-kaus Bapak.” KubeAsnakan diri, mendoyongkan tubuh dan mengecup keningnya, “Terima kasih banyak Bu…” Sang ibu sedikit terperangah dan kemudian menepis wajahku.

“Sudah sana, masuk… ganti baju kamu.” Dengan sedikit cengengesan aku masuk ke dalam dan mengeringkan tubuhku, dan mengganti baju dengan kaus yg sungguh pas di badanku.
Segera aku keluar dan mencari Ibu Asna. Beliau sedang berada di dapur mencoba membuatkan secangkir teh panas utkku. Aduuh, aku sedikit terharu. Dengan beringsut aku mendekatinya dan merangkul beliau dari belakang. Dengan ketus beliau menepis tubuhku dan menjauh.

“Beni… kamu pikir kamu bisa seenaknya saja begitu.” Aku terdiam.
“Saya minta maaf Bu, waktu itu saya pergi karena Beni tak sanggup Bu… Ibu, orang yg paling saya hormati dan sayangi, mungkin Beni butuh waktu, Bu…” sambil berkata demikian aku mendekatinya dan memegang pundak kanan beliau dan memberi sedikit pijatan lembut. Beliau tergetar dan tampak sedikit melunak.
Aku mendekat lagi, “Ibu mau maafin Beni?” sambil kutatap tajam matanya, kemudian perlahan aku mendekatkan wajahku ke wajah ayu sang ibu.

“Tp Ben…”
Beliau kelihatan bingung, namun kecupan lembutku telah bersarang lembut pada keningnya. Kurengkuh Asna yg ranum itu dalam pelukanku dan kuusap-usapkan kelopak bibirku pada bibirnya dan kukecup dan kugigit-gigit bibir bawahnya yg merah merekah itu. Nafas Asna sedikit memburu dan bibirnya merekah terbuka.

Semula sedikit pasif ciuman yg kuterima, kemudian lidahku menelusup ke dalam dan menyentuh giginya yg putih, mencari lidahnya. Getar-getar yg dirasakannya memaksa Asna utk memerima lidahku dan saling bertautlah lidah kami berdua, menari-nari dalam kerinduan dan rasa sayang yg sulit dimengerti. Bayangkan beliau adalah dosenku yg kuhormati, yg meskipun cantik jelita, putih dan mempesona menggairahkan, namun tetap saja adalah orang yg seharusnya kujunjung tinggi.

“Jangan di sini Ben, Fitri bisa datang kapan saja.”
Kutebak Fitri adalah nama pembantu mereka.
“Bapak?”
“Ah biarkan saja dia”, kata dosen pujaanku itu.
Ditariknya tanganku ke arah kamarnya yg mereka rancang berdua.
“Buu… Bapak di mana?”

Wanita matang yg luar biasa cantik itu berbalik bertanya, “Kenapa, kamu takut? Pulang sana, kalau kamu takut.”
Ah, kutenangkan hatiku dan yakin dia pasti jg tdk akan membiarkan ada konfrontasi di rumah mereka. Jadi aku medahului Asna (sekarang aku hanya memanggil beliau dengan nama Asna atas permintaannya. Di samping itu, Asna pun tak berbeda jauh umur denganku) dan dalam satu gerakan tangan, Asna telah ada dalam pondonganku, kemudian kuciumi wajahnya dengan mesra, lehernya, dan sedikit belahan di dadanya. Menjelang dekat dengan tempat peraduan, Asna kuturunkan dan aku mundur memandanginya seperti aku memandanginya saat pertama kali. Semula Asna sedikit kikuk.

“Kenapa? Aku cantik kan?”
Asna bergerak gemulai seolah sedang menari, duh Gusti… cantik sekali. Ia mengenakan daster panjang berwarna light cobalt yg menerawang.
Kupastikan Asna tdk mengenakan apa-apa lagi di baliknya. Payudaranya bulat dan penuh terawat, pinggulnya selalu membuat para mahasiswi iri bergosip dan mahasiswa berdecak kagum. Aku sekonyong-konyong melangkah maju dan dengan lembut kutarik ikatan di belakang punggungnya, hingga bagaikan adegan slow motion daster tersebut perlahan jatuh ke lantai dan menampilkan sebuah pemandangan menakjubkan, luar biasa indah. Tubuh telanjang Ir. Asna yg menggairahkan. Tanpa tunggu lebih lama aku kembali melangkah ke depan dan kami berpagutan mesra, lembut dan menuntut.

Mendesak-desak kami saling mencumbu. Ciuman terdahsyat yg pernah kualami, sensasinya begitu memukau. Lidahnya menerobos bibirku dan dengan penuh nafsu menyusuri permukaan dalam mulutku. Bibirnya yg mungil dan merah merekah indah kulumat dengan lembut namun pasti. Impian yg luar biasa ini, saat itu aku bahkan hendak mencubit lengan kiriku utk meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi. Asna melucuti pakaianku dan meloloskan kaosku, sambil sesekali berhenti mengagumi gumpalan-gumpalan otot pada dadaku yg cukup bidang dan perutku yg rata karena sering didera push-up.

Kami berdua sekarang telanjang bagai bayi. Ada sedikit ironi pada saat itu, dan kami berdua menyadarinya dan tersenyum kecil dan saling menatap mesra. Aku menggenggam kedua tangannya dan mengajaknya berdansa kecil, eh norak tp romantis. Asna tergelak dan menyandarkan kepalanya ke dadaku dan kami ber-slow dance di sana, di kamar itu, aku dan Asna, tanpa pakaian. Penisku tanpa malu-malu berdiri dengan tegaknya, dan sesekali disentil oleh tangan lentik Asna. Dengan perutnya ia mendesak penisku ke atas dan menempel mengarah ke atas, duh ngilu namun sensasional.

Saat itu cukup remang karena hujan deras dan cuaca dingin, namun rambut Asna yg indah tergerai wangi tampak jelas bagiku. Kucium dan kubelai rambutnya sambil kubisikkan kata-kata sayang dan cinta yg selalu dibalasnya dengan… gombal, bohong dan cekikikan yg menggemaskan. Aku semakin sayang padanya.

Ah, aku tak tahan lagi. Kudesak tubuh Asna ke arah pinggiran peraduan, kubaringkan punggungnya sementara kakinya tergolek menjuntai ke arah lantai. Aku berlulut di lantai dan mengelus-elus kaki jenjangnya yg mulus. Dan mulai mencumbunya. Kuangkat tungkai kanannya sambil kupegang dengan lembut, kutelusuri permukaan dalamnya dengan lidahku, perlahan dari bawah hingga ke arah pahanya. Pada pahanya yg putih mulus aku melakukan gerakan berputar dengan lidahku. Asna merintih kegelian.
“Ben, it feel so good, aku pengen menjerit jadinya…” Saat menuju ke kewanitaannya yg berbulu rapi dan wangi, aku menggunakan kedua tanganku utk membelai-belai bagian tersebut hingga Asna melenguh lemah.

Lalu sambil menyibakkan kedua labianya, aku menggigit-gigit dan menjepit klitorisnya yg tengah mendongak, dengan lembut sekali. “Aduuuh Ben, aku sampai sayang…” Sejumlah besar cairan kental putih meluncur deras keluar dari dalam liang kewanitaaannya dan dengan segera aroma menyengat merasuk hidungku. Dengan hidungku aku mendesak-desak ke dalam permukaan kewanitaannya. Asna menjerit-jerit tertahan.

“Beniiii… nggghh… Ben… aduhh…” Asna sontak bangkit meraih dan meremas rambutku kemudian semakin menekannya ke dalam belahan dirinya yg sedang menggelegak.
Kuhirup semua cairan yg keluar dari-nya, sungguh seksi rasanya. Aku mengenali wangi pheromone ini sangat khas dan menggairahkan. Asna-ku tersayang jg menyukainya, sampai menitikkan sedikit air mata. Aku naik ke atas dan menenangkan kekasih dan dosenku itu. Dengan wajah penuh peluh Asna tetaplah mempesona.

“Aduh Ben, Asna udah lama nggak banjir kayak gitu… mungkin perasaan Asna terlalu meluap ya sayang ya…” Dengan manja ibu yg sehari-harinya tampil anggun itu melumat bibirku dan menciumi seluruh permukaan wajahku sambil cekikikan.
Aduuuh, aku sayang sekali sama dosenku yg satu ini. Kudekap Asna dalam pelukanku erat demikian jg dibalasnya dengan tak kalah gemasnya, sehingga seolah-olah kami satu.

Aku ingin begini terus selamanya, mendekap wanita yg kusayangi ini sepanjang hayatku kalau bisa, tp nuAsnaku berbisik bahwa aku tdk dapat melakukannya. Akhirnya kuliahku telah usai dan nilai yg memuaskan telah kuraih, wisuda telah lama lewat, dan sekarang aku telah menjadi entrepeneur muda. cerita sex

Edukasi Sex Dari Papa dan Mama
Category: cerita sex
Tags: cerita sex

cerita sex Sore itu seperti biasa aku dan keluargaku berkumpul bercanda ria di ruang keluarga. Aku, papa dan mama kami bertiga termasuk keluarga yang haromis. Perkenalkan namaku Andri umur 16 tahun, ibuku Mayang usia 42 tahun, sedangkan ayahku Ranu usianya 47 tahun. Kami bertiga selalu menghabiskan waktu bersama kalau sore hari seperti itu. Sedangkan bila pagi sampai jam 5 sore kita bertiga sibuk dengan urusan masing-masing aku sekolah, ibuku sibuk dengan bisnis laundrynya, dan sedangkan ayahku bekerja sebagai pemborong. Walaupun hidup kami pas-passan kami tetap bahagia karena selalu bisa berkumpul seperti ini.

Cerita sex sedarah, Sore itu ayahku sedang memegang kartu ditanggannya untuk mengajak aku dan mamaku bermain kartu bersama untuk mengusir bosan. Akhirnya kami bertiga bermain kartu bersama memang benar kata ayahku permainan kartu ini awalnya menghilangkan rasa bosan kami bertiga yang sedari tadi hanya ngobrol-ngobrol sambi lihat televisi. Setelah bermain cukup lama akhirnya kami bertiga merasa bosan dengan permainan kartu ini. Ayahku yang menetahui situasi itu langsung mencetuskan ide gilanya, memang ayahku adalah orang yang paling kreatif diantara kami bertiga tapi kali ini ide ayahku tdk bisa diterima dengan akal sehat.
Ayah pun mulai mengutarakan ide gilanya itu

“Kalian tampaknya udah merasa bosan iya?” Tanya ayahku kepada aku dan mamaku.
“Iya nih yah udah bosen dari tadi gini-gini aja” jawabku menyauti pertanyaan dari ayah.
“Iya bener tuh kata Andri yah mama juga udah mulai bosan” sambung mamaku.
“Ya udah ayah kali ini punya ide, gimana kalau yang kalah harus membuka pakaiannya satu-persatu?” Ayah mengutarakan ide gilanya saat itu kepada kamu dengan senyum-senyum nggak jelas.

“Apa yah? Apa ayah ini sudah gila?” Sahut mamaku sedikit sewot.
“Kenapa seh ma? Apa mama takut?” Tanya ayahku kepada mamaku.
“Ayah ini apa2an masak yang kalah harus lepas baju? Gimana kalau mama yang kalah?” Ucap mamaku melemparkan pertanyaan balik pada ayahku.


“Emang kenapa ma? Disini kan cuma kita bertiga tdk ada orang lain” sahut ayahku.
“Kok malah debat sih?” Tanyaku kesal kepada orang tuaku.
“Oke deh mama berani, ayo kocok kartunya” ujar mamaku mengakhiri perdebatan mereka.
Cerita sedarah 2017, Akhirnya ayahku mengocok kartunya dan membaginya rata pada kami bertiga. Permainan pertama pun berlangsung sangat sengit kita bertiga saling adu strategi dan akhirnya aku yang kalah.
Lalu ayahku segera berkata,

“Ayo Ndri buka kaos kamu terus kamu kocok lagoi kartunya.
“Iya2 yah” jawabku sedikit sewot karena kalah pada permainan pertama.
Mamaku hanya senyam-senyum melihat kekalahanku. Akhirnya kartu kuocok lagi untuk permainan kedua. Dipermainan kedua ini mamaku yang akhirnya kalah.

Dengan sangat senang aku menyuruh mama untuk membuka bajunya,
“Ayo ma buka bajunya hehehehehe” ocehku sambil tertawa melihat kekalahan mama.
“Iya tdk toh mama hanya lepas jilbab dulu” sahut mamaku.
“Kok gitu? Mama curang ah” timpalku sewot mendengar kata2 mama.
“Iya gk bisa gitu ma perjanjiannyakn baju bukan jilbab jadi mama harus lepas baju dan jilbabnya tetep aja dipakai” ayahku coba menerangkan aturan permainannya pada mamaku.

Akhirnya mamaku melepas kancing2 bajunya dan terlihatlah toket mama yang masih terbungkus bh warna putih. Dipermainan ketiga mama kalah lagi aku dan ayah memaksa mama untuk membuka celanannya. Permainan ini berlangsung terus sapek tak terasa tubuh kami bertiga benar bugil tanpa ada apa-apa lagi yang menutupi tubuh kita.

Aku sempat terkesan waktu melihat mama membuka bhnya ternyata toket mama gede banget. Sebelumnya aku tak pernah memperhatikan toket mam karena tertutup oleh jilbab-jilbabnya. Ayah yang sudah menyadari kalau aku sedari tadi sudah terangsang melihat bentuk toketh mamaku mulai memancingku. Ayah pun mengambil tindakan dengan menggeser tempat duduknya dan mendekatkan tubuhnya pada mama. Ayahku juga mulai mengraya2 toket mama.

“Apaan sih ayah ini malu tuh dilihat Andri” kata mama menghentikan tingkah ayah.
“Nggak papa ma biarin aja Andri kan udah gede” jawab papa singkat.
Karena takut ayah marah mama membiarkan tanggan ayah meremas-remas kedua toketnya itu. Aku pun sangat terangsang melihat tanggan ayahku yang sedang asyik dengan pekerjaan barunya saat itu.
“Andri pengen ya?” Goda ayah padaku.
“Ayah apaan sih?” Mamaku coba memeringatkan ayah.
“Halah Nggak papa ma toh Andri juga butuh edukasi tentang sex” jawab ayahku ringan.
“Enngg……..akkk kok yah” jawabku terbatah2.
“Ah jangan bo’ong ah Andri, tuh buktinya udah tegang banget” kata ayahku sambil menuding batang penisku.
“Ternyata punyamu lebih gede dari punya ayah iya Ndri?” Lanjut ayahku.

Sedangkan mamaku masih bengong melihat batang penisku mungkin mamku takjub dengan ukuran kotolku yang lebih besar dari punya ayah. Ayah terus meremas toket mama seperti orang kesurupan sambil lidahnya menjilati leher mama.
“Ngapain kamu bengong aja disitu Ndri? Sini bantu ayah” ayahku membuyarkan lamunanku.

“Ah ayah ini apaan sih? Masak Andri diajak beginian?” Sahut mamaku tapi pandangannya tdk berpaling dari batang penisku.
“Biarin aja deh ma toh mama juga pengen ngerasain penisnya Andri yang gede itukn?” Ayah langsung to the point kepada mama.
Mamaku tak menjawab kata2 terakhir yang terlontar dari mulut ayahku. Akupun tetap terdiam dan membisu ditempatku duduk, aku belum percaya kalau ayahku segila ini.

“Ayo Ndri kok malah bengong” kata2 ayah membuyarkan lamunanku.
“Andri harus ngapain yah?” Tanyaku yang tampak begitu polosnya.
“Sini kamu jilatin meqi mamamu” perintah ayah mendengar pertanyaan bodohku.
Bagai kerbau yang dicocok hidungnya akupun bankit dari tempatku duduk dan mendekat ke tubuh ayah dan mama. Sebenarnya aku masih ragu menuruti perintah ayah karena sebelumnya aku belum pernah melakukan hal yang seperti ini. Aku pun mendekatkan kepalaku dengan meqi mama. Aku sempat menghetikan kepalaku tepat didepan meqi mama karena sebenarnya aku jijik melakukan hal ini, tapi ayah memaksaku.

Akhirnya kulakukan perintah ayahku menjilati meqi mamaku. Pertama-tama aku agak sedikit kaku melakukan hal seperti ini tapi lama-kelamaan aku sudah mulai terbiasa. Karena aku sudah mulai terbiasa mama mulai menjambak rambutku untuk membenamkan kepalaku kepada meqinya sampai-sampai aku tdk bisa bernafas. Walaupun aku sulit untuk bernafas karena mamaku mebenamkan kepalaku tapi herannya justru aku lebih menikmati permainanku.

Mamaku mulai meracau,
“Terus Andri terus jilat itil mama Ndri, ayah juga sedot yang kuat pentil mama mainkan susu mama yah” racau mamku.
Aku dan papaku terus melakukan pekerjaannya masing-masing. Sampai papa menghentikan jilatanku.
“Ndri berhenti menjilat meqi mamamu dulu” ucap ayahku sembari bediri disebelah mama dan penisnya tepat pada muka mama.
“Iya yah” jawablku menuruti perintah ayahku.

“Ma ayo sekarang giliranmu mainin penis ayah” perintah ayahku yang ditujuhkan pada mama.
“Dan kamu Andri terusin jilat meqi mamamu dari belakang” lanjut ayah.
Mama yang mengerti permintaan ayaj langsung mengubah posisinya mamau langsung nungging dan menyergap penis ayah sedangkan aku asyik menjilati meqi mama. Kelihatannya mama semakin liar menyepong penis ayah yang ukurannya sedikit lebih kecil dari punyaku mungkin mama usah terbiasa maini penis ayah.

Setelah ayah merasah puas dengan sepongin mama sekarang ayah menyuruhku untuk mengantikan posisinya lalu ayah sekaran berpindah kebelakang. Kemudian ayah langsung membuka lebar kedua paha mama dan memasukan kotolnya kedalam lubang meqi mama. Mama sempat menjerit kecil ketika penis ayah berhasil sepenuhnya masuk kedalam meqi mama. Sedangkan aku yang ada didepan mama langsung memajukan penisku tepat pada bibir mama.

Mungkin mama sudah mengerti maksudku mama langsung meraih penisku dan mejilati kepala penisku pertama-tama. Rasanya ngilu campur geli membuatku meringis2 keenakan. Melihat hal itu mama langsung memasukan penisku kemulutnya. Rasanya hangat sekali, mama mulai memaju mundurkan penisku yang berada didalam mulutnya.

“Achh……geli ma geli” racauku menahan geli.
“Udah nikmatin aja Ndri” ucap ayah mendengar racauanku.
“Emb penismu ahhhh ge ahhh de banget Ndri ahhh” kata mama yang sedikit terputus-putus karena mendapat serangan dari ayah.
Mama terus mengulum penisku dan sekali2 menyedot batang penisku rasanya enak banget aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.

10 menit berselang ayah mengerang keras sekali tampaknya dia sudah sampai pada puncaknya. Tubuh ayah seketika lemas tak berdaya. Ayah kemudian mencabut penisnya yang masih tertanam dimeqi mama, begitu penis ayah dicopot terlihat jelas olehku ada cairan putih pekat keluar dari meqi mama.
“Ndri sekarang giliranmu ayo lakukan” perintah papa

Akupun nurut-nurut aja. Sekarang posisi mama sedang tidur terlentang pahanya terbuka lebar untuk memudahkanku memasukan peniskuyang sedari tadi pengen sekali dimasukan. Aku mengarahkan batangku ke meqi mama walaupun meqi mama sudah licin karena sperma dari ayah tapi aku masih kesulitan untuk memasukannya. Akhirnya denga telaten mama membimbingku, penisku dipegang oleh mama dan langsung diarahkan pas lubang meqinya. Karena lubang meqi mama yang sudah licin oleh sperma ayah penisku langsung masuk seluruhnya ke meqi mama. Mama menyeruak dan mengadahkan kepalanya keatas. Sekarang aku dengan perlahan mulai mengerakan pinggulku maju mundur.

“Ayo Ndri penismu enak” ujar mama.
“Iya ma meqi mama juga nikmat” jawabku

“Och…….Och…..Och….Och…..” Mama tdk berbicara lagi hanta desahan dan desahan yang keluar dari mulutnya.
Setelah hampir sepuluh menit ayah bangkit dari kursi tempatnya beristirahat. Ia mengisyaratkn padaku untuk membalik badanku akupun menurutinya. Sekarang mam yang berada diatas tubuhku tanpa pikir panjang ayah langsung mengarahkan penisnya ke anus mama. Dengan bantuan dari air liurnya akhirnya penis ayah bisa masuk seluruhnya ke anu mama. Mama hanya bisa mendesah entah dia telah menaha kenikmatan atau kesakitan aku tdk tau itu. Ayah dengan kasar menghajar anus mama.
“Aduh yah Och……terus…….yah Och…..Och…” Desahan mama

Akupun tak mau kalah dengan ayah aku langsung mempercepat gerakanku. Dan mama pun mendesah semakin keras.
“Och……kaaaa….llliiiiiaaannn bbbeeeeee nnneeerrrrr beee nnneeeerr hhhhheeebbbaattt” desahan mama.
“Oooccchhhhh kaaalllllaauuu bbeeeegggiiiinnniiii mmmmaaammmmaaaa gggaakkkk kkkuuuuuaaaatttt” lanjut desahan mama.
“Ooooocchhhhhhhh” akhirnya mama mendesah panjang tanda orgasme telah didapatkannya.
“Kamu kuat banget Ndri belum keluar-keluar juga” tanya mama padaku.
“Hehehe gk tau juga ma” jawabku singkat.

Aku yang belum mencapai puncak sendiri berusaha mengerakan tubuh mama dan dibantu oleh ayah.
Mama terus kami serang daru lubangnya sampai 5 menit kemudian ada rasa geli pada ujung penisku seperti ada benda yang memaksa untuk keluar dari dalam, meskipun kutahn tetap tak bisa dan akhirnya.
“Croooottttt croootttt croootttt croootttt”

Sperma keluar membuat penuh seisi meqi mama dipenuhi oleh sperma dan ayah. Tubuhku langsung lemas dan si Andri junior juga langsung melemaskan tubuhnya. Sekarang tinggal ayah yang menutaskan birahinya. Entah sampai kapan ayah mampu begitu yang jelas hari ini aku puas sekali. cerita sex

Beli Obat Kuat Bonus Penjualnya
Category: cerita sex
Tags: cerita sex

cerita sex Kisah sex ini menceritakan tentang seorang wanita penjual kosmetik serta obat perkasa lelaki dengan pengusaha furniture kaya raya. Berawal dari dari tawar menawar obat kuat, berakhir dengan hubungan sex yang brutal dan hot. Ingin Tahu kelanjutanya para pembaca ??? langsung saja simak cerita dibawah ini !!!

Aku adalah seorang wanita yang berusia 23 tahun yang mempunyai wajah lumayan cute dan mempunyai tubuh yang lumayan okey. Panggil saja saja aku Yani. Sebagai seorang wanita yang berasal dari keluarga pas-pasan dengan lulusan sekolah hanya sebatas SMA saja aku harus banting tulang untuk menggapai impianku.

Aku sedari kecil memanglah sudah mandiri, aku sejak smp sudah mempunyai bakat berdagang. Sewaktu sekolah aku sudah mulai dagang, mulai dari jual kue sampai jual aksesoris yang aku buat sendiri. Aku mempunyai impian yang sampai saat ini belum terpenuhi, yaitu bisa merenofasi rumah orang tua. Aku adalah 2 bersaudara, kakak wanitaku sudah berkeluarga dan tinggal bersama suaminya.

Aku tipe wanita yang menghalalkan segala cara untuk menambah pundi-pundi tabunganku. Aku tidak segan-segan memamerkan kemolekan tubuhku, bahkan jika pelangganku orang kaya aku rela disetubuhi. Apapun aku lakukan, yang penting aku produkku bisa terjual sekaligus aku mendapat uang tambahan dari luar produk jualanku.

Profesiku kini adalah sebagai penjual kosmetik, parfum, obat perangsang, obat pepembesar payudara, obat kuat pria bahkan obat pembesar penis sekalipun aku jual. Pokonya komlit deh, hhe. Nah di situs dewasa ini aku ingin menceritakan kisah sex nyataku yang aku lakukan dengan seorang Pria yang lumayan kaya namun sudah beristri.

Cerita sex ini terjadi 2 bulan yang lalu. Pada hari itu aku keliling dengan menggunakan motor maticku menuju suatu perumahan mewah didaerah bekasi. Dari pintu kepintu aku menawarkan produk yang aku jual kepada ibu-ibu komplek. Yah namanya juga perumahan mewah,pastinya pada hari itu produkku laris terjual. Kebanyakan ibu-ibu komplek membeli bedak,lipstick, dan parfum.

Senang sekali aku rasanya pada hari itu. Namun hari itu ku belum puas dengan pendapatanku yang sebenarnya sudah melebihi targetku. Saat itu pukul 11 siang kebetulan sekali aku melihat seorang bapak-bapak yang gagah dan lumayan ganteng sedang mencuci mobil dihalaman rumahnya. Jika dilihat sekilas pasti dia adalah pemilik rumah.

Karena nggak mungkin pria segagah dan seganteng itu seorang supir ataupun pembantu. Melihat pria itu aku-pun menghentikan motorku tepat didepan rumahnya,

“ Selamat siang pak, boleh saya mengganggu waktunya sebentar, ” ucapku menyapanya sembari mendekatinya.

Saat itu aku menggunakan rok diatas lutut dan menggunakan kemeja ketat yang memperlihatkan indahnya lekuk tubuhku. Oh iya ketika aku naik motor tentunya aku menggunakan jaket dan penutup rok yaitu semacam kain pantai agar kulitku yang putih mulus tidak tersengat matahari. Saat itu sebelum menawarkan aku melepas helm, jaket dan penutup rokku agar terlihat menarik,

“ Oh iya mbak boleh saja kog, jangankan sebentar diganggu lama juga boleh, hhe…, ” ucapnya sembari melihat aku dari bawah sampai atas.

Dalam hatiku berkata, wah ini kayaknya bisa jadi sasaran empuk nih, paling aku jika aku lihatin paha mulusku dia juga udah klepek-klepek, hha. Lalu,

“Ah si bapak bisa aj deh, Oh iya saya mau…., ”

Belum selesai aku berbicara dia sudah memotong perkataanku,

“ Udah ngomongnya dilanjut nanti saja didalam, yaudah ayo silahkan masuk mbak kita ngobrol didalam, ” ucapnya dengan melihat tubuhku secara detail.

“ Wah bapak ini baik hati sekali yah, yaudah pak saya ambil produk saya dulu ya, ” ucapku.

“ Oh iya mbak silahkan, motornya masukin aja kesini mbak takut ada maling, soalnya lagi musim maling nih disini, ” ucapnya.

“ Wah benar juga ya pak, terima kasih ya pak sudah mengingatkan saya, ” Ucapku lalu berlalu memasukan motorku kehalaman rumah bapak itu.

Setelah aku parkirkan motorku, aku mengambil tas koper yang aku taruh dasbord depan motor maticku. Memang berat sekali koperku saat itu karena isinya seperti kantong doraemon, apa aja ada, hha. Aku angkatlah koperku menuju kerumah bapak itu,

“ Wah berat kayaknya yah mbak kopernya, sini biar saya bawakan sampai ruang tamu, ” ucapnya sembari menuju kearahku.

“ Udah pak nggak usah, saya udah biasa kog bawa koper sebesar ini, ” ucapku berbasa-basi.

“ Udah sini aku bawakan, kasihan wanita secantik kamu bawa barang seberat ini, ” ucapnya sembari merebut koperku.

“ Aduh bapak ini baik hati sekali yah, terima kasih ya pak, ”

“ Udah yuk kita masuk, panas nih diluar, ” ucapnya lalu masuk keruang tamu.

Saat itu akupun masuk keruang tamunya dengan mengikuti bapa-bapak gagah dan ganteng itu. Sampailah kami didalam ruang tamu,

“ Silahkan duduk Mbak biar saya ambilkan minum dulu, tapi minuman dingina ja yah biar praktis, soalnya pembantu saya lagi cuti,hhe…, ” ucapnya sembari tersenyum.

“ Benar-benar manusia yang berhati dewa bapak ini yah, sekali lagi saya berterima kasih banyak yah pak, hhe…, ” ucapku sembari tersenyum manis.

“ Iya iya, terimakasihnya jangan banyak-banyak, yaudah saya ambilkan minum dulu yah, ” ucapnya sembari masuk kedapur.

“ Iya pak, ” jawabku singkat.

Saat itu sembari menunggu bapak itu mengambilkan minum aku melihat sekeliling ruang tamunya. Benar-benar mewah sekali rumahnya, bangunan rumah yang dan furniture yang ada dirumahnya benar-benar serba mewah pembaca. Gila, pasti dia kaya sekali. Beberapa menit aku menunggu bapak itupun kembali dengan membawa minuman,

“ Ini mbak silahkan diminum, pokoknya kalau dirumah saya jangan sungkan-sungkan anggap saja rumah sendiri, hhe…, ” ucapnya sembari duduk di sofa mewahnya.

Saat itu kami duduk berhadap-hadapan namun terpisah dengan meja,

“ Oh iya pak, hhe… jadi gini pak, saya mau menawarkan produk parfum dan obat khusus pria, hhe, ” ucapku sembari membuka koperku.

“ Wah ini obat apa mbak, kog gambarnya alat vital pria sih, jangan-jangan obat kuat yah, hha.., ” ucapnya dengan entengnya.

“ Hehehe… iya nih Pak, Oh iya perkenalkan nama saya Yani pak, ” ucapku meperkenalkan diri.

“ Oh mbak Yani namanya, nama saya Arie Mbak, O iya opanggilnya mas aja dong jangan Pak, emangnya saya tua banget yah, ” guraunya.

“ Nggak kog pak, eh mas deng, mas masih perkasa dan ganteng kog, apalagi kalau beli produk saya, pasti mas Arie tambah perkasa dan disayang istri deh, hhe…, ” ucapku mulai mengeluarkan jurus salesku.

“ Mbak ini bisa saja deh, hhe… oke aku beli, tapi kalau beli produk nggk dicoba saya nggak bisa tahu khasiatnya dong, ” ucapnya sembari melirik kearah pahaku.

Saat itu aku sengaja membuka lebar pahaku agar dia bisa melihat paha bhakan celana dalamku. Aku yakin mas Arie bakalan sangek kalau ngelihat paha mulus dan gundukan vaginaku yang menyembul dibalik celana dalamku, hha. Lalu,

“ Ya itukan bisa dicoba sama istri bapak, jaminan deh pak obat saya pasti berkhasiat. Pokoknya diminum selang 5 menit langsung greng deh pak, hhe.., ” ucapku terus merayunya agar membeli produk obat kuatku.

“ Nah itu masalahnya mbak, istriku dan kedua anakku lagi liburan kerumah neneknya selama 1 minggu, padahal baru berangkat tadi, terus aku nyobanya sama siapa dong, ” ucapnya mulai menjurus kearah sex.

“ Waduh gimana yah mas, masak iya sama saya sih pak, kan saya bukan mukhrim, doa, hheee…., ” ucapku mulai memancingnya.

“ Hehehe… barang kali aja beli obat kuat bonus nyobain sama penjualnya, wkwkwk…, ” ucapnya dengan tertawa mesum.

“ Hemmmm… nakal ya sih mas mentang-mentang nggak ada istrinya, ” ucapku menggodanya.

“ Sesekali nggak papakan mbak, gimana jadinya ini mbak, mau nggak mbak jadi percobaan obat kuat produk mbak ???, ” ucapnya serus dengan tatapan penuh nafsu.

“ Hemmmm… ini namanya senjata makan tuan mas, Aduhhh pusing deh, hhaa…, ” ucapku.

“ Gimana mau nggak, kalau nggak mau aku nggak jadi beli nih, ” ucapnya terus mengejar aku agar mau melayani nafsu sexs-nya.

“ Emmmm… gimana yah mas, Emmmm… okey kalau gitu, tapi ada syaratnya, ” ucapku mulai memasang perangkap.

“ Apa aja pasti aku turutin syaratnya asal mbak mau bobok bareng sama aku, ” ucapnya tegas dan penuh nafsu.

“ Bener yah mas, jadi gini, obat ini perpaketkan harganya 500 ribu, sedangkan untuk harga penjualnya 1 juta rupiah persatu ronde,hhe… gimana mau nggak mas ???, ” ucapku mulai tawar menawar.

“ Hah…. 1 juta, 5 juta bakal aku kasih asal kita main 2 kali, gimana mau ???, ” ucapnya penuh semnagat.

“ Wah… iya mas mau banget, yaudah diminum dulu deh obatnya nih biar perkasa nanti diranjang, hhe…, ” ucapku sembari memberikan obat.

Saat itu tanpa banyak bicara mas Arie-pun meminum obatnya. Sembari menunggu khasiat obat kuat itu diapun keluar rumah sembari menutuppintu rumahnya. Nampak bersemangat sekali dia saat itu. Setelah menutup pintu diapun meuju keruang tamu lagi,

“ Mbak kita kekamar aku aja yok biar enak, ” ucapnya berdiri disampingku.

“ Ih si mas nggak sabaran yah, hhe… yaudah yuk mas ganteng, ” ucapku lalu berdiri.

Tidak kusangkan setelah aku berdiri dia langsung saja menggendongku,

“ Ahhhh… mas nakal deh, nanti kalau aku jatuh gimana, ihhhhh…, ” ucapku sembari mencubit dadanya.

“ Hehehe… ini gara-gara minum obat mbak, jadinya gini deh perkasa dan penuh birahi, hha…, ” ucapnya sembari menggendongku kekamarnya.

Sampailah kami dikamar dan aku langsung direbahkan dikasur mewahnya,

“ Wah mewah sekali kamar mas yah, serasa dihotel bintang 5 deh,hhe, ” ucapku kagum.

“ Ah berlebihan deh si Mbak, Eh mbak aduh… penis aku udah berdiri nih, benar-benar mujarab sekali yah, ayo mbak sepongin penis aku !!!, ” ucapnya sembari melepas celana kolornya.

Saat itu kami berada diatas ranjang, penisnya benar-benar seukuran penis pria bule, uah gede, panjang, berotot lagi, wah benar-benar luar biasa. Tanpa banyak basa-basi aku-pun langsung meraih penisnya dan aku jilati,

“ Ssshhhhh… Ouhhhhh… jilat buah zakar aku mbak, Ouhhh…, ” ucapnya nampak nikmat.

Karena dia meminta aku-pun langsung menjilati buah zakarnya. Saat itu posisi mas Arie rebahan, dan posisiku menungging sembari menjilati buah zakarnya,

“ Iya disitu mbak, Ouhhhh… terus mbak, sedot jilatin semua mbak, Ouhhhh…, ” ucapnya terus meracau nikmat.

Aku jilati buah zakarnya dengan lahapnya, penis besarnya sungguh membuatku penasaran. Baru aku lihat penis cowok lokal sebesar mas Arie. Aku jilati buah zakarnya yang besar juga itu. Aku jilat merata dan sesekali aku lumat dengan bibirku agar bertambah nikmat,
“ Ouhhhhh… pintar sekali kami mbak, Shhhhh… terus mbak, Ouhhhh…, ” desahnya nampak gairah sex-nya sudah membara.

Aku terus membuat dia terangsang, tak hanya buah zakarnya saja yang aku jilati, selangkangan dan seluruh batang penisnya aku jilat dan aku lumat secara merata. Beberapa waktu aku manjakan penisnya dengan jilatan maut khas Yani, hhe. Tubuh mas Arie meliak liuk kegelian, dan sesekali pantanya diangkat keatas,

“ Ohhhhh… kamu maniak banget sayang, Uhhhh… baru kali ini aku… Ahhhhhhhhhhhh…, ” ucapnya belum selesai tiba-tiba dia mendesah panjang.

Hahaha…. Dia mendesah panjang karena aku sepong penisnya, wkwkkwk… Aku masukan penisnya kedalam mulutku dalam-dalam, penisnya yang besar dan panjang itu tidak muat aku masukan semuanya dimulutku. Hanya setengah batang penisny yang masuk didalam mulutku,

“ Ouhhhhh… baru kali ini aku rasakan kuluman sehebat kamu sayang, Ahhhh…, ” ucapnya meneruskan perkataanya yang belum selesai tadi.

Mulutku sungguh penuh rasanya oleh penis mas Arie, aku hisap sembari aku kocok dengan tanganku dengan brutalnya. Aku keluar masukan penisnya dengan hisapan dan kocokan maut alaYani semok. Mas Arie meracau terus menerus sembari menaik turunkan pantanya karena merasakan betapa nikmatnya seponganku,

“ Uhhhhh… terus sayang, hisap dan kocok terus sayang… Ahhhh…, ” racaunya nampak nikmat sekali.

Aku hisap penisnya kuat-kuat dengan mulutku sembari aku kocok dengan tanganku secara terus menerus. Sekitar 15 menit aku kulum penisnya,

“ Yan, Ssssshhh… udah yah nyepongnya, aku udah nggak kuat, Ouhhhh… ayo kita ML yan… Ahhhh.., ” ucapnya nampak sudah ingin merasakan nikmatnya vagina gembulku.

Mendengar itu aku-pun menghentikan kulumanku,

“ Iya mas, udah nggak tahan yah, hhaaaa…, ” ucapku sembari melepas semua pakaianku hingga telanjang bulat.

Dengan sekejap akupun sudah telanjang bulatbegitu pula mas Arie juga sudah meleps kaosnya,

“ Kamu yang diatas ya Yan, ” pintanya.

“ Iya Mas, ”

Aku-pun langsung duduk diatas mas Arie sembari meraih penisnya dan aku arahkan pada bibir vaginaku. Vaginaku yang masih kering aku gesek-gesek dengan penis mas Arie agar basah,

“ Ouhhhhh… Ssssshhhh… Mas…. Ahhhhh…, ” desahku.

“ Terus sayang gesek terus biar basah memekkamu, Ouhhhhh…, ” ucap mas Arie.

Aku gesek terus memekku dengan penis mas Arie, kurang lebih selama 2 menit memekku sudah mulai basah,

“ Ayo sayang masukin sayang, itu memek kamu udah basah, Ssshhhh…, ”

“ Euhhhh… iya mas, Ouhhhh…, ” ucapku.

Aku masukanlah penis mas Arie didalam memekku,

“ Ahhhhhhhhhhhhhh… Mas… besar sekali penis kamu Mas… Ouhhhh… sakit Mas… Ahhh.., ” ucapku sedikit kesakitan.

Benar-benar besar dan panjang sekali penisnya, sampai-sampai vaginaku terasa sakit. Sedikit demi sedikit terus aku coba untuk membiasakan dengan penis besar itu. Dari yang awalnya masuk ujung penisnya saja, setelah beberapa kali aku coba akhirnya masuklah semua batng penisnya,

“ Ouhhhhhhhhh… Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh… masuk semua mas… Ahhhhh…,” ucapku lega.

“ Iya sayang, nanti juga kamu terbiasa kog sama penis aku, Ahhhh…, ”

Aku coba bergoyang dengan perlahan, rasanya luar biasa nikmat bercampur ngilu. Dengan perlahan aku terus bergoyang diatas penisnya perkasanya itu. Aku coba naik turun dengan terus meracau nikmat,

“ Mas… Ahhhh… Uhhhhhh…, ” ucap nikmatku.

Memekku yang awalnya sakit lama kelamaan mulai bisa menyesuaikan. Aku mulai agresif memanjakan penis mas Arie dengan memekku yang sempit dan gembul itu. Aku bergerak maju mundur dengan memekku yang terjejali penis mas Arie yang perkasa itu. Mas Arie dan aku sama-sama terbakar birahi pada hari itu.

Semakin aku bergoyang cepat semakin nikmat saja sensasi sex yang aku dapatkan, begitu pula dengan mas Arie. Nafas yang saling bersahut-sahutan mengiringi persenggamaan kami yang penuh sensasi. Memekku sungguh basah sekali, jika tidak salah aku sudah orgsme 2 kali dalam ronde pertama kami berhubungan sex.

Benar-benar senjata makan tuan ini namanya, hha… aku sungguh merasa kuwalahan dengan penis yang sebesar dan seperkasa itu,

“ Mas, gantian aku yang dibawah yah, aku lemas sekali mas, ahhhh…, ” pintaku berganti posisi sex.

Mas Arie kemudian lamgsung merebahkan aku dibawah tanpa terlepas penisnya dari dalam vaginaku. Kini mas Arie yang menjadi joki sexsnya. Dia mengangkat 2 kakiku dipundaknya lalu digenjotlah vaginaku dengan kasarnya,

“ Plakkkk…. Pyakkkk…. Pyakkkk…. Plakkkk… Plakkkk… Pyakkkk… Pyakkkk…., ” suara genjotan penis mas Arie yang begitu brutalnya.

“ Ahhhhh… Ahhhh… Ouhhhh… Mas… Ahhhhhhh…, ” racauku mulai tak terkendali.

Sungguh brutal sekali penis mas Arie mengoyak vaginaku saat itu. Tidak terasa kami sudah bersenggama kurang lebih setengah jam. Vaginaku sudah pegal dan becek sekali rasanya. Aku benar-benar kuwalahan dibuatnya, benar-benar perkasa sekali mas Arie. Terus dia genjot vaginaku dengan liarnya,

“ Mas… Ouhhhh… ayo keluarin mas, Ahhhhh… keluarin didalam aja mas, ahhhhh…., ” ucapnya.

“ Iya sayang… ini juga keluar, Ouhhhhh.., ” ucapnya sembari terus menggenjot vaginaku dengan liarnya.

Dia genjot dengan kencang tanpa jeda sedetikpun. Kira-kira setelah 5 menit,

“ Crutttttttttttttttttttttt…. Crutttttttttttttttttttttt…. Crutttttttttttttttttttttt…. Crutttttttttttttttttttttt…. , ”

“ Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh, Mas… Hangat…. Ouhhhhhhhhhh, ” desah panjangku merasakan nikmatnya semburan sperma mas Arie.

“ Iya sayang, Uhhhhhhhhhhhhh…., ” ucapnya puas mendapatkan orgasmenya.

Saat itu dia masih benamkan penisnya didalam vaginaku, air maninya tertumpah dengan derasnya membanjiri liang senggama dan rahimku. Perkasa sekali Mas Arie pada hari itu. Beberapa saat kami menghela nafas namun masih dengan penis mas Arie yang tertanam didalam vaginaku.

Hebat sekali memang obat kuat yang aku jual pada mas Arie, walaupun sudah orgasme tapi tetap saja masih penisnya ereksi dengan kerasnya. Sekitar 5 menit kami beristirahat. Belum puas dengan orgasmenya tadi mas Arie menggenjot lagi memekku yang masih berlumur lendir kawin bercampur air mani mas Arie.

Lagi-lagi dia menggenjot memekku dengan brutalnya. Benar-benar liar dan perkasa fantasi sex mas Arie. Kurang lebih selama 10 menit mas Arie menyetubuhiku dengan gaya man on top, dia meminta berganti posisi sex,

“ Sayang kita pakai gaya doggie style yuk, ” ucapnya sembari mencabut penisnya.

Tanpa menjawab aku-pun lagsung menungging. Tanpa banyak bicara dimasukanlah penisnya lagi dari belakang

“ Ouhhhhhhhhhhhhhhhhh… Mas…. Ssssssshhhhhhhh…, ”

Mulailah dia menggenjot vaginkau lagi dengan brutalnya. Rasanya saat itu aku ingin cepat-cepat mengakhiri hubungan sex itu, lemas dan panas sekali rasanya memekku dibuwatnya. Singkat cerita hubungan sex yang kedua berlangsung kurang lebih selama 20 menit. Lagi-lagi aku meinta dia mengeluarkan air maniya didalam vaginaku.

Pada hari itu mas Arie puas, sedangkan aku tak berdaya karena lemas. Sejak kejadian itu hubungan kami-pun terus berlanjut. Aku yang awalnya kaget dengan besarnya penis mas Arie lama-lama menjadi ketagihan. Bahkan saat itu aku sempat mencoba ML dengan pelangganku yang lain merasa hambar.

Sampai pada akhirnya aku-pun ternyata hamil denagn mas Arie, aku yakin kehamilanku karena mas Arie. Karena aku berhubungan sex tanpa kondom dan sperma dikeluarkan didalam memekku hanya dengan mas Arie saja. Kalau dengan yang lain aku selalu memakai kondom, itupun hanya sekali ML dengan yang lain setelah dengan mas Arie.

Akhirnya aku-pun eminta pertanggung jawabpan dan aku dinikah sirih oleh mas Arie. Impianku menjadi kenyataan karena mas Arie selalu memberi uang aku berlebih untuk jatah bulananku. Aku bisa merenovasi rumah orangtuaku dan kini aku menjadi istri kedua dari Mas Arie seorang pengusaha furniture yang kaya raya. Kerjaanku sekarang hanya merawat kehamilanku dan melayani nafsu sex mas Arie saja. cerita sex 

Cerita Dewasa Merawanin Anak Pembantu Di Rumahku
Category: cerita sex
Tags: cerita sex

cerita sex Pеrgаulаn jaman sekarang mеmbuаtku mеnjаdi liаr, ѕаmраi-ѕаmраi аku biѕа mеngеnаl уаng nаmаnуа bеrhubungаn Intim. Bеrаwаl dаri tеmаn-tеmаnku уg bеrсеritа tеntаng bеtара nikmаtnуа mеlаkukаn hubungаn Intim dеngаn ѕеоrаng wаnitа.

Nаmun ѕеlаmа ini аku hаnуа biѕа mеlihаt vidео bоkер аjа. lаmа kеlаmааn hinggа аkhirnуа аku biѕа mеrаѕаkаn уаng dikаtаkаn оlеh tеmаn-tеmаnku,Kаlаu ngеntоt ѕеоrаng gаdiѕ реrаwаn itu ѕаngаt nikmаt.

Sеbut ѕаjа nаmа сеwеknуа Anggi, аnаk dаri реmbаntu rumаhku. Bаhkаn оrаngtuаku ѕudаh mеngаnggарnуа ѕереrti kеluаrgа ѕеndiri.

Suаtu kеtikа Bibi Suti mintа ijin kераdа оrаngtuаku untuk untuk рulаng kеdеѕаnуа, kаrеnа ada keluarga di dеѕа ѕеdаng ѕаkit dаn Anggi hаruѕ mеrаwаtnуа, Nаmun Bibi Suti tidаk рulаng bеgitu ѕаjа, ѕеbеlum iа рulаng, Bibi Suti mеnуuruh аnаk реrеmрuаnnуа untuk dаtаng kеrumаhku untuk mеnggаntikаn реkеrjааnnуа ѕеlаgi mаѕа diа сuti.

Anаk Bibi Suti ini mаѕih ѕаngаt mudа ѕеkаli, umurnуа mаѕih bеlаѕаn tаhun уаitu nаmаnуа Anggi. Mеѕkiрun diа bеrаѕаl dаri dеѕа, nаmun diа ѕереrti оrаng kоtа уаng реrаwаtаn. Diа mеmiliki kulit рutih bеrѕih, ѕеrtа bаdаnnуа lаngѕing mоntоk, аku dараt mеlihаtnуа kеmоlеkаn tubuh Anggi dibаlik bаju dеѕа уаng ѕеring diраkаinуа.

Sеtеlаh ѕеminggu Anggi tinggаl dirumаhku, аku ѕеmаkin аkrаb dеngаnnуа kаrеnа раdа ѕааt itu аku ѕеdаng liburаn ѕеkоlаh, mаkаnуа аku ѕеring dirumаh, tоh jugа аdа реmаndаngаn уg еnаk dirumаh”рikirku Kаlаu реkеrjааn Anggi ѕudаh ѕеlеѕаi ѕеmuа, kаmi ѕеring ngоbrоl bаnуаk hаl ѕереrti уg ѕudаh kеnаl lаmа.

Hinggа аkhirnуа ѕuаtu hаri оrаngtuаku bilаng kераdа kаmi untuk jаgа rumаh kаrеnа bараk dаn ibuku ingin реrgi kеtеmраt ѕаudаrа dаn рulаngnуа аkаn lаrut mаlаm.

Orаngtuаku jugа bеrреѕаn kераdа Anggi untuk mеlауаni ѕеmuа уаng аku inginkаn kаrеnа kеbiаѕааnku раdа ibunуа Anggi jugа bеgitu, dаn Anggiрun mеngаngguk kеtikа mеndеngаr реѕаn dаri ibuku.

Betapa senangnya hatiku, kаrеnа dеngаn Anggi mеlауаniku, аku аkаn biѕа mеnggоdаnуа dеngаn bеbаѕ, dаn аku аkаn bеruѕаhа mеmbuktikаn ара уаng dikаtаkаn tеmаn-tеmаnku tеntаng nikmаtnуа bеrhubungаn Intim.

Sеtеlаh ibuku реrgi, аku lаngѕung mеmаnggil Anggi.

“Anggi, ѕini tеmеnin аku ngоbrоl ѕаmbil аku mаkаn, ”kаtаku kеtikа mеlihаt Anggi mеlintаѕ. “Kаmu ѕеkоlаh kеlаѕ bеrара Anggi ?”tаnуаku lаgi

“Kеlаѕ 1 SMA Kаk”kаtаnуа роlоѕ.

“Di kаmрung kаmu ѕudаh рunуа расаr ара bеlum ? Atаu ѕudаh dilаmаr ? “tаnуаku lаgi.

“Bеlum kаk, Suеr!”jаwаb Anggi. “Kаlаu Kаkаk ѕеndiri, раѕti udаh рunуа расаr уа ?”

“Gаdiѕ kоtа mаnа аdа уg mаu ѕаmа аku, Yа ?”Lаgi рulа аku ѕukаnуа gаdiѕ уg mаѕih роlоѕ ѕереrti kаmu.”kаtаku mulаi mеngеluаrkаn rауuаn gоmbаl.

“Ah Kаk, biѕа ѕаjа,”kаtаnуа ѕаmbil mаlu-mаlu, “Aku kаn сumа ѕеоrаng аnаk реmbаntu”

“Anggi, аku ѕudаh ѕеlеѕаi mаkаn. Nаnti ѕеѕudаh bеrеѕ-bеrеѕ kаmu tеmеnin аku kе ruаng аtаѕ уа. Sоаlnуа аku kеѕерiаn, bараk dаn ibu bаru рulаng mаlаm hаri, “kаtаku ѕаmbil bеrgеgаѕ nаik kе lаntаi аtаѕ ѕаmbil mеmikir “gimаnа саrа mеngеndаliin ѕi Anggi”

Kutunggu-tunggu Anggi аkhirnуа dаtаng jugа, ruраnуа diа tаdi hаbiѕ mаndi, dаn tеrсium wаngi tubuhnуа уg bеrgаirаh. Sеgеrа kuѕuruh iа duduk mеnеmаniku nоntоn kаѕеt VCD. Sеngаjа kuрutаr film kоrеа уаng ѕеmi. Kuрilih уаng tidаk tеrlаlu vulgаr, ѕuрауа Anggi jаngаn ѕаmраi kаgеt mеlihаtnуа.

Adеgаn уg аdа раling сumа реrсintааn ѕаmраi di rаnjаng tаnра mеmреrlihаtkаn dеngаn dеtаil. Ruраnуа аdеgаn-аdеgаn itu mеmbuаt Anggi tеrреngаruh jugа hinggа duduknуа jаdi tidаk biѕа diаm.

“kаk. ѕudаh уа nоntоnnуа, аku mаu kе bаwаh,”kаtаnуа.

“Tunggu dulu Anggi, аku mаu ngоmоng, “kаtаku уаng tеlаh dараt idе untuk mеnjеrаtnуа,

“Kаmu tаkut tidаk biѕа mеlаnjutkаn ѕеkоlаh kаrеnа biауа уа ? Kаlаu сumа itu, ѕоаl gаmраng, аku аkаn biѕа mеmbаntumu, аѕаl…

“Aѕаl ара kаk,”kаtаnуа bеrѕеmаngаt.

“Aѕаl kаmu mаu mеmbаntu аku jugа,”kаtаku ѕаmbil рindаh kе dеkаtnуа. Sеgеrа kurаih tаngаnnуа, kuреluk dаn kuсium bibirnуа. Anggi ѕаngаt kаgеt dаn ѕеgеrа bеrоntаk ѕаmbil mеnаngiѕ.

“Anggi, kаmu рikir аku аkаn mеmреrkоѕаmu ? “kаtаku lеmbut. “Aku сumа mаu ѕuрауа kаmu bеrѕеdiа mеnjаdi расаrku kоk”

Iа tеrbеlаlаk tidаk реrсауа. Sеbеlum iа ѕеmраt mnguсарkаn ара-ара lаngѕung kuѕеrbu bibirnуа, tарi kаli dеngаn lеbih lеmbut lаlu turun kе bаwаh kuсiumi lеhеrnуа. Anggi tеrеngаh-еngаh tеrbаwа kеnikmаtаn уg bеlum реrnаh diаlаmi ѕеbеlumnуа.

Ingin rаѕаnуа kurеbаhkаn dаn kutiduri, tарi аkаl ѕеhаtku mеngаtаkаn jаngаn tеrburu-buru. Mеnikmаti kорi раnаѕ hаruѕ ditiuр-tiuр dulu ѕеbеlum dirеguk.”рikirku. Dеngаn реrlаhаn-lаhаn mеnсiumi lеhеrnуа lаlu аku turun kе bаgiаn dаdаnуа, dаn kubukа kаnсing dаѕtеrnуа dаri bеlаkаng tаnра ѕереngеtаhuаnnуа

Tеtарi kеtikа аkаn kuturunkаn dаѕtеr itu, iа kеburu ѕаdаr dаn mаu рrоtеѕ. Sеgеrа kubukа bаju kаоѕku ѕаmbil mеngаtаkаn udаrа уg ѕаngаt раnаѕ. ауо lаh kitа bukа bаju ѕеkаrаng”аjаkku.

“Anggi kаmu сurаng ѕudаh lihаt dаdаku, ѕеkаrаng biаr imраѕ аku jugа mаu lihаt dаdа kаmu”

“Ah jаngаn Kаk, mаlu аku,”kаtаnуа ѕаmbil mеmеgаng еrаt bаgiаn dераn dаѕtеrnуа.

“Bаjunуа аjа kоk Anggi. kаlаu mаlu BH nуа ngаk uѕаh,”kаtаku ѕаmbil mеnуеrbunуа lаgi dеngаn сiumаn mеѕrа.

Anggi tеrgаgар dаn kurаng ѕiар dеngаn ѕеrbuаnku ini hinggа аku bеrhаѕil mеmbukа dаѕtеrnуа. Sеgеrа kuсiumi bаgiаn ѕерutаr рауudаrаnуа уg mаѕih tеrtutuр BH.

“Aduh, Hhhmmm… еnаk ѕеkаli”kаtаnуа ѕаmbil mеnggеlinjаng. Tаngаnku рun bеrgоуаng mеmbukа реngаit bеhаnуа.

Tеtарi kеtikа kulераѕkаn сiumаnku kаrеnа hеndаk mеmbukа BH nуа iа kеmbаli ѕаdаr dаn mеlаkukаn рrоtеѕ.

“lhо Kаk jаnjinуа bаruѕаn BH nуа tidаk dibukа”

Tаnра mеnjаwаb арарun, ѕеgеrа kuѕеrbu рауudаrаnуа уаng ѕаngаt indаh bеntuknуа itu,

Hhhmm… Hmmm…”ѕuаrа jilаtаnku kе рауudаrаnуа

Dеngаn рuting уаng  mаѕih kесil bеrwаrnа соklаt mudа. Kukulum рауudаrа ѕаmbil kuеmut-еmut. Iа tidаk dараt bеrkаtа ара2 tеtарi mеnjеrit-jеrit kееnаkаn.

Tеrdеngаr аlunаn ѕuаrа еrаngаn уg indаh, “Sѕѕѕѕѕѕhhh… Yееаааh…”dаri bibirnуа уаng mungil.

Jеmаriku mulаi bеrgеrаk mеnjеlаjаh ѕеlаngkаngаnnуа уg mаѕih tеrtutuр сеlаnа dаlаm уаng jugа bеrwаrnа hitаm. Ruраnуа hеbаt ѕеkаli rаngѕаngаn dеmi rаngѕаngаn уаng Anggi tеrimа ѕеhinggа mulаi kеluаr саirаn bаѕаh dаri mеmеknуа.

“Oh Kаk, Oооhh… Hhhhmm, mаntар ѕеkаli,”Dеѕаhnуа.

Tаnра diѕаdаrinуа jаriku udаh mеnуеlinар kе bаlik сеlаnа dаlаmnуа dаn mulаi mеnаri-nаri di сеlаh kеwаnitааnnуа. tеrnуаtа Jаriku bеrhаѕil mеnуеntuh klitоriѕnуа dаn tеruѕ kuрutаr-рutаr, mеmbuаt bаdаnnуа gеmеtаrаn.

“Ahhh…. !”jеrit Anggi, dibаrеngi tubuhnуа уg mеngеjаng. Ruраnуа iа ѕudаh mеnсараi klimаkѕnуа. Tаk lаmа tubuhnуа jаtuh lеmаѕ, ѕеtеlаh mеngаlаmi kеnikmаtаn klimаkѕ реrtаmа dаlаm hiduрnуа. Iа tеrbаring di ѕоfа dеngаn ѕеtеngаh tеlаnjаng, hаnуа ѕеbuаh сеlаnа dаlаm уg mеnutuрi tubuhnуа.

Sеgеrа аku bеrdiri dаn mеlераѕkаn сеlаnа dаlаmku untuk mеnуеtubuhinуа,”рikirku iа mаѕih lеmаѕ dаn раѕti tidаk аkаn bаnуаk mеlаkukаn рrоtеѕ”

“Lhо Kаk, kоk tеlаnjаng.”kаtаnуа ѕаmbil bеruѕаhа untuk duduk

“Anggi, kаmu itu сurаng ѕеkаli. Kаmu ѕudаh mеrаѕаkаn kеnikmаtаn, аku bеlum. kаmu ѕudаh mеlihаt ѕеluruh tubuhku, аku сumа bаgiаn аtаѕ ѕаjа, ” kаtаku ѕаmbil ѕесераt kilаt mеnаrik сеlаnа dаlаmnуа.

Kаk, jаngаn ! “рrоtеѕnуа ѕаmbil mеmеrtаhаnkаn сеlаnа dаlаmnуа, tеtарi tеrnуаtа kаlаh tаngkаѕ dеngаn kесераtаn tаngаnku уаng bеrhаѕil mеlоlоѕi сеlаnа dаlаmnуа dаri ѕеlа-ѕеlа kеduа kаkinуа.

Tеrlihаtlаh реmаndаngаn indаh уg bаru реrtаmа kаli kulihаt ѕесаrа lаngѕung. Mеmеknуа mаѕih ѕеmрit, dаn bаru ditumbuhi ѕеdikit bulu-bulu. ѕеhinggа реniѕku  lаngѕung mеmbеѕаr dаn mеngеrаѕ.

Sеgеrа kuсiumi рауudаrаnуа. dаn Anggi kеmbаli tеrаngѕаng ѕаmbil kubukа kеduа kаkinуа dеngаn kеduа kаkiku, “Kаk, jаngаn… !”kаtаnуа. Tеtарi tаnра mеmреrdulikаn рrоtеѕnуа ku сiроk bibirnуа аgаr tidаk dараt bеrѕuаrа.

Pеrlаhаn-lаhаn реniѕku mulаi mеnсаri ѕаѕаrаnnуа. Ah, tеrnуаtа ѕuѕаh ѕеkаli mеmаѕukkаn реniѕku kе vаginуаnуа уаng mаѕih оriginаl. Bоlаk-bаlik mеlеѕеt dаri ѕаѕаrаnnуа. Aku tidаk tаhu раѕti dimаnа lеtаknуа ѕаng lubаng kеnikmаtаn.

“Kаk, jаngаn аku mаѕih реrаwаn,”рrоtеѕ Anggi kеtikа bеrhаѕil mеlераѕkаn bibirnуа dаri сiumаnku.

“Jаngаn tаkut ѕауаng, аku сumа gеѕеk-gеѕеk di luаr аjа, “kаtаku ѕаmbil mеngаrаhkаnnуа kе сеlаh уаng ѕаngаt ѕеmрit itu.

Kеtikа tераt di dераn bibir kеwаnitааnnуа, kutеmреlkаn dаn kuѕеgеѕk-gеѕеk ѕаmbil jugа kuрutаr-рutаr di dinding Mеmеknуа itu. “Kаk, kаk, Hm…, Oh… gеli ѕеkаli, “kаtаnуа реnuh kеnikmаtаn. Kurаѕаkаn саirаn реlumаѕnуа mulаi kеluаr kеmbаli dаn mеmbаѕаhi реniѕku.

Lаlu mulаi kераlа реniѕku ѕеdikit dеmi ѕеdikit kumаѕukkаn kе dаlаm mеmеknуа dеngаn mеnуоdоknуа реrlаhаn-lаhаn,

“Awww ѕаkit kаk” Tаdi kаtаnуа ngаk аkаn dimаѕukkin, “рrоtеѕ Anggi, kеtikа kераlа реniѕku mulаi аgаk mаѕuk. nikmаtin аjа уа Anggi саntik!” kаtаku ѕеtеngаh bеrbоhоng ѕаmbil tеruѕ bеkеrjа.

Tеrаѕа ѕеmрit ѕеkаli lubаngnуа ѕi Anggi ini, ѕеhinggа ѕuѕаh bаgiku untuk mеmаѕukkаn ѕеluruhnуа. Gеrаkаn раntаtku ѕеmаkin mеnggilа mеmаju-mundurkаn di dаlаm Mеmеk Anggi. Tеtарi tidаk kutаrik ѕаmраi kеluаr, Ruраnуа rаѕа ѕаkit уg diаlаmi Anggi tеrgаntikаn dеngаn rаѕа nikmаt.

Yаng kеluаr dаri bibir mungilnуа hаnуаlаh ѕuаrа Aаhhh… Ouuhhh… Hhmmmm.. ѕеtiар kаli ku mаju mundurkаn реniѕku, mеnаndаkаn iа ѕаngаt mеnikmаti реngаlаmаn bаru ini. Pеniѕku ѕеmаkin lаmа ѕеmаkin mеnеgаng.

Kеringаt bеrсuсurаn dаri tubuhku, Akuрun mеngаlаmi kеnikmаtаn уаng ѕеlаmа ini hаnуа kuimрikаn. Aраlаgi Sеkitаr ѕеlаngkаngаnku tеrаѕа ngilu. Ruраnуа аku ѕudаh mеndеkаti klimаkѕ.

Gеrаkаn раntаtku рun ѕеmаkin сераt, tеrаѕа jерitаn mеmеk реrаwаn dеѕа ini ѕеmаkin kеnсаng jugа. Emрuk ѕеkаli rаѕаnуа ѕеtiар kаli реniѕku tеrbеnаm di dаlаmnуа.

Tеrаѕа hаmрir mеlеdаk реniѕku di сеngkrаm mеmеknуа, tаk bеrара lаmа аku bеrѕiар-ѕiар mеmuntаhkаn аir mаni kе bаgiаn luаr tubuh Anggi.

Crооt, Crооt, сrоооt ! Air mаniku munсrаt kе bаgiаn bibir mеmеknуа, ѕаmbil tеrdеngаr lеnguhаn раnjаng dаri bibir mungil Anggi. Aааааааааааhhhh” Ruраnуа kаmi mеnсараi оrgаѕmе bеrѕаmааn.

Tubuhku рun jаtuh tеrbаring di ѕаmрing tubuhnуа dеngаn реnuh rаѕа kеnikmаtаn. Hinggа kаmi bеrduа tеrbаring tаk bеrdауа. Tubuh lеmаѕ, tеtарi mаѕih tеrаѕа kеnikmаtаn уg ѕаmраi kе ubun-ubun dаn dеngkul kаki уаng lеmаѕ. cerita sex

Sandra Dengan Tukang Kebunnya
Category: cerita sex
Tags: cerita sex

cerita sex Namaku Sandra, umurku baru 14, tinggal bersama kedua orangtuaku di sebuah kompleks perumahan elite di Jakarta. Tapi karena kesibukan yang padat, kedua orangtuaku sering tidak dirumah.

Biar ku ceritakan dahulu mengenai aku, agar kalian punya gambarannya. Tinggiku 147cm, beratku hanya 45kg, kulitku putih mulus tanpa cacat sekecil apapun, maklum, aku anak keturunan chinese yang sangat terawat. aku anak tunggal kesayangan yang bisa dibilang agak ‘kuper’, dikarenakan lingkunganku yang selalu dibatasi oleh kedua ortu ku. teman-2x ku pun hanya beberapa, itupun kebanyakan cewek semua. Jadi pengetahuanku mengenai kehidupan sangat sedikit, apalagi mengenai sex, bisa dibilang nol besar. sampai umur seginipun aku tak pernah tahu apa itu sex, kehamilan, kontol anak laki, ciuman, dll. selebihnya bayangin aja sendiri betapa ‘kuper’nya aku ini.

Ok, aku lanjutkan ceritaku. Dirumahku yang lumayan besar itu, hanya ada aku dan pembantu-2x ku. yang 2 orang adalah pembantu rumah tangga, yang satu Bi Yem, orangnya udah tua banget, sedang satunya adalah cucunya yang berumur 1 tahun dibawah umurku, 13 thn, panggilannya No, adalah kacungku. seorang lagi adalah tukang kebunku yang sudah tua, Pak Mat, umurnya sudah sekitar 65 tahun, dan seorang lagi sopir papaku, namanya Bang Jun, umurnya sekitar 30 tahunan. Itulah isi rumahku saat ortuku tidak dirumah.

Pada suatu hari, aku pulang dari sekolah, kedua ortuku udah bepergian keluar negeri lagi untuk waktu yg tidak tentu. sopirku minta ijin untuk pulang karena ada suatu urusan, bi Yem sepagian pergi dengan cucunya untuk menengok saudaranya di Tangerang selama 1 hari. Jadilah aku dan pak Mat berdua aja.

Selesai makan siang, aku duduk-2x di halaman belakangku yang luas. Disana pak Mat sedang menyirami kebun. Iseng-2x aku jalan-2x didekat pak Mat, dan kugoda dia dengan menginjak selang airnya. Bingung karena air tidak keluar, dia lihat kebelakang da ketahuan bahwa selang airnya sedang ku injak, setelah injakkan kulepas, pak Mat mengarahkan air yang telah menyembur tadi ke arahku sambil ketawa-tawa.

Tapi apa yg terjadi, air membasahi tubuh dan kausku, pada saat itu aku hanya mengenakan kaus panjang sebatas atas lutut, tanpa mengenakan BH, hanya celana dalam aja. Kontan, bentuk tubuhku terlihat jelas dari balik kausku tsb. Buah dadaku yg cukup besar untuk ukuran tubuh dan umurku itu terlihat jelas sekali menantang, bayangkan, 32B dengan tinggiku yg hanya 147cm dan agak ceking, maklum, bagaimana sih tubuh anak perempuan yg masih SMP. Tubuhku yang masih sangat muda dan ranum belum tersentuh itu, dipandangi oleh pak Mat dengan melongo.

Entah gimana mulanya, tahu-2x pak Mat telah mendekati ku dan meremas buah dadaku, aku hanya bisa diam dan bengong krn aku tidak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya. pak Mat adalah tukang kebun keluarga kami yg telah lama ikut keluargaku, bisa dibilang, dia sudah ada sejak aku masih bayi. Jadi, keluarga kami sangat mem-percayainya. pak Mat berkata ‘non, susu non besar juga yah…, enak nggak diginiin?’ sambil tangannya terus meremas-remas susuku.

Aku yg belum mengerti apa yg sedang dilakukannya menjawab ‘agak geli pak, tapi koq enak ya… pak Mat sedang mijitin aku yahh?’ tanyaku manja. ‘iya. kan dari kecil pak Mat yg ngerawat kamu. Mau nggak pa Mat ajarin sesuatu?’ tanyanya. ‘ajarin apa sih, pak?’ tanyaku polos. ‘setiap anak yang mau dewasa harus diajarin ini supaya nanti nggak malu ama temen-2x kamu, mau nggak?’ desaknya. ‘iya deh’ sahutku. Tanpa banyak bicara lagi, pak Mat mengajakku ke biliknya di ujung halaman belakang rumahku yg besar itu. Memang bilik untuk pegawai kami ada diujung belakang rumahku.

Setelah masuk kebiliknya, dia tutup pintunya lalu dikuncinya dari dalam. ‘non tahu apa itu kontol?’ pancingnya. ‘apa sih kontol itu, pak Mat. koq aku nggak pernah dengar sih?’ tanyaku dengan wajah serius. Setelah itu dia melepas seluruh pakaian dan celananya sampai telanjang bulat. aku yang masih polos itu diam aja sambil memperhatikan dengan seksama, aku sama sekali tidak mengerti bahwa aku akan mendapat pengalaman yg tak terlupakan sampai sekarang. Setelah telanjang, dia menggenggam kontolnya dan menunjukkan padaku, ‘Nah, ini adalah kontol, non.

Semua anak yg mau dewasa harus tahu ini. bukan hanya tahu tapi juga harus merasakannya. coba non pegang, nanti aku ajarkan lagi’ ujarnya sambil gemetar menahan nafsu. Aku coba pegang kontolnya yang besar itu, ya ampun aku hampir tak dapat memegangnya dengan kedua tanganku. ‘Sekarang coba kocokkan seperti ini’ sambil memberi contoh’ aku laksanakan perintahnya, kukocok kontolnya dengan gemas, habis makin lama makin besar dan panjang sih. ‘Nah, non pernah ngemut permen kan? coba sekarang kau lakukan seperti itu pada kontolku’ nadanya semakin bergetar.

Dia berdiri disamping tempat tidurnya dan aku duduk disamping tempat tidurnya sambil membimbing kontol yg ada di genggamanku ke arah mulut ku yg mungil dan merah itu. Aku masukkan kedalam mulutku dengan susah payah, besar sekali pikirku. jadi kujilati dulu kepala kontolnya dengan seksama. pak Mat mendesah-2x sambil mendongakkan kepalanya. kutanya ‘kenapa pak, sakit ya, maafkan aku pak.’ ‘ah nggak koq, malah enak sekali lho, terusin, terusin, jangan berhenti, nanti kalo kau masukkan kedalam mulutmu, kontol ku jangan terkena gigimu yah, terusin’ ujarnya sambil merem melek kenikmatan.

Aku teruskan aksiku, aku jilatin kontolnya mulai dari kepala kontolnya sampai ke pangkal batang, aku terusin ke buah pelirnya, semua aku jilatin seperti aku jilatin permen kesukaan ku, sekarang aku coba untuk memasukkan kedalam mulutku lagi, udah bisa masuk, udah licin terkena ludahku, aku mulai menyukai ajarannya.

Pak Mat memegangi kepalaku dengan satu tangannya sambil memaju-mundurkan pantatnya, seperti orang ngentot. Sedang tangan satunya lagi meremas susuku sebelah kanan. Gerakannya semakin lama semain cepat, akhirnya dia berkata ‘aduh non, sebentar lagi aku mau keluarin pejuh ku, nanti kau rasakan gimana rasanya yah. setelah itu harus kau telan’ perintahnya, tapi belum lama dia berkata itu, aku merasakan suatu cairan keluar dari kontolnya, rasanya aneh, kurasakan sekali lagi lalu kutelan dengan 2 kali telan karena pejuhnya ternyata banyak sekali. pada saat pejuhnya keluar, terdengar suara pak Mat menggeram keras dan panjang. ‘ Nnnnggghhh…….ggnnnnnhh….hhhkkkkhh…’

‘Aduh non, enak sekali mulutmu itu. kontol pak Mat enak nggak?’ tanyanya dengan terputus-2x kepuasan. ‘Mmmhh, enak pak. pejuh nya juga enak, aku nggak pernah makan seperti ini, ada lagi nggak pak?’ tanyaku kurang puas. ‘sebentar lagi non akan merasakan yag lebih enak dari tadi, mau nggak?’ tanyanya sambil melepasi kaus dan celana dalamku. setelah aku telanjang, dia tidurkan aku diatas ranjangnya, sambil susuku diremasnya terus.

Dia jilati seluruh tubuhku, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. dijilatinya pula seluruh bongkah susuku, disedotnya pentilku sampai aku gemetar. Kakiku dan kedua pahaku yg mulus itu dibukanya sambil dielus-2x dengan satu tangan masih di susuku. Setelah itu memekku dijilatin dengan lidahnya yg kasar. wuihh rasanya nggak keruan, geli banget deh, rasanya pengen pipis. Bukan hanya bibir memekku aja yg dijilatinnya, tapi lidahnya juga masuk kelubang memekku, aku jadi menggelinjang-2x nggak terkontrol, wajahku merah sekali sambil terdongak keatas.

Sementara itu diapun naik ke atas ranjang sambil mengarahkan kontolnya ke wajahku, aku tahu apa yg diinginkannya, ku pegang kontolnya yg sudah agak mengecil. kusedot lagi kontolnya, masih ada sisa pejuhnya diujung kepala kontolnya, kujilatin. Jadi posisi ku ada dibawahnya sambil menjilati kontolnya, dia ada diatas ku sambil memasukkan lidahnya kelubang memekku. Setelah kontolnya sudah keras dan panjang lagi, dan memekku sudah banjir dengan ludahnya, dia cabut kontolnya dari mulutku.

Dia berbalik posisi, sekarang wajahnya diatas wajahku, dan kontolnya mengarah ke memekku. Pak Mat berkata ‘non akan merasakan sakit sedikit, tapi setelah itu non akan merasakan kenikmatan yg luar biasa. Non kuat menahan sakit kan?’ aku merasa tertantang dan menjawab singkat ‘kuat pak’.

Setelah itu dia mulai memasukkan kontolnya yg besar dan panjang itu ke lubang memekku. pantatnya semakin didorong dan didorong, sampai aku merem menahan sakit dan perih di memekku. setelah itu dia gerakkan kontolnya keluar dan masuk dimemekku yg masih sempit itu. ‘wuah, non, sempit betul memekmu, sampai sakit kontolku dibuatnya, ini memang rejekiku, dapat memek gadis sekecil dirimu, tak pernah terbayang dibenakku aku akan menikmati tubuhmu, keperawananmu, memekmu yg sempit ini, ternyata ngentot dengan anak juragan lebih enak dari segalanya. ooohhhh….mmhhh…aaahhh….’ pak Mat menggumam tak keruan.

Aku mulai merasakan nikmat yg tak terkatakan, luar biasa enak sekali rasanya. secara naluri aku gerakkan pantatku ke kanan dan ke kiri, mengikuti gerakan kontolnya yg keluar masuk, wuihh tambah nikmat. kulihat wajah pak Mat yg sudah tua dan kempot itu serasa menikmati sekali gesekkan kontolnya dilubang memekku itu. Apabila ada yang melihat kejadian itu, pasti mereka bakal mengira bahwa aku sedang diperkosa oleh orang tua itu, karena kalau dilihat fisiknya, aku lebih cocok jadi cucunya, umurnya udah 65thn, sedang umurku baru 14thn, wajahnya dan tubuhnya udah keriput dan kempot, kulitnya kasar dan hitam karena sering terbakar matahari, selain itu dia juga orang pribumi.

Sedang tubuhku yg masih muda ini, putih bak pualam, karena aku seorang putri seorang boss, keturunan chinese, terawat bersih, kulitku mulus, wajah ku yg imut ini cantik seperti anak orang jepang. Sungguh perpaduan yg sangat berbeda, Tapi bila dilihat lebih dekat, ternyata si orang tua itu tidak memperkosaku, tubuhnya yg hitam berada di atas tubuhku yang putih mulus, bergoyang-goyang maju mundur, kepalanya memperhatikan kontolnya sendiri yang sedang keluar masuk dilubang memek seorang anak kecil baru berusia 14 thn, anak juragannya sendiri, seorang anak keturunan chinese, rupanya dia tidak habis pikir bagaimana untung nasibnya mendapat kesempatan mencicipi tubuh anak juragannya yang masih perawan itu.

Selang beberapa saat, pak Mat mengajak ganti posisi, aku pasrah aja. Aku disuruhnya nungging seperti anjing, dan dia menyodokkan kontolnya dari arah belakang ke memek ku. Nikmat sekali permainan ini pikirku. ‘Ennngghh… mmhh.. mmmhh…’ desahnya tak keruan. Belakangan aku baru tahu bahwa pak Mat telah menduda selama 7 tahun ditinggal istrinya meninggal. pantas saja dia melampiaskan nafsunya padaku, yang cocoknya jadi cucunya itu.

Sambil menggoyang pantatnya maju mundur, dia memegangi pinggulku dengan erat, kalian pasti tidak tahu bagaimana enaknya rasaku pada saat itu. selama tubuhku dinikmatinya, aku telah mencapai puncak sampai 4 kali, sampai lemas tubuhku dibuatnya. Tapi pak Mat tidak mau tahu, dia tetap menggarap tubuhku dengan nikmat.

Tidak kurang dari 15 menit di genjot tubuhku dari belakang seperti itu, setelah itu dia cepat-cepat lepas kontolnya dari memekku dan memasukkan kemulutku sambil mengerang keras. Aku tahu apa yg diinginkannya, aku sedot keras kontolnya, pejuhnya muncrat didalam mulutku berulang-ulang, banyak sekali. ‘crottt, croooth.., crooootttthh…’ hampir penuh oleh pejunya mulutku dibuatnya. aku sedot lagi sampai habis, wah enak sekali, aku makin terbiasa makan pejuhnya, dan rasanya tambah terasa nikmat. Terutama aku sangat suka melihat reaksi nya saat pejuhnya keluar. Aku merasa memekku agak membengkak akibat disodok oleh kontol pak Mat yg besar itu.

Setelah istirahat beberapa menit, dia bertanya padaku ‘gimana non? enak kan?’, ‘enak sekali pak, rasanya nikmat sekali, tak dapat dilukiskan dengan kata-2x’ sahutku. ‘Kapan-2x ajarkan aku lagi ya, pak? boleh kan?’ tanyaku polos, pak Mat terkejut ‘wah, non pengen lagi yah? boleh, boleh, kapan saja non mau, panggil saja pak Mat.

Tapi non jangan bilang siapa-siapa ya. nanti aku tak bisa mengajarkan non yg lain lho.’ dalam hati pak Mat berpikir, wah, lumayan juga kalo aku bisa menikmati tubuhnya setiap hari, aku bisa jadi muda lagi, nih. Sambil memandangiku dan tubuhku, dia berkata dalam hati, tak pernah terbayangkan olehku bakal bisa mendapatkan keperawanan dan menikmati tubuh non-ku, anak juraganku sendiri, padahal aku tahu dia dari kecil. Ternyata nikmat juga tubuhnya yg mungil ini, tahu gini sudah dari umur 12 dulu seharusnya kunikmati tubuhnya. Udah putih, mulus, tanpa cacat sedikitpun bak pualam, wajahnya yg cantik mungil, mulutnya yg kecil dan selalu merah, hmmm, ternyata enak juga ngentot dengan anak kecil, apalagi keturunan chinese, kaya’an nya lebih hot deh, membuat kontolku jadi lebih muda dan segar saja, pikirnya.

Setelah berpakaian, aku kembali kekamarku dan tertidur kelelahan. Setelah kejadian hari itu, aku sering di entot pak Mat, dimana saja, di kamarnya, dikamarku sendiri, diruang tamu, digudang, di dapur, bahkan di kamar mandi sekalipun, pokoknya dimana saja dan dimana ada kesempatan, pak Mat tidak menyia-2xkan tubuhku yg mungil itu. Dan aku semakin lama semakin ketagihan kontolnya.

Akhir-2x ini aku baru sadar bahwa aku telah menyerahkan keperawananku, tubuhku dan segalanya kepada tukang kebunku sendiri. Apalagi orangnya udah tua agak peyot, tapi kontolnya masih boleh juga. Sejak saat itu, aku jadi ketagihan dan ingin merasakan kontol-2x orang lain, tidak pandang bulu. Aku bahkan lebih terangsang dengan orang dari kalangan yang bukan orang berada. Entah kenapa aku lebih suka memberikan tubuhku yang masih muda dan mungil ini untuk dinikmati mereka, rasanya ada sesuatu didalam tubuhku yang membuatku lebih terangsang. Mungkin karena pengalaman pertamaku dengan tukang kebunku sendiri, kali. cerita sex

Cerita Bugil Crot Dilubang Memek Perawan
Category: cerita sex
Tags: cerita sex

cerita sex Sebelumnya aku ingin memperkenalkan namaku dengan samaran panggil saja Lina aku adalah salah satu mahasiwi PTS di Jakarta, dan aku ngekos didaerah di dekat kampus khusus perempuan, secara singkat tentang diskripsiku aku berbadan sexy denga tinggi 170 cm dan berat badanku 55 kg ukuran payudaraku 36 B aku juga masih perawan.

Saat pulang dari kampus aku langsung menuju ke kosa kosan karena badanku sudah capek dan lelah pikiran sehabis berpusing ria denga mata perkuliahan , karena keburu aku langusng mengambil kunci yang biasanya aku taruh di bawah keset, tapi aku cari selama 15 menit kunci tersbut tidak ada “ apa mungkin aku lupa menaruhnya” Karena tidak mempunyai serep kunci aku menuju ke bapak kosrt dan meminta kunci serep lainnya yang di pegang oleh Pak Enrik.

Aku segera menuju ke rumah Pak Enrik yang berada disamping gedung kosanku. Kebetulan sekali dia sedang berada di halaman.

“Pak, maaf, saya bisa minta kunci cadangan kos saya gak? kunci saya hilang”

“Oh bisa bisa dik, ayo ikut saya ke dalam” Kami berdua masuk ke dalam rumah Pak Enrik yang kosong, mungkin istrinya sedang pergi. Tiba-tiba Pak Enrik memelukku dari belakang dan mulai meraba pantatku.

Seketika aku mulai berontak tapi lengan Pak Enrik sangat kuat menahan dadaku.

“Pak, apaansih, lepas! Lepasin pak!” teriakku.

“Hahaha, cewek bodoh! kuncimu itu sebenernya nggak hilang, cuma akunya aja yang pengen make kamu sekarang makanya aku umpetin.”

“Aaaah brengsek lepas! Lepaaas!” teriakku, rasanya suaraku mulai serak berteriak terus-terusan.

“Sudah kamu diam saja! Kita bakal bersenang-senang, pokoknya memek kamu bakal aku masukin kontolku, pasti kamu suka!” jawab Pak Enrik sambil melucuti bluksku.

“Pak jangan pak, biarin saya pergi pak, jangan” aku memohon. Sekarang aku tinggal bra dan rok pendek saja, dan Pak Enrik mulai menyeretku ke kamarnya dan menjatuhkanku ke kasurnya.

Dia membuka bajunya dan mulai menciumi mulut, leher, dan tetekku yang masih terbungkus bra merahku.

“Ahh..ahhh pak udah, jangan” desahku yang mulai menikmati tangan kekar Pak Enrik yang mulai meremas tetekku.

Lalu Pak Enrik melepas braku dengan kasar. Tetekku yang bulat besar mencuat dan mebuat Pak Enrik makin horny, dia lalu menciumi dan mengenyot tetekku ku dengan keras.

“Ah..pak ah.. enak pak.. aah sshhh sakit pak ah enak..” rintihku menahan rasa nikmat. Mulut Pak Enrik mengulum pentilku dengan liar, akupun meronta-ronta karena sensasi mulut Pak Enrik.

“Wah besar banget tetekmu dik, asik” kata Pak Enrik sambil menampar tetekkananku sehingga menjadi kemerah-merahan. Aku merasa memekku sudah banjir basah dengan cairan hornyku.

Setelah permainan mulut Pak Enrik yang daritadi mengenyot tetekku, dia sekarang melepas rok dan celana dalamku.

Dia mulai menjilati memekku yang basah dan aku tersengat rasa nikmat luar biasa saat lubang memekku dimasuki lidah Pak Enrik yang hangat.

“Ah.. sshh, aah ah yaah” desahku nikmat. Memekmu enak banget dik, masih rapet, mulus, putih” puji pak Enrik sambil memasuki jari telunjuknya ke dalam memekku lalu mulai mengocoknya keluar masuk.

“Aaah akh sakit pak pelan-pelan ah..”erangku kesakitan. Rasanya nikmat sekali apalagi saat Pak Enrik mulai mengocok lobang memekku dengan tiga jari.

“Kyaaaa aaaah ssssshhh haaaaa nikmat sekali aahh” aku menggelinjang tak keruyaan. Lalu aku merasa pentil tetekku mengeras dan memekku semakin basah, sepertinya aku akan orgasme.

“AAAAHHHH….. bapak aaaaah…. nikmaaaat!!!” teriakku saat gelombang nikmat orgasmeku membuat tubuhku kaku sejenak, tetapi Pak Enrik semakin asyik mengemut itilku.

Aku menjadi lemas sesaat, tetapi saat Pak Enrik kembali meremas tetekku sembari menjilati air hornyku, aku mulai terangsang lagi.

“Enak kan? Nah sekarang sepong kontolku” perintah Pak Enrik sambil mengeluarkan kontolnya yang sudah ngaceng. Kontol Pak Enrik besar sekali batangnya, membuat memek basahku semakin berdenyut-denyut ingin dingentotin dengan kontol itu.

Aku memasukkan kontol itu ke mulutku dan mengulumnya. Aku merasakan rasa asin gurih precum Pak Enrik dan mulai menikmatinya. Pak Enrik membelai-belai kepalaku sambil merem-melek keenakan.

Setelah kuservice kontol kekar Pak Enrik lalu ia bersimpuh diantara kedua pahaku yang sudah siap dingentotin, dia mulai menggesek-gesekkan kepala kontolnya di bibir memekku sehingga aku makin terangsang.

Kepala kontol Pak Enrik mulai masuk ke memekku dan rasanya sakit sekali tetapi nikmat. “Ahh… pak sakit pak pelan-pelan..” Lalu Pak Enrik berhasil memasuki batang kontolnya full ke memekku.

“Ahhhh sakiit ah ah sshhhh yeaaah” erangku sambil menggelinjang keenakan karena kontol besar Pak Enrik mulai majumundur keluarmasuk memekku yang sangat rapat.

“Shhh oooh yeaah memekmu rapet banget dik, masih perawan ya?” kata Pak Enrik sambil menyodok memekku dengan sangat kencang.

Terdengar bunyi plak plak plak karena Pak Enrik menyodokku dengan cepat dan keras dan tetekku melompat-lompat karena sodokan Pak Enrik yang luar biasa. “Ahh.. ah pelan-pelan pak ngilu banget aaah” aku memohon tapi Pak Enrik tidak menghiraukan.

Memek putihku makin basah dan tetekku terus melompat-lompat. Lalu Pak Enrik menyuruhku untuk nungging dan mulai mengentoti ku dengan Doggy Style. Rasanya nikmat sekali sekaligus perih karena Pak Enrik dengan liar menyodokku dan meremas tetekku dari belakang.

“Ahhh ah ahh… yeashh.. shhh ngentot!” desah Pak Enrik keenakan, aku pun dengan alami mendesah keenakan karena kontol besar Pak Enrik yang seakan mengoyak memek mulusku. “Saya mau keluar lagi paak aaah!!” teriakku, kali ini pasti lebih dahsyat.

“Ah ah ah shh aku juga dik aaargggghhh…!!” Crot crot crot sperma Pak Enrik menyembur kedalam memekku, rasanya hangat bercampur dengan cairan hornyku. Kami lalu merebahkan diri di kasur, sangat kelelahan tetapi sangat nikmat.

Aku melihat darah keperawananku keluar dari bibir memekku bersamaan dengan sperma Pak Enrik. Setelah itu aku mengambil kunci kosanku dan kembali pulang. Sejak saat itu kami rutin mengentot di kosan ku dengan Pak Enrik. Aku mulai Kecanduan. cerita sex

RSS

This website is powered by Spruz